• Veritas vos liberabit!

    TUGAS PELAYANAN AKOLIT DAN LEKTOR


    Akolit dan Lektor merupakan dua petugas pelayanan penting dalam perayaan liturgi Gereja. Akolit dan lektor mengambil bagian secara aktif dalam tugas pelayanan dan pewartaan Sabda Allah selama perayaan liturgi. Akolit berkaitan dengan pelayanan umumnya sedangkan lektor berhubungan dengan pelayanan bacaan atau lebih tepatnya pewartaan sabda.

    Tugas pelayanan sebagai akolit dan lektor memiliki dasar hukum dalam perikehidupan Gereja. Kitab Hukum Kanonik (pasal 1035, ayat 1 dan 2) menerangkan hal-hal tentang lektor dan akolit sebagai berikut:

    1. Sebelum seseorang diangkat untuk jabatan diakonat, baik yang bersifat tetap maupun yang bersifat sementara, haruslah ia telah menerima pelayanan lektor dan akolit, serta telah melaksanakannya selama waktu yang layak.
    2. Antara pelantikan akolit dan pemberian diakonat haruslah ada jarak waktu sekurang-kurangnya enam bulan.

    Dari ketentuan di atas, dapat dikatakan bahwa tugas pelayanan dan pewartaan yang diemban oleh akolit dan lektor merupakan bagian yang tak terpisahkan dari urusan pelayanan liturgi pada umumnya. Kedua tugas pelayanan ini mendasari tugas pelayanan liturgi tertahbis. Gereja mensyaratkan bahwa sebelum tahbisan diakon, seorang calon sudah menjalani tugas pelayanan dan perwartaan selama kurang lebih enam bulan. Ini merupakan salah satu prasyarat untuk menerima tugas kewajiban yang lebih berat lagi sebagai diakon dan imam.

    Karena pentingnya tugas-tugas pelayanan ini, para akolit dan lektor perlu memahami apa saja tugas-tugas yang harus mereka lakukan, latar belakang teologis, sejarah dan fungsinya dalam pelayanan liturgi.

    Menyadari pentingnya kedudukan akolit dan lektor dalam pelayanan liturgis, para calon diakon dan calon imam yang tengah menjalani pendidikan perlu juga mengerti dan menghargai tugas ini. Agar dapat mengemban tugas ini dengan penuh perhatian dan tanggungjawab, penugasan sebagai akolit dan lektor didahului oleh sebuah perayaan pelantikan.

    Seorang lektor dan akolit harus memiliki keterbukaan terhadap Sabda Allah. Sarana untuk meningkatkan keterbukaan itu antara lain mengadakan sharing Kitab Suci atau mengadakan upacara sabda komunitas (2x sebulan) yang disiapkan oleh calon imam yang sudah dilantik sebagai lektor. Resolusi menyarankan supaya pelantikan lektor dan akolit dapat dilaksanakan lebih awal. Dalam usaha mewujudkan garis kebijaksanaan ini, kiranya orang yang hendak melaksanakan tugas pelayanan liturgis ini sungguh mempersiapkan diri untuk menerima penugasan tersebut dan perlu diteguhkan secara liturgis dalam sebuah perayaan pelantikan sebagai lektor dan akolit.

    Penulis yakin, tugas pelayanan dan pewartaan bukan hanya monopoli para calon diakon atau imam. Umat pun mengemban tugas yang sama karena panggilan imamat rajawi yang diterimanya berkat pembaptisan. Kami yakin buku kecil ini berguna pula bagi para pembaca umumnya, khususnya, mereka yang tertarik pada pelayanan dan pewartaan sabda sebagai lektor dan akolit .

    I. AKOLIT

    A. Pengertian

    Secara etimologis, kata ini berasal dari kata bahasa Yunani, akolouthein yang artinya mengikuti. Dalam konteks liturgi, pengertian ini menunjuk ke posisi seseorang akolit yang selalu dekat dengan pemimpin liturgi dan bertugas membantu pemimpin liturgi dalam perayaan. Pada mulanya akolit bertugas membantu diakon dalam perayaan liturgi. Ketika Gereja berkembang pesat, para akolit sebagai pelayan khusus dalam liturgi mulai melaksanakan tugas-tugas tertentu yang secara tradisional menjadi tugas diakon.

    Tugas pelayanan akolit diperkirakan muncul pada zaman Paus Victor I (189 – 199). Paus Cornelius pada tahun 251 menyebutkan, ada 42 akolit di tujuh wilayah kota Roma. Sesudah abad IV dokumen-dokumen di Roma masih sering membicarakan keberadaan para akolit. Santu Cyprianus pernah mengungkapkan bahwa kelompok ini berada di Arfika Utara. Tugas mereka terbatas pada membawa lilin bila Injil dibacakan dan membantu pemimpin pada saat korban dipersembahkan. Mereka adalah pelayan pribadi uskup.

    Jabatan ini baru dikenal luas di Gereja Barat (Roma) sesudah abad ke-9. Sejak abad X tugas tugas pelayanan ini diperkenalkan secara bertahap sebagai salah satu dari empat tugas pelayanan liturgi yang sifatnya membantu imam. Ketiga tugas pelayanan lainnya adalah penjaga pintu, lektor dan pengusir setan (exorcist). Konsili Trente (1545 – 1563) juga membahas tugas pelayanan ini sebagai jawaban terhadap Protestantisme yang menolak sakramen imamat. Di Gereja Timur, walaupun disinggung juga akolit dalam Konstitusi Apostolik (Syria, abad IV), tugas pelayanan ini tidak mendapatkan penerimaan permanen. Kecuali Gereja di Armenia, Gereja-gereja Timur lainnya tidak menggunakan Akolit dalam perayaan-perayaan liturgi.

    Tugas-tugas akolit beragam. Tugas mereka pertama-tama adalah mengurusi karya-karya karitatif. Di kota Roma sering mereka memperoleh suatu peran yang khusus dalam perayaan Ekaristi. Mereka mendapat kepercayaan untuk menerima bagian fermentum, yaitu, mengambil pecahan Hosti Kudus yang telah dikonsekrasi dan dibagi-bagi oleh Uskup atau Sri Paus. Lalu mereka membawa fermentum itu ke gereja-gereja stasi di kota itu dan memberikan-Nya kepada imam yang sedang memimpin Ekaristi di sana agar dimasukkan ke dalam piala dan dicampur dengan Anggur Kudus sebagai tanda persatuan-persaudaraan di antara Paus dan umat beriman serta para imam di seluruh kota. Selain itu akolit dapat mendampingi Paus untuk membawa sakramen krisma atau penguatan, dan kadang-kadang, jika jumlah katekumennya banyak, mereka diizinkan untuk melayani sakramen pembabtisan bersama dengan imam dan diakon.

    Pada mulanya, akolit hanya merupakan nama untuk orang yang melaksanakan pelayanan-pelayanan di atas. Ritus pelantikan (dalam Pontifikale Romawi) sebenarnya berasal dari ritus Gaelik awal abad ke-6. Ritus ini terdiri dari pelantikan pengusir setan dan pendoa, dan calon yang membawa tangkai lilin dengan lilin yang tidak bernyala dan kantong anggur kosong, simbol pelayanan. Menurut ritus ini tugas-tugas akolit adalah menyalakan dan membawa lilin untuk penyembahan dan menyiapkan air dan anggur untuk persembahan korban. Tugas-tugas ini sekarang umumnya dilakukan oleh awam.
    Pelayanan akolit dalam zaman modern ini tidak lagi fungsional kecuali sebagai ritus persiapan untuk pentahbisan. Konsili Trente sebenarnya berharap agar dihidupkan kembali pelayanan pastoral dari akolit. Namun harapan konsili Trente untuk membaharui peran kelompok akolit tak terpenuhi. Gerakan liturgi modern telah mengemukakan beberapa usulan konkret untuk menyesuaikan tugas fungsional liturgis dari akolit dengan kebutuhan pastoral.

    Yang bertahan hingga sekarang adalah upacara pelantikan akolit sebagai satu tahap menjelang tahbisan diakon dan imam. Kini tugas akolit yang beragam itu dilaksanakan oleh para koster, pelayan-pelayan altar dan pelayan komuni tak lazim.
    Dari sejarah timbulnya kaum akolit, dapat kita pahami makna tugasnya yang utama dalam liturgi yakni pelayanan demi persatuan-persaudaraan. Tindak liturgis pemecahan Hosti kudus dan mencampur sepotong hosti (yang dikirim Paus dan dihantar oleh akolit) ke dalam piala anggur di stasi yang Ekaristinya sedang dipimpin oleh seorang imam lain, merupakan tindak simbolis yang mengungkapkan persatuan-persaudaraan atau communio.

    B. Akolit Sebagai Pelayan Liturgi

    Akolit merupakan panggilan pelayanan. Namun pertama-tama harus disadari bahwa akolit merupakan anggota umat beriman. Dalam persekutuan liturgis tersebut ia merupakan bagian dari umat Allah. Ia harus hadir sebagai umat dengan tujuan utama merayakan peristiwa keselamatan dalam liturgi. Bersama dengan umat Allah, seorang akolit dipanggil untuk melaksanakan tugas pelayanan khusus yakni mendampingi pemimpin perayaan pada saat-saat tertentu demi memperlancar tugas pemimpin. Dengan demikian secara tak langsung akolit melayani juga umat yang datang untuk merayakan liturgi di bawah pimpinan selebran utama. Seluruh pelayanan akolit harus jadi doa, bukan semata-mata satu pelayanan teknis.

    Dalam liturgi Gereja, kita mengenal macam-macam pelayan khusus. Ada pelayan yang menjalankan tugasnya berdasarkan tahbisan seperti diakon, imam, uskup, paus. Tetapi ada juga pelayan tak tertahbis. Pelayan tak tertahbis mengemban tugas khusus berdasarkan imamat rajawi yang mereka terima pada saat pembabtisan. Pelayan tak tertahbis itu antara lain pemimpin koor, pembawa bahan persembahan, akolit dan lektor.

    Inti dari seluruh perayaan liturgi adalah menghadirkan misteri keselamatan. Seluruh umat Allah merayakan misteri keselamatan. Dalam perayaan tersebut, semua tugas pelayanan membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan.
    Dengan pelayanan para akolit serta pelayan liturgi lainnya, diharapkan umat menghayati atau mengalami inti misteri yang dirayakan. Pusat perhatian harus diberikan kepada inti misteri. Hendaknya akolit menarik perhatian umat kepada inti misteri bukan kepada dirinya sendiri. Ia mesti berusaha agar umat dapat lebih bersatu dengan inti misteri yang sedang dirayakan.

    Oleh karena itu seluruh sikap atau gerak-gerik dan perhatian dari akolit harus diarahkan atau dipusatkan kepada inti misteri itu. Seperti semua pelayan liturgi lain, seorang akolit harus ikhlas, jujur, wajar. Ia harus mampu menggungkapkan misteri Allah dengan anugerah-Nya dan keterbukaan manusia terhadap misteri itu. Penampilan yang jujur dan ikhlas perlu sekali. Ia harus memelihara dan menjaga seluruh gestikulasi yang berhubungan erat dengan mata, wajah, tangan, kaki. Dengan kata lain ia harus memelihara disiplin tubuhnya dan tentu saja disiplin hati. Tubuh dan hati yang punya disiplin akan jauh lebih mudah mengarah kepada sumber keutuhan dan disiplin itu sendiri yaitu Tuhan. Dengan cara itu ia menarik perhatian umat kepada inti misteri perayaan, kepada Tuhan dan karya-karya-Nya yang agung.

    Berdasarkan pemahaman ini, dapat dilihat bahwa pelayanan seorang akolit memiliki tiga dimensi. Pertama, dengan pelayanannya seorang akolit membantu menghadirkan misteri keselamatan yang datang dari Allah. Di sini seorang akolit melayani Allah. Kedua, seorang akolit pun melayani umat dalam arti membantu mengarahkan perhatian umat kepada inti misteri keselamatan. Ketiga, secara teknis seorang akolit melayani imam atau diakon, yang bersama-sama bertugas untuk melayani Allah dan umat Allah.

    Pelaksanaan Tugas Akolit

    Peran akolit yang mendapat perhatian kita di sini adalah fungsi teknisnya untuk membantu imam ataupun diakon. Walaupun dikatakan bahwa ini fungsi teknis, pelaksanaan fungsi inilah yang merangkum ketiga dimensi dari fungsi seorang akolit. Melalui pelayanannya kepada imam atau diakon, seorang akolit melayani kehadiran Allah dan juga melayani umat dalam memberikan tanggapan terhadap sapaan Allah. Dengan menjalankan sebaik-baiknya tugas pelayanan yang sifatnya teknis itu, ia mengarahkan seluruh perhatian kepada inti misteri yang dirayakan. Seluruh sikap gerak geriknya mesti mengarah pada inti misteri dan menarik perhatian umat ke sana. Fungsi akolit tak terlaksana bila dengan gerak geriknya ia menarik perhatian umat kepada dirinya atau kepada hal lain. Dalam hal ini akolit harus memiliki disiplin diri: disiplin hati dan budi, disiplin gerak, disiplin mata.

    Akolit sesuai dengan fungsinya selalu bersama pemimpin liturgi. Ia melayani pemimpin liturgi mulai dari sakristi hingga kembali ke sakristi. Ia melayani pemimpin upacara supaya pemimpin liturgi itu dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan lancar.

    Berikut ini diuraikan tugas-tugas akolit menurut tahap-tahap perayaan liturgi khususnya Ekaristi. Agar memudahkannya, tahapan ini dibedakan ke dalam bagian pembukaan, liturgi Sabda, persiapan persembahan, Doa Syukur Agung, komuni dan bagian penutup.

    Pembukaan:
    Bagian pembukaan dimulai dari sakristi dan diteruskan dengan perarakan menuju ke altar sementara koor atau umat menyanyikan lagu pembukaan.
    Tugas akolit di sini adalah sebagai berikut:
    1. Berjalan bersama imam, berarak bersama mendahului imam. Dengan seluruh sikapnya akolit turut membantu menyiapkan seluruh umat mengambil bagian dalam perayaan sambil mewartakan bahwa Tuhan sedang mendatangi umat-Nya dan mau tinggal di tengah mereka. Para akolit membawa serta sejumlah peralatan liturgis yang secara simbolis mengungkapkan penghormatan kepada Tuhan yang datang ke tengah umat. Peralatan peralatan itu antara lain (khususnya dalam perayaan meriah):
    a. Api dalam stribul dan kemenyaan untuk pedupaan.
    b. Salib yang diapiti lilin-lilin bernyala.
    c. Bejana dengan air berkat dan alat percik
    d. Lonceng bila perlu untuk memberi tanda bahwa perayaan akan segera dimulai.
    e. Tongkat kegembalaan dan mitra uskup (dalam perayaan meriah yang dipimpin Uskup).
    2. Di depan altar akolit bersama pemimpin memberi hormat kepada Allah yang hadir di dalam tempat ibadah. Sesudahnya akolit meletakkan peralatan liturgis di tempatnya yang tepat. Misalnya, lilin dapat diletakkan di dekat atau di atas altar, salib dapat dipancangkan di sebelah kiri altar. Pembawa pedupaan mendekati altar dan melayani imam untuk mendupai altar dan salib. Sementara itu akolit yang lain berdiri di tempat yang telah disediakan. Kalau pernyataan tobat dibuat dengan percikan air berkat, akolit atau ajuda membantu membawa air berkat sambil menghantar imam untuk mereciki umat.
    3. Akolit dapat melayani imam dengan memegang buku misa di dekat kursi imam agar dapat dibaca oleh pemimpin dengan mudah dan dengan sikap tangan yang sesuai. Akolit dapat juga membantu imam atau diakon untuk mempersiapkan buku misa di altar.

    Liturgi Bacaan:
    * Pada waktu mazmur tanggapan hampir selesai dibawakan, akolit mengambil pedupaan untuk dibakar oleh imam.
    * Bila ada perarakan Kitab Suci, pembawa pedupaan dan lilin mengambil bagian dalam perarakan itu. Tempat mereka ada di depan perarakan .
    * Akolit pembawa lilin mendekati mimbar sabda lalu berdiri di sampingnya.
    * Di depan mimbar Sabda pembawa pedupaan melayani diakon atau imam untuk mendupai buku bacaan Injil (Evangeliarium).
    * Setelah bacaan Injil, para akolit meletakkan peralatan liturgi di tempatnya dan kembali ke tempat duduk masing-masing.

    Persiapan Persembahan dan DSA
    Pada waktu persiapan persembahan dan DSA tugas dari para akolit adalah:
    • Membawa lilin, menghantar wakil-wakil umat yang membawa bahan-bahan persembahan ke altar.
    • Menyiapkan stribul dan kemenyaan.
    • Membantu imam menyiapkan altar.
    • Menyiapkan altar ( kalau tak ada diakon, dan kalau dapat persetujuan dari imam, jadi harus ada konsultasi lebih dulu dengan imam): menghamparkan kain corporale di tengah altar dan meletakkan di atas kain korporale peralatan-peralatan Ekaristi seperti piala dengan pala (penutup piala), patena dengan hosti besar, sibori dengan hosti kecil di dalamnya, kain purifikator (kain pembersih piala).
    • Melayani pemimpin untuk mencuci tangan dengan membawa air dan kain lavabo (untuk mengeringkan tangan yang basah). Bila ada pendupaan, ritus cuci tangan ini dibuat sesudah pendupaan.
    • Membantu imam dalam pendupaan, mendupai imam dan mendupai umat.
    • Membuat pendupaan di depan altar pada saat hosti dan anggur yang kudus dihunjukkan setelah kata-kata konsekrasi, membunyikan lonceng bila perlu.

    Komuni
    * Akolit dapat juga menjalankan fungsi pelayanan komunio (membagi komunio).
    * Bila disetujui oleh imam akolit dapat membersihkan dan merapihkan perlengkapan misa sesudah komunio di altar atau di meja Credens.
    * Memberikan komuni pada orang sakit yang bisa dilakukan sesudah misa.
    Penutup
    * Memberikan penghormatan di depan altar.
    * Mengantar imam kembali ke sakristi.

    II. LEKTOR

    Arti Kata
    Lektor berasal dari kata benda bahasa Latin lector yang berarti pembaca. Istilah ini mengacu pada petugas khusus dalam liturgi yang membacakan secara lantang Firman Tuhan yang tertulis dalam Buku Bacaan (Lectionarium) atau dalam Kitab Suci, biasanya dari mimbar Sabda, agar dapat didengar dengan mudah dan dipahami dengan baik oleh seluruh umat yang hadir dalam perayaan liturgi.

    Sedikit sejarahnya.
    Sejarah lektor bisa dijejaki hingga ke periode Perjanjian Lama. Dalam liturgi sabda di sinagoga, seseorang membacakan Sabda Tuhan yang diambil dari Kitab Taurat dan Para Nabi. Pembaca muncul dari tengah umat dan membuka gulungan Kitab Suci lalu membacakannya dengan lantang. Sesudah pembacaan biasanya ia memberikan penjelasan tentang isi bacaan itu.

    Dalam tradisi Kristen, kebiasaan membaca Kitab Suci sudah terdapat dalam Gereja. Perdana. Pada abad II membaca Firman Tuhan adalah kebiasaan khusus kaum klerus. Pada abad ke-5 kebiasaan ini hilang. Mulai dipakai anak muda yang tinggal di asrama uskup. Mereka mendapat pendidikan khusus dan belajar membaca. Kelompok mereka disebut Schola Lectorum. Pada abad ke 6 dan 7 dan selanjutnya anak muda dari Schola Lectorum mulai belajar secara khusus pengetahuan dan ketrampilan musik dan nyanyian sehingga pendidikannya disebut Schola Cantorum. Karena itu mereka tak laksanakan tugas kewajiban membaca. Maka subdiakon atau diakonlah yang membawakan bacaan dalam perayaan meriah

    Kini sesudah pembaharuan Konsili Vatikan II, dalam Ministeria Quaedam, lektor sebagai pembaca Firman Tuhan merupakan satu jenjang pelayanan yang harus dilaksanakan oleh seorang calon imam sebelum menerima tahbisan diakon dan imam. Tugas pelayanan ini dapat dilaksanakan oleh orang awam setelah memenuhi persyaratan-persyaratan yang dituntut.


    Tugas umum dan khusus lektor:
    # Menyiapkan bacaan
    # Bisa membawa Evangeliarium (Buku Bacaan Injil) dalam perarakan masuk
    # Bisa membawakan Mazmur Tanggapan
    # Membacakan bacaan I dan II. Inilah tugas khususnya

    Refleksi dan petunjuk praktis tentang tugas lektor
    # Yang Anda lakukan adalah suatu keterlibatan dalam seluruh karya Roh Tuhan untuk membuka hati umat Allah terhadap sabda-Nya yang kudus.
    # Yang anda lakukan adalah suatu tugas kewajiban untuk menceriterakan sejarah keluarga bangsa umat Allah, bukan hanya sejarah bangsa Israel. Dan sejarah itu adalah sejarah keselamatan yang sedang Anda alami dan yang akan Anda alami.
    # Yang anda lakukan adalah mewartakan sabda Allah, sabda yang benar-benar menyelamatkan bukan membinasakan atau menghancurkan manusia. Maka Anda harus yakin akan bunyi sabda ini dan daya gaungnya yang kuat dan membaharui. Maka ada sabda yang bernada keras menegur tetapi bermanfaat untuk membangun rasa sesal dan tobat.
    # Anda adalah utusan dari Allah untuk menegaskan bahwa Allah setia dalam cinta-Nya terhadap manusia, bahwa Allah setia memperdengarkan Sabda-Nya dan menepati janji-janji-Nya.
    # Tugas Anda adalah mewartakan sabda yang menantang dan menuntut jawaban, yang menyapa dan menyentuh hati manusia.
    # Anda mewartakan sabda yang menyembuhkan, yang menguatkan, dan yang menghibur.
    # Yang Anda lakukan adalah suatu pelayanan di meja sabda Allah yang menghalau kelaparan hati manusia akan kebenaran.
    # Yang Anda lakukan adalah menawarkan kisah tentang karya-karya agung Allah yang menyanggupkan orang beriman untuk mengambil bagian dalam perjamuan Ekaristi, yang menjadi alasan utama dan penting untuk bersyukur dan bermadah.
    # Yang Anda lakukan tidak lebih juga tidak kurang daripada menjadi pelayan suara Allah sendiri yang bersabda di tengah-tengah umat-Nya. Keseluruhan sikap dan tindakanmu haruslah sedemikian meyakinkan sehingga umat dapat merasakan dan mengalami kehadiran Allah sendiri ketika sabdaNya Anda maklumkan.

    Pelaksanaan Pelayanan Sabda
    # Datanglah ke tempat perayaan, sambil berdoa sungguh-sungguh kepada Allah agar RohNya membuka hatimu terhadap sabda-Nya yang Anda hendak maklumkan.
    # Siapkanlah bacaan Kitab Suci, pelajari isi dan pahamilah pesan teks bacaan, simpanlah semua itu dalam lubuk hatimu dan biarkanlah Sabda Allah itu meresapi seluruh dirimu lebih dahulu sebelum Anda memaklumkan-Nya kepada orang lain.
    # Tampillah dengan sikap hormat dan khidmat terhadap Sang Sabda yang Anda mau maklumkan. Itu adalah sabda Tuhan sendiri.
    # Datanglah ke tempat pelayanan sabda sebagai orang yang diadili dan sekaligus diselamatkan oleh Sang Sabda yang Anda wartakan. Camkanlah ini : setiap orang dapat membacakan Kitab Suci di depan umum tetapi hanyalah orang beriman yang dapat memaklumkan dan mewartakan-Nya.
    # Berdirilah di Mimbar Baca, meja dari sabda Allah sendiri, seakan Anda adalah Allah sendiri, dengan sikap hormat dan khidmat;
    # Boleh Anda nyatakan rasa hormat dengan menundukkan kepala di depan KS; itulah tabernakel tempat semayam Allah sendiri.
    # Peganglah Buku Bacaan Kitab Suci, bukalah dan temukanlah bagian yang hendak dibacakan; tatanglah buku itu di atas kedua tanganmu dan rasakanlah kehadiran Sang Sabda itu sendiri.
    # Yakinlah akan kehadiran-Nya sebelum Anda mewartakan-Nya dengan penuh keyakinan; keyakinan yang Anda punyai dapat membantu meyakinkan umat atau pendengar akan daya dampak dari kehadiran sabda-Nya dalam hidup sehari-hari.
    # Lalu lepaskanlah pandanganmu ke arah persekutuan jemaat dan sadarilah bahwa mereka adalah Tubuh Tuhan sendiri yang sabda-Nya Anda wartakan. Mereka adalah Tubuh Tuhan, sabda yang telah menjelma. Hormatilah dan hargailah Tubuh Tuhan itu dengan melaksanakan tugasmu secara bertanggungjawab.
    # Biarkanlah sabda Tuhan tinggal dalam hati dan suaramu sehingga apa yang Anda wartakan muncul dari suatu sumber yang penuh hikmah, mengalir dari sebuah lubuk yang dalam, terpancar keluar dari sebuah hati yang tertebus. Suara yang jelas dan meyakinkan merupakan ungkapan dari rahasia yang dalam itu.
    # Biarkanlah suaramu menggemakan sabdaNya dengan keyakinan tapi penuh kelembutan, dengan kepastian tetapi penuh keramahan, dengan daya kekuatan dan kuasa tetapi mengagumkan dan menyentuh, dengan ketegaran tetapi penuh kemurahan.
    # Ingatlah bahwa kisah yang Anda ceritakan bukanlah sebuah novel baru yang dibaca untuk memuaskan rasa ingin tahu. Kitab Suci merupakan sebuah kejadian, sebuah peristiwa, sebuah kisah pengalaman hidup tentang penyelamatan dirimu sendiri yang selalu Anda ingin ceritakan berulang-ulang kali dengan penuh semangat dan keyakinan.
    # Bagai seorang nabi, kadang-kadang Anda mesti mewartakan sesuatu yang tak suka didengar oleh umat, yang menegur dan memperingatkan dosa-dosanya, yang menuntut tobat sempurna, dan yang menghakimi dengan adil. Kiranya Anda ingat pada saat itu bahwa sabda yang sama keras ditujukan kepadamu. Jangan pernah membayangkan bahwa fungsi pelayananmu menempatkanmu di atas tuntutan sabda yang Anda wartakan.
    # Mewartakan sabda dengan jelas, tegas, keras, dan penuh keyakinan, haruslah dibarengi dengan sikap rendah hati dan ikhlas.
    # Kiranya setiap lektor membina sikap dasar untuk selalu belajar (sesuatu yang membantu) agar dapat mewartakan Sabda Allah dengan berdaya guna. Kesediaan untuk memperbaiki diri dan keterbukaan terhadap segala macam kritik akan sangat menolong pembentukan diri menjadi pelayan sabda yang baik dan setia.
    # Yakinlah bahwa Allah bersabda dan berkarya, mencipta dan menebus, menghibur dan menyelamatkan melalui Anda, melalui tugas yang Anda laksanakan dan melalui hidup yang Anda hayati.
    # Semoga pelantikan yang Anda terima dapat menjadi suatu kesempatan penuh rahmat. Kiranya dengan demikian nama Allah semakin dipuji dan semakin banyak orang menikmati kegembiraan dan keselamatan.




    Kesimpulan umum

    Tugas Anda adalah satu pelayanan yang menuntut pengorbanan, tetapi hendaknya dijalankan dengan rasa gembira dan penuh tanggungjawab dan tidak dianggap sebagai “beban“ yang menindih.

    Sebagai petugas liturgi :
    1. Hendaknya Anda “melakukan dengan utuh hanya tugas-tugas yang seturut hakikat perayaan dan kaidah-kaidah liturgi“ (KL 28) merupakan bagian tugas khusus Anda. Janganlah merebut tugas khusus diakon atau imam kalau mereka ada dan melakukan tugas sesuai peran mereka. Singkatnya, Anda harus tahu diri dan tahu tugas serta tanggung jawab.
    2. Hendaknya Anda menunaikan tugas dengan saleh (KL 29). Itu berarti Anda bersikap dan bertindak sopan, tertib dan tenang. Muka, mata, mulut, kaki, dan tangan harus tertib dan sopan.
    3. Hendaknya Anda melakukan tugas dengan tulus (KL 29). Itu berarti hati Anda harus jujur dan ikhlas. Datanglah untuk melayani dengan rendah hati.
    4. Hendaknya Anda melakukan tugas dengan seksama (KL 29). Itu berarti dengan teliti memperhatikan dan melaksanakan tugas; Anda harus tahu urutan perayaan, tugas, tempat dan saat yang tepat. Anda harus menguasainya sehingga tidak canggung dan kaku, atau tidak menanti petunjuk atau aba-aba dari pemimpin.
    5. Berusahalah melaksanakan tugas-tugas Anda sebaik mungkin. Anda dilantik untuk tugas khusus ini. Jangan sampai Anda yang telah dilantik melaksanakan tugas khusus ini lebih buruk dari orang-orang yang tidak atau belum dilantik.

    Bahan refleksi
    - Bacalah perlahan-lahan teks amanat hal 5-6 dan 8-9, lalu renungkanlah anugerah yang Anda mau terima, serta tugas yang hendak Anda lakukan. Resapilah teks itu.
    - Refleksikan : manakah semangat liturgi yang harus meresapi Anda dan sejauh mana Anda membina diri untuk membawakan peran liturgismu dengan tepat dan rapih (bdk KL 29).
    - Anjuran bahan untuk sharing: 2 Tim 4 :1-5 atau Mat 28 :16-20
    - Bahan bacaan dan refleksi tentang Lektor (pembaca) menurut PUMR (Pedoman Umum Misale Romawi):
    34: Menurut tradisi, pembacaan itu bukanlah tugas pemimpin upacara melainkan tugas lektor (pembaca). Injil biasanya dibacakan oleh diakon (bukan imam). Bacaan-bacaan lain dibuat oleh lektor. Kalau petugas khusus itu tidak ada, imam konselebran atau imam pemimpin perayaan bisa ganti mereka (bdk. n. 96).
    66: Tugas lektor ialah membawakan bacaan-bacaan dari Kitab Suci kecuali bacaan Injil. Para lektor harus cakap membaca Sabda Allah, dan dilatih dengan baik untuk melaksanakan tugas itu. Maka lektor harus menyiapkan diri dengan seksama.
    71: Lektor bisa lebih dari satu orang. Tergantung dari jumlah bacaan.
    78: Lektor mendampingi imam.
    82c: Lektor dapat bawakan injil dalam perarakan masuk.
    89: Lektor ke mimbar untuk bacakan bacaan (I, II).
    90: Yang dapat dilaksanakan juga oleh lektor ialah mendaraskan/menyanyikan mazmur tanggapan.
    96: Imam dapat menganti tugas lektor untuk membacakan Sabda Tuhan.
    272: Pembaca memaklumkan Kitab Suci dari mimbar baca. Lektor harus dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh kaum beriman.
    313: Lektor harus mengetahui bacaan sebelum perayaan. Ia tidak hanya tahu teks mana yang akan dibacakan, tetapi juga melatih diri untuk membacacakannya dengan lancar dan meyakinkan. Jangan sampai lektor maju ke mimbar sabda tanpa persiapan. Koordinasi yang baik amat menolong.

    Oleh: Bernard Boli Udjan, SVD

    Comments
    0 Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Tinggalkan jejakmu di sini...

     

    About Me

    My Photo

    Catholic Priest|Amateur Historian|Classical-music Lover|St Michael Major Seminary| @Kupangensis Archdiocese of Kupang - Timor|

    Kalender Liturgi

    My Community