Thursday, February 17, 2011

Ruang Pertemuan liturgis

Liturgi bukannya melulu kegiatan religius, bukan pula melulu kegiatan rasionil atau intelektual melulu. Liturgi di satu sisi merupakan pengalaman manusiawi yang melibatkan seluruh kemampuan manusiawi: tubuh, jiwa, perasaan, emosi, daya khayal dan lain-lain. Dalam rangka ini, tataruang liturgis dapat membantu menjadikan liturgi menjadi ibadat yang lebih utuh dan menyentuh, dalam arti secara lengkap mencakupi seluruh segi hidup jemaat yang beribadat.

Makalah sederhana Tataruang liturgis ini dibawakan dalam empat bagian kecil di luar pendahuluan dan penutup yakni: pengertian tata ruang liturgis yang juga menyangkut pembatasan pembahasan; pengalaman akan Allah dalam tempat suci di kalangan para bangsa termasuk orang Atoni di TTU dan di kalangan umat katolik; Kaidah-kaidah tataruang liturgis serta suatu tataruang liturgis yang ideal.

2. Pengertian:
Yang dimaksudkan dengan tata ruang liturgis adalah seluruh lingkup tempat kegiatan liturgis dilaksanakan. Ia menyangkut tatabangun gereja dan lingkungannya termasuk halaman. Ia juga menyangkut cara bagaimana ruang liturgis ditata dan cara bagaimana tataruang itu membantu jemaat dalam melaksanakan kegiatan liturgisnya. Yang ditata dalam ruang khusus adalah tempat duduk, pusat kegiatan liturgi, dekorasi, tata cahaya, akustik dan lain-lainnya. Yang terakhir inilah yang akan diiperhatikan secara khusus dalam makalah ini. Karena perayaan liturgi di kalangan gereja katolik ada bermacam-ragam seperti perayaan pembaptisan, tobat, yang biasanya membutuhkan ruang yang sesuai serta berbeda dengan ruang untuk perayaan Ekaristi, maka dalam makalah sederhana ini saya ingin pusatkan perhatian hanya pada tata ruang perayaan Ekaristi saja.

3. Pengalaman akan Allah dalam Tempat suci:

3.1 Pengalaman akan yang suci pada umumnya:

Yang ilahi / yang kudus dapat dialami oleh manusia pada umumnya. Dan pengalaman itu bermacam ragam. Misalnya umat Israel mengalami yang Ilahi dan yang kudus itu di tempat tinggi (gunung), seperti di puncak gunung Sinai. Karena itu mereka memahami bahwa tempat yang ilahi itu ada di atas. Dari atas muncul terang atau cahaya. Sehingga ketinggian memberikan kepada mereka suatu pengalaman tersendiri, yakni pengalaman ruang yang dimensinya melebihi dimensi manusia. Karena itu dalam merancang ruang pertemuannya dengan Yahwe di jaman Salomo, ruang suci / ruang pertemuan dengan Allah itu ditempatkan di tingkat atas. Ruang itu adalah ruang yang suci. Sedangkan untuk manusia, disediakan ruang di tingkat bawah, yang dilihat sebagai ruang yang tidak suci. Sehingga menurut pemahaman mereka, semakin ke atas, semakin suci ruangnya.

Pengalaman akan yang sakral di tempat sakral juga ada pada pelbagai agama lainnya. M. Dhavamony menyatakan bahwa di tempat suci, tempat keilahian, orang biasanya mengatur tingkah lakunya dalam hubungan dengan kemurnian dan hormat yang khusus karena yakin bahwa yang ilahi tinggal di sana. Tempat itu menjadi kudus bukan karena adanya persembahan yang dibawakan di sana, melainkan karena kekuatan ilahi yang diturunkan di tempat itu. Di sana, yang ilahi menyatakan diri, masuk ke dalam persekutuan dengan manusia sehingga memungkinkan manusia berpindah dari satu bentuk keberadaan profan ke bentuk yang suci .

Pengalaman akan yang sakral di tempat sakral di kalangan orang Timor juga ada. Dalam hal ini saya mengambil contoh orang Atoni di TTU. Salah satu sarana pengungkap pengalaman itu nampak dalam rumah adat, salah satu tempat kegiatan agama asli. Di rumah-rumah adat Atoni di TTU ada bagian tertentu yang dipandang sebagai tempat yang suci dan keramat. Bagian tertentu itu adalah bagian depan dengan “hal lora” (tempat duduk bagian depan) dan “teot lora” (loteng bagian depan) serta tiang agungnya yang disebut “ni ainaf” oleh orang Atoni sedang orang Tetun di Belu menyebutnya “kakuluk”. Di bagian tertentu itu tepatnya pada “ni ainaf” / “kakuluk” biasanya disampaikan persembahan kepada yang maha tinggi. Dan persembahan itu dibawakan di atas sebuah batu ceper yang ditempatkan di bawah tiang agung itu. Bagi mereka, rumah adat adalah penghubung dunia gaib serta penata dunia nyata, dunia manusia hidup. Di samping itu biasanya di depan rumah adat ada “hau monef” yang bercabang tiga yang tidak sama tingginya. Cabang yang paling tinggi melambangkan “Uis Neno Mnanu” / Tuhan Allah yang mahatinggi; yang sedikit lebih rendah dari cabang pertama, melambangkan “Uis Neno Pala” / Tuhan Allah yang rendah/dekat; sedangkan yang terpendek melambangkan “bei nai” / leluhur. Di bawah “hau monef” itu dipasang tiga batu ceper, tempat persembahan bagi tiga kekuatan yang dilambangkan oleh tiga cabang “hau monef” itu . Karena itu di kalangan orang Atoni juga ada pengalaman akan Allah yang dapat terjadi ketika mengalami ruang suci di rumah adat mereka. “Hau monef” dan “ni ainaf” dalam rumah adat merupakan tempat di mana mereka mengalami “Uis Neno” serta menjalin 111hubungan akrab dengannya. Di sini rupanya pengalaman ruang “vertikal” sungguh berperanan. Juga dapat dikatakan bahwa ada pemisahan yang jelas antara ruang suci dan yang tidak sakral.

3.2 Pengalaman akan Allah dalam ruang seturut kitab suci.

Pengalaman akan ruang dalam hubungan dengan ibadat, ternyata berkembang. Selain pengalaman akan Allah di tempat tinggi, ada gambaran lainnya demikian. Di kalangan bangsa Israel, diciptakan ruang-ruang yang ditujukan bagi umum, tetapi ada juga yang dinamakan ruang khusus. Ruang khusus itu disebut tenda suci, di mana disimpan dua loh batu yang berisi perintah Yahwe. Hanya imam yang hendak mempersembahkan kurban saja yang boleh/dapat memasuki ruang suci itu. Umat lainnya tidak diperkenankan. Ketika raja Salomo mendirikan kenisah, disediakan ruang suci di tingkat atas, sedangkan di tingkat bawah, disediakan ruang untuk umum. Karena itu kenisah dibangun bertingkat. Selain itu, bait Allah itu dibangun mengarah ke Timur. Sebab matahari diyakini sebagai simbol Terang atau yang ilahi. Tetapi kemudian, tidak lagi menghadap ke Timur, malainkan ke Yerusalem. Yerusalem dipandang sebagai pusat yang Ilahi, di mana ibadat dilaksanakan; karena itu, mereka yang ingin berdoa, biasanya juga menghadap ke sana. Di zaman Yesus, meja perjamuan nampaknya menjadi tempat yang suci (cf. Perjamuan akhir). Peristiwa itu sungguh berdasarkan asas inkarnasi (Allah menjelma menjadi manusia dan solider dengan manusia dalam segalanya, terkecuali dalam hal dosa). Ruang suci tidak digambarkan di tingkat atas, melainkan di kalangan atau di tengah manusia. Allah yang suci, menjelma, turun, berada di tengah manusia, untuk melayani bukan dilayani. Hal ini menggambarkan suatu dimensi baru yakni dimensi horisontal dalam hal pengalaman akan Allah dalam ruang.

3.3 Perkembangan pengalaman akan Allah dalam ruang di kalangan gereja katolik:

Pengalaman Gereja katolik juga mengalami perkembangan. Di zaman monastik, ruang dalam dari gereja yang didirikan, dibagi dua. Ruang suci dan ruang lain yang tidak suci. Di masa-masa kemudian, hal itu berkembang terus. Di banyak gereja, ruangan-ruangannya dibuat sedemikian sehingga mampu memberikan suasana sakral/suci. Misalnya di basilik santu Petrus, disediakan ruang sakral di sekitar altar. Di samping itu ada pula sarana-sarana penunjang lainnya seperti lampu, yang dapat memberikan suasana tersendiri. Lain halnya dengan gereja di Florence. Ruangannya dibagi dua. Ada gereja kecil yang biasanya dimanfaatkan untuk pembaptisan; ada pula gereja besar yang merupakan ruangan yang lebih suci. Tetapi ada pula yang menekankan aspek vertikalitas. Bangunannya vertikal dan ruang suci ditempatkan dalam ruang yang vertikal.

Sepintas lalu kita lihat bahwa ada pemisahan yang jelas antara daerah yang profan dan daerah yang sakral. Di abad pertengahan dan selanjutnya, pemisahan ini terlalu ditonjolkan sehingga memberi kesan bahwa yang suci memang terlalu jauh dan tak dapat dijangkau lagi oleh manusia. Akibatnya ada jarak yang demikian besar yang mempunyai dampaknya tersendiri bagi umat dalam berliturgi seperti kegiatan liturgis di ruang suci itu lebih dilaksanakan kaum klerus sedangkan umat menjadi penonton. Pembedaan ruang suci dan tidak suci rupanya masih cukup kuat di kalangan gereja Timur yang sangat menekankan simbol dan ritual. Perayaan Ekaristi dilaksanakan di suatu tempat khusus (tempat yang tersuci) yang terpisah dari pandangan umat “awam” dengan tirai . Menjelang dan sesudah konsili Vatikan II, di gereja Latin, ada banyak perubahan. Ruang yang sakral tempat pelayan-pelayan liturgi yang dulunya ditempatkan di tempat yang khusus dan lebih tinggi, ditempatkan semakin dekat pada umat walaupun masih jelas adanya perbedaannya tetapi tidak terlalu besar. Karena itu kemungkinan untuk dialog semakin terbuka. Toh masih tetap memungkinkan suasana sakral.

Singkatnya ada dua macam ruang yang dapat menghantar orang kepada pengalaman akan Allah. Yang vertikal/sakral dan yang horisontal/yang profan. Dan pengalaman itu tidak lain dari pengalaman akan keselamatan. Karena itu tidaklah mengherankan kalau setiap jemaat yang dipanggil untuk berhimpun guna berliturgi selalu membutuhkan tata ruang yang sesuai. Walaupun ia sebagai “kulit” atau sarana ibadat, tetapi mempunyai peranan tersendiri dalam hidup keagamaan.

4. Sekilas informasi singkat dari sejarah tentang tata ruang liturgis.

Sejarah tata ruang liturgis erat berhubungan dengan sejarah liturgi, khususnya sejarah perayaan Ekaristi. Adanya hubungan erat itu dapat dipahami karena tata ruang liturgis selalu merupakan tujuan pokok pembangunan suatu gedung gereja, biar yang sederhana sekalipun. Dan bangunan gereja di masa dulu, juga kini, biasanya dibangun sebagai tempat kegiatan liturgis bagi umat jaman itu . Dan diketahui bahwa liturgi gereja katolik Barat berkembang dari waktu ke waktu serta nampaknya berbelit. Oleh karena itu dapat dipahami pula bahwa sejarah tata ruang ibadat juga nampaknya sulit ditelusuri dari waktu ke waktu. Bagaimanapun, sejarah dapat selalu menjadi guru bagi kita, maka ada baiknya kalau saya coba mengemukakan gambaran dasar ruang liturgis di masa gereja purba untuk menjadi pedoman sederhana bagi kita, karena nampaknya gambaran dasar gereja purba itu selalu kembali muncul dalam sejarah gereja selanjutnya. Yang saya maksudkan adalah sejarah tataruang liturgis di tiga abad pertama. Dan ide dasar ruang liturgis masa itu kiranya demikian:

Ketika merayakan Ekaristi (pada awalnya terpisah dari perayaan Sabda), jemaat gereja purba sering hanya membutuhkan satu ruang persegi empat yang biasanya dipakai juga sebagai ruang perjamuan biasa (yang waktu itu dipadukan dengan perjamuan Ekaristi). Ruang tersebut biasa ditemukan dalam rumah-rumah keluarga beriman. Ruang itu ditata demikian: tempat duduk dan meja perjamuan peserta perjamuan Ekaristi dan perjamuan biasa itu, mengelilingi tempat duduk dan meja perjamuan uskup serta para pembantunya.

Ketika perayaan Ekaristi dipisahkan dari perjamuan biasa, maka tata ruang ibadat waktu itu berubah banyak. Tidak lagi dibutuhkan meja bagi para peserta; hanya dibutuhkan tempat duduk saja. Satu-satunya meja yang dibutuhkan dalam perayaan itu adalah meja untuk uskup sebagai pusat kegiatannya. Meja itulah yang kemudian berkembang menjadi altar.

Ketika perayaan sabda dipadukan dengan perayaan Ekaristi, maka tempat duduk dan meja kegiatan uskup pemimpin liturgi, mulai ditata sedemikian rupa sehingga uskup dapat berbicara kepada peserta persekutuan liturgis. Dan dirasakan perlu bahwa ruang yang cocok untuk kegiatan itu adalah ruang persegi panjang yang menghadap ke Timur. Lalu bentuk ruang itu mulai menjadi ketetapan untuk selanjutnya.

Perkembangan lanjut terjadi ketika mulai dibangun gedung ibadat. Altar tidak selalu ditempatkan dekat ke tembok yang menghadap pintu masuk. Altar digeser sedikit lebih ke tengah. Umat berhimpun dekat altar itu, sedangkan di belakang altar ditata tempat duduk uskup serta para pembantunya di sebelah kiri dan kanannya. Sedangkan mimbar sabda ditempatkan lebih dekat ke umat untuk memudahkan pemakluman sabda Allah agar dapat didengar dengan lebih baik .

Ditambahkan juga bahwa di abad pertengahan hingga konsili Vatikan II, panti imam, yang biasanya ditempati pelayan-pelayan tertahbis serta para pembantunya, ditempatkan di suatu tempat khusus dan lebih tinggi dari tempat umat bahkan jauh, sehingga nampaknya para pelayan itu jauh dari umat bahkan lain dari umat (tidak lagi bersatu dengan umat).

Dari informasi historis yang sangat singkat ini dapat kita pahami bahwa perlengkapan-perlengkapan ruang liturgis mas6a itu (khususnya ke tiga abad pertama) adalah altar, mimbar sabda, tempat duduk untuk uskup, untuk para pelayannya serta untuk umat. Dinilai bahwa unsur-unsur ruang ibadat dalam gereja-gereja purba inilah yang nampaknya paling baik ditata sesuai dengan perayaan liturgi. Ruangan-ruangan dalam gereja itu ditata demikian rapi, sehingga jemaat membedakan dengan jelas maksud bagian-bagiannya. Ada bagian yang diuntukkan bagi pmimpin perayaan (yang biasanya klerus) beserta para pembantunya. Altar memisahkan tempat umat dari tempat untuk kaum klerus; sehingga klerus berhimpun di tempat klerus dan kaum beriman lainnya berhimpun di tempat umat; mereka dapat melihat dan mendengar apa yang sedang terjadi di altar . Karena itu pembaharuan liturgis konsili Vatikan II mendesak agar kembali ke tataruang tradisionil. Bahwa tataruang gereja haruslah disusun sedemikian sehingga mencerminkan susunan umat yang berhimpun, memungkinkan pembagian tempat sesuai dengan susunan itu, dan mempermudah pelaksanaan tugas masing-masing anggota umat . Karena ia yakin bahwa umat yang berhimpun untuk berliturgi di ruang liturgis itu adalah umat kudus yang ditata secara hirarkis (bdk. KL 26).

4. Kaidah-kaidahnya:
Kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam menata ruang ibadat adalah jemaat dan liturgi yang dirayakan di dalamnya. Tatabangun, ruang dan hiasannya hanyalah kulit untuk kegiatan liturgis. Karena itu kebutuhan jemaat sebagai subyek kegiatan liturgis yang biasa berhimpun di dalamnya untuk berliturgi harus sangat diperhatikan; harus ada ruang yang memadai sehingga jemaat dapat berpartisipasi secara aktif; sehingga umat merasa krasan untuk mengikuti perayaan liturgi dengan baik . Dari segi liturgi: Ruang liturgis, yang sejak awal sudah merupakan suatu simbol, harus mencerminkan susunan umat yang berhimpun untuk berliturgi, harus memungkinkan pembagian tempat sesuai dengan susunan itu dan harus mempermudah pelaksanaan tugas masing-masing anggota umat Allah . Kedua kaidah ini tentunya selalu berkaitan satu sama lain. Karena jemaat yang berhimpun dalam ruang liturgis itu adalah jemaat yang diundang untuk berliturgi; dan liturgi yang dilaksanakan di ruang liturgis itu adalah kegiatan Allah sekaligus kegiatan jemaat. Selain itu tentu ada kaidah-kaidah lainnya yang penting, tetapi harus disadari bahwa kepentingannya tidaklah sama penting dengan dua kaidah dasar tersebut di atas.

5. Model Tata ruang liturgis seturut PUBM:

Suatu tata ruang liturgis yang ideal seharusnya terdiri dari panti imam yang jelas berbeda (tetapi tidak boleh terlalu jauh) dengan ruang umat/tempat umat beriman serta ruang untuk umat itu sendiri. Di panti imam (yang pernah disebut sanctuarium) ditempatkan tempat duduk selebran dan para pembantunya, altar serta mimbar sabda; di sana ada pula salib; ada pula yang menempatkan tabernakel tetapi tidak boleh menjadi pusat perhatian. Yang harus ditata sedemikian hingga menjadi pusat yang menarik perhatian adalah tempat duduk pemimpin, altar dan mimbar sabda. Dari tempat duduknya, imam pemimpin itu tampil sebagai ketua jemaat yang bertanggungjawab mempersatukan umat dan memandu mereka dalam memuji Allah. Dari tempat itu dapat diadakan upacara pembukaan dari perayaan Ekaristi; sehingga di tempat itu sebaiknya ada pula mike. Tentunya setiap altar, sebagai pusat perhatian yang lain (meja hidangan Tubuh dan Darah Kristus), harus punya perlengkapannya, karena di situlah dirayakan Liturgi Ekaristi; demikian juga mimbar sabda, sebagai meja santapan sabda Allah, harus ditata menjadi pusat untuk liturgi sabda. Sedangkan ruang umat/tempat umat beriman seharusnya satu, sehingga jemaat dapat merasa diri sebagai satu; di sana ditempatkan tempat duduk umat, koor serta perlengkapan koor.

Di bawah ini disampaikan beberapa ketentuan seturut Pedoman Umum Buku Misa:
= Panti imam:
Panti imam sedapat-dapatnya terpisah sedikit dari tempat lainnya, entah karena lebih tinggi sedikit, atau karena hiasan dan perlengkapannya berbeda. Panti imam hendaknya cukup luas sehingga upacara-upacara kudus dapat dilaksanakan dengan semestinya (PUBM 258). Di panti imam ini ditata:
+ Tempat duduk selebran dan para pembantunya:
Tempat duduk selebran harus melambangkan kedudukan imam sebagai pemimpin umat dan mengungkapkan tugasnya sebagai pemimpin doa. Oleh karena itu tempat duduk yang paling sesuai adalah yang berhadapan dengan umat dan berada di tengah panti imam, kecuali kalau tata ruang atau sebab lain tidak mengijinkan; misalnya saja kalau dengan demikian, jarak antara umat dan imam terlalu jauh, sehingga mempersulit komunikasi. Tempat duduk imam tidak boleh menyerupai takhta. Tempat duduk para petugas lain hendaknya diatur pada tempat yang sesuai dalam panti imam, sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan mudah (PUBM 271).
Ditegaskan bahwa tempat pemimpin itu harus ditata sedemikian sehingga pemimpin itu merupakan bahagian utuh dari jemaat yang berhimpun dan harus pula mengungkapkan kedudukannya sebagai pemimpin umat serta mengungkapkan tugasnya sebagai pemimpin doa .
+ Meja perjamuan:
Altar / meja perjamuan adalah tempat perayaan misteri paskah dalam bentuk simbol; ia merupakan meja perjamuan Tuhan dan umat Allah dihimpun sekelilingnya untuk mengambil bahagian dalam perjamuan itu. Ia juga merupakan pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam perayaan Ekaristi (PUBM 259). Di sebuah gereja atau kapela, hendaknya hanya digunakan satu altar; sebaiknya tidak lebih. Ia harus dipasang pada tempat sentral sehingga perhatian umat beriman terarah kepadanya (bdk. PUBM 260 dan 262). Hendaknya hanya ada satu altar, yang melambangkan bahwa kita hanya mempunyai satu Penyelamat dan satu kurban Ekaristi.
+ Mimbar sabda:
Sabda Allah itu agung dan menuntut adanya suatu tempat yang layak dalam gereja sehingga dalam liturgi sabda, perhatian umat dengan sendirinya tertarik ke sana . Mimbar itu merupakan tempat pewartaan sabda Allah: bacaan, masmur, homili, masmur tanggapan serta pujian paskah serta doa umat. Ia harus dirancang sedemikian sehingga nampak indah dan selaras dengan fungsinya . Mimbar sabda merupakan pusat liturgi sabda.
= Tempat umat beriman: Di tempat ini ditata:
+ Tempat duduk umat hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga umat sungguh merasa diri sebagai satu jemaat dan dapat dengan mudah melibatkan diri dalam ibadat. Yang harus dicegah ialah kebiasaan menyediakan tempat duduk istimewa bagi orang-orang tertentu (PUBM 273 dan SBL 7 no. 67).
+ Tempat koor atau paduan suara. Tempat ini haruslah ditata sedemikian rupa sehingga jelas bahwa mereka merupakan bagian utuh dari jemaat. Harus juga dimungkinkan untuk melaksanakan tugas liturgisnya dengan mudah serta dapat berpartisipasi sepenuhnya dengan aktif dalam liturgi (PUBM 274 dan SBL 7 no. 68). Toh harus pula diingat bahwa mereka mempunyai fungsi khusus yakni menyanyi dan mendorong umat untuk berpartisipasi di dalamnya. Sedangkan tempat orgel dan alat-alat musik yang digunakan dalam liturgi hendaknya ditaruh pada tempat yang cocok sehingga paduan suara dan umat dapat bernyanyi dengan lebih mudah (PUBM 275).
Selain unsur-unsur di atas, tentunya suatu ruang liturgis yang ideal haruslah yang serasi, memadai, yang dapat membuat krasan, yang nampak jelas serta enak didengar . Ia harus serasi agar jemaat betah tinggal di sana dan dapat membantu jemaat untuk berdoa dan berlitugi. Ia harus padu untuk mengungkapkan rasa kebersamaan, keutuhan dari himpunan jemaat. Walaupun harus ada pembagian tempat yang jelas, toh keutuhan dan kepaduan seluruh tata tuang haruslah tetap menonjol. Ruang liturgis juga harus memadai untuk liturgi yang adalah kegiatan sakral/suci. Karena itu tataruang harus menunjang kegiatan sakral itu bukan sebaliknya. Suasana yang harus diciptakan dan ditunjang tata ruang liturgis haruslah suasana yang membuat jemaat merasa krasan. Dari segi umat, ada suasana yang ramah di mana anggota peserta liturgi itu dimungkinkan untuk saling mengenal dan mempunyai relasi yang akrab satu sama lain. Dari segi tataruang, harus ada kemungkinan agar umat dapat ada dan duduk bersama dengan enak, cukup longgar untuk memungkinkan tatagerak yang perlu, bisa saling berkomunikasi dan sekaligus tetap dapat berkonsentrasi pada pusat perayaan. Ia harus ditata sedemikian sehingga di manapun umat duduk, dapat melihat dengan mudah kegiatan liturgis yang sedang dilaksanakan di panti imam. Dan kegiatan itu harus nampak jelas serta menyentuh hati, karena tatacahaya yang bagus. Tuntutan yang lain adalah bahwa umat dan imam dapat mendengar dengan baik apa yang disuarakan dalam liturgi. Dalam hal ini akustik harus sangat dperhatikan.

6. Penutup.

Dari uraian sederhana ini dapat disimpulkan bahwa suatu perayaan liturgis selalu membutuhkan tempat khusus. Tata ruang dimkasud dapat membantu umat menghayati misteri gereja yakni umat yang sedang berhimpun untuk berliturgi. Misteri itu adalah semua yang hadir dalam perayaan itu yang diundang untuk menjalin suatu persekutuan yang sehati - sejiwa beribadat kepada Allah (karena itu maka panti imam dan tempat umat harus kelihatan berhubungan bagaikan satu). Tetapi persekutuan itu selalu merupakan suatu persekutuan yang menuntut adanya peran-peran khusus(sehingga perbedaan antara keduanya harus nampak). Peran-peran itu adalah pelayanan dan para pelayannya harus mendapat tempat yang memungkinkan mereka melaksanakan tugas dengan lancar. Ruang persekutuan itu adalah ruang kegiatan liturgis, yang selalu menuntut adanya partisipasi aktif.

Kiranya nama Tuhan dimuliakan tidak saja di ruang liturgis, tetapi terlebih dalam setiap kita, setiap kelompok sosial dan di tengah jemaat, sehingga dunia tahu dan percaya bahwa Tuhanlah satu-satunya penyelamat.

oleh Rm Emanuel Hane
Dosen Liturgi di Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang

Kepustakaan:
Dokumen:
Pedoman Umum Buku Misa (PUBM), dalam Komisi Liturgi KWI, Kumpulan dokumen Liturgi, Obor, Jakarta, 1987.
Buku:
M. Dhavamony, Fenomenologi Agama, Kanisius, 1995.
Th. Klauser, Sejarah singkat Liturgi Barat, terj. Komisi Liturgi KWI, 1991.
Komisi Liturgi KWI, Tata Ruang Ibadat, Obor, Jakarta, 1990.
A.G.Martimort, Struktur dan ketentuan-ketentuan tentang perayaan Ekaristi, terj. Komisi Liturgi KWI, 1990.
Makalah:
A. Pain Ratu SVD., “Maria, tiang induk rumah adat Katolik, Maumere, 24-30 Juli 1988.