Saturday, October 22, 2011

Bersaksi Di Tengah Badai


Tahbisan itu satu rahmat. Dengan ditahbiskan menjadi imam, berarti ia (baca:imam) siap menjadi pelayan umat. Untuk menjadi pelayan umat dibutuhkan persiapan diri yang matang. Persiapan ini dilakukan ketika masih dalam taraf pendidikan yakni sebagai mahasiswa. Dalam masa pendidikan, pola pikir kreatif mulai diasah untuk menemukan nilai kebebasan dalam dirinya. Inilah model pendidikan yang membebaskan. Tidak mengekang kreatifitas para calon pelayan umat. 
Ini berarti peran pendidik (dosen) dan pembina di lembaga pendidikan menjadi sangat penting. Pola pembinaan yang otoriter akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan karakter seseorang. Pola pembinaan dan pendidikan yang ototriter adalah hambatan besar dalam membentuk karakter seorang calon pelayan publik. ‘Ketika dosen atau pembina menganggap diri atau dianggap sebagai satu-satunya otoritas kebenaran dalam ruang kuliah, maka otomatis kekuatan kritis dan  dialogue culture tidak akan berjalan. Pada titik ini mahasiswa hanya boleh tunduk buta di hadapannya. Melawan otoritas akan diancam  sejenisnya.’ (Serv. Salvano Jaman, Mahasiswa dan Komitmen Politik, PK. Jumat, 22/5/2009).
Pendidikan demikian menjadi kendala pembentukan diri calon pelayan umat. Sebagai kaum terpanggil, perannya di tengah umat sangat penting. Yang diharapkan sekarang adalah keteladanan. Sikap hidup dan cara berperilaku yang baik. Keteladanan seorang pelayan, menjadi yang utama. Sikap hidup menjadi cermin bagi orang yang dilayani. Menjadi pelayan umat berarti menjadi ‘cermin’ bagi orang lain. Orang melihat cara hidup. Kehidupan model apakah yang kini diharapkan? Attitude is every things. Sikap hidup adalah segalanya. Kunci menuju sukses ditentukan dalam sikap hidup. Penilaian umat terhadap sikap pelayan (imam), masih alot di jaman ini. Kecemasan umat, menjadi pertanyaan, apakah  karakter atau sikap hidupnya tidak mencirikan model pelayanan yang benar? Model pelayanan macam manakah yang ia lakukan? Pertanyaan ini sifatnya menyadarkan, juga memberi awasan untuk melihat hakikat pelayanan sesungguhnya.
            Bila keteladanan imam tidak ditampakkan dalam perbuatannya, maka hal itu sia-sia, tidak ada hasil. Kalau ia cerdas, bijaksana, sopan, cara berkotbahnya bagus, tentu orang akan memberi apresiasi. Ini masih dalam tingkat budaya verbal. Tapi ketika ide-ide itu tidak membumi, banyak orang akan mengatakan, tadi yang disampaikan di mimbar adalah candu. Orang akan dibuatnya terpesona sesaat namun dampaknya melemah karena sikap hidupnya tidak sesuai dengan apa yang dikotbahkan. Pengembangan sikap hidup yang baik, menjadi kriteria utama.

Bersaksi di Tengah Badai
            Nilai pelayanan menjadi unsur hakiki yang mendekatkan diri dengan umat. Dalam memberi kesaksian, aneka tantangan akan dihadapi. Justru dalam kompleksitas hidup, hendaknya dibangun pengontrolan diri yang benar. Dan upaya ini dilihat sebagai proses yang dilalui secara bertahap. Dalam proses, ada pembentukan kepribadian dan karakter hidup, state of becoming. Berkesaksian  yang benar, nyata dalam sikap hidup. Ia berani bersaksi tentang kebenaran. Berani berjuang bersama orang lain untuk satu tujuan luhur.
Kesaksian hidup dinyatakan dalam cara berada kita dengan orang lain. Imam adalah pemerkokoh. Ia memberi harapan bagi orang lain. Mendukung orang lain untuk mampu berjuang mengatasi masalah. Adanya kesabaran menghadapi aneka persoalan. Dan patut diakui bahwa konteks hidup kita sampai saat ini tidak bisa dilepas dari masalah. Menghadapi situasi demikian,ia  dipanggil untuk mewartakan kabar baik yang mampu memberi pencerahan bagi umat yang dilayani.
            Ruang gerak manusia tidak terlepas dari lingkup hidup dengan orang lain. Dengan mengenal lingkungan di mana ia berada berarti ia mengenal situasi otentik dari keberadaanya. Di sini butuh keterampilan dan keuletan dalam berpastoral. Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta, Pr dalam bukunya, Imam di Ambang Batas, mengatakan, ‘Keterampilan dalam karya pastoral sangat penting. Seluruh karya hidup imam (diosesan) pada umumnya di Paroki. Karena itu imam dipersiapkan sebelum berkarya dengan beberapa informasi tentang Keuskupan di mana dia berkarya. Tanpa informasi yang jelas, keterampilan yang memadai untuk berkarya di Keuskupan di mana dia hidup dan berkarya dapat mengakibatkan improvisasi karya pastoral yang mengarah pada kesenangan pribadi.’
Keterampilan dipahami juga dalam arti yang luas, yakni terampil me-menage karya pastoral dan diri sendiri. Kedua konsep ini cukup berperan dalam membangun hidup yang berkualitas bagi orang yang ia layani. Dalam memberi kesaksian dibutuhkan keberanian. Berani menghadirkan diri sebagai pemersatu di tengah umat. Tinggal di tengah umat. Yang diharapkan dari para imam sekarang, tidak semata pada kepintaran intetektual tapi juga kesalehan hidup yang ditopang dalam kematangan spiritual. Ini menjadi tuntutan dasariah dalam membentuk satu kehidupan berpastoral yang  berdaya guna.

Pelayan Umat adalah Pemimpin
Dimensi pelayanan tak bisa dilepaskan dari karakter kepemimpinan. Menjadi pemimpin berarti belajar untuk mendengarkan. Belajar untuk menjadi bijaksana dalam mengambil keputusan. Dalam memimpin dibutuhkan tanggung jawab dan komitmen yang kuat untuk mengangkat semangat hidup. Mendengarkan orang lain, rela turun ke bawah, hidup bersama dengan orang lain tanpa melihat status dan jabatan. Merasakan suka dan duka dengan orang yang dipimpinnya. Membangkitkan harapan orang lain yang hilang karena persoalan kemanusiaan yang dialami. Pemimpin tahu kondisi hidup orang lain yang didampingi. Apa yang harus dilakukan para imam dan calon imam di era modern ini?
Model kepemimpinan Yesus, Sang Imam Agung, menjadi model kepemimpinan para pelayan umat masa kini. Yesus adalah pemimpin yang berjiwa pelayan, bukan pelayan yang berjiwa pemimpin. Ia adalah pemersatu dan sumber keselamatan. Ia hadir di tengah umat-Nya dan menjadi sumber sukacita abadi. Ia berjalan sambil mewartakan kabar baik. Ia Sang Pemimpin sejati. Model kepemimpinan-Nya dinyatakan dalam pelayanan tanpa pamrih. Inilah model pelayanan sejati para imam.
Kesaksian hidup seorang pemimpin, penting di tengah umat. Kehadirannya  masih dirindukan dan dinantikan umat. Cara sang pemimpin umat berada dan keberadaannya, ditantang untuk berjuang bersama orang lain. Terjun dalam realitas hidup yang kompleks. Berani bersaksi di tengah badai jaman yang bergelora. Bersama umat, ia membangun semangat persaudaraan, kerja sama, solidaritas, saling menghargai satu sama lain agar terciptalah iklim hidup bersama yang aman, damai dan sejahtera. Membangun keterbukaan dan saling mendukung dalam karya dan peran masing-masing. Dengan membangun kesaksian hidup yang nampak dalam keteladanannya, maka kerinduan umat akan pelayan umat yang berkualitas bisa terjawab.

  Inozenzio Di Natale Nahak      
imam Keuskupan Atambua