• Veritas vos liberabit!

    PERBANDINGAN AGAMA KRISTEN DAN AGAMA-AGAMA LAIN


    Untuk membuat perbandingan antara agama Kristen dan agama-agama lain, satu aspek yang ingin kita perbandingkan adalah ajaran tentang keselamatan. Semua agama mengajarkan tentang keselamatan umat manusia baik keselamatan kini di dunia ini (kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan) maupun keselamatan abadi yang bersifat supernatural. Setiap agama mengajarkan tentang situasi manusia dan dunia ini yang membutuhkan keselamatan dari suatu situasi yang mengikat. Setiap agama juga mengajarkan jalan-jalan menuju keselamatan. Akhirnya setiap agama juga menggambarkan keselamatan yang merupakan tujuan hidup manusia dan diungkapkan dengan berbagai istila: surga, nirvana, mokhsa dsb.

    A. Keselamatan dan penebusan dalam agama Kristen

    a. Kenyataan dosa dan ketiadaan rahmat
    Dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut citra Allah dan dalam keadaan baik (bdk. Kej 1: 26. 31). Gereja mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya baik di hadapan Allah dan dirahmati oleh Allah serta mempunyai tujuan menikmati kesatuan dengan Allah di dalam surga. Tetapi karena ketidak-taatan Adam, manusia kehilangan statusnya sebagai “yang baik di hadapan Allah” dan kehilangan rahmat. Dengan demikian manusia lahir dalam keadaan “tidak baik” dalam dunia yang “telah dikutuk” (bdk. Kej. 3: 17). Karena ketiadaan rahmat, manusia tidak mampu mencapai keselamatan. St. Paulus mengatakan: “semua di bawah kuasa dosa” (Rom 3: 9), “kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3: 23). 
    Dosa berawal dari godaan Setan untuk melawan Allah. Essensi dosa sesungguhnya adalah keangkuhan manusia yang tidak mengakui otoritas Allah atas dirinya dan memberontak terhadap Allah. Dosa asal dan setiap dosa pribadi tidak lain adalah pemberontakan terhadap Allah atau tidak mengakui otoritas Allah atas diri manusia. Konsekuensi dari dosa adalah jauh dari Allah, jauh dari alam semesta, penderitaan dan akhirnya maut. Dengan pembaptisan, dosa asal dihapus tetapi masih tinggal concupiscentia, yaitu kecenderungan untuk berdosa dalam kodrat manusia. Concupiscentia ini adalah “bekas / cap” dosa asal yang tidak pernah hilang dari kodrat manusia, walaupun dosa asal itu telah dihapus oleh rahmat Allah. (Kalau dosa asal dibandingkan dengan borok pada wajah manusia, concupiscentia bisa dibandingkan dengan bekas borok yang memalukan seumur hidup, yang tetap ada pada wajah. Tetapi lebih dari itu, concupiscentia bahkan menghantar pada dosa aktual, karena intinya adalah kecenderungan berdosa yang tetap ada pada manusia). Dengan demikian realitas dosa selalu mengganggu existensi manusia. Manusia selalu berada dalam pergolakan melawan dosa.

    b. Penebusan sebagai kegiatan Ilahi: hanya Allah yang menyelamatkan.
    Kenyataan dosa bukanlah akhir dari nasib manusia dan dunia. Segera sesudah kejatuhan manusia dalam dosa Allah telah menjanjikan keselamatan. Janji itu dinyatakan melalui pemilihan umat Israel sebagai umat Allah. Dengan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir, Allah menyatakan karya penyelamatannya. Dengan pengalaman ini dan berbagai pengalaman religius tentang kasih dan kebaikan Allah bagi Israel, perlahan-lahan muncul pengakuan iman bahwa hanya Allah yang menyelamatkan. Dalam perkembangan lebih lanjut, muncul konsep tentang penyelamat (Mesias) yang akan menebus manusia dari dosa. 
    Iman Kristen menyatakan bahwa Mesias atau penyelamat yang dijanjikan Allah tidak lain dari Putera Allah sendiri yang datang ke dunia dan dikenal dengan nama Yesus dari Nazareth.

    c. Yesus Kristus sebagai Locus redemptionis
    Ajaran Kristen mengatakan bahwa penebusan umat manusia terjadi hanya atas jasa Yesus Kristus. Kristus telah mempersembahkan hidupnya di salib kepada Bapa, sebagai silih atas dosa-dosa umat manusia. Kematiannya adalah kurban bagi penebusan dunia. 
    St. Anselmus dari Canterbury melihat dosa sebagai “hutang” yang harus dibayar, sebagaimana diungkapkan dalam doa Bapa Kami: “ampunilah dosa-dosa kami” (dalam bahasa Latin “dosa kami” diungkapkan dengan debita nostra, yang harafiah berarti hutang kami). Benar bahwa Allah itu baik, tetapi sekaligus juga adil. Mengampuni saja dosa-dosa tanpa menghukum pendosa, nampaknya suatu tindakan “tidak adil”. Karena itu pendosa harus membuat kurban silih untuk dosa-dosanya. Tetapi manusia tidak mampu mambayar hutang dosanya, tidak mampu menebus dirinya sendiri dan hanya Allah yang bisa menyelamatkan sebagaimana telah diimani oleh orang Israel. Singkatnya manusia harus / berkewajiban melunasi hutang dosanya tetapi sekaligus tidak mampu melunasi hutang dosa itu. Yang mampu melunasi dosa hanya Allah tetapi bukan Allah yang berdosa. Satu-satunya jalan agar dosa manusia dilunasi adalah harus ada seorang penebus yang sekaligus Allah dan manusia. Dia harus merupakan menusia yang berkewajiban melunasi dosa itu dan harus merupakan Allah yang berkemampuan melunasi dosa itu. Atas dasar logika ini maka inkarnasi Yesus Kristus menjadi sangat layak. Melalui inkarnasi, Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Yesus Kristus, penebus dan penyelamat umat manusia adalah sekaligus Allah dan manusia, sekaligus berkewajiban (sebagai manusia) dan mampu (sebagai Allah) untuk melunasi dosa umat manusia.

    St. Thomas Aquinas menambahkan dimensi lain dari dosa. Dosa adalah juga pelanggaran cinta kasih terhadap sesama manusia. Dengan melanggar cinta kasih terhadap sesama, pendosa juga melukai hati Bapa di Surga yang senantiasa mencintai semua orang. Kematian Kristus di salib, bukan hanya pelunasan dosa kita tetapi sekaligus juga contoh bagaimana manusia mencintai tanpa pamrih. Dengan demikian St. Thomas melengkapi ajaran St. Anselmus di atas dengan menambahkan dimensi cinta dari penebusan Kristus.

    B. Perbandingan Agama Kristen dan agama-agama lain

    a. Pendiri agama-agama
    Di antara agama-agama dunia, yang tidak jelas siapa pendirinya adalah agama Hindu dan berbagai agama tradisional. Akan tetapi dalam agama Hindu dikenal juga Dewa-dewa utama serta inkarnasinya yang disebut avatar. Agama Islam mempunyai pendiri yaitu Muhamad, dan agama Buddha, Sidharta Gautama. Dalam agama-agama Cina, dikenal Lao Tzu sebagai penganjur ajaran Taoisme dan Confusius sebagai pendiri Confusianisme. Di antara semua pendiri dan tokoh dari agama-agama dunia, Yesus Kristus memiliki kekhasan. Kekhasannya adalah karena Yesus Kristus bersifat sekaligus ilahi dan manusiawi, Dia adalah Allah yang menjadi manusia. Muhamad, Sidharta Gautama, Lao Tzu, Confusius, Guru Nanak tidak memiliki kualitas ilahi, melainkan hanya manusia atau makhluk ciptaan yang mewartakan suatu ajaran spiritual dan filosofis. Kristus juga guru spiritual, juga filsuf, tetapi lebih dari itu, Dia juga Allah. Inilah keunikan Kristus di antara pendiri agama-agama lain. Dalam agama Hindu memang ada Avatar yaitu penjelmaan (inkarnasi Dewa, inkarnasi dari yang Ilahi) tetapi berbeda dari Yesus Kristus, avatar itu bisa lahir berkali-kali, menjelma / berinkarnasi berkali-kali. Yesus Kristus hanya sekali datang ke dunia, sekali mengurbankan dirinya untuk selama-lamanya bagi keselamatan umat manusia dan akan datang lagi hanya pada akhir dunia ini (eschaton).

    b. Realitas manusia yang membutuhkan pembebasan
    Setiap agama mau menjawabi pertanyaan fundamental manusia: mengapa ada penderitaan dan apakah ada jalan keluar dari penderitaan di dunia ini? Agama Hindu dan Buddha pada dasarnya melihat bahwa akar dari segala penderitaan itu adalah ketidaktahuan akan hakekat segala sesuatu. Ketidak-tahuan itu menghantar pada keinginan, keinginan menghantar pada kerakusan dan kejahatan, kejahatan mengakibatkan penderitaan. Kenyataan yang mengungkung manusia, dari mana manusia harus dibebaskan menurut ajaran Hindu dan Buddha adalah siklus samsara / reinkarnasi (lahir dan lahir lagi). Selama manusia masih terbelenggu oleh siklus lahir dan lahir lagi, manusia belum mencapai pembebasan atau keselamatan. Agama-agama Cina melihat ketidak-selamatan atau penderitaan manusia sebagai akibat dari ketidak-selarasan dengan kodrat (Tao, Li). Bila manusia mengikuti jalan kodrat yaitu menyelaraskan diri dengan Tao atau Li maka manusia mencapai ketenangan dan kebahagiaan di dunia akhirnya mencapai keselamatan paripurna bila Langit dan Bumi disatukan. Agama Islam dan Kristen mengajarkan bahwa penyebab segala penderitaan adalah dosa manusia. Inti dosa adalah ketidak-taatan atau pemberontakan terhadap Pencipta. Perbedaan antara Islam dan Kristen dalam hal ini terletak dalam konsep tentang dosa asal dalam agama Kristen yang tidak dikenal dalam agama Islam.

    c. Konsep keselamatan dan jalan-jalan menuju keselamatan
    Semua agama di dunia mengakui adanya tujuan akhir manusia yaitu keadaan bahagia, selamat dan tenteram. Keselamatan dalam hal ini lebih dilihat sebagai keselamatan supernatural, yaitu kebahagiaan abadi, bukan hanya kesejahteraan hidup di dunia ini. Memang hampir semua agama juga tidak menganggap tidak penting kesejahteraan hidup di dunia ini walaupun bersifat sementara.

    Bagi orang Hindu, keselamatan terakhir yang dicari atau tujuan terakhir hidup manusia adalah kelepasan atau pembebasan dari siklus samsara atau reinkarnasi. Pembebasan itu disebut mokhsa, yaitu jiwa sungguh-sungguh terbebaskan dari segala ikatan materi dan kembali bersatu dengan Brahman atau realitas tertinggi. Jalan untuk mencapai pembebasan atau mokhsa adalah gnana marga (jalan pengetahuan), bhakti marga (jalan devosi / bakti) dan dharma marga (jalan perbuatan baik).

    Agama Buddha menyebut status terakhir hidup manusia nirvana. Nirvana merupakan tujuan yang diperjuangkan manusia melalui banyak disiplin dan penyangkalan diri, di mana segala keinginan termasuk keinginan hidup dipadamkan. Jalan untuk mencapai nirvana adalah “jalan delapan” yaitu: 1) Berbicara benar 2) Bertindak benar 3) Mempertahankan hidup secara benar 4) Berpikir benar 5) Memiliki Kesadaran yang benar  6) Berkonsentrasi benar), 7) Memahami yang benar dan 8) Berkehendak benar.

    Bagi agama-agama Cina, status terakhir yang ingin dicapai adalah keselarasan hidup dengan kodrat yang berpuncak pada persatuan antara langit dan Bumi. Orang Cina melihat manusia itu sebagai bagian dari alam semesta ini. Memang dalam ajaran religius Cina, nampaknya keselarasan hidup antara manusia sangat ditekankan. Hal ini dicapai melalui olah diri secara disiplin.

    Bagi orang Islam dan Kristen keselamatan yang menjadi tujuan terakhir hidup manusia disebut Surga. Surga adalah tempat manusia yang mengalami kebahagiaan abadi. Bagi orang Islam Surga kadang-kadang juga digambarkan begitu sensibel (Surga digambarkan sebagai taman yang penuh dengan buah-buahan dsb). Bagi orang Kristen Surga digambarkan sebagai keadaan bahagia yang abadi di mana manusia memandang wajah Allah (visio beatifica). Dalam keadaan itu manusia hidup seperti Malaekat yang telah bebas dari segala hal yang sensibel (“tidak kawin dan dikawinkan”). Jalan mencapai tujuan itu bagi orang Islam adalah ketundukan total pada Allah dengan menjauhi larangan-larangannya dan menjalankan perintah-perintahNya. Bagi orang Kristen, kebahagiaan abadi itu akan dicapai terutama berkat penebusan Kristus, juru selamat dan pengantara satu-satunya. Di sini tidak disangkal bahwa manusia perlu juga memperjuangkan keselamatannya melalui praktek kesalehan dan terutama melalui pelaksanaan cinta kasih. Tetapi inti dari iman Kristen: bukan manusia yang menyelamatkan dirinya sendiri melalui segala pekerjaan baiknya melainkan Allah dalam dan melalui Kristus Penebus.***


    Comments
    2 Comments

    2 comments:

    1. Agama itu dibagi menjadi dua:
      1. Samawi (agama langit)
      2. Wadh'iy (agama buatan manusia)
      Agama Samawi adalah agama yang mempunyai kitab suci yang turun dari langit. Kitab tersebut berasal dari tuhan, bukan buatan manusia. Islam, Kristen dan Yahudi termasuk agama samawi.

      Adapun wadhiy adalah agama yang tidak mempunyai kitab suci yang berasal dari Tuhan. Apa yang ada pada mereka berupa kitab yang diklaim suci, sesungguhnya hanya buatan dan rekaan manusia.

      Jadi, kurang per kalau Islam disejajarkan dengan agama wadiy (buatan manusia).

      Islam mengakui seluruh Nabi yang diakui baik oleh agama kristen maupun Yahudi, dari Adam sampai Isa (yesus). Hanya saja, sudah barang tentu, karena Islam adalah keyakinan dan kristen adalah keyakinan, maka keyakinan kita tentang Yesus berbeda.

      Dalam keyakinan kami, Yesus (isa) adalah seorang yang terlahir dari Maryam puteri Imran. Dia adalah wanita terhormat dan baik-baik, bukan penzina.

      Suatu hari Jibril memberinya kabar gembira:
      "(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: 'Hai Maryam, seungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)". (QS/ Ali-Imran: 45)

      Kehamilan tanpa seorang suami atau tanpa satupun lelaki yang menyentuh adalah hal yang aneh pada setiap zaman, karenanya Maryam berkata:

      Maryam (Maria) berkata ketika mengandung Yesus (isa): "Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun." Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia." (QS. Ali Imran: 47)

      Yesus (Isa) adalah perpanjangan tangan dari Musa, ia diutus kepada Bani Israel, kepadanya diturunkan kitab Injil, dan kami mengimani kitab tersebut, maksudnya, kami percaya bahwa kitab injil dengan muatannya yang masih orsinil adalah dari Allah. Kami pun mengimani tiga kitab lainnya, Taurat, Zabur dan Al-Quran; bahwa ketiganya adalah dari Allah.

      Tentang penyaliban yang dilakukan kepada Yesus, kami berkeyakinan bahwa yesus telah Allah angkat kepadaNya, dia berhasil lolos dari pengejaran, sebagai gantinya, ada seseorang yang diserupakan dengannya, orang inilah yang kemudian disalib bersama kedua penyamun yang diceritakan dalam Matius Pasal 27:32, Yohanes Pasal 19: 17, Markus Pasal 15: 21 dan Lukas Pasal 23: 26. Yudas Iskariot namanya.

      Keyakinan kami ini dikuatkan oleh firman Allah:
      "Dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah*", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa."

      Sebagaimana halnya umat kristiani yakin dengan firman Tuhannya, maka kami pun demikian. Apa yang diturunkkan kepada Muhammad adalah benar-benar firman Tuhan, karena Muhammad adalah seorang yang buta huruf, tak membaca dan menulis, tidak didapati pula dalam sejarah bahwa dia pernah belajar kepada pendeta kristen dalam masalah agama, yang ada hanya pertemuan singkat dengan seorang pendeta bernama bahira yang melihat adanya tanda kenabian pada diri Muhammad.

      Itulah singkatnya tentang Islam, jadi perbedaannya sangat jauh antara budha, hindu dan Islam.

      ReplyDelete
    2. Terimakasih Legia atas pencerahannya, terutama tentang beda antara Samawi (agama langit)
      dan Wadh'iy!

      ReplyDelete

    Tinggalkan jejakmu di sini...

     

    About Me

    My Photo

    Catholic Priest|Amateur Historian|Classical-music Lover|St Michael Major Seminary| @Kupangensis Archdiocese of Kupang - Timor|

    Kalender Liturgi

    My Community