• Veritas vos liberabit!

    EKSISTENSI, HAKEKAT DAN TRANSENDENSI ALLAH MENURUT AUGUSTINUS DARI HIPPO


    PENGANTAR

    St. Augustinus dari Hippo (354-430) adalah seorang Teolog-Filosof kaliber dunia. Secara fisik sosoknya biasa-biasa, tidak istimewa, bahkan kondisi kesehatan fisiknya sebetulnya tidak menunjang. Tapi secara rohani, ia memiliki daya intelektual yang luar biasa hidup, berkehendak kuat, punya cita rasa afektif, persahabatan dan cita rasa religius yang sangat mengagumkan.

    Karya-karya dan persoalan besar yang digelutinya antara lain di bidang literatur dan kebijaksanaan hidup, filsafat, teologi, Kitab Suci, dll. Khusus untuk Teologi, St. Augustinus fokus pada persoalan eksistensi, hakekat dan transendensi Allah.
    Berikut ini suatu bacaan atas problem eksistensi, hakekat dan transendensi Allah yang digeluti St. Augustinus pada jaman itu, disertai beberapa pokok penting tentang Misteri Trinitaris dan Misteri Kristus.

    1. KONDISI PSIKOLOGIS YANG DITUNTUT UNTUK MENGETAHUI ALLAH

    Menurut Antropologi St. Augustinus, kemampuan tertinggi jiwa manusia ialah: mens, intellectus, memoria, ratio superior, libertas. Dengan congenialitas jiwa ini, manusia mampu menyelami kedalaman dunia tak terbatas yang tidak pernah dapat berubah, yakni Tuhan. St. Augustinus terdorong untuk memasuki pergelutan tentang Allah dengan program noverim me, noverim te.

    St. Augustinus menggeluti persoalan Allah dengan perspektif filosofis (evidensi rational) maupun dengan perspektif teologis (iman supranatural). Dari Stromata St. Clemens dari Alexandriyah, St. Augustinus mengikuti pemikiran bahwa manusia dapat mengetahui eksistensi Allah dengan jalan kontemplasi. Jalan ini ternyata diadopsi dari Pitagoras, Sokrates, Plato, yang dikemas menjadi jalan mendengarkan Sabda Allah sambil mengkontemplasikan penciptaan alam semesta yang dicipta dan dipelihara secara tetap oleh Allah. Dalam Cofessiones misalnya kita dapati upaya dialogis yang terjadi dalam pencaharian akan eksistensi Allah: interrogation mea, intention mea; et responsio eorum, species eorum.

    Bagi Allah sungguh hadir dalam berbagai cara lewat begitu banyak barang di dunia ini, mengapa banyak orang menolak untuk mengenalNya? Jawabannya, sering banyak orang terhalang oleh awan atau kabut tebal kehidupan, atau karena mata menderita akibat beban penyakit. Namun barang-barang di dunia ini tetap selalu menceritakan keagungan Allah bagi manusia.

    Ada banyak cacat lain yang memberati jiwa dalam mengenal Allah: dosa-dosa pokok (superbia, avaritia/gula, invidia, luxuria, dll); praduga filosofis (materialisme, skeptisisme, antropomorfisme, dll); dosa dapat disembuhkan dengan perbuatan baik dan segala praduga dengan studi yang tekun untuk mencapai kebenaran sehingga terjadi proses purifikasi jiwa. Dengan kata lain, dengan pandangan dari jiwa, yaitu ratio yang murni dan sempurna (aspectus rectus atque perfectus) yang memungkinkan visi yang benar tentang Allah, yang disebut virtus.

    2. EKSISTENSI DAN HAKEKAT ALLAH

    Ada banyak jalan yang dapat membimbing budi manusia kepada Allah. Ada 3 jalan yang paling sering digunakan St. Augustinus: jalan keteraturan (via ordinis), jalan partisipasi (via participationis), jalan kebenaran (via veritatis).

    Jalan keteraturan sudah dirintis Plato, Aristoteles dan Philo. St. Augustinus begitu terpukau dan kagum dengan pesona keteraturan dunia, dengan lautan biru, dengan gunung-gemunung yang tinggi menjulang, padang yang membentang luas dan menghijau sekian permai, hutan belantara yang menyimpan sejuta misteri kehidupan, keharmonisan forma dan struktur benda-benda alam yang mempesona, keteraturan peristiwa alam, hukum-hukum logis dan rational, matematik dan irama musik yang membahana mengugah jiwa. Di hadapan pesona alam yang sedemikian teratur, St. Augustinus mengajak untuk mengangkat hati dan kembali menyadari kecemerlangan Sang Artis Maha Agung yang mencipta dan menyelenggarakan semuanya, untuk menyelami kebijaksanaannya yang tak terhingga, untuk menyelami kebenaran sumberNya yang tak pernah habis tertimba. ”Hai Kebijaksanaan Tertinggi, hai terang maha halus yang memukau dari Intelek Maha Murni, janganlah kiranya berhenti memancarkan cahayaMu ke dalam hatiku, agar aku dapat mengetahui keagungan keindahan ciptaan. Manusia, karena kerapuhan kemampuan inteleknya, sepatutnya berlindung di bawah bayang-bayang dirinya sambil mengenaknan mata jiwa (oculum animi) yang paling lemah, agar kemampuannya yang sekian kecil bisa terpelihara. Di sinilah manusia sebenarnya lebih aman dan cocok memandang dunia ideal.”

    Jalan Partisipasi diadopsi dari Plato yang ingin keluar dari dunia indrawi (material, riil, konkrit) untuk mencapai kepenuhan dunia ideal. Dalam karyanya De Trinitate, St. Augustinus mengemukakan berbagai jalan untuk sampai kepada Tuhan dengan mendasarkan diri pada hukum partisipasi. Menurut hukum ini, segala yang memiliki atau mengandung dalam dirinya hak kenisbian itu dari yang lain yang secara aktual memilikinya secara sempurna. Dan yang memiliki segala kesempurnaan secara penuh dalam diriNya hanyalah Tuhan.

    Jalan kebenaran (via veritatis) merupakan jalan favorit St. Augustinus. Hidup yang bahagia (via beata, felicitas) tergapai pada saat manusia memperoleh kebenaran, yang bagi Augustinus adalah Tuhan sendiri. Beberapa hal fundamental yang terkandung dalam jalan kebenaran:

    1. Panelusuran atas barang-barang duniawi (interroga mundum) untuk menyimak kontingensinya.
    2. Kembali ke manusia interior ( in te ipsum redi), di mana berdiam kebenaran (veritas interior yaitu Kristus).
    3. Kebenaran itu tidak mungkin merupakan ciptaan intelek manusia. Intelek manusia harus menerima kebenaran itu dan bukan menciptakannya.
    4. Keluar dari ego sendiri untuk menemukan sumber kebenaran yang membangkitkan dalam diri kita terang akal budi.

    Menurut St. Augustinus, manusia memang dapat menemukan kebenaran karena kemampuan spiritual jiwanya sebagai Imago Dei, gambaran Allah, yang memiliki 3 kemampuan fundamental: intellectus, memoria, voluntas / amor. St. Augustinus mengidentikkan Kebenaran dengan Allah. Bila ada sesuatu yang lebih tinggi dari kebenaran, itulah Tuhan. Tapi bila tidak ada yang lebih mulai dari kebenaran itu, maka itulah kebenaran itu sendiri yang adalah Tuhan. Dalam hal apapun kita tidak pernah dapat menyangkal bahwa Tuhan itu sungguh ada. Kebenaran yang dapat kita kenal lewat ratio kita inilah Allah. Inilah kepastian absolut yang tak dapat disangkal. ”Lebih muda meragukan hidup sendiri daripada eksistensi Kebenaran, yang dapat kita lihat dan pahami lewat barang-barang ciptaan.” Kebenaran tak tersangkalkan yaitu Allah sesungguhnya berdiam dalam batin manusia. Inilah yang dikenal sebagai Veritas Interior.

    Walaupun kita dapat mengenal Allah sebagai kebenaran dan yakin akan Ada-Nya, tetapi pengetahuan kita tidak dapat menuntaskan misteri Allah, khususnya pengetahuan atas hakekatNya. Dengan bantuan konsep filsafat Neoplatonisme, St. Augustinus memahami Allah sebagai ”Yang Mahatinggi, Mahaesa, kekal-abadi, tak terhampiri, mahasempurna, Mahabaik, Mahakuasa, Mahapenyayang, Mahaadil, Mahatinggi namun begitu dekat, mahasempurna, Asal-mula segala yang ada.” Lebih definitif, konsep St. Augustinus diungkapkan sbb: ”Aku percaya, ya Allah yang benar, Engkaulah pencipta jiwa dan badan, pencipta segala sesuatau.”

    Setelah pertobatannya, ia memahami bahwa Allah itu satu dalam kodrat tapi tiga dalam pribadi. Dalam De Trinittate ia memberikan suatu daftar atribut Substansi Ilahi yang dapat dipahami ratio kodrati manusia (ratio naturalis). Ada 12 atribut ilahi yang dibagi dalam 3 kelompok: 1) aeternitas, immoralitas, incorruptibiltias, incommutabilitas; 2) vita, sapientia, potentia, pulchrum; 3) iustitia, bonitas, felicitas (beatitudo), spiritus. Kelompok 1) menggarisbawahi transendensi, sakralitas, distingsi atau separasi dan perbedaan kualitatif absolut Allah terhadap ciptaanNya, sedangkan atribut yang lain menegaskan Allah sebagai prinsip pertama, sumber asli, ekspresi terbaik, dan tertinggi segala kebaikan, kesempurnaan. ”Allah adalah prinsip dari ada, kebenaran asli setiap pengetahuan, dan kebahagiaan segala yang hidup.”

    Pembagian ini lebih bersifat konseptual (dalam bahasa St. Augustinus sendiri ”deductio” dan bukan secara real, sebab di dalam realitas Ilahi semua atribut ini merupakan satu kesempurnaan tunggal. Atribut yang paling menunjukkan karakteristik Ilahi ialah Incommutabilitas (aeternitas) sebab segala ciptaan itu fragil, diliputi jurang nihil, nunc transiens, semuanya beralih dan bergerak, labil, mengandung keterbatasan dan benih kematian di dalam dirinya masing-masing. Inilah kekhasan dan kebesaran Allah di hadapan segala ciptaanNya.

    3. TRANSENDENSI DAN INEFFABILITAS ALLAH

    Konsep St. Augustinus tentang Allah merupakan suatu konsep yang bernilai tinggi, sangat jelas, cemerlang, agung, dan ditampilkan bahwa Allah itu rahasia, tidak pernah dapat dipahami sepenuhnya oleh kemampuan budi manusia. Bila Allah dapat ditemui dan dilihat hanya sesudah kematian (cf. Tingkat ke-7 dari De Quantitate animae), apa yang tersisa dari keseluruhan konsep kita yang cukup efektif mengungkapkan realitas tertinggi itu? Philo, St. Clemens dari Alexandria, Origenes, Plotinus telah berbicara tentang transendensi Allah dalam level ontologis, gnoseologis dan semantik. St. Augustinus mengikuti jejak mereka tapi coba melihat kemungkinan untuk mempertahankan konsep positif minimum yang tanpanya segala ciptaan jatuh kembali ke ketiadaan, sementara budi kita terperangkap dalam ignorantia dan bahasa kita cumalah absurditas. Dalam menekankan transendensi Allah, St. Augustinus menegaskan bahwa Allah sesungguhnya tidak dapat dipahami. Tetapi bagaimana kita dapat berbicara tentang Dia yang tak dapat kita pahami? Kita memang tidak dapat memahami Allah. Inilah suatu ignorantia yang ternyata lebih suci dari satu pengetahuan yang nekat/semberono. Pemahaman akan Allah yang sangat sedikit ternyata memberi kita suatu kepuasan yang tiada tara. Tetapi memahami Allah seutuhnya sunguh tidak mungkin. Inilah docta ignorantia, yang dapat kita capai dengan bantuan Roh Kudus, yang membantu kita dalam kelemahan kita.

    ”Pahamilah, jika kau sanggup, hai jiwa yang dibebani oleh tubuh yang termakan kerapuhan dan tercekam berbagai pikiran duniawi, pahami, jika kau sanggup, bahwa Allah itu Kebenaran. Ada tertulis bahwa Allah itu terang, tapi bukan terang yang dapat dilihat mata kita, tetapi terang yang dapat dilihat hati, saat ia mengakui: Allah itu sungguh Kebenaran. Janganlah engkau terpancing untuk memahami apa itu Kebenaran, karena engkau bisa saja tertipu dengan segala imaginasi dan fantasma. Terima dan akui saja, itulah Kebenaran tanpa memahaminya. Janganlah engkau tergoda untuk memahami, sebab engkau akan jatuh kembali ke dalam ketidakmurnian yang disebabkan ketamakan dan dalam kekeliruan ziarah kehidupanmu”.

    Ajaran St. Augustinus atas transendensi Allah memang secara ekstrim bersifat dialektis. Tentang eksistensi Allah dia menegaskan dengan keyakinan bahwa kita sanggup mengetahuinya. Tetapi tentang hakekat Allah, kita paling-paling mengetahui beberapa atributNya, dan tidak pernah akan mampu menembusi inti hakekat diri Allah, dan lebih lagi tidak pernah kita pahami misteri Trinitas.

    Yang menarik ialah bahwa bagaimana St. Augustinus menelusuri dan memecahkan masalah bahasa teologis. Dari satu pihak ia mengakui berbagai kemungkinan positif yang dapat mengungkapkan transendensi Allah: Summum, optimum, omnipotens... Dari pihak lain ia menegaskan bahwa bahasa manusia sesungguhnya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, tidak mampu mengungkapkan Allah karena Allah itu sungguh tak terungkapkan dengan bahasa kita yang sangat terbatas. ”Allah sungguh tak terbatas. Lebih mudah mengatakan apa yang bukan Allah daripada mengatakan-Nya. Engkau berpikir tentang bumi? Itu bukan Allah... Segala yang ada di dunia ini bukan Allah. Segala yang cemerlang di langit, juga bukan Allah. Apa yang ingin kita ketahui tapi yang sesungguhnya tidak dapat kita ketahui, yang ingin kita dengar tapi yang tidak dapat kita dengar... Allah itu tak terbatas. Dia yang mengucapkan sepatah kata saja dan segalanya tercipta. Dia yang mengucapkan sepatah kata dan kita ada. Tetapi kita tidak sanggup berbicara tentang dia.

    Dalam De doctrina christiana disadari antinomi antara effabilitas dan ineffabilitas Allah. Yang kita bisa katakan ialah bahwa Allah itu tak terbatas, sehingga kita bisa lebih berkata tentang Allah dengan bahasa silentium, hening. Sebaliknya dengan banyak kata dan ungkapan, kita justru tidak sanggup mengatakan apa yang sesungguhnya ingin kita katakan. Justru tuhan paling berkenan dengan bahasa kita yang sederhana, tetapi yang kita sampaikan dengan penuh iman, hormat dan pujian, daripada bicara yang tinggi-tinggi tapi kurang hormat, tidak dengan pujian dan pengakuan akan kebesaranNya. Inilah bahasa teologis yang bermuara pada doxologi iman. Selain itu ada prinsip exemplaritas: Manusia dapat bicara tentang Allah karena Dia telah mencipta seala sesuatu, terlebih manusia, sebagai gambaranNya. Maka bahasa kita bisa menjadi tanda dari realitas ilahi. Barang-barang yang menyerupai Allah menurut tingkat kesempurnaan adanya masing-masing. Manusia sebagai yang pertama dalam tatanan ciptaan, memiliki kemampuan rohani untuk berbicara secara adequate tentang Allah walau tidak pernah tuntas dan seluruhnya. Singkatnya, manusia tidak pernah dapat berbicara secara tuntas dan sehabis-habisnya tentang Allah. Alasannya: 1) Allah itu Roh sedangkan pengetahuan manusia selalu menerima bahannya dari pengalaman akan barang-barang materiil. 2) Kita tidak pernah dapat berbicara secukupnya tentang jiwa dan budi kita sendiri, dan dengan itupun tak mungkin kita bicara secara cukup tentang Roh Allah. 3) Karena kesederhanaan Allah yang sungguh tak terbatas. Tuhan sungguh sederhana secara absolut.
    Kesimpulan : Bahasa kita manusia ”omnia posunt dici de Deo et nihil dicitur de Deo.”

    4. MISTERI TRINITAS

    Kita lewatkan saja persoalan seputar heresy Modalisme dari Sabellius dan Arianisme (Subordinationisme) dari Arius dan langsung saja ke pokok pemikiran St. Augustinus tentang misteri Trinitas sebagaimana dapat kita telusuri lewat De Trinitate . Pendekatan yang dipakai ialah interioristik (noverim me – noverim te) tapi dengan arah terbalik, yakni mulai dari noverim te. Titik tolaknya ialah automanifestasi wajah Trinitaris Allah dalam KS dan dalam formulasi Tradisi. Selanjutnya ditelusuri realitas interior manusia sebagai refleksi atau pencerminan wajah Ilahi (dengan demikian terealisirlah noverim me), dan selanjutnya ditemukan kembali wajah Allah Tritunggal sehingga berjalan kembali ke noverim te.

    Titik berangkat : Bapa. Titik tuju: Haec Trinitas Unus est Deus. Inilah yang disebut Substansi, Esensi, Ousia (derivatif dari Esse: essentia, cf. Ego sum qui sum. Dalam rumusan indah St. Augustinus: Deust est id quod habet. Tuhan adalah
    Esse yang identik dengan segala yang Dia miliki. Tuhan adalah Hidup karena memang Dia memiliki hidup itu sendiri, Hidup itulah EssentiaNya, dst. Dengan segala atribut lainnya.

    Ilustrasi Psikologi Misteri Trinitas: Sambil mengingat kembali dan meyelami pengalaman pencahariannya atas misteri Trinitas di mana ia disadarkan akan kekerdilan akal budinya di hadapan misteri mahaagung dan mahakudus itu, St. Augustinus akhirnya menekankan kembali pentingnya Credo ut intelligas, intellego ut credas.

    Comments
    1 Comments

    1 comments:

    Tinggalkan jejakmu di sini...

     

    About Me

    My Photo

    Catholic Priest|Amateur Historian|Classical-music Lover|St Michael Major Seminary| @Kupangensis Archdiocese of Kupang - Timor|

    Kalender Liturgi

    My Community