Tuesday, November 1, 2011

Komunitas Keluarga Kudus Nazareth: Biara PRR Cilangkap Jakarta

Senja memayungi kota Jakarta. Dengan Taxi Bluebird aku meluncur dari arah Sudirman menuju Cilangkap. Jalanan tidak macet. Seseorang telah menanti kedatanganku di sana. Aku akan mengunjungi temanku seorang Biarawati PRR, yang tinggal di Cilangkap.

Taksi sudah melampaui TMII. Aku menerima telepon dari Suster bahwa beliau tak ada di tempat. sedang berkunjung ke komunitas lainnya di Cimanggis. Aku jadi resah. Tempat mereka belum pernah kudatangi lantas bagaimana aku bisa tiba ke tempat itu?

Sopir taksi pun tak bisa diharapkan. Untungnya Suster itu berbaik hati mau memandu perjalanan via telepon. Akhirnya aku tiba dengan selamat di Jalan Persatuan no 19b Cilangkap Jakarta Timur.

Mesin pembuat hosti

kepingan hosti fresh

coba-coba dimakan, nyam-nyam, gurih

jalan persatuan 19b Cilangkap Jakarta Timur

Komunitas para pekerja

Salah seorang karyawan memotong hosti

Kerja rutin untuk komunitas
Di ruang tamu ada seorang biarawati ditemani dua orang ibu. Mereka baru saja selesai berdoa bersama. ketika mengetahui bahwa aku adalah seorang imam, kedua ibu itu serta merta berlutut dihadapnku dan memohon berkat. Mereka lantas bertanya basa-basi. Namun rupanya aku terkejut mendengar khabar bahwa mereka adalah warga paroki di mana Romo Hugo bertugas. Romo Hugo adalah temanku dulu yang setelah datang ke jakarta, aku kehilangan kontak dengannya. Ibu itu menelpon Romo Hugo memintanya datang, tapi Romo tak bisa datang, karena beliau sedang bertugas "menjaga" paroki. Dua teman imam lainnya sedang mengadakan kunjungan umat. Akhirnya aku bersama kedua ibu itu memutuskan untuk pergi saja ke pastoran di Cijantung, dengan angkot.

Susteran PRR di mana aku menginap, adalah komunitas pertama PRR di Jakarta. Komunitas ini terdiri dari lima orang. Semuanya adalah biarawati yang mengajar di Sekolah Slamet Riyadi Cijantung. Terdapat seorang suster yang bertugas membuat hosti misa. "Pabrik" hosti itu menempati tiga buah kamar di bagian belakang. Ada tiga buah mesin yang tersedia, namun cuma dua yang sedang beroperasi. Satunya sedang menanti perbaikan. Kerja membuat hosti ini masih bergaya manual. Suster dibantu oleh dua orang karyawan, lelaki muda, yang masuk kerja dari jam delapan pagi hingga jam 2 siang.

Hosti bikinan para suster ini dijual ke biara/gereja lainnya di sekitar Jakarta. Selain membuat hosti, mereka juga membuat kalender dan menjualnya ke keluarga-keluarga katolik. Dua hal inilah penunjang utama ekonomi biara mereka.

Pagi itu sambil menanti keberangkatan pulang ke Timor aku duduk dan memperhatikan proses pembuatan hosti. Mulai dari adonan terigu hingga ketika kepingan hosti di potong menjadi kepingan-kepingan kecil. Suatu proses yang membutuhkan kesabaran. Menurut pengakuan suster, kalau bekerja dengan emosi yang tidak stabil, selalu saja kepingan hosti itu rusak.

Aku terus menerus mengamati proses pembuatan hosti itu hingga pukul sepuluh pagi, ketika taksi kembali menjemputku ke bandara.

Terimakasih Suster-suster! Nanti kita berjumpa lagi!