Thursday, May 27, 2010

ANALISIS UPAYA PELESTARIAN TRADISI LISAN DALAM BUDAYA ATOIN PAH METO

0leh: Andreas Tefa Sa’u

1. Pengantar

Ibarat sebuah bangunan raksasa, negara Indonesia dibangun dari batu-batu kebudayaan berbagai etnis, yang berbeda kualitas dan kuantitasnya. Setiap etnis (kebudayaan kebudayaan lokal seperti kebudayaan Flores, Sumba, Timor, Alor) menyumbang kekayaan nilai nilai budaya mereka demi menyempumakan bangunan fisik dan spiritual bangsa Indonesia. Dari sekian banyak batu untuk bangunan tersebut, ada juga batu bangunan dari etnis Dawan di Timor Barat dengan kebudayaan Atoin Pah Meto nya. Sebagai sebuah sistem, kebudayaan Dawan merupakan sebuah totalitas yang memiliki individualitas, arti dan keunikan tersendiri.

Mengapa penduduk etnis itu disebut dengan nama Dawan atau Atoni? Pada dasarnya kata Dawan adalah nama pemberian orang lain, termasuk nama orang Timor Barat. Nama Dawan diambil dari sebutan Atoni yang lazim dipakai di antara anggota kelompok etnis ini. Nama itu merupakan penggalan dari sebutan khas untuk etnis ini, yakni Atoin Pah Meto, yang berarti penduduk tanah kering atau penduduk pulau. Hal serupa juga terjadi dengan orang Dayak di Kalimantan bagian utara, yang menamakan diri mereka: kami banua, artinya kami penduduk benua atau penduduk pulau. Dalam bahasa Dawan, bila kata benda berdiri sendiri sebagai sebuah kata mandiri, maka kata itu tidak mengalami perubahan atau pergeseran bunyi. Namun bila dirangkaikan dengan kata benda lainnya atau dengan kata sifat, maka kata benda yang diterangkan mengalami perubahan penulisan atau pergeseran bunyi dalam strukturnya. Dalam istilah linguistik, pergeseren bunyi seperti itu disebut metatesis, artinya pertukaran huruf atau bunyi dalam sebuah kata. Misalnya kata Atoin, yang kalau berdiri sendiri maka bunyi vokal i ditukarkan tempatnya dengan bunyi konsonan n, sehingga. sebutannya menjac Atoni'. Kata Atoni sendini berarti orang atau manusia. Karena itu, adalah salah atau terjadi pengulangan yang tidak perlu, bila orang menyebut kelompok etnis itu dengan nama "orang Atoni". Sementara itu penggunaan nama Dawan sudah ditemukan dalam publikasi asing berbahasa Jerman pada tahun 1887. Kendatipun demikian, tidak bisa dipastikan waktu penggunaan sebutan itu secara lisan di antara para penduduk etnis Dawan.
Sebagai satu kelompok suku terbesar di wilayah Timor Barat, Orang Dawan memiliki pandangan hidupnya tersendiri. Pandangan itu masih sering ditemukan pengaruhnya dan juga digunakan oleh para anggotanya sebagai pedoman dan norma hidup bersama dalam lingkungan kekerabatan dai lingkungan masyarakat luas secara religius dan sosial politis. Semua itu ada dan dimiliki dalam bentuk lisan dan diwariskan juga atas cara lisan kepada generasi generasi berikutnya dalam berbagai pertemuan.

Sebuah ungkapan pendek menarik perhatian saya untuk dianalisis lebih jauh dalam tulisan ini, yakni nekafmese ansaofmese (sehati sejiwa), atau sering juga diformulasikan sebagai sebuah imperatif. nekames ma ansaomes. Ungkapan tersebut dipahami sebagai falsafah hidup atau way of life orang Dawan, yang berpengaruh besar dalam kehidupan bersama. Namun sebelun menganalisis ungkapan tersebut, perlu dikemukakan pengaruh tradisi lisan dalam kehidupan masyarakat Dawan, khususnya di daerah pegunungan dan pedalaman.

2. Pengaruh Tradisi Lisan Pada Masyarakatnya
2.1. Tradisi Lisan dan Pengertiannya

Dalam Ilmu kebudayaan bangsa bangsa dan etnis etnis, selain tradisi tertulis, tradisi lisan juga menjadi salah satu cara memiliki, menerima atau mewariskan kebudayaan. Tradisi lisan pada umumnya masih dimiliki dan dipelihara oleh kelompok masyarakat yang masih kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma norma hidup tradisional. Kata tradisi berasal dari bahasa Latin traditio kata benda yang berarti warisan yang berkaitan dengan kata kerja tradere, yang mengandung pengertian mewariskan, meneruskan, melanjutkan. Traditio berkaitan dengan kata bahasa Yunani paradosis kata benda yang juga memiliki arti yang sama. Tradisi dibagi menjadi dua bagian, yakni bentuk verbal dan non verbal, tertulis dan lisan menggunakan media cetak dan menggunakan ucapan mulut atau lewat tata. tingkah laku dan tutur kata Tradisi non verbal meliputi berbagai kesenian tradisional, seperti ikon pahatan, monumen, objek objek simbolis kebiasaan, gerak gerik, adat istiadat dan berbagai institusi, legenda, mitos dongeng dan lain sebagainya.

Salah satu tradisi non verbal adalah tradisi lisan Tradisi lisan termasuk salah satu dari sekian banyak objek penelitian para antropolog budaya dan etnolog, yang harus direkonstruksi demi meneruskan asal-usulnya yang sesungguhnya. Untuk mendapatkan informasi secukupnya tentang tradisi lisan dibutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan.
Kelompok etnis Dawan juga memiliki dan memelihara tradisi lisan. Bahkan boleh dikatakan bahwa hampir seluruh tradisi lisan dalam kebudayaan Dawan dihidupi dan diwariskan secara lisan dengan menggunakan segala macam sarana bantu. Kehidupan masyarakatnya masih sangat kuat dipengaruhi tradisi lisan tersebut. Substansi tradisi lisan seperti norma tingkah laku, nilai nilai moral dan etis¬-religius, bermanfaat baik bagi setiap anggota dalam interaksinya dengan sesama. anggota kelompoknya (in group), maupun dengan anggota kelompok lain (out group) dalam berbagai pertemuan formal dan informal.


2.2. Beberapa Aspek dari Tradisi lisan
Tradisi lisan mendapatkan bentuknya dalam kebiasaan kebiasaan, folklore (cerita rakyat), pembicaraan pembicaraan populer, cerita sejarah atau kisah sah, spekulasi esoterik, berbagai aplikasi praktis agama. ke dalam kehidupan sehari hari, termasuk manifestasi lain dari mentalitas tradisional.

Aspek pertama dari tradisi lisan adalah bahasa sebagai substansi dari tradisi lisan. Bahasa sangat berperanan dalam proses interaksi antar anggota dalam lingkungan terbatas dan dalam masyarakat luas. Di dalam bahasa, tersirat segala kekayaan pandangan dan pikiran etnis etnis itu.

Bahasa Dawan, yang dalam berbagai publikasi Eropa dan Amerika sering disebut bahasa Timor Barat, digunakan oleh sebagian besar penduduk dalam tiga wilayah politik di Provinsi Nusa. Tenggara Timur, yakni Kabupeten Timor Tengah Utara (TTU), Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Kupang kecuali kota Kupang. Bahasa yang sama juga digunakan dalam wilayah Ambenu di Negara Republik Timor Leste, kendati nama yang digunakan untuk bahasa itu adalah Vaikenu. Namun sebagian besar dari kosa katanya adalah bahasa Dawan.

Bahasa lisan atau ungkapan lisan sering digunakan dalam kaitan dengan soal religius untuk menggambarkan keibuan dan kebapakan Allah dalam memelihara, melindungi, merawat, mengasuh, mengasihi dan menyayangi Orang tua selalu menggunakan bahasa lisan atau bahasa adat untuk memberikan pandangan atau pikiran mereka kepacla anak anak muda dalam memilih pasangan hidup dan teman bergaul. Juga orang selalu menyampaikan secara lisan hal hal yang patut diperhatikan dalam menerima setiap tawaran yang baik.

Orang diajar untuk tahu menjamu tamu, bersahabat dengan orang lain walaupun rasa was was tetap tidak bisa disembunyikan dalam nasihat pada pesta pernikahan adat dan gerejani. Pasangan yang sudah menikah diharapkan menerima status sosial mereka yang baru. dan berusaha untuk hidup dan bertingkah laku sesuai dengan status baru tersebut. Kedua mempelai harus membiasakan diri untuk tetap bertanggungjawab memenuhi kebutuhan rumal tangga mereka. Status sosial yang baru tersebut menuntut konsekuensi dari tanggung jawab serta perubahan sikap dan mental hidup.

Aspek kedua dari tradisi lisan adalah adat kebiasaan makan sirih pinang. Kebiasaan ini banyak digunakan sebagai sarana untuk menciptakai dan membuka komunikasi atau interaksi antaranggota in¬group dan juga komunikasi dengan anggota dari out group untuk mempererat persaudaraan, persahabatan dan persatuan antarpribadi. Dengan menawarkan atau saling berbagi sirih pinang, seorang pribadi terlibat dalan interaksi dengan sesamanya, membagi berbagai informasi, juga momen untuk saling melayani dan mengenal. Dampak positif dari kesempatan pelaksanaan tradisi tersebut adalah terciptanya hubungan yang baik dengan orang lain, misalnya dengan tetangga paling dekat dan dengan orang dari tempat jauh, yang sewaktu waktu dapat berguna untuk pribadi pribadi terkait. Tradisi seperti ini masih hidup dan diwariskan terus kepada sesama dan generasi berikutnya secara lisan, paling banyak dalam bentuk partisipasi aktif dalam berbagai kesempatan yang disediakan. Kehadiran yang begitu sering dalam acara acara tradisional menjadi satu pertanda baik, bahwa orang mempunyai kepedulian terhadap nilai nilai budaya setempat. Orang seperti itu akan mengetahui banyak hal yang berpautan dengan tradisi tradisi lisan kehidupan bersama.
Salah satu tradisi lisan yang masih sangat berpengaruh adalah tata cara. atau etiket penyampaian pendapat dan undangan kepada pihak lain, yakni orang orang yang bukan dari kelompok sendiri, termasuk orang yang menyandang status sosial tertentu. Etiket ini juga mempunyai fungsi sosial lain untuk memelihara. kontak persaudaraan dan persahabatan dengan orang lain dalam in group dan out group. Di sini dikemukakan secara khusus tradisi oko'mama atau kabi. Dalam pertemuan resmi di desa atau di dusun pedalaman, kabi atau oko'mania (tempat sirih pinang) yang berisi sirih pinang, uang atau sebotol arak kampung menjadi sarana yang sangat umum di kalangan orang Dawan untuk meminta izin berbicara atau menyampaikan sesuatu. Pada umumnya sudah diketahui bahwa jika di atas sebuah meja atau balai balai diletakkan sebuah oko'mama, maka pihak yang meletakkannya hendak menyampaikan suatu maksud atau pokok pembicaraan tertentu. Sirih pinang dan sebotol arak kampung merupakan dua komponen yang selalu digunakan, sementara uang dalam jumlah yang terbatas sebagai pelengkapnya sangat bergantung dari kebiasaan setiap kelompok dialek.

Tradisi sinih pinang ini sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat desa dalam setiap pertemuan resmi. Kebiasaan ini dimulai sejak Atoin Pah Meto mengenal kebiasaan makan sirih pinang. Tradisi ini hidup dan diteruskan oleh hampir seluruh penduduk di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya, dengan intensitas yang berbeda beda dan pulau ke pulau. Kedua sarana yang selalu digunakan bersama itu mempunyai arti sangat penting bagi kelompok Dawan. Sarana yang sederhana tersebut mendapatkan makna dan arti lebih tinggi, karena selalu cligunakan dalam berbagai pertemuan resmi di tingkat pedesaan tradisional.

Di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), pendekatan oko'mama selalu digunakan oleh Bapak Piet A. Tallo (Gubernur NTT saat ini), ketika beliau menjabat bupati wilayah itu untuk mempertemukan unsur tua adat masyarakat tradisional dengan unsur pemerintah. Sarana ini dipakai untuk menyampaikan sekaligus meminta partisipasi masyarakat dalam menyukseskan program pemenintah. Diakui bahwa mekanisme ini menyita banyak waktu dan kesempatan, tetapi hasilnya pada umumnya jauh lebih baik dan efektif, karena masyarakat tradisional juga diminta untuk turut bertanggungiawab dan berpartisipasi.

Umumnya tradisi penggunaan oko'mama sampai sekarang dipraktikkan oleh pihak yang sama derajat atau status sosialnya untu menyampaikan informasi kepada yang lain. Praktik yang diterapkan Bapa Piet A. Tallo di TTS adalah hal baru sekaligus sebuah terobosan yang penting. Praktik itu efektif dan mempunyai daya gugah yang mendalam untuk masyarakat. Sebenarnya praktik seperti itu harus lebih banyak digunakan oleh pemerintah, bila ingin merangkul dan menggugah rakyat untu berpartisipasi dalam berbagai rencana pembangunan. Dalam pendekatan itu masyarakat merasakan adanya penghargaan dan penghormatan dari pihak pernerintah terhadap adat istiadat mereka. Dengan demikian, pendekatan yang dulunya hanya bersifat horisontal atau vertikal, sepihak dari bawah, menjadi lengkap. Maksudnya bahwa pendekatan tersebut dipraktikkan secara vertikal dari kedua belah pihak, yakni dan bawah ke atas dan sebaliknya dari atas ke bawah.

Praktik pendekatan oko'mama juga merupakan usaha aktualisasi filosofi masyarakat Dawan, yakni nekafmese ma ansaofmese sekaligus ajakan untuk turut serta aktif (nekmes ma ansaomes). Pendekatan seperti itu harus dilakukan secara objektif dan bebas dari segala kepentingan pribadi agar orang tidak memperoleh kesan bahwa nilai dan makna tradisi adat mereka dimanipulasi, direndahkan, termasuk martabat dan harkat para pemilik budaya dan pemangku adat.

Di bawah ini akan diulas filosofi di atas, yang diterima dan dilaksanakan oleh orang Dawan sebagai pedoman arah dan pandangan hidup dalam menata hidup dan menyelesaikan setiap rencana dan persoalan hidup bersama. Ungkapan atau pandangan hidup itu adalah nekafmese ma ansaofmese

3. Nekafmese ma Ansaofmese
3.1. Penjelasan etimologis

Setiap ungkapan adat tidak sekedar digunakan, terlahir dari kekosongan atau pun diturunkan dari langit. Ia merupakan hasil ciptaan sebuah kelompok masyarakat etnis atau marga tertentu, yang sudah pasti mempunyai konteks historis dan sosial. Hal ini berpautan erat dengan pengalaman sekelompok manusia dalam kehidupan bersama. Pengalaman itu terkristal secara baik melalui proses panjang sebelum mencapai keadaan sekarang ini. Pengalaman itu tidak dimiliki sendiri, tetapi diwariskan kepada generasi berikutnya dengan maksud agar dihidupi dan dimiliki. Dengan memverbalisasikan pikiran seperti itu, mereka juga menciptakan salah satu aspek kehidupan yang semakin mengembangkan nilai budayanya sendiri.

Nekafmese ma ansaofmese. Ungkapan ini terdiri dari dua kata majemuk dan satu kata penghubung. Pertama, nekafmese. Mese artinya satu. Ma artinya "dan" (kata penghubung). Nekaf berasal dari kata dasar nekan, yang mengandung pengertian hati (kata benda). Dari kata nekan diciptakan padanan kata lainnya manekan yang berarti saling mengasihi, saling menyayangi antarsesama dalam lingkungan terbatas dan luas. Laat manekan artinya tempat, di mana ada hidup yang dikuasai kasih. Perkembangan dari kata dasar itu adalah nek'amanekat, maksudnya hati yang biasa mengasihi, hati yang suka mencintai, orang yang mencintai damai, suka mempersatukan dan merangkul.
Sementara itu, nekaf mengandung pengertian hatinya, atau sering disebut nekne. Konsonan yang terdapat dalam setiap akhir kata menunjuk pada pengertian posesif orang ketiga. Bentuk nekaf digunakan sebagai pengganti rangkaian kata lain, yakni innekan atau innekne. Keduanya mengandung pengertian sama, yakni hatinya. Sering juga konsonan mengandung pengertian berhubungan dengan. Misalnya amaf ainaf yang berhubungan dengan ayah dan ibu. Bila kata itu dirangkaikan dengan mese (nekafmese), maka kata itu dimengerti sebagai satu hati, bersatu hati. Kedua adalah ansaofmese. Pengertian kata nekafmese. berlaku juga untuk kata ansaof yang berhubungan dengan jantung, jiwa. Dasar dari kata itu adalah ansaon artinya jantung. ansaofmese artinya satu jiwa, satu jantung.

Jadi, nekafmese ansaofmese boleh dimengerti sebagai sehidup semati, seia sekata, sekata seperbuatan, sehati sejiwa. Berdasarkan pengertian tersebut, ungkapan dan pandangan ini diinterpretasikan sebagai sehati, sejantung, yang berarti bersatu bersama, bersama sama bersatu untuk menanggulangi kehidupan dengan segala tuntutannya.

Sering juga terdengar ungkapan yang hampir sama, tetapi dalam bentu imperatif yang lebih tegas: nekmes ma ansaomes! Kata kata itu memiliki pengertian dasar yang sama seperti yang dijelaskan di atas, namun berbeda dalam bentuknya. Formulasi yang dikemukakan di sini berbentuk keharusan untuk sehati sejiwa dalam hidup dan bekerja, dalam membangun hal jasmani dan rohani, dalam soal material dan spiritual.

3.2. Kristalisasi Sebuah Pengalaman
Dalam fenomenologi agama, pengalaman merupakan salah satu elemen penting, yang bisa digunakan untuk mencari dan menemukan hakikat dan kemurnian rasa keagamaan. Penemuan itu diperoleh melalui penglihatan secara pribadi, di mana orang tersebut mengalami dua perasaan yang ambivalen yakni menakutkan (tremendum) sekaligus menakjubkan (fascinosum) yang menggugah untuk diketahui, dianalisis, dikomunikasikan kepada orang lain sebagai hal yang menguntungkan dan bisa digunakan dalam menata kehidupan. Di sini pengalaman merupakan suatu aspek penting dalam menelusuri hakikat dan kemumian rasa kekeluargaan dan kebersamaan pada masa lampau. Leluhur orang Dawan yang hidup pada zaman dahulu buka tanpa perjuangan dan kerja keras untuk memperlahankan eksistensinya & memberikan isi serta makna bagi kehidupan mereka sebagai kelompok.

Bahwa etnis Dawan bisa mempertahankan eksistensinya hingga sekarang adalah salah satu bukti sejarah, bahwa nenek moyang mereka yang hidup pada zaman itu telah berjuang untuk menemukan satu sistem hidup dan kerjasama yang tepat dalam menghadapi segala kesulitan; juga sistem yang membantu mereka untuk dapat mengorganisasi kehidupan kelompoknya dengan pribadi pnibadi yang berbeda karakter.

Kenyataan membuktikan bahwa kelompok kelompok kecil keluarga batih (inti) dan keluarga besar hidup, berinteraksi dan berkembang dari waktu ke waktu dalam satu ruang lingkup terbatas. Pola perkampungan tempo dulu sangat khas dibandingkan dengan bentuk yang sekarang ini, di mana unsur kekerabatan sangat ditonjolkan. Di dalam lingkungan terbatas dan sempit itu, berbagai pengalaman hidup perlahan tetapi pasti mendapatkan bentuknya. Proses pengambilan bentuk dari sebuah pengalaman kehidupan, yang pada akhirnya diaktualisasikan dari waktu ke waktu secara tetap, menjadikan pengalaman itu sebagai praktik yang bernilai penting.

Kebersamaan dan kerjasama anggota masyarakat dengan pimpinannya selalu diusahakan agar seclapat mungkin berhasil baik. Misalnya, keberhasilan mengalahkan dan mengusir musuh, kesuksesan menyelenggarakan pesta rakyat atau juga keberhasilan lainnya. Semua itu membutuhkan perhatian, kerjasama, persatuan dan kesungguhan serta kebulatan tekad untuk berkorban. Tampak di sini nilai nilai spiritualitas.

Namun pandangan hidup tersebut jauh lebih mendalam daripada sekedar permintaan untuk sehati sejiwa, yang menjadi imbauan umum dan konstan dari dan untuk kelompoknya. Di sini dibutuhkan pengorbanan bahkan sampai mati sekalipun demi kehidupan. Pandangan tersebut merupakan motor penggerak motivasi untuk hidup dan berkarya dalam masyarakat, yang rata-rata terbentuk dari anggota keluarga besar. Pada zaman sekarang, ketika konstelasi kehidupan masyarakat sudah lebih heterogen, pandangan hidup itu toh berlaku dan tetap mempunyai kekuatan dan aktualitasnya. Pandangan hidup tersebut tidak hanya mempunyai nilai nilai sosial, ekonomis dan politis, tetapi juga bemilai etis religius, yang turut membentuk mentalitas dan karakter orang Dawan. Pandangan hidup ini telah memberikan inspirasi kepada para leluhur untuk selalu membangun kerjasama yang baik demi melindungi kelompoknya dari setiap kesulitan. Misalnya, seluruh anggota masyarakat sepakat dalam kata dan laku untuk mengangkat hanya seorang menjadi pembicara mereka ke luar berkaitan dengan hal hal tertentu. Mereka semua turut bertanggungjawab atas penugasan tersebut, dengan tujuan agar tidak terjadi perpecahan di antara mereka dan memberikan kemungkinan kepada pihak lain untuk mengadu domba mereka satu sama lain.

3.3. Sebuah Imperatif Untuk Masa Kini
Pengalaman positif masa lalu yang berpedomankan pandangan hidup di atas, justru menjadi dasar pijak yang kokoh bagi para pemilik wewenang masa sekarang untuk mengaktualisasikan pandangan tersebut. Di sini pandangan itu dimodifikasi menjadi sebuah "imperatif”, sebuah keharusan bagi setiap kelompok masyarakat, dalam menyukseskan setiap rencana dan kegiatan bersama. Nekines ma ansaomes boleh dipahami sebaga "bersehatilah dan bersejiwalah!", tidak hanya menjadi sebuah semboyan tetapi suatu seruan yang membangkitkan semangat juang dan kerja para anggota marga dan masyarakat pada khususnya dan kalangan masyarakat Dawan pada umumnya untuk mengkonkretkannya dalam praksis. Ia berbicara lebih dalam dan mengena bagi setiap orang Dawan.

Kalau pandangan hidup ini diterjemahkan ke dalam kehidupan nyata dan sosial sekarang, maka substansinya menjadi penting dalam upaya melaksanakan setiap program pembangunan pada setiap tingkat dan aspek kehidupan. Ungkapan tersebut boleh dijadikan sebagai sebuah imbauan, slogan atau propaganda penting untuk membangunkan kesadaran orang dalam menjalin persatuan, kesepakatan dalam kata dan laku demi melaksanakan setiap program pembangunan fisik dan spiritual.

Mengayati dan menghidupi pandangan ini mengandaikan bahwa orang harus membebaskan diri dari segala kepentingan dan keuntungan pribadi, menjauhkan keinginan untuk korupsi, nepotisme dan kolusi. Menghayati dan menghidupi pandangan ini berarti tidak memperhatikan pembedaan status sosial dan politik. Semua itu harus menjadi relatif agar pandangan ini bisa direalisasikan. Menghayati dan menghidupi pandangan ini berarti orang bertekad untuk secara bersama berjuang untuk kepentingan kelompoknya demi kesejahteraan jasmani dan rohani para anggotanya. Nekmes ma ansaomes artinya juga mengikuti apa yang dikatakan atau disebut hanafmese mo'etmese, atau sesuara satu tindakan. Maksudnya, bersatu dalam perkataan dan bersatu pula dalam tindakan. Ungkapan bersifat keharusan ini bisa juga menjadi pegangan, pedoman atau pendorong yang dibutuhkan secara umum oleh siapa saja dalam menghadapi kesulitan bersama dalam setiap kelompok masyarakat, baik yang menyangkut hal sosial politik, sosial religius dan sosial budaya. Sebuah sikap umum ditetapkan untuk kehidupan bersama dan diharapkan agar sikap itu mendapatkan gemanya juga pada generasi berikutnya.

3.4. Nilai Sosial Religius
Sebagaimana diketahui umum, bahwa dalam kalangan masyarakat tradisional, pengaruh dan keterikatan pada nilai nilai budaya sangat kuat. Di sana hampir tidak terdapat permisahan yang jelas antara hal hal yang religius dan profan. Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat diyakini sebagai kegiatan yang bersifat sosial religius, yang melibatkan tokoh tokoh religius magis masa lampau. Ungkapan nekafmese ma ansaofmese, dikenal orang Dawan sebagai semboyan hidup dan pemberi semangat untuk membangun sebuah kerja sama yang bermutu. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka ungkapan itu bukan lagi milik sebuah kelompok terbatas, melainkan artinya mendorong dan menyemangati siapa saja dalam dan untuk berbagai aspek kehidupan.

Sehati sejiwa, seia sekata, sekata seperbuatan, demikianlah ungkapan itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Masyarakat tradisional dan modern yang masih sangat kuat dipengaruhi oleh tradisi suku, etnis atau marganya, akan tetap menghubungkan kedua aspek itu yakni rohani dan jasmani, religius dan sosial. Dari situlah diharapkan sebuah etos kerja yang baik bisa dihasilkan, bernilai religius yang tidak saja menyangkut pribadi-pribadi tertentu, tetapi juga menyangkut pribadi pribadi sebagai satu kelompok etnis, suku ataupun marga. Dalam Kitab Suci orang Kristen, inti dari ungkapan tersebut sangat jelas dan diharapkan konkretisasinya terus menerus dalam hidup sehari hari. Selama masa Perjanjian Lama, inti dari pemyataan itu selalu dipropagandakan dan menjadi sebuah imperatif yang harus diperhatikan dan dilaksanakan. Yang dimaksudkan di sini adalah adannya sikap sehati sejiwa dalam menanggapi setiap penyampaian entah oleh dewa atau Yahwe, ataupun para leluhur, yang pada akhirnya berguna membentuk kehidupan bersama secara baik dan berhasil. Hal ini tidak berarti bahwa tidak terdapat tantangan dalam menghidupi dan menghayati inti pikiran tersebut. Justru dengan mempertimbangkan segala kemungkinan tersebut diharapkan agar pandangan hidup itu dihayati. Dasar yang kuat disertai kesamaan dan kesatuan motivasi selalu menjadi langkah yang baik dan perlu demi keberhasilan.

Lebih jauh harus pula dipahami bahwa permintaan untuk nekmes ma ansaomes harus keluar dari kesaksian pribadi yang integral, sehingga mampu menggerakkan orang lain untuk bersatu sehati sejiwa. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Untuk menegaskan ungkapan ini digunakan simbol-simbol tertentu, misalnya sapu lidi yang menunjuk pada keberhasilan satu kelompok. Pemahaman ini tidak harus menjadi monopoli aspek sosial religius di atas, tetapi berlaku untuk semua aspek hidup bersama.

4. Upaya Melestarikan Tradisi Lisan
Banyak tradisi terancam hancur dan musnah justru oleh ketidakpedulian para pemiliknya. Artinya, kita tidak boleh berhenti pada tahap pengungkapan rasa sesal dan prihatin saja, lalu turut menyaksikan proses kemusnahan nilai-nilai budaya itu, yang pada saat lampau melekat kuat dalam masyarakal kita. Kita harus menyatakan sikap kepedulian kita secara. konkret. Sebagai pemilik dan pencinta kebudayaan, kita mesti bertanya, bagaimana cara pengungkapan keprihatian dan sikap kepedulian kita terhadap nilai-nilai tradisi terancam musnah itu?

Di sini dikemukakan beberapa nama, yang sudah lebih dahulu peduli terhadap nilai nilai budaya Dawan. Adapun motif dari kelompok orang tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada orang yang peduli terhadap nilai budaya Dawan karena minat dan perhatian. Ada yang didorong juga oleh alasan tugasnya. Juga tidak sedikit kaum akademisi yang akhirnya peduli terhadap budaya Dawan karena tuntutan akademis. Dan terakhir kalangan peneliti yang berminat untuk mengumpulkan data data mengenai budaya Dawan untuk kemudian didokumentasikan dan dipublikasikan.

4.1. Tuntutan Akademis
Di sini hanya akan dibahas dua nama saja yang telah mengabadikan berbagai pikiran dan tradisi lisan etnis Dawan. Dalam memahami budaya lisan Dawan, keduanya mempunyai jalur yang sama yaitu dari kalangan akademisi.

Pertama Uskup Atambua, Mgr. Antonius Pain Ratu SVD. Beliau lama bekerja di wilayah Dawan Timor Tengah Utara (ITU), sebagai pastor paroki dan juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah TTU. Ia membandingkan dalam tesisnya perkawinan adat dalam budaya Dawan perkawinan dalam agama katolik. Makna dan nilai perkawinan adat Dawan yang masih dalam bentuk lisan diangkat lebih tinggi dalam analisis ilmiah. Judul tesisnya adalah A Proposed Adat Marriage Rite for Dawanese Catholics. Karya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: "Upacara Perkawinan Adat secara Katolik untuk Suku Dawan". Nilai nilai adat istiadat perkawinan diambil dan diseleksi untuk kemudian digunakan dalam proses menyusun upacara adat Katolik secara inkulturatif, dengan memperhatikan juga istilah istilah dan ungkapan ungkapan yang sudah digunakan pada awal tulisan ini.

Kedua adalah Dr. Herbert W. Jardner. Selama hampir dua tahun (antara 1991 1992) beliau membuat penelitian lapangan di Niki Niki. Penelitiannya bertolak dari tradisi pewarnaan benang dan proses produksi kain Timor tradisional dengan fokus perhatian pada bentuk dan konteks dari berbagai pantun dan syair lisan orang Dawan dialek Amanuban. Selain itu dia menulis juga beberapa. artikel, yang diterbitkan di Jerman berkaitan dengan istilah istilah khusus bahasa Dawan. Misalnya arti dan makna dari nekan (hati), tekstil tradisional orang Dawan, pakaian sebagai rumah tubuh. Jardner ingin menjadikan dirinya seorang ahli dalam kebudayaan Dawan (Atoin Meto).

4.2. Minat Dan Kepedulian
Tidak terlalu banyak orang yang membuat publikasi menyangkut kebudayaan Dawan berdasarkan minat dan kepedulian semata. Kendati demikian ada juga orang tertentu yang bertolak dari minat pribadinya, telah membuat berbagai catatan dokumentatif menyangkut nilai nilai budaya Dawan. Di sini hanya disebutkan dua tokoh saja
Tokoh Pertama adalah Pendeta Dr. Pieter Middelkoop. Ia merupakan satu dari sekian banyak orang asing yang menaruh perhatian luar biasa terhadap kebudayaan daerah Dawan dialek Amanuban dan Molo. Ia datang ke Kabupaten TTS tahun 1920 an. Sebagai seorang pendeta muda, dia mencurahkan perhatiannya hanya kepada budaya Dawan, khususnya bahasa Dawan. Dia mendengar banyak cerita dari masyarakat tentang berbagai hal menyangkut berbagai legenda dan dongeng rakyat. Cerita itu selanjutnya ditulis ulang sebelumn diterbitkkan dalam berbagai publikasi yang ada. Ada dua nomor bukunya yang berhubungan langsung dengan tradisi tradisi lisan. Pertama Sebuah Studi tentang Ritus Ritus Kematian Orang Timor (Dawan) yang diterbitkannya tahun 1949. Buku ini berisikan berbagai pembicara yang biasanya digunakan orang Dawan untuk mengungkapkan rasa dukacitanya akan kematian salah seorang anggota keluarganya. Buku tersebut dipublikasikan dalam dua bahasa, yakni bahasa asli (Dawan) dan bahasa Belanda. Judul aslinya adalah Een Studie von het Timoreesc doodenritueel. Kedua, Tradisi Potong Kepala di Timor dan Implikasi Historisnya. Buku ini diterbitkan oleh Universitas Sidney, Australia tahun 1963 sebagai suatu monografi dalam dua bahasa yakni bahasa Dawan dan Inggris. Judul aslinya adalah Head Hunting in Timor and its Historical Implications.

Tokoh kedua yaitu Prof. Dr. H.G. Nordholt Schulte, seorang antropolog sosial berkebangsaan Belanda, yang menulis sebuah buku setebal lebih dari 500 halaman berjudul The Political System of the Atoni of Timor (Sistem Politik Suku Atoni di Timor). Dalam bukunya ini, ia menganalisa sistem politik tradisional orang Dawan bersama segala struktur sosialnya. Karya H.G. Nordholt Schulte tersebut merupakan karya standar yang cukup lengkap tentang kebudayaan orang Dawan (Atoin Meto), bahkan karya ini bisa menjadi bahan referensi wajib bagi mereka yang membuat penelitian dan penulisan tentang kebudayaan Dawan. Kekurangan karya tersebut terletak pada terjemahan doa doa dan pembicaraan adatnya dalam bahasa Inggris yang mengurangi makna asli tradisi tradisi tersebut.

4.3. Usaha Usaha Lainnya
Masih ada kemungkinan lainnya untuk turut memacu usaha pelestatian kebudayaan daerah, yang rata rata masih tersimpan secara lisan dalam diri Para Pemiliknya atau pemangku adatnya. Yang paling utama bukanlah tersedia atau tidaknya kemungkinan untuk melaksanakan kegiatan pelestarian, melainkan usaha untuk memacu minat para pemilik budaya Dawan agar memperhatikan substansi muatan lokal yang masih dipersoalkan atau paling kurang didiskusikan saat ini. Untuk itu dibutuhkan kerjasama antara pihak pihak terkait, yang bertugas menyeleksi bahan bahan tersebut.
Cara lain yang harus diusahakan adalah pemberian nama pada jalan, bangunan, aula, gedung, yang diambil dari tradisi tradisi lisan setempat. Di samping itu usaha pribadi orang-¬orang yang berminat dengan dukungan moril dan dana insentif dari pernerintah kabupaten.

Juga harus didorong pula pembentukan dan pendirian LSM yang bergerak dalam usaha pelestarian nilai nilai budaya, misalnya, untuk membidani dan membidangi sanggar sanggar, organisasi kerja seni menenun dan menabuh gong, menari dan lain sebagainya.

5. Penutup
Suku Dawan merupakan etnis terbesar dari penghuni Timor bagian barat. Suku ini memiliki kekayaan budaya yang umumnya masih berbentuk tradisi lisan. Salah satu kekayaan atau nilai budayanya adalah pandangan atau falsafah hidup yang digunakan sebagai pedoman arah dalam mengatur kehidupan bersama, menyelesaikan kesulitan dan dalam berinteraksi dengan sesama. Metode dan proses pewarisan nilai nilai tersebut juga masih dalam bentuk lisan dari generasi ke generasi. Akibatnya, nilai kekayaan budaya tersebut mengalami penyusutan. Memang sudah sejak lama beberapa, tokoh (sebagian besar di antara mereka adalah antropolog luar negeri) berusaha mendokumentasikan kekayaan budaya ini, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Saat ini kelompok penduduk setempat berupaya untuk melestarikan nilai nilai budayanya. Namun upaya itu tidak didasarkan atas perhatian ilmiah tetapi lebih banyak didorong oleh tuntutan ekonomis.

Kepustakaan

1. Yohanes E. Garang, "Adat und Gesellschaft. Eine sozio ethnologische Untersuchung des Geister und Kulturlebens der Dayak in Kalimantan: dalam Beitraege zur Suedasien¬Forschung no. 9. Wiesbaden: Institut Universitas Heidelberg, 1974.
2. Andreas Tefa Sawu, "Dawan: Nama pemberian orang lain" dal Orang Dawan: beberapa catatan kaki, SKM DIAN tanggal 12 Juni 1992 hal. 7; dan "Atoni: nama pemberian sendiri", dalam Orang Dawan beberapa catatan kaki, SKM DIAN 9 Oktober 1992, hal. 2 dan 4.
3. Herbert Jardner W., Die KUAN FATU Chronik. Form und Kontext der mündlichen Dichtung der Atoin Meto (Amanuban, Westtimor). Berlin Hamburg: Dietrich Reimer, 1999.
4. J.G.E Riedel: "Die Landschaft Dawan oder West Timor" dalam Deutsche Geographische Blaetter, no. 10/1887, hal. 227 236; 278 287.
5. Piet A.Tallo: OKOMAMA: Simbol Pendekatan Masyarakat Timor. Soe 1990.
6. Anton Pain Ratu, "Perkawinan Adat Suku Dawan", dalam SAWI (Sara Karya Perutusan Gereja), no 5 Mei 1991, 5 94. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bapak Drs. Antonius Bele.
--------------

ADAKAH KEBUDAYAAN TIMOR?

Sebuah Refleksi Tentang Istilah “Kebudayaan Timor”
(Oleh: Andreas Tefa dan Alber Funan)

Bahasa dan Sejarah

Adalah satu kenyataan bahwa ada banyak suku, yang mendiami pulau Timor. Mereka memiliki struktur atau sistem kehidupan yang unik dan asli, yang berbeda-beda satu sama lain. Mereka juga memiliki sejarah terbentuknya kelompoknya masing -masing. Bertolak dari aspek – aspek atau unsur - unsur yang membentuk kebudayaan setiap etnis, diakui bahwa ada banyak perbedaan secara kualitatif. Sebut saja perbedaan bahasa, pola pikir, agama, nilai etis dan moral, hasil – hasil kreativitas dan ciptaan kelompok serta masih banyak lagi.

Di daratan Timor, hidup dan berkembang berbagai kelompok etnis mulai dari Lospalos di Timor Lorosa’e sampai dengan ujung paling Barat pulau Timor. Di Timor Lorosa’e, hidup lebih dari dua puluhan kelompok etnis dengan bahasanya masing-masing, di mana strukturnya juga berbeda satu sama lain. Ada bahasa Dagada, Makasai, Kairai (Kairui), Galoli, Idate, Mambai, Waimaha, Tukudede dan Tetum, serta Vaikenu di Ambenu. Athur Capel menyebut bahasa - bahasa tersebut di atas sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di Timor Lorosa’e, selain beberapa bahasa lainnya, yang tergolong kecil secara kuantitatif. Sementara itu di Timor bagian Barat, terdapat tidak lebih dari lima etnis yang juga mempunyai bahasa, struktur dan kebiasaan-kebiasaannya yang berbeda satu sama lain. Ada bahasa Bunak dan Kemak di Belu Utara, bahasa Tetum di Belu Selatan dan bahasa Dawan (Timor – Barat), Kupang (Helon??), Rote dan Sabu. Bahasa Dawan digunakan oleh hampir sebagian besar penduduk Timor bagian Barat.

Dari segi linguistik Athur Capell memasukkan bahasa Rote ke dalam kelompok bahasa Dawan atau Timor - Barat. Perbandingan dilakukan antara beberapa bahasa di Timor seperti bahasa Kupang (Helon??), Timor Barat (Dawan), Vaikenu (Dawan), Tukudede, Tetum, Mambai, Galoli, Makasai, Waimaha dan Bunak. Menurutnya bahasa Tetum, Mambai, Tukudede, Galoli dan Idate dikelompokkan ke dalam kategori bahasa Indonesia atau Melanesia. Sementara itu kelompok bahasa bukan Indonesia atau Papua adalah bahasa Bunak, Makasai, Waimaha, Kairui (bdk. A. Capell. Peoples and Languages of Timor, dalam Oceania, no. XIV-XV / 1943 – 1945, 313 - 314). Dari semua itu dikatakan bahwa bahasa – bahasa di Timor termasuk dalam rumpun bawahan bahasa Melanesia (Helon, Rote, Dawan, Tetum, Mambai dan Galoli). Sementara itu bahasa Sabu (Sawu) bersama dengan bahasa – bahasa di Sumba, Sumbawa dan Manggarai termasuk dalam kelompok atau rumpun bawahan bahasa Malayu. Kedua kelompok bawahan itu bernaung di bawah rumpun besar bahasa Austronesia.

Etimologi Nama Timor

Ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskan nama “Timor”.
Pertama Timor diduga berasal dari kata bahasa Latin yang berarti: Ketakutan. Dalam kaitan dengan sebutan atau arti kata Timor ini, maka diduga pula bahwa kelompok penduduk pertama yang bertemu dengan orang asing (Eropa) menunjukan rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka tidak mampu menjawab pertanyaan pendatang tersebut tentang nama pulau mereka. Bertolak dari pengalaman tersebut, maka orang asing itu memberi nama “timor” kepada pulau yang penduduknya takut.

Kedua, Ada sementara orang mengatakan bahwa nama sesungguhnya dari pulau ini bukan timor melainkan timur. Mengapa disebut timur? Dikatakan bahwa kata timur dalam salah satu bahasa asing mengandung pengertian “kuning”. Berdasarkan kesimpulan sementara boleh dibenarkan nama dengan pengertian tersebut, karena di daratan Timor tumbuh sejenis pohon (Orang Dawan menyebutnya: Hau molo’) yang bagian intinya berwarna kuning dan termasuk salah satu bahan perdagangan yang dicari orang-orang asing khususnya Eropa dan Asia.

Ketiga, masih berkaitan dengan nama dan sebutan Timur. Penggunaannya di sini berkaitan dengan letak geografis, yakni di belahan paling timur. Nama ini terpaksa digunakan untuk menyebut pulau tersebut yang diduga belum mempunyai nama yang sesungguhnya. Nama ini kemudian menjadi terkenal di dalam berbagai tulisan Eropa, karena di pulau ini tumbuh dan berkembang tumbuhan cendana, yang kayunya sangat dicari oleh para pedagang dunia Eropa dan sebagian Asia.
Nama timur juga sering digunakan oleh orang-orang asli kalau mereka mengungkapkan identitasnya sebagai orang timor. Hal ini bisa dilihat dalam ungkapan berikut: ‘Hai atouen tiumre’ yang artinya: kami orang timur. Untuk pikiran ini kami memilih untuk menggunakan ungkapan pulau Timor bukan pulau Timur.

Orang Timor Asli: Siapakah itu?

Secara geografis dapat dikatakan bahwa semua orang yang lahir dan besar di daratan Timor serta yang berdomisili sementara di pulau Timor disebut orang Timor. Namun dalam tataran ini, orang Timor yang dimaksudkan (di sini) bukan orang Timor dalam arti singular tetapi harus dimengerti dalam arti plural atau bukan dalam arti homogen melainkan heterogen. Itu berarti, bahwa semua orang yang lahir atau yang tinggal di Timor disebut orang Timor.

Namun kalau kita hendak berbicara tentang orang Timor asli maka kriteria yang digunakan di sini adalah kriteria kekerabatan. Karena itu, mereka yang menikahi lelaki timor asli otomatis terhitung sebagai orang Timor. Pada di pihak lain, para kaum wanita, yang menikah dengan lelaki luar Timor otomatis terhitung ke dalam marga atau kekerabatan suaminya. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian besar etnis-etnis asli di Timor menganut sistem kekerabatan patriarkat, kecuali beberapa etnis yang menganut sistem kekerabatan matriarkat.

Dengan mengacu pada dua kriteria di atas, maka dapat dikatakan bahwa kelompok etnis bukan orang Timor asli (berdasarkan aspek kekerabatan) adalah etnis-etnis dari pulau –pulau lain di Indonesia, yang tinggal dan bekerja di Timor. Pertanyaan lain adalah apakah etnis Rote dan Sabu bisa dimasukan dalam kategori orang Timor atau kategori bukan orang Timor? Dalam kenyataannya, sering orang Rote dan Sabu disebut sebagai orang Timor, kendatipun kedua kelompok itu sangat berbeda dan cara hidupnya. Alasannya adalah bahwa sesuai dengan salah satu orang Timor, etnis Rote dan Sabu adalah saudara-saudara orang Timor. Dengan demikian maka budaya etnis Rote dan Sabu juga termasuk di dalam budaya etnis-etnis di Timor.

Adakah Kebudayaan Timor?

Ada dua kemungkinan yang bisa diberikan untuk menjawabi pertanyaan di atas yakni ya dan tidak. Diakui bahwa ada kebudayaan Timor berdasarkan latar belakang geografis-demografis, di mana terdapat banyak etnis lain dari luar pulau Timor yang tinggal, berkembang, beranak-cucu di pulau tersebut. Mereka itu dikategorikan sebagai orang yang berkebudayaan Timor. Kenyataan dan kesatuan geografis inilah bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengakui keberadaan sebuah ‘budaya atau kebudayaan Timor’. Selebihnya tidak ditemukan alasan yang mendasar untuk itu. Jadi tidak ada kebudayaan Timor sebagai satu kesatuan yang homogen, dalam arti singular.

Ditinjau dari berbagai aspek lainnya, justru atribut kebudayaan Timor tidak bisa diterima sebagai sebuah sebutan untuk satu kesatuan tunggal atau singular. Alasannya adalah bahwa di daratan Timor seluruhnya terdapat berbagai macam etnis dengan budaya masing – masing yang sangat berbeda dan unik. Penelitian antropologi ragawi membenarkan hal ini. Yang ada adalah kebudayaan-kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di pulau Timor, yang berkembang dan dikenal secara luas, yang berbeda secara kuantitatif maupun kualitatif. De facto tidak ada kebudayaan Timor sebagai satu keutuhan sampai sekarang. Karena itu, istilah kebudayaan Timor tidak cocok dan tidak benar (belum pantas) untuk digunakan dalam forum-forum resmi bertemakan sosial budaya, politik, religius.

Kami akhirnya menarik kesimpulan sementara bahwa hanya ada kebudayaan-kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di tanah Timor yang tersebar dari Lospalos di Timor Lorosa’e sampai ujung paling Barat Kupang dan pulau-pulaunya. Karena itu rasanya janggal dan tidak benar, ketika orang mengatakan bahwa suatu aktivitas ketrampilan budaya dan kesenian adalah kekayaan atau aset budaya atau kebudayaan Timor. Dalam kenyataannya aktivitas itu hanyalah salah satu aspek budaya dari etnis tertentu yang ada di Timor. Kita mengambil contoh: tarian Likurai sebagai aset budaya Timor, justru mewakili etnis Tetum dan yang berkeluarga dengannya, yang ada di Timor bagian Barat, yang tidak dimiliki atau diketahui secara baik oleh semua etnis di Timor. Hal yang sama berlaku juga untuk tarian Bonet yang ada dan dikenal dalam masyarakat dawan. Tarian itu dalam kenyataan adalah aset budaya dari etnis Dawan. **

TIMOR: NAMA DAN IDENTITAS

(Andreas Tefa Sa’u)

I.
De facto adalah bahwa ada banyak suku, yang mendiami pulau Timor, yang biasanya banyak disebut dengan berbagai nama berdasarkan pemahaman setiap orang dan lingkungan. Orang Timor memiliki struktur atau sistem kehidupan yang unik dan asli, yang berbeda-beda satu sama lain. Mereka juga memiliki sejarah terbentuknya kelompoknya masing-masing. Bertolak dari aspek – aspek atau unsur - unsur yang membentuk kebudayaan setiap etnis, diakui bahwa ada banyak perbedaan secara kualitatif. Sebut saja perbedaan bahasa, pola pikir, agama, nilai etis dan moral, hasil – hasil kreativitas dan ciptaan kelompok serta masih banyak lagi.

Di daratan Timor, hidup dan berkembang berbagai kelompok etnis mulai dari Lospalos di Timor Lorosa’e sampai dengan ujung paling Barat pulau Timor. Di Timor Lorosa’e, hidup lebih dari dua puluhan kelompok etnis dengan bahasanya masing-masing, di mana strukturnya juga berbeda satu sama lain. Ada bahasa Dagada, Makasai, Kairai (Kairui), Galoli, Idate, Mambai, Waimaha, Tukudede dan Tetum, serta Vaikenu di Ambenu. Athur Capel menyebut bahasa - bahasa tersebut di atas sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di Timor Lorosa’e, selain beberapa bahasa lainnya, yang tergolong kecil secara kuantitatif. Sementara itu di Timor bagian Barat terdapat tidak lebih dari lima etnis yang juga mempunyai bahasa, struktur dan kebiasaan-kebiasaannya yang berbeda satu sama lain. Ada bahasa Bunak dan Kemak di Belu Utara, bahasa Tetum di Belu Selatan dan bahasa Dawan (Timor – Barat), Kupang (Helong), Rote dan Sabu. Bahasa Dawan digunakan oleh hampir sebagian besar penduduk Timor bagian Barat, dengan variasi dialek dari wilayah ke wilayah. Misalnya bahasa Dawan dialek Insana sangat berbeda dengan bahasa Dawan dialek Eban dan Noemuti. Demikian juga halnya dengan bahasa Dawan dialek Amanatun berbbeda dengan bahasa Dawan dialek Amanuban dan Amarasi. Variasi dialek dalam bahasa Dawan ini menjadi satu kekayaan budaya.

Dari segi bahasa Athur Capell memasukkan bahasa Rote ke dalam kelompok bahasa Dawan atau Timor - Barat. Perbandingan dilakukan antara beberapa bahasa di Timor seperti bahasa Kupang (Helon??), Timor Barat (Dawan), Vaikenu (Dawan), Tukudede, Tetum, Mambai, Galoli, Makasai, Waimaha dan Bunak. Menurutnya bahasa Tetum, Mambai, Tukudede, Galoli dan Idate dikelompokkan ke dalam kategori bahasa Indonesia atau Melanesia. Sementara itu kelompok bahasa bukan Indonesia atau Papua adalah bahasa Bunak, Makasai, Waimaha, Kairui (bdk. A. Capell. Peoples and Languages of Timor, dalam Oceania, no. XIV-XV / 1943 – 1945, 313 - 314). Dari semua itu dikatakan bahwa bahasa – bahasa di Timor termasuk dalam rumpun bawahan bahasa Melanesia (Helon, Rote, Dawan, Tetum, Mambai dan Galoli). Sementara itu bahasa Sabu (Sawu) bersama dengan bahasa – bahasa di Sumba, Sumbawa dan Manggarai termasuk dalam kelompok atau rumpun bawahan bahasa Malayu. Kedua kelompok bawahan itu bernaung di bawah rumpun besar bahasa Austronesia.

II.
Ada beberapa kemungkinan untuk menjelaskan nama atau sebutan Timor.
Pertama Timor diduga berasal dari kata bahasa Latin yang berarti: Ketakutan. Dalam kaitan dengan sebutan atau arti kata Timor ini, maka diduga pula bahwa kelompok penduduk pertama yang bertemu dengan orang asing (Eropa) menunjukan rasa takut yang berlebihan, sehingga mereka tidak mampu menjawab pertanyaan pendatang tersebut tentang nama pulau mereka. Bertolak dari pengalaman tersebut, maka bisa saja terjadi bahwa orang asing itu memberi nama “timor” kepada penduduk pulau lari ketakutan ketika bertemu dengan mereka.

Kedua, ada sementara orang mengatakan bahwa nama sesungguhnya dari pulau ini bukan timor melainkan timur. Mengapa disebut timur? Dikatakan bahwa kata timur dalam salah satu bahasa asing mengandung pengertian “kuning” atau coklat. Misionaris Timor Pater Andreas Vroklage dalam bukunya Ethnograpie der Belu in Zentral-Timor (bagian I hal. 3) mengatakan bahwa nama Timor mulanya berasal dari kata bahasa Tetun yakni Timur. Istilah itu dalam bahasa Indonesia dimengerti sebagai salah arah mata angin, dari mana matahari terbit . Namun menurut bahasa aslinya yang adalah bahasa Tetun, maka ungkapan timur artinya berwarna coklat. Dengan demikian timur tidak berarti pulau yang terletak di bagian paling Timur menurut arah mata angin, melainkan pulau yang tanahnya berwarna coklat atau kuning. Penduduknya sendiri dikatakan juga memiliki warna kulit coklat atau kuning. Karena itu orang Belu menggunakan ungkapan Rai Timur dengan maksud untuk menyebut atau pulau atau wilayah yang warna tanah kuning atau coklat, atau juga pulau di mana oran-orang berkulit coklat atau kuning tinggal. Sementara bahasa Tetun untuk matahari terbit adalah Loro Sa´e, yang artinya bagian Timur.

Ketiga, masih berkaitan dengan nama dan sebutan Timur. Penggunaannya di sini berkaitan dengan letak geografis, yakni teerletak di belahan yang paling timur (bdk. Bickmore 1868, 112-125; Vroklage 1952, 3; Sawu, Di Bawah Naungan Gunung Mutis. Ende 2004, 21). Nama ini terpaksa digunakan untuk menyebut pulau tersebut yang diduga belum mempunyai nama yang sesungguhnya. Nama ini kemudian menjadi terkenal di dalam berbagai tulisan Eropa, karena di pulau ini tumbuh dan berkembang tumbuhan cendana, yang kayunya sangat dicari oleh para pedagang dunia Eropa dan sebagian Asia (lht juga Carthaus. Die Insel Timor. Dalam GLOBUS. Bd. XCVIII\16, tgl. 27 Oktober 1910, hal. 245).

Nama timur juga sering digunakan oleh orang-orang asli kalau mereka mengungkapkan identitasnya sebagai orang timor. Hal ini bisa dilihat dalam ungkapan berikut: ‘Hai atouen tiumre’ yang artinya: kami orang timur. Untuk pikiran ini kami memilih untuk menggunakan ungkapan pulau Timor bukan pulau Timur.


III.
Secara geografis dapat dikatakan bahwa semua orang yang lahir dan besar di daratan Timor serta yang berdomisili sementara di pulau Timor disebut orang Timor. Namun dalam tataran ini, orang Timor yang dimaksudkan (di sini) bukan orang Timor dalam arti singular tetapi harus dimengerti dalam arti plural atau bukan dalam arti homogen melainkan heterogen. Itu berarti, bahwa semua orang yang lahir atau yang tinggal di Timor disebut orang Timor.

Namun kalau kita hendak berbicara tentang orang Timor asli maka kriteria yang digunakan di sini adalah kriteria kekerabatan. Karena itu, mereka yang menikahi lelaki timor asli otomatis terhitung sebagai orang Timor. Pada di pihak lain, para kaum wanita, yang menikah dengan lelaki luar Timor otomatis terhitung ke dalam marga atau kekerabatan suaminya. Hal ini disebabkan oleh karena sebagian besar etnis-etnis asli di Timor menganut sistem kekerabatan patriarkat, kecuali beberapa etnis yang menganut sistem kekerabatan matriarkat.

Dengan mengacu pada dua kriteria di atas, maka dapat dikatakan bahwa kelompok etnis bukan orang Timor asli (berdasarkan aspek kekerabatan) adalah etnis-etnis dari pulau–pulau lain di Indonesia, yang tinggal dan bekerja di Timor. Pertanyaan lain adalah apakah etnis Rote dan Sabu bisa dimasukan dalam kategori orang Timor atau kategori bukan orang Timor? Dalam kenyataannya, sering orang Rote dan Sabu disebut sebagai orang Timor, kendatipun kedua kelompok itu sangat berbeda termasuk cara hidupnya. Alasannya adalah bahwa sesuai dengan salah satu cerita orang Timor, etnis Rote dan Sabu adalah saudara-saudara orang Timor. Dengan demikian maka budaya etnis Rote dan Sabu juga termasuk di dalam budaya etnis-etnis di Timor.

IV.
Ada dua kemungkinan yang bisa diberikan untuk menjawabi pertanyaan di atas yakni ya dan tidak. Diakui bahwa ada kebudayaan Timor berdasarkan latar belakang geografis-demografis, di mana terdapat banyak etnis lain dari luar pulau Timor yang tinggal, berkembang, beranak-cucu di pulau tersebut. Mereka itu dikategorikan sebagai orang yang berkebudayaan Timor. Kenyataan dan kesatuan geografis inilah bisa dijadikan sebagai dasar untuk mengakui keberadaan sebuah ‘budaya atau kebudayaan Timor’. Selebihnya tidak ditemukan alasan yang mendasar untuk itu. Jadi tidak ada kebudayaan Timor sebagai satu kesatuan yang homogen, dalam arti singular.

Ditinjau dari berbagai aspek lainnya, justru atribut kebudayaan Timor tidak bisa diterima sebagai sebuah sebutan untuk satu kesatuan tunggal atau singular. Alasannya adalah bahwa di daratan Timor seluruhnya terdapat berbagai macam etnis dengan budaya masing – masing yang sangat berbeda dan unik. Penelitian antropologi ragawi membenarkan hal ini. Yang ada adalah kebudayaan-kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di pulau Timor, yang berkembang dan dikenal secara luas, yang berbeda secara kuantitatif maupun kualitatif. De facto tidak ada kebudayaan Timor sebagai satu keutuhan sampai sekarang. Karena itu, istilah kebudayaan Timor tidak cocok dan tidak benar (belum pantas) untuk digunakan dalam forum-forum resmi bertemakan sosial budaya, politik, religius.

Sebuah kesimpulan sementara bisa diambil bahwa hanya ada kebudayaan-kebudayaan dari berbagai etnis yang ada di tanah Timor yang tersebar dari Lospalos di Timor Lorosa’e sampai ujung paling Barat Kupang dan pulau-pulaunya, yang dikatakan sebagai budaya-budaya Timor. Karena itu rasanya janggal dan tidak benar, ketika orang mengatakan bahwa suatu aktivitas ketrampilan budaya dan kesenian adalah kekayaan atau aset budaya atau kebudayaan Timor. Dalam kenyataannya aktivitas itu hanyalah salah satu aspek budaya dari etnis tertentu yang ada di Timor. Kita mengambil contoh: tarian Likurai sebagai aset budaya Timor, justru mewakili etnis Tetum dan yang berkeluarga dengannya, yang ada di Timor bagian Barat, yang tidak dimiliki atau diketahui secara baik oleh semua etnis di Timor. Hal yang sama berlaku juga untuk tarian Bonet yang ada dan dikenal dalam masyarakat Dawan. Tarian itu dalam kenyataan adalah aset budaya dari etnis Dawan.

V.
Secara praktis sesuai dengan penglihatan manusia, nampak bahwa pulau Timor, atau pulau yang dikatakan tanahnya berwarna coklat dan kulit badan para penduduknya juga berwarna yang sama itu adalah pulau yang gersang, kering, berbatu-batu, khususnya berbatu kapur, dan tidak mempunyai apa-apa yang bisa dibanggakan atau dijual ke luar daerah apalagi ke luar negeri. Yang ada di atas tanah “timur” itu adaah sejumlah jenis pohon, yang ditemukan hidup di seluruh pulau tersebut.

Menurut penelitian para ahli dari berbagai ilmu pengetahuan ditemukan berbagai jenis mineralien dan batu mulia di dalam kandungan ibu pertiwi Timor itu. Yang nyata terlihat di atas tanah adalah bukit-bukit batu karang yang hampir tidak terdapat tumbuhan di atasnya. Dan bukit-bukit batu itu adalah bahan baku yang membungkus marmer beberapa warna di dalamnya, yang membutuhkan saja eksploitasi dan pengolahan selanjutnya. Selain dari pada itu ada juga kandungan bahan mineralien lainnya dalam kadar yang berbeda secara kualitatif dan kuantitatif (lht. Fiedler. Die Insel Timor. 1929, hal. 14-19).

Dari segi fauna dan flora pulau Timor juga memiliki kekhasannya tersendiri. Ada jenis rusa tertentu, yanghanya ditemukan di daratan Timor saja. Ada juga jenis pohon-pohon mulia yang hanya bisa tumbuh di pulau coklat tersebut. Misalnya pohon cendana, yang telah mengharumkan dan memperkenalkan nama pulau yang satu ini kepada dunia internasional, walaupun kenyataan sekarang hampir menyisakan hanya sebuah sejarah ata cerita dongeng. Patut juga disayangkan bahwa ada jenis unggas yang dulu banyak ditemukan di Tinmor, namun karena ulah manusia, maka jenis unggas kakatua punah dari Timor.

VI.
Orang Timor juga menulis sejarahnya tersendiri sebagai kelompok penghuni sebuah pulau yang juga memiliki keunikannya. Pada suatu saat mereka pernah memperjuangkan kebersamaan hak mereka yakni hak untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Paling kurang sejak abad ke-13 secara sporadis dan juga secara bersama terorganisir sudah berjuang untuk mengalami hal ini, kendati mereka harus tetap realistis dengan situasi yang tetap belum berpihak pada mereka. Ada banyak catatan sejarah dari setiap kelompok etnis pada setiap wilayah penghuni pulau untuk mendapatkan kebebasan bahkan kemerdekaan sosial budaya dan politis.

Catatan sejarah terkini bagi wilayah paling Timur pulau Timor, yang telah menuai hasil perjuangan mereka untuk mencapai kemerdekaan sosial budaya dan sosial politis. Apapun dan bagaimanapun masa depan yang sekarang mereka alami dan hidupi, pengalaman kebebasan dan kemerdekaan merupakan pemenuhan sebuah perjuangan yang telah menghabiskan waktu dan tenaga ratusan tahun. Banyak orang telah mengorbankan diri demi tujuan tersebut.

Kini yang tersisa bagi mereka adalah usaha untuk memberikan isi dan makna kepada kemerdekaan yang telah dialami berdasarkan banyak kemungkinan yang ditawarkan kepada mereka, yang membutuhkan banyak pengorbanan fisik dan mental, spiritual dan sebagainya. Pengalaman kemerderkaan yang dihidupi sekarang juga memberikan porsi kepercayaan yang lebih besar bagi setiap orang Timor sebagai pribadi dan terlebih sebagai kelompok etnis-etnis. Apapun keadaan yang sedang berkembang di bumi Timor bagian timur itu, ini adalah satu kenyataan sejarah, yang sudah dicatat di dalam sejarah dunia.

Secara umum diakui bahwa orang Timor umumnya bukanlah orang yang tekun dan ulet dalam berjuang, baik sebagai kelompok etnis-etnis maupun sebagai pribadi. Sikap hidup yang masih melekat kuat di dalam diri orang-orang Timor adalah puas dengan apa yang telah diperolehnya. Dari sikap itu orang beranggapan bahwa itulah ukuran kemampuannya sebagai manusia. Sebagai kelompok orang Timor, bila dia tetap tinggal di dalam daerah atau wilayah Pulau Timor, maka dia secara sadar ataupun tak sadar sangat dipengaruhi oleh sikap di atas. Karena itu orang akan berusaha juga untuk menerima diri dan realistis dengan apa yang dihasilkan atau diperolehnya. Berapa banyak orang Timor yang sungguh berhasil di dalam wilayah Pulau Timor? Hampir tidak ada yang sangat menonjol. Semua sama di mana-mana.

Namun bila orang Timor itu keluar dari tanah airnya dan berjuang untuk hidup di tanah orang lain, dia dibilang bisa berhasil, bahkan ada yang berhasil sekali. Tidak banyak orang yang bisa disebutkan, tetapi satu dua orang bisa disebut untuk itu, yang bisa menjadi orang baik dan berhasil dalam hidup dan karyanya.

Wednesday, May 26, 2010

RiSAU

Pernahkah kau tanya
adakah rasa yang senantiasa risau?

Aku gamang dalam tanya
seandainya hidup memang untuk bertanya
lalu kenapa rasa ini bisa risau?

TANIA


Kau datang dan mengajak senyum ibumu
beri cahaya buat ayahmu,
pun oma yang saban hari membopongmu

kau jadi mentari untuk paman dan tantemu
lalu kau merajuk dan ingin pergi

Tania
luka itu sudah lama terasa
betapa beratnya dosa warisan
membalut nyeri pada ulu hatimu

kala menjelang datangnya malam
kau ajak ibu dan ayah begadang
menjaga mutiara yag nyaris pudar

perlahan
kau bisik lembut adikmu
yang nyaman berdekap dalam rahim ibumu
jangan biarkan bunda kita menangis

Aku kan pergi menjumpai opa
di sana akan kukirimkan harum aneka puspa
untuk kau
papi mami oma om dan tante

RAI BESIKAMA

Cerpen :

Di bawah sorot bulan yang pucat, di depan pondok di tepi ladang, aku berbaring telanjang dada. Puluhan nyamuk dan agas berebutan mencari tempat hinggap yang pas di tubuhku. Aku tak peduli. Malam belum juga larut.

Kutatapi pohon-pohon jagung yang berhambur di ladang. Kurus dan kering, habis terpanggang. Kemarau telah datang lebih awal dan belum juga menampakkan tanda-tanda mau pergi. Sesudah banjir bandang yang memporandakan tanaman ladang, kekeringan ini terasa bagai kutukan. Orang-orang kampungku sudah jatuh, tertimpa tangga, digigit anjing pula.

Ada suara orang bernyanyi. Lamat-lamat. Kupasang telinga. Semakin jelas, mengiring bunyi alu pada lesung: Aka beluk .
Belu e, ama belu, tudik taka rai Besikama la taka .
Belu e, ama belu, tudik taka rai Besikama la taka.
Nan ami ho emi, keta sasia’ sai ema sisa loro no kalan .
Nan emi sai ema, keta saida’ katak mesa lia, lara moras bamalu .

Sungguh hebat nenek moyang orang Besikama. Filosofi hidupnya telah menjelma aka beluk oleh kecerdasan musikal yang tak bisa dinilai rata-rata. Muda-mudi menumbuk sagu (putak) sambil berlagu dan bersyair. Bersahut-sahutan. Saling menyindir. Sehat dan jenaka. Tidak melahirkan dendam, juga tanpa perlu menyinggung dan tersinggung. Wujud kearifan Wehali-Wewiku yang terus mewaris hingga pada malam ini masih sempat kudengar.

Aku tersenyum sendiri.
Dulu. Dahulu sekali. Ladang subur tepi muara Benenain ini adalah lambang kejayaan orang-orang di kampungku. Bahkan, oleh ladang-ladangnya yang subur, Besikama telah menjadi ikon kemakmuran seantero daratan Timor.
Kemakmuran di desaku sungguh nyata. Tiga kali setahun kami memanen jagung dan padi. Sekali setahun orang bersukacita dengan panen kacang hijau. Kelapa dan berbagai jenis pisang bisa tumbuh subur. Berlimpah ubi dan kacang-kacangan. Sayurannya hijau dan segar.

Kalau kamu bertamu ke rumah salah satu orang desaku, suguhannya boleh kau tentukan sendiri: singkong, ubi jalar, ketimun atau mangga. Pilih sendiri pisangnya: pisang raja, pisang ambon, pisang susu, pisang mas, pisang kavendis.

Bila kau seorang asing dan sedang lapar, masuk saja ke kebun dan makanlah apa yang bisa kau temui. Tidak ada yang bakal menghukummu asalkan jangan kaubawa keluar. Bila kau mencari rumah seseorang, tanyakan saja alamatnya kepada siapapun yang kau temui, niscaya kau akan sampai ke tujuan, tanpa bayar. Kalau kamu melupakan sesuatu di pasar, sampai sebulanpun kamu masih bisa mendapatkannya kembali.

Tapi, kalau kamu pencinta alam, maka desaku adalah surganya. Hutan desaku sungguh perawan. Bukan cuma nyiurnya yang melambai, segala tetumbuhan, unggas dan margasatwa di sini benar-benar melambai, meminta kau datang untuk menonton kemolekan yang tiada duanya. Pernahkah kau dengar tentang Abudenok, Motadikin, Beiseuk, Taberek? Hutan Wemer atau bendungan Benenain? Suatu saat kamu mesti ke sana. Saksikan sendiri keindahannya!

=====
Malam hampir larut. Masih ada beberapa ekor nyamuk yang merengek kian kemari di dekat telingaku. Suara Niis yang membawakan solo aka beluk meski kian melemah, sempat menyapa telingaku, “Maubesi nakmuk wekto tanis, tanis na’ak maubesi solok la tadu, Maubesi nakmuk wekto tanis, tanis na’ak maubesi kole be kole...”

Kini, Wemer sudah habis dibabat, Taberek dan Motadikin habis dikeruk pasirnya. Beiseuk dan Abudenok jadi kumuh oleh sampah berceceran. Buaya di muara kini tinggal cerita. Habis diburu untuk bahan kulit ekspor. Nyiur-nyiur melambai diganti dengan tembok kokoh penahan banjir. Besikama jadi muara berbeton.

Kini kekeringan hebat melanda negeriku. Musim panas lebih cepat datang dan belum juga menampakkan tanda-tanda mau pergi. Jagung tidak bisa dipanen, kacang hijau, singkong dan ketimun apalagi. Pisang tak ada lagi di kebun, dan kelapa enggan berbuah. Kini, bila kamu bertandang ke rumahku kamu hanya akan disuguhi aka bilan.
Belu e, ama belu, tudik taka rai Besikama la taka.
Belu e, ama belu, tudik taka rai Besikama la taka.

Tidak ada yang abadi di muka bumi ini. kebahagiaan maupun penderitaan tidak bekanjang selamanya. Yang bahagia hari ini masih merupakan tanda tanya untuk hari esok. Yang baik kemarin, hari ini buruk. Semuanya bagai air yang mengalir di kali Benenain. Semuanya pasti berlalu pergi dan bermuara di laut Timor di hadapan Besikama yang jaya.

Maka orang-orang kampungku terus berharap. Suatu waktu yang entah, Besikama akan kembali makmur sentosa, yang kan tiba pada saatnya sebagai ganti penderitaan hari ini. Di sanalah ku akan berlindung di hari tua, hingga akhir menutup mata.
“Tudik taka rai Besikama la taka” ,
“Naheno kakae, mota tun teri’ la manu tau liras, tete liu mai” .....
****

Thursday, May 20, 2010

PROSTITUSI DAN PSK LIAR

Kelurahan kelapa Lima telah menjadi tempat praktek prostitusi terbesar di Kota Kupang. Setidaknya terdapat sebuah rumah warga yang menjadi tempat penampungan 75 Pekerja seks Komersial (baca Pos Kupang, Selasa, 13/4/2010). Tentu saja, ini bukan prestasi yang membanggakan. Alih-alih kita berhadapan dengan suatu penyakit social yang amat meresahkan.

Saya setuju kalau pemerintah segera mengambil tindakan untuk menertibkan para PSK liar. Juga kalau para PSK -- dan para pelanggan yang terhormat – diberi pembinaan secara berkala. Namun, kita tak bisa menggampangkan persoalan dengan melegalkan prostitusi, atau sekedar memberi cap sampah untuk para PSK. Aksi Prostitusi liar yang meresahkan warga akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pemerintah belum bersikap terhadap prostitusi di kota Kupang. Yang disikapi selama ini adalah para PSK dan pelanggannya. Sudah saatnya memikirkan kebijakan terhadap prostitusi itu sendiri.
Prostitusi itu setua peradaban manusia. Ia merupakan sisi gelap dari peradaban. Semakin terang cahaya semakin gelap sisi itu. Semakin maju peradaban manusia, seyogyanya semakin besar pula perhatian terhadap PSK dan prostitusi. Ia adalah patologi sosial yang perlu ditangani.

Bapak Walikota Kupang menyatakan bahwa hasil penelitian PSK yang terjadi dikota kupang dipicu oleh faktor ekonomi (90%). Karena itu untuk meminimalisir kegiatan prostitusi di Kota Kupang perlu ada pemberdayaan ekonomi terhadap angkatan muda wanita. Sementara, Uskup Atambua dalam menyikapi maraknya kasus perjudian dan PSK di kota Atambua , mengatakan bahwa para Prostitusi tak dapat dilegalkan karena sama saja dengan melegalkan dosa. Keprihatinan Gereja lokal di sana ditunjukkan dengan pembinaan rohani dan pelatihan keterampilan kerja terhadap para PSK.

Secara jujur mesti kita akui bahwa kita prihatin justru karena hingga sekarang ini sikap kita diarahkan terhadap oknum. Para PSK liar dan pelanggannya ditertibkan, dibina lalu dilepaskan -- untuk selanjutnya kembali berkeliaran. Kita prihatin, karena sebetulnya kita tidak berbuat apa-apa. Kita semakin tak peduli.

PSK Liar sendiri mengacu pada praktek perzinahan dan percabulan yang tidak dirahasiakan. Vulgar. Penampakan kebiadaban. Dan bagi masyarakat, hal ini “mengganggu” dan “meresahkan”. PSK liar itu membuat kotor masyarakat. Lain halnya dengan PSK jinak, PSK anggun (atau PSK legal?). Tempat seperti Karang Dempel, walau dengan berat hati, tetap diterima dan diakui keberadaannya oleh masyarakat di kota Kupang.

Prostitusi butuh label. Seperti bir, kalau diperdagangkan tanpa label mesti ditertibkan karena kandungan alkoholnya meragukan dan tentu saja merugikan pendapatan daerah. Prostitusi juga. Label yang tetap bertahan hingga sekarang ini adalah warung remang-remang. Prostitusi butuh label seperti Pub atau Karaoke atau sejenis hiburan malam lainnya. Karena itu ijin operasi terhadap bisnis “larut malam hingga subuh” patut mendapat perhatian.

KEMATIAN ADALAH KEMATIAN

Bukan maksud hati nyentrik dengan judul tulisan seperti ini. Tapi demikianlah adanya. Pernah seseorang mendefinisikan mawar adalah mawar adalah mawar. Maka judul ini pun sejatinya menganut pola yang sama (hanya tak perlu sampai tiga kali: terlalu panjang!) Mau diartikan seapapun juga kematian adalah kematian. Itulah persoalan bagi orang yang hidup. Persoalan ini bisa bergeser menjadi bahan refleksi yang mangkus dalam menghadapi kehidupan. Yang mati yah udah. Hidup duniawinya telah usai. Selanjutnya, ‘bukan you punya urusan!’ Seperti kata-kata Yesus, “Biarkan orang mati menguburkan orang mati”.

Maka itulah hendak kuceritakan pengalaman pribadi; bagaimana memaknai kematian pada orang-orang tercinta. Moga-moga sharing ini menyumbang sebuah kacamata untuk memandang kematian.
***

Rabu, 23 Oktober 2002. Hari masih pagi ketika aku menapaki lorong-lorong Santu Mikhael dari unit Efrata menuju ruang kuliah kelas empat. Di depan dapur, aku dipanggil seorang karyawati. Seruannya spontan menghentikan langkahku, “Frater, ada berita dari kampung. Kakak sudah meninggal”. Singkat padat dan jelas. Aku pikir ada alasan yang tepat untuk menangis atau meraung. Tapi niat mengucurkan air mata kuurungkan. Dengan tenggorokan tersekat aku terus melaju, bukan ke ruang kuliah, tapi ke bilik Romo Domi, sembari memutar otak: jadi mau apa sekarang?

Usai bertemu dengan Romo Prefek di Unit Hebron aku kembali ke kamar. Bukan segera berkemas untuk pergi, aku malah duduk-duduk melamun di kamar. “Akhirnya kematian yang selama ini menimpa orang lain, datang juga pada orang-orang dekatku, orang-orang yang aku cintai”. Airmata (dan ingus) kubiarkan meleleh. Plong! Mataku bengkak dan memerah. Hingga teman-teman kembali dari ruang kuliah aku belum pergi juga.

Hari sudah hampir malam ketika aku tiba di rumah. Teng berdiri menaungi beberapa pelayat yang duduk melongo di depan rumah. Aku masuk tanpa menghiraukan siapa-siapa. Kudekati jenazah, dan kudapati betapa kematian itu begitu kejam! Seorang manusia telah menjadi benda mati. Teronggok seperti sampah yang mesti segera disingkirkan. Lebih kejam lagi karena sejarah telah lebih dahulu tercipta. Satu persatu kenangan bersama kakakku ini hadir dan bagai silet menyayat-nyayat hatiku. Ia telah pergi untuk selamanya. Dan sesungguhnya kehilangan relasi seperti inilah kengerian yang mesti aku hadapi.

Esoknya menjelang pemakaman, ayah belum sadarkan diri. Kurang tidur semalaman. Tapi aneh. Sudah diupayakan berbagai cara, toh ayah tetap tak sadarkan diri. Giginya terkatup rapat. Bara api dekat telapak kakinya pun tak sanggup membuatnya siuman. Ada apa dengan ayah? Semua orang ribut. Aku takut dengan bayangan bagaimana kalau ayah tak bangun-bangun lagi?
Ayah belum lagi sadarkan diri, tapi bagaimanapun juga, jenazah kakak yang kelamaan terbaring mesti disingkirkan. Tempat sejatinya adalah liang lahat. Maka tanpa kehadiran ayah yang belum siuman, kami mengubur jenazah kakak. Tidak jauh. Makamnya terletak di samping rumah.

Usai penguburan acaranya bukan bubaran. Kami kembali mengelilingi ayah yang entah kenapa.
Hari sudah sore, ketika dari balik kerumunan kulihat ayah membelalakkan matanya. Seperti orang dikejar-kejar, napasnya terengah-engah. Ia bangkit, duduk dan menatap orang banyak itu, seperti sedang mencari sesuatu. Ia mengatup mata. Membuka lagi. Satu dua kata terucap dari bibirnya. Tidak jelas (Aku cuma memandang dari jauh, masih takut berada dekat-dekat) Komat-kamit. Seperti mengggerutu atau mengeluh -- atau mungkin sedang berwasiat? Lantas kudengar ia berteriak. Seperti ada tangan tak kelihatan mencekik lehernya. Ada suara tercekat, dan mendengarnya kau pasti ingat lenguhan babi sembelihan yang sekarat. Lalu ayah kembali rebah, terkulai dalam pelukan kakak. Orang-orang kembali ribut. Tapi kulihat ibu di samping kakak: tenang. Diam. Kakak yang membopong ayah, berulang-ulang meraba pergelangan ayah, memasang pipinya di pipi ayah. Aku menahan napas.

Ibu memanggil-mangil nama ayah. Tak ada jawaban. Aku menyibak kerumunan, mendekat (akhirnya aku berani juga), lalu ikut memanggil-manggil, “Bapa, bapa!” Juga tak ada jawaban. Bu Mantri dari puskesmas ikut menyibak kerumunan. Ia sudah dihubungi sejak pagi tadi. Baru tiba sekarang; meraba-raba tubuh ayah: kening, pergelangan tangan, dada bagian kiri. Lalu ia berbalik menatap kami semua … (Kau tak boleh bersuara kalau sedang menantikan keputusan penting seperti saat sekarang)… suaranya seperti dibuat-buat, “Bapa su son ada lai!”

Tak ada standing-applause dari para penonton adegan tersebut. Aku cuma menarik napas panjang. Seperti lega. Aku baru sadar bahwa sejak mendengar kabar kematian kakak, aku belum tidur. Sudah lebih dari 24 jam. Mungkin yang lainnya juga sama lelahnya. Bulan kesiangan. Lalu lonceng berdentang. Sebagaimana pertanda hal luar biasa lainnya. Senja itu semakin muram. Game over!

Hari menjelang malam. Jenazah ayah segera dimandikan. Pakaian terbaik dikenakan padanya, lalu dibaringkan di atas dipan, tempat kemarin kakak sulungku berbaring tenang. Dan orang-orang kembali memenuhi teng di depan rumah. Dukacita (atau apa?) ternyata masih lanjut, belum usai. Menyaksikan jenazah ayah yang terbaring kaku, aku merasa berada dalam mimpi.

Baru pada saat menjelang subuh aku terjaga dari mimpi itu. Aku tersedot ke dalam terowongan gelap tak berujung, sangat sempit sesak setengah mati. Seperti ada borgol di kaki dan tangan. Teriak, raungan, ratap dan tangis tak mampu membebaskan. Rasanya seperti dikubur hidup-hidup…. Ngeri! Kehilangan selama-lamanya. Kosong.

Saat itu, kosa-kata seperti ‘Tuhan’, ‘Bunda Maria’, ‘Surga’, ‘malaikat’, dls, dikuliti habis-habisan, tak tersisa. Mubazir!

Hingga pada saatnya, dengan gagah aku menyaksikan pemakaman ayah. Beliau dikubur dekat makam kakak, pusara yang masih terlalu ‘basah’. Ternyata pada gilirannya, dengan perkasa sang waktu mengobati luka. Perlahan namun pasti. Requiem aeternam dona eis Domine!
***

Hingga hampir sewindu sekarang ini pengalaman kehilangan orang-orang tercinta mengajar aku beberapa hal tentang kematian.
Pertama, ‘dia’ datang dan pergi sesuka hati, tak diundang seperti pencuri di waktu malam. Dia seperti bis yang datang mengangkut calon penumpang pada saatnya, tak peduli calon penumpang siap atau tidak, pokoknya harus berangkat.

Kedua, ‘dia’ tidak memisahkan aku dengan orang-orang yang kucintai. Maut telah keliru, ia berjaya; ‘mengira’ sanggup menghancurkan kekuatan cinta. Ternyata justru karena keyakinan bahwa mereka telah menjadi roh, aku merasa lebih mudah menyapa kakak dan ayah di mana dan kapan saja. Kematian justru mendekatkan aku pada mereka; kenangan. In memoriam, seperti kata-kata Yesus “Perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku!” Sama seperti Ekaristi bukan cuma kenangan masa lampau, demikianlah memoria pada orang-orang yang kita cintai.
Ketiga, hidup ternyata menjadi lebih bermakna apabila kita terpaksa harus menelan kepahitan akibat kehilangan orang-orang yang kita cintai. Louis Leahy mengatakan bahwa kematian merupakan penyatuan seutuhnya antara manusia dengan kosmos. Selama hidupnya manusia berusaha untuk menyatu dengan kosmos melalui kegiatan seperti makan, minum, dan bernapas. Penyatuan ini menjadi sempurna pada saat kematian. Hingga kini ketika memandang bintang, merasakan hembusan angin, melihat pemandangan alam, mendengarkan nada-nada, menyimak warna-warni, saat itu aku merasakan kehadiran orang-orang yang aku cintai, terutama mereka yang telah menjadi roh murni, menyatu utuh dengan kosmos. Dari situlah pengalaman estetis ini menghantar pada kesadaran akan Allah sebagai asal dan tujuan manusia.

Selain ketiga hal terpapar, ada hal seputar kematian yang tak kalah menarik. Ternyata ‘dia’ tidak semata menghadirkan kesedihan. Selagi si mati berbaring tenang di atas dipan, para pelayat bersama keluarga korban bebas berbasa-basi, berbagi rokok dan sirih pinang, berbagi lelucon, dsb. Peristiwa duka rupanya juga adalah ajang ngumpul sesama warga kampung. Ada saja yang bisa digosipkan. Ada hal remeh-temeh seperti anjing tetangga yang mulai beranak kesekian kalinya, hingga hal besar seperti program pagar indah dari kepala desa. Dari bidang ekonomi seperti harga kemiri yang anjlok, sampai pada politik seperti Megawati enggan berkoalisi, dan sebagainya, dan seterusnya.

Bahkan keluarga duka pun tenggelam dengan kasak-kusuk, ikut bergunjing sana-sini. Mungkin upaya selingan mengatasi kesedihan yang telanjang di depan mata. Kelompok-kelompok ajang gaul itu tersebar di sana-sini di sekitar rumah duka; anak-anak di pojok teng, ibu-ibu di dapur, bapak-bapak di bagian penyembelihan, dan orang-orang muda di sekitar (penggalian) makam. Plus segelintir tetamu VIP, seperti kepala desa dan beberapa perangkat desa, yang setelah berdiri bengong di depan si mati, dan menyalami keluarga duka, lantas duduk berbisik-bisik sebelah-menyebelah.

Akhirnya, ya, kematian adalah kematian. Toh, mereka yang masih hidup lebih penting daripada yang sudah mati. Wallahualam!

Saturday, May 15, 2010

KURANGI KECEPATAN! (Tentang Lakalantas)

Hampir saban hari media massa melaporkan tentang lakalantas di seputar kota Kupang. Kebanyakan korban lakalantas ini adalah orang muda dan melibatkan kendaraan beroda dua. Dalam sosialisasi tertib berlalulintas dalam Dialog Publik, 8/5, pihak Jasa Raharja membeberkan fakta bahwa rata-rata korban lakalantas adalah usia produktif antara 15-35 tahun atau sebanyak 60 %. Dan sekitar 70% lakalantas melibatkan kendaraan roda dua. Kita bisa menyimpulkan bahwa banyak orang muda mengalami kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor.

Mengendara sepeda motor akhir-akhir ini merupakan pilihan sarana tranportasi yang paling favorit. “Lebih baik pake motor/ ojek, cepat sampai. Daripada pake bemo, jalan sedikit berenti kas naek kas turun penumpang. Belum lagi kalau sampai depan UNIKA pas macet. Dengan motor kotong bisa zigzag, dan cepat sampai pada tujuan,” demikian pengakuan sahabat saya, karyawati pada sebuah kantor di kota Kupang.

Teman saya seorang pastor baru pulang memimpin misa di Naibonat, Kupang Timur. Ia bercerita perihal lakalantas ringan yang dialaminya sendiri. “Saya mengikuti sebuah bis dari belakang di jalan lurus depan BTPT Naibonat ketika tiba-tiba mobil di depan saya berhenti tanpa tanda sebelumnya. Dengan refleks saya membanting setir ke arah kiri merebahkan sepeda motor pada rimbunan kembang sepatu yang memagari kompleks sebuah rumah. Untung beta sonde lari tadi. Kalau sonde mangkali beta su game over!” Lari yang dimaksudkannya adalah mengendarai sepeda motor seperti kebiasaannya selama ini yakni di atas kecepatan 80 km perjam.

Mengendara sepeda motor ternyata bukan sekedar mengunakan sarana transportasi. Bersepeda motor telah menjadi gaya hidup sendiri di kalangan orang muda dan kaum urban. Dengan Revo atau Yupiter MX misalnya seorang muda mau menunjukkan identitasnya. Dengan bersepeda motor orang menegaskan identitasnya; saya mengendarai maka saya ada! “Ekspresiin sesuai gaya elo”, demikian bunyi sebuah iklan sepeda motor.

Salah satu hal yang juga membikin pusing para petugas lalulintas adalah banyaknya sepeda motor bising. Polusi suara tak tertahankan akibat beberapa bagian sepeda motornya dirancang ulang dengan knalpot racing. Bunyinya memekakkan telinga. Di antara kendaraan yang berseliweran, dengan bunyi yang keras dari knalpot berikut kelihaian menggeber gas, orang dipaksa – mau tak mau -- memperhatikan sang pengendara. Inlah sebentuk penegasan diri di tengah bunyi massal arus lalulintas.
Knalpot racing dan polusi bunyi ini hadir sebagai bentuk lain penegasan diri melalui sepeda motor. Produsen sepeda motor, untuk meraih target pasar, telah memproduksi jenis dan merek sepeda motor dalam jumlah banyak sehingga mereka yang memiliki dan mengendarainya terhisap ke dalam gaya massal tersebut. Knalpot racing akan menjadi penanda penting identitas seorang pengendara di antara pengendara lainnya. Selain itu tumbuh pula komunitas-komunitas fanatik penggemar sepeda motor bermerek tertentu. Di sini ada unsur style, mode dan bentuk kebudayaan. Sebentuk penegasan identitas di tengah produk massal sepeda motor.

Faktor Kecepatan

Seorang pegawai honorer bagian keperawatan di RSUD Kupang mengatakan soak kalau dapat giliran tugas malam. Selalu saja sekitar jam satu atau dua ada korban lakalantas sepedamotor yang dibawa ke UGD. Biasanya adalah anak-anak muda yang kadang-kadang dengan aroma alkohol merebak. Mereka mengendarai sepeda motor dalam keadaan mabuk. “Kami memutuskan untuk menjahit luka korban yang terindikasi memakai miras ini tanpa bius sedikitpun. Biar tahu rasa dia!”

Banyak lakalantas yang terjadi adalah karena pengendaranya sedang mengendarai dengan kecepatan di atas standar. Situasi jalan raya yang sepi, amat menggoda para pengendara untuk memacu kendaraannya secepat mungkin. Bila ditambah dengan kondisi mabuk akibat miras, orang sulit berkonsentrasi. Dalam pada ini, refleks tubuh pun sulit terkontrol. Si ‘Stoner karbitan’ bisa saja menabrak trotoar, pembatas jalan, pejalan kaki, atau kendaraaan lainnya. Atau bisa terjatuh saat menikung akibat hilangnya keseimbangan. Semuanya ini bisa mengantar seseorang ke UGD dan mungkin akhirnya harus game over.

Faktor kecepatan seperti ini ternyata amat dipengaruhi oleh iklan-iklan. Lihat saja bagaimana para produsen sepeda motor berusaha menawarkan dagangannya. Masih ingat iklan di televisi tentang sebuah sepeda motor yang diboncengi seorang ibu? Dandanan si ibu jadi tidak karuan tapi itu tak penting. Yang penting cepat sampai, bukan? Iklan yang demikian mencitrakan bahwa tempat tujuan lebih penting daripada kerapian seseorang yang mau menghadiri pesta sekalipun.

Dalam taraf tertentu, dengan mengendara sepeda motor, yang paling penting bukan perjalanannya, tapi tujuannya. Simak saja, keluaran sepeda motor terakhir. Semua sudah dirancang otomatis sehingga kalau boleh sepeda motor dikendara sambil membaca koran.

Faktor kecepatan yang ditawarkan dalam industri sepdea motor ini merupakan juga upaya menjawabi kerinduan manusia untuk mengatasi hambatan ruang dan waktu. Kecepatan yang diidam-idamkan oleh manusia seantero jagat ini berupa suatu upaya mengatasi ketubuhan. Sesungguhnya oleh tubuhnya, manusia dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Upaya mengatasi keterbatasan ini antara lain diperjuangkan oleh kemajuan tekhnologi mutakhir. Hal ini paling jamak ditemui dalam perkembangan tekhnologi digital.

Kendatipun dengan semakin majunya tekhnologi, semakin tinggi kecepatan yang diperoleh, namun sesungguhnya pada taraf tertentu manusia mesti mengabdi ketubuhan. Bagaimanapun juga, dimensi ketubuhan tak mungkin terabaikan dan teringkari. Di satu pihak, faktor kecepatan ini sudah amat membantu manusia namun kita tahu, sepandai-pandai tupai melompat, sekali kelak akan jatuh juga.

Disiplin

Tumbuhnya kebudayaan bersepedamotor ini tak berimbang dengan kesadaran tertib berlalu lintas. Beberapa kali hendak membonceng teman, saya diperingatkan untuk mengenakan helm karena “nanti polisi tilang”. Saya pun berpikir kalau hari Minggu, ketika para polisi berlibur, tentu sah-sah saja kalu tidak mengenakan helm. Di beberapa kawasan di kota Kupang ada papan bertanda “kawasan wajib mengenakan helm standar”. Saya pun cenderung berpikir, di luar kawasan tersebut sah-sah saja mengenakan helm tidak standar, bahkan boleh tanpa helm. Tapi tentu saja, bukan begini maksudnya.

Persoalan tentang “tilang” polisi terhadap pengguna yang tidak mengenakan helm pada hari minggu dengan alasan beribadat ternyata sempat didiskusikan dalam Dialog Publik yang diselenggarakan PT Jasa Raharja Cabang NTT – kerja sama dengan Unwira Kupang, 8/5. Apapun alasannya, seyogyanya mengendarai sepeda motor bukan berarti menghidupkan motor masukkan persneling dan go! Saya pikir setiap pemilik sudah mengetahui aturan bersepeda motor, karena toh pada buku petunjuk pemilikan sepeda motor sudah ada petunjuk dan langkah-langkah berkendara secara aman; termasuk perlengkapan standar non-mesin. Lagi pula dalam mengurus Surat Ijin Mengemudi, seseorang sudah diuji keterampilan berkendara dan pengetahuan tentang rambu-rambu lalu-lintas.

Kalau hingga sekarang kita menyaksikan bahwa lakalantas yang terjadi masih melibatkan orang muda dengan kendaraan roda duanya, maka persoalannya bukan sekedar pake helm ko sonde... Keamanan dan kenyamanan bersepedamotor hanya dimungkinkan kalau pengendara berani mengurangi kecepatan sepeda motor dan taat terhadap peraturan lalulintas dengan atau tanpa pengawasan. ***

Monday, May 10, 2010

MENUJU MISI PROFETIK

Kita sedang berada tengah situasi kemerosotan hasil UN dan sementara orang memperdebatkannya entah guru, orang tua, pemerintah yang salah. Selain itu berbagai persoalan – dari yang berskala nasional seperti markus yang sedang merebak dari pusat hingga ke daerah-daerah, -- hingga ke tambang mangan yang belum terprogram secara bijak dan juga dalam situasi rawan pangan, membuat kita mudah mengajukan pernyataan: masyarakat NTT sedang dibelit oleh berbagai persoalan. Muncul pertanyaan apa sumbangan kekristenan dalam menghadapi situasi yang centang perenang ini?

Umat kristen di NTT, dan di seluruh dunia, merayakan Kenaikan Isa Almasih, 13 Mei. Perayaan kenaikan Isa Almasih selalu menjadi momen tepat untuk merefleksikan kembali kekristenan kita. Ia bisa dikatakan sebagai upaya mengaca diri di hadapan "cermin besar" pernyataan iman dalam perayaan liturgis di dalam segala aspek kehidupan. Dan hal ini tidak mesti dilakukan secara zakelijk, harfiah, atau sepotong-sepotong. Pemaknaan terhadap perayaan ini harus elastis, komprehensif, substansial, dan kontekstual. Jadi, kita perlu menghayati dimensi profetik Kenaikan yang berupa hikmah, kearifan, pesan dan pelajaran hidup yang universal; bukan sekadar physical performance yang artifisial dan karikatif serta parsial dan ekslusif.

Urgensi memunculkan kembali pertanyaan tersebut dalam ruang keberagamaan kita didasarkan pada sejumlah fenomena kehidupan yang makin menjauh dari semangat kekristenan. Betapa, kekerasan, kriminalitas, kemiskinan, kebodohan dan pembodohan, ketidakadilan dan ketertindasan, despotisme dan keangkuhan, hedonisme dan pemberhalaan duniawi, dan semacamnya menjadi tak terelakkan. Betapa di sekeliling kita sudah dipenuhi orang-orang yang konon beragama namun sama sekali tidak mampu memaknai keberagamaannya sendiri secara profetik.

Kecintaan dan komitmen terhadap Gereja dan Kristus sendiri tidak perlu diragukan, namun itu semua dibungkus fanatisme buta yang justru sering merugikan diri sendiri. Kota Kupang dengan seribu gerejanya hanyalah pajangan kemewahan arsitektur dan menjadi simbol penonjolan ego religi. Daerah NTT yang berlimpah dengan bermacam denominasi kristen pun hanya menjadi ajang unjuk gereja yang paling benar. Orang-orang kristen telah berhenti menjadi anggota gereja yang satu, kudus dan apstolik; yakni Gereja Kristus sendiri, dan darinya berjuang untuk kemaslahatan manusia. Yang menjadi agenda sekarang hanyalah bagaimana mengkomodasi simbol-simbol kekristenan untuk semakin merengkuh kekuasaan.

Misi Profetik

Menurut Masdar Hilmy, kesadaran profetik dalam kehidupan beragama meniscayakan dua hal; membebaskan agama lebih dahulu, lalu mengontruksi agama yang membebaskan. Musuh yang melekat dalam diri agama, berupa cara pembacaan terhadap agama yang sempit, dalam banyak hal justru lebih berbahaya ketimbang musuh di luar dirinya. Di sinilah letak pentingnya pembacaan agama yang profetik guna menghadapi berbagai persoalan kontemporer yang makin rumit dan menantang.

Misi profetik Kristus yang paling utama adalah misi pembebasan, yakni membebaskan umat manusia dari segala bentuk belenggu dan ketertindasan. Dengan demikian, Yesus adalah seorang pembebas bagi umatnya. Dalam proses pembebasan ada proses transformasi, pemindahan, atau perubahan dari kondisi yang tidak diinginkan menuju kondisi yang diinginkan. Hal ini dilakukan oleh Yesus sendiri pertama-tama bukan semata-mata pembebasan fisik.

Yesus sendiri adalah tokoh revolusioner sejati. Namun semasa berada di dunia ini, ia tidak melibatkan diri dalam golongan-golongan elit populer. Ia justru menyatu dengan kebanyakan rakyat jelata, dan berusaha mengupayakan pembebasan. Berpihaknya Yesus terhadap orang-orang kecil pertama dan terutama bukan untuk menjadikan mereka orang yang terangkat status sosialnya. Alih-alih, perbedaan status sosial itu akan tetap ada selagi manusia masih mau menganggap ada perbedaan perbedaan dalam dirinya. Tetapi bentrok sosial tak perlu ada. Karena setiap kelompok sosial berperan dalam kemajuan suatu masyarakat. Misi Yesus ditengah orang-orang terpinggirkan bukan untuk menjadikan mereka kembali ke pusat masyarakat. Misi pertama Yesus Kristus adalah pembebasan rohani. Sesungguhnya akar kemiskinan dan segala macam penderitaan serta persoalan lainnya ada pada situasi keberdosaan manusia.

Kenaikan Isa Almasih

Kenaikan Yesus ke surga sebetulnya merupakan momen penentuan, saat di mana Yesus duniawi, lewat sengsara, dan kematian, akhirnya menjadi Tuhan atas surga, menjadi Kristus iman. Yesus meninggalkan bumi yang fana, serba terbatas dan tidak pasti, penuh pergolakan dan perjuangan, masuk ke dalam surga kemuliaan.

Perayaan Kenaikan adalah eksaltasi atau pengangkatan nasib akhir manusia ke dalam kemuliaan; Kenaikan adalah sebuah pujian syukur karena “kemuliaan bakal adalah milik kita”. Kata akhir dari kristianisme adalah harapan bahwa kita mereka diangkat ke dalam kebahagiaan Allah.

Pernyataan kemuliaan Yesus Kristus ini merupakan pernyataan yang ketiga kalinya. Dua kali sebelumnya pertama pada saat pembabtisan di sungai Yordan dan kedua pada peristiwa transfigurasi. Pemuliaan ini merupakan jawaban definitif Allah terhadap pertanyaan yang dilontarkan Yesus sendiri terhadap para muridnya. “Kata orang siapakah Aku ini? Menurut engkau sendiri siapakah aku ini?”

Kedua jawaban sebelumnya, dari Tuhan sendiri, adalah jawaban verbal. “Inilah anakKu yang terkasih kepadanyalah aku berkenan!” Jawaban ketiga kalinya ini adalah perbuatan nyata. Action speaks louder than words! Sesungguhnya pada hakekatnya Yesus adalah sama dan setara dengan Allah dalam kemahakuasaannya.

Kenaikan Isa Almasih menunjukkan dengan jelas bahwa kemanusiaan dinaikkan derajatnya. Dalam kitab Mazmur 8 ada pujian terhadap manusia. “Siapakah manusia itu sehingga kau ciptakan dia hampir setara dengan Allah?” Ternyata dari antara kita ada seseorang yang diangkat menjadi sama dan setara dengan Allah. Ini berarti bahwa segala persoalan kemanusiaan kita sesungguhnya diperhatikan secara baik oleh Allah. Kita berhadapan dengan berbagai persoalan hidup namun bukan berarti Allah lantas meninggalkan hidup kita.

Murid-murid Kristus

Bagi para murid yang selama 40 hari berulang kali menyaksikan Kristus yang bangkit mulia, peristiwa Yesus naik ke surga tidak lain dari suatu peristiwa akhir, yang menumbuhkembangkan iman mereka akan Kristus. Peristiwa Yesus naik ke surga sebenarnya merupakan momen yang membuka mata mereka akan kenyataan lain yang mengatasi dunia ini, yakni alam hidup surgawi.

Selain itu, kenaikan Yesus berarti juga awal yang meneguhkan harapan dan kegembiraan mereka. Mereka sungguh yakin bahwa sekarang mereka memiliki seorang Guru, Pemimpin yang bertahta mulia di surga, yang menantikan mereka, dan menjamin bahwa tidak ada apapun yang akan memisahkan mereka dari Kristus. Mereka memiliki keyakinan bahwa dari Surga, Kristus akan tetap mencintai dan memelihara mereka. Para murid sungguh yakin, mereka sungguh memiliki seorang sahabat, bukan hanya sahabat di bumi ini, tapi sahabat di surga. Lewat peristiwa Yesus naik ke Surga, jalan ke surga sudah dirintis, dan mereka semua memiliki tujuan hidup yang pasti: Kristus, yang hidup mulia di surga, bertahta mulia di sisi Bapa.

Peristiwa Yesus naik ke surga bagi kita adalah jaminan bahwa hidup kita di dunia tidak pernah sia-sia. Segala usaha, perjuangan dan sikap hidup kita memiliki arti, mahkotanya dalam Kristus, Pemenang atas maut dan yang kini bertahta jaya di surga. Lewat peristiwa kenaikanNya, Yesus Sang juru selamat membawa dunia dan seluruh umat manusia kembali ke surga. Orang-orang kristen yang pada hari ini dengan mata iman memandang Yesus terangkat ke surga, kiranya diteguhkan dalam iman akan kehidupan abadi yang jaya dan penuh kasih di rumah Bapa di surga baka. Dari sana Ia akan datang dan mengadili orang hidup dan mati. Kita menantikan kedatangannya dengan rindu.

Terkadang umat Kristiani tak rindu akan Tuhan antara lain karena (1) umat kristiani berpikir bahwa mereka sudah mengurung Yesus dalam pengalaman iman; (2) orang-orang kristen yang muncul dalam berbagai denominasi berpikir bahwa mereka sudah mengurung Yesus di dalam Gereja mereka; (3) para teolog berpikir bahwa mereka sudah mengurung Yesus di dalam buku-buku dogmatis. H. Newman berkata, “Andaikan saja Tuhan tidak rindu pada dirimu seperti anda tidak rindu pada Tuhan, apa yang anda lakukan? Kusebut-sebut NamaNya bagai pengemis “Kristus Putra Allah yang hidup kasihanilah aku.”

Pekerjaan Rumah

Sebelum naik ke surga Yesus berpesan kepada para muridnya untuk tetap berkanjang. “Janganlah gentar dan gelisah hatimu. Aku akan mengirimkan seorang penghibur yakni Roh Kudus. Dialah yang akan mengajar dan mengingatkan kamu tentang bagaimana seharusnya kamu mengikuti kata-kataku. Sebab sesungguhnya barang siapa yang mencintai aku dan mengikuti kata-kataku aku dan bapa akan datang dan diam bersama dengan dia (bdk. Yoh 15 23-29).

Hal pertama yang dituntut dari seorang guru adalah cinta akan kebenaran dan hal kedua yang diminta dari guru ialah “mengatakan kebenaran dan tiada lain selain kebenaran.” Tugas seorang rabbi-guru bukannya mengajari para murid untuk mengagumi seorang “bandit dan berandal” dengan mendiamkan “kebandit-annya” melainkan menunjukkan jalan bagaimana “membongkar” nurani yang sudah mati dan busuk dengan kata dan perbuatan benar. Tugas para murid Kristus adalah mengajar kebenaran kepada setiap orang dengan contoh dan teladan hidup.

Dengan memberi tugas itu, Yesus yang pergi meninggalkan para murid di dunia ini, tentu tidak bermaksud untuk meninggalkan mereka begitu saja. Oleh kenaikannya di surga Yesus bersatu dengan Bapa. Dari persatuan itu mereka datang dan berdiam di dalam diri manusia. Ia mengutus Roh Kudus yang akan mendampingi para murid yang akan mewartakan Yesus kepada segala bangsa. Pewartaan pertobatan dan pengampunan dosa dalam nama Yesus berjalan terus dengan bimbingan dan bantuan Roh Kudus. Para murid dengan tekun mewartakan pesan Yesus tersebut sampai ke seluruh penjuru dunia.

Pesan Yesus tetap berlaku bagi orang kristen, para murid Yesus kontemporer. Kita mendapatkan pesan untuk mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa seperti para Rasul. Sama seperti para rasul, kita juga mendapat bimbingan dan diberi bantuan oleh Roh Kudus. Berdiamnya Allah dalam diri manusia ini memungkinkan manusia untuk sanggup menghadapi kenyataan hidup. Menemukan slolusi permasalahan dan mengupayakannya dalam kehidupan konkrit; menggarami dan memberi ragi kepada dunia. Tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut memberi kesaksian pertobatan dalam hidup kita. Perubahan cara hidup agar lebih sesuai dengan semangat kasih merupakan salah satu bentuk pewartaan kristiani.

Kekristenan sepah?

Ketika kita menyatakan diri sebangai orang beragama kita mengakui bahwa kebijkan politis dalam lingkup sosial kita belum memenuhi kerinduan terdalam manusia. Tujuan menuju kebahagian hanya ada dalam satu-satunya tujuan terakhir-tujuan ultim yakni bertemu sendiri dengan sang Bahagia itu; yakni pribadi Allah sendiri. Namun, semata mengharapkan agama untuk menjawabi segala persoalan duniawi kontemporer, mungkin ibarat "mimpi di siang bolong".

Hakikat Kenaikan Isa Almasih yang nampak menggempur kesadaran kita sebagai orang kristen ini menunjukkan bahwa kekristenan kita sedang mandeg berhadapan dengan dunia yang semakin modern. Alih-alih menggarami dunia, kita sudah balik ditawarkan oleh dunia. Dunia dengan segala keagungan ilutifnya telah menipu mata sekian banyak orang kristen, sehingga kekristenan mereka hanya menjadi kekristenan sepah. Kita telah dengan bangga penuh percaya diri mengagungkan keunggulan kemajuan budaya modern hingga sesungguhnya kita lupa menghayati kesejatian kita sebagai orang kristen.
Situsasi ini adalah suasana nausea. Sama seperti situasi jemaat Laodikia yang merasa serba kecukupan, kita menjadi jemaat yang suam-suam kuku. Kekristenan kita hanyalah kekristenan KTP untuk sekedar mengkuti konstitusi dimana sebagai warga yang baik kita perlu terkesan taat menganut suatu agama.

Kalau kita dikasihi Allah dan kepada kitalah Dia berkenan mengapa ada begitu banyak pembusukan di daerah kita yang tercinta ini? ***

Friday, May 7, 2010

KITA BUTUH SANGGAHAN

Idealnya kita telah berada dalam zaman posmodern. Bangsa manusia sejatinya telah melalui tahap-tahap perkembangan dari primitif, modern hingga pascamodern. Dalam perjalanan hidupnya, setiap individu telah mengalami ketiga hal itu paling kurang secara compressed Dalam kehidupan kita jaman sekarang, ketiga bentuk kebudayaan ini pating geletak, tumpang tindih dan menimbulkan berbagai persoalan. Penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia adalah salah satu dari sekian banyak persoalan yang dialami oleh manusia saat sekarang.

Modernisasi menghancurkan struktur masyarakat tradisional, mengisolasikan dan mengindividualisasikan manusia, menempatkan manusia individual maupun kelompok dan golongan ke alam persaingan keras di mana yang menang adalah yang kuat, serta melahirkan negara modern yang hampir adikuasa yang atas nama kepentingannya cenderung mengurbankan pihak lemah dan karena kedaulatannya merasa berhak untuk bertindak sewenang-wenang. Dari sinilah muncul paham tentang hak asasi.
Mengakui hak asasi manusia berarti, bahwa dalam masyarakat itu mereka yang lemah atau minoritas tetap merupakan warga masyarakat yang sama bebas dan terhormat dalam harkat kemanusiaannya dengan yang lain-lain. Semua kasus hak asasi manusia selalu menyangkut fihak yang lemah, yang terancam, yang tidak dapat membela diri, yang dianggap tidak berguna dsb.

Dalam kondisi modern, kekeluargaan sebuah bangsa justru menjadi nyata apabila ia menyatakan dengan seresmi-resminya bahwa semua warganya, dalam situasi apa pun, selalu akan diperlakukan sebagai manusia. Sehingga dalam hal-hal yang terkait secara paling dasariah dengan harkat kemanusiaan seseorang, sekelompok orang maupun golongan orang, masyarakat menyatakan bahwa ia diakui, dihormati, dilindungi, tidak ditinggalkan.

Salah satu ciri posmodernisme adalah pluralitas. Dalam kehidupan masyarakat, ciri pluralistik mewujud sebagai masyarakat politis yang didasarkan atas pemerintahan nasion, sedemikian rupa sehingga keyakinan religius, filosofis, moral dan politik dijaminkan kebebasannya dan syarat keyakinan tersebut tidak dipaksakan pada warga lain di dalam masyarakat. Jadi masyarakat yang menjaminkan, atas dasar organisasi politik dan perundang-undangan sebagai de jure kebebasan.

Selepas orde Baru hingga Pasca-reformasi ini hak-hak asasi manusia Indonesia masih terancam, dan pelanggaran pun sangat aktual: Tetap masih ada impunity aparat bersenjata terhadap pelanggaran hak atas hidup dsb., di Papua misalnya tetap masih ada kekejaman dilakukan oleh aparat; kebebasan beragama semakin terancam: kebebasan beribadat menurut keyakinan sendiri, kebebasan untuk mempercayai apa yang memang mau dipercayai (penyalahgunaan cap "ajaran sesat")

Kebebasan-kebebasan demokratis seperti hak menyatakan pendapat, kebebasan pers, terancam oleh teror kelompok-kelompok radikal maupun para preman terbayar dari jalan. kebebasan media, khususnya kebebasan untuk memperoleh informasi, terancam rongrongan oleh pemerintah, hak-hak keadilan sosial: penggusuran orang paling miskin, pada umumnya, kekerasan terhadap rakyat atas nama kepentingan komunitas.

Kekuasaan Telanjang

Ayu Utami (Bilangan Fu: 2008) menyatakan bahwa kuasa yang telanjang mewujud dalam tiga M. Ketiga M dimaksud adalah singkatan dari Modernisme, Monotheisme dan Militerisme. Ciri modernitas yang mengagungkan kepastian subyek dan rasionalitas akan menggiring manusia pada absolutisme. Pandangan tentang kebenaran dan usaha mencapainya adalah mutlak. Kebenaran merupakan kepastian. Ini sesuai dengan metode Rene Descartes, segala sesuatu diragukan. Yang pasti hanyalah saya yang sedang berpikir. Ketika orang mati-matian mempertahankan hal ini maka kebenaran tak mungkin terdapat pada yang lain. Modernisme pada gilirannya melahirkan eksploitasi besar-besaran terhadap alam lingkungan. Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat dunia.
Kepanikan terhadap modernisme menyebabkan orang beralih ke bidang agama. Agama dipandang sebagai yang memiliki kebenaran mutlak. Pandangan bahwa Tuhan itu satu dan bukan nol atau sunya menyebabkan mereka yang lain, yang tidak mengakui yang satu ini, adalah penganut heresi yang harus ditobatkan, kafir yang mesti dimualafkan. Kebenaran itu dengan demikian hanya satu. Muncullah fundamentalisme. Manusia menjadikan ajaran agama sebagai pusat kebenaran. Pada titik tertentu pengakuan dan pengenalan Tuhan dengan cara yang lain tidak berterima. Orang dengan kepercayaan lain adalah musuh yang harus dihancurkan.

Di pihak lain, ekses penggunaan kekuasaan dalam modernisme ini mewujud dalam militerisme. Militer yang sejatinya adalah alat pertahanan dan keamanan terjerumus ke dalam militerisme. Sejarah Orde Baru Indonesia menunjukkan betapa negara kita telah menjadikan militer semata identik dengan kekerasan, guna melanggengkan kekuasaan mutlak dari pihak tertentu.

Singkatnya, Modernisme memanjakan kehendak untuk berkuasa. Keraguan Kartesian menyingkirkan yang lain. Segala kepastian ada dalam diri sendiri. Semua yang di luar diri ini sungguh luaran, nihil, kontro. Kehendak untuk berkuasa yang dimanjakan seperti ini ternyata melawan segala norma, kewajiban, ideal, keharusan moral. Dengan demikian tak mungkin ada pengakuan hak-hak asasi manusia. Dalam posisi kekuasaan seperti ini, Sang penguasa- entah siapa saja, tapi dalam hal ini pemerintah- akan lebih mementingkan wibawanya sendiri, hak-haknya, kebenarannya sendiri dan mengemudiankan hak-hak orang lain, atau bahkan mengabaikannya sama sekali.

Melampaui Modernisasi

Jiwa dari postmodern adalah penolakan terhadap modernisme yang menekankan subyektivisme kaku. Postmodern berupaya melihat multiversalisme kebenaran. Kebenaran tergantung pada perspektif. Dan masing-masing kita hanya memiliki sebagian dari kebenaran. Dengan ini, klaim terhadap kebenaran tidak bisa tunggal. Kebenaran ada dalam segi yang banyak dan berbeda pada setiap subyek sesuai dengan perspektifnya. Tidak ada kebenaran absolut pada manusia. Di sini kekuasaan pun tak bisa absolut, karena ada juga wewenang dan kuasa pada pihak-pihak lainnya.

Manusia postmodern adalah manusia yang berusaha untuk tidak memegang kebenaran absolut pada dirinya sendiri. Manusia yang berusaha menjaga agar kebenaran dan kuasa tetap seimbang.

Sikap menjaga keseimbangan kebenaran dan kuasa ini mewujud dalam laku kritik. Dengan kritik atau sanggahan ini kita menyanggah kebenaran agar senantiasa adalah kebenaran yang menjadi, bukan ada. Ada menyatakan finalitas dan kepastian, sedangkan menjadi menyatakan proses. Kebenaran mesti selalu ditopang agar tidak jatuh ke tanah. Kalau jatuh ia menjelma kuasa semata. Kuasa ini mesti selalu diseimbangkan agar tidak menjadi absolut dan korup; kuasa yang telanjang.

Jadi, laku kritik yang menjadi jiwa/spirit dari postmodern adalah niscaya demi kebebasan manusia itu sendiri. Pada gilirannya, penegakan hak-ahak asasi manusia bisa terjamin.
***