Saturday, March 31, 2012

Perhentian Keduabelas dan Lelaki Berjuluk Setan

Lelaki itu bertubuh pendek, gempal, berkacamata minus. Kepalanya botak sebagian, menyisakan rambut di bagian belakang saja. Setiap kali dia lalu di hadapan kami situasi mendadak hening. Sunyi. Karena itulah, ada yang suka menyebut lelaki itu setan. Konon, kalau setan sedang lalu, situasi sekitar mendadak hening. Nah?

Lelaki itu adalah bagian dari masa-masa remajamu dulu. Seorang siswa seminari yang lugu, dan sedang mencari-cari arah dan tujuan ke masa depan. Tergambar juga saat itu, idealisme menjadi imam. Tapi terasa sangat jauuuuh. Yang terbaik adalah menikmati saat-saat rutinitas, yang kadang membuat kita jadi seperti mesin, serba otomatis. Bangun pagi, mandi, ke kapel, makan, ke kelas, duduk, ngantuk, istirahat, duduk lagi, ngantuk lagi, doa, makan, kerja, main bola atau jogging keliling, mandi, masuk kelas lagi, makan, doa, bermain-main lagi: main gitar, orgel, atawa apalah yang menghasilkan bunyi-bunyian, doa dan horreee tidur lagi!

Yang menarik bersama lelaki itu setiap hari selalu ada perhentian keduabelas. Kau tahu perhentian keduabelas itu, dalam jalan salib dimana semua umat harus berlutut menyembah Yesus yang wafat di salib?

Di rumah ini, sepotong kenangan pernah tercecer
Perhentian keduabelas itu terjadi kapan saja kalau lelaki itu sedang tidak mood. Atawa apalah, ada yang kurang beres dengan dirimu sebagai anak seminari yang mesti disiplin, Hei-hei Berlutut! Dan kau dengan tertunduk pasrah, mulai melipat kedua kaki dan diam menatap tanah: di mana saja kapan saja, entah itu di kelas, di kapel, di kamar mandi dengan badan masih berbusa karena belum sempat dibilas, hingga saat kau sedang asyik ngemil sambil nonton televisi di saat rekreasi.

Itu masih mendingan. Karena biasanya didahului dengan tamparan di pipi kanan (jangan coba-coba sorong lagi pipi kiri. Untuk ini sebaiknya kau melawan saja kata Alkitab. Kau akan sejenak melihat kunang-kunang beterbangan sebelum kau akhirnya berlutut pasrah.

Di taman ini pun "penyembahan" itu berlangsung.
Malu ditonton siswi2 SMA 5 Kupang
Yang paling menjengkelkan adalah ketika waktu terus berlalu, lantas teman-temanmu mulai beranjak ke kamar tidur untuk beristirahat malam, dan angin malam sudah menyebarkan hawa dingin, sementara kau masih berkanjang dalam "penyembahan" karena lelaki itu sedang ke luar, entah ke mana. Akhirnya kau tertidur di tempatmu, untunglah kau tadi berlutut di dekat bangku terima tamu, gara-gara tamumu datang di luar jam berkunjung. Lalu bangku itu menjadi alas tidurmu sebentar sambil menunggu lelaki itu pulang....

Lalu tiba-tiba dia muncul dengan penuh penyesalan, dan menyuruh kau pergi tidur, dan kau dongkol setengah mati. Rasanya malam ini juga kau ingin balik ke rumah orang tuamu. Apalah daya jalan ke terminal sendirian tengah malam begini kau tak berani, apalagi mana mungkin masih ada bis ke luar kota?

Namun, kau ternyata terhibur. Setidaknya bukan kau sendiri yang mengalami hal serupa. Hampir semua alumni seminari ini angkatan sembilanpuluhan pernah punya kisah unik bersama lelaki itu. Hingga kini kisah unik itu senantiasa dikenang kembali dalam obrolan pertemuan para alumni. Kalau dulu kau amat dongkol, sekarang ini malah kau merasa itu sangat fun, lucu dan menyenangkan.

Ya, itulah kenangan-kenangan terindah, sebagian dari kepingan memori yang tercatat selam kau meniti panggilan menuju imamat, terasa pahit namun ikut memberi warna untuk perjalanan panggilanmu itu. Di suatu saat kala kau hening, ternyata kau tanpa ragu dengan bangga menyatakan: untung ada "perhentian keduabelas itu" hingga aku kini menjadi seorang manusia yang utuh, dewasa dan mandiri. Ah, kau menarik napas pangjang. Itu sekelumit kenangan di Seminari Menengah Santu Rafael Oepoi Kupang, yang tak akan lapuk di makan usia. Kenangan yang mencetak sejarah hidupmu hingga kini menjadi seorang imam. Ya, perhentian keduabelas. Dan setiap kali mengikuti ibadat jalan salib, kenangan itu senantiasa terselib dalam doa heningmu di hadapan Tuhan yang bergantung di Salib. "Ya Tuhan, kepadamu kuserahkan nyawaku!"***


Friday, March 30, 2012

Real Madrid di Kamar Pengakuan atawa Senja di Gereja Oebufu/TDM


Siang tadi ada sms di kotak masuk pada ponsel saya. Pengirimnya frater ToP Paroki Assumpta, Frater Janu, " Sore Rm..hari ini pengakuan di TDM sesudah jalan salib jam empat. Kemungkinan ada banyak orang. Makasih."

Aku membalas, "OK. aku meluncur". Cieeh! Di TDM. TDM yang itu tuh, .... saya membayangkan gedung gereja tempat di mana pernah saya memberkati sepasang pengantin yang saling menerimakan sakramen perkawinan dua tahun yang lalu. Yang kuat membekas dalam memori saya ternyata adalah tiang-tiang sebesar duakali pelukan orang dewasa, berwarna putih yang kokoh menopang bangunan lantai dua yang setengah rampung.

Gereja Katolik ini akrab disebut gereja TDM karena memang letaknya di wilayah Kelurahan Tuak Daun Merah, disingkat TDM. Merupakan wilayah stasi dari Paroki Sancta Maria Assumpta Kotabaru Kupang. Letaknya di pinggir kali Liliba, kali legendaris yang memakan banyak korban bunuh diri itu, sekitar 3km ke sebelah Barat Daya dari Jembatan Liliba dan Bundaran PU. Kebayang ga?

Aku meluncur, -- seperti isi sms balasan kepada frater Janu tadi, dengan sepedamotor menuju ke Gereja itu, sambil berusaha mengingat-ingat mana gang masuk yang pas. Jalan menuju ke Gereja itu mirip jalan ke Roma, banyak-banyak tapi tujuannya jelas. Hanya saja gang-gang di Kota Kupang, dan juga di kota-kota lainnya, itu mirip labirin. Kalau tujuannya belum dipastikan, kau akan terus berputar-putar, cape!

Untunglah. Jalan masuk ke gereja katolik di jumat sore pada masa prapaskah seperti ini, mudah dikenal. Ikuti saja gerombolan orang-orang berpakaian rapi dengan kontas di leher dan buku nyanyian Madah Bakti di tangan. Mereka pasti menuju ke Gereja untuk jalan salib sore itu.
Setengah rampung, masih butuh uluran tangan penderma

Dan saya tiba. Sebuah gedung setengah rampung. Lantai duanya masih berupa deretan rangka usuk kayu. Sementara di lantai bawahnya orang-orang berjejalan, di bagian emperan. Dari dalam terdengar suara dari mikrofon, mengajak untuk hening karena jalan salib akan dimulai. Sepeda-sepeda motor berdatangan. Jalan salib, devosi paling populer di masa prapaskah, bahkan sudah menjadi devosi wajib masa Prapaskah.

Suasana jalan salib,
tiang-tiang penyangga yg sulit terlupakan
Tak seorang pun kukenal, atau paling kurang, kuingat pernah ketemu dimana.... Aku memarkir sepeda motor, menggantungkan helm, lantas menyandang tas ke dalam ruang yang dinding dan lantainya tak berplester itu. Beda interior dengan eksterior. Di dalam kelihatan kosong melompong. Orang lebih memilih ikut jalan salib dari kejauhan, mungkin tahu diri dosanya terlampau parah......berjubel saja di luar gereja.

Jalan salib dimulai. Perhentian pertama, kedua, ketiga dan seterusnya diselingi dengan lagu-lagu sengsara. Tak ada kipas angin di ruangan ini. Menjelang perhentian ke sepuluh terlalu banyak orang sibuk berkipas-kipas. Buku pegangan untuk doa jalan salib berubah fungsi menjadi kipas angin. Malang, aku tak kebagian buku. Maka peluh pun mengalir seolah-olah ikut merasakan sengsara Kristus, ckckck!

Sengsara itu belum usai dengan perhentian keempatbelas. Perhentian berikutnya adalah mengurung diri di kamar pengakuan. Saya dan lima orang pastor lainnya bersiap-siap menerimakan sakramen rekonsiliasi. Aku memilih tempat di sakristi, dekat arca Bunda. Kunyalakan sebatang lilin lalu menunggu. Satu persatu datang dan menerima sakramen rekonsiliasi.

Uniknya, seorang anak kecil masuk dengan kostum seragam Real Madrid. Membuat tanda salib, lalu duduk di hadapanku. Hening. Tak sepatahkatapun keluar dari bibir mungilnya.
Reconciliatio sub tutela matris

"Adik sudah sambut baru?" tanyaku memastikan.

"Belum", ia menjawab sambil menggelengkan kepala. Di tangannya yang mengatup rapat, melingkar sebuah gelang dari karet.

"OK, mau mengaku dosa?"

Bocah Real Madrid itu kembali menggelengkan kepala. "Saya mau minta berkat dari Bapa Pastor, katanya sambil membuka matanya dan menatapku.

Ouch, anak siapa ni ya? Pinter sekali! Aku mengangkat tangan membuat tanda salib di dahinya lantas menyuruhnya pulang.

"Pastor nanti saya doa apa?"

Ah masih juga? "Kamu sudah kelas berapa?"

"Kelas tiga Bapa Pastor."

"Oh, nanti kamu berdoa tiga kali salam maria ya?"

"Baik Bapa pastor, terimakasih!"


Saya memang terhenyak menemukan bocah RealMadrid di ruang pengakuan ini. Tapi anak selugu ini rupanya cuma ikut orang tuanya yang datang mengaku namun kemudian, mungkin, merasa tertarik sekali untuk menuju kamar pengakuan. Terimakasih Yesus, kau menunjukkan padaku hari ini, betapa Kau mencintai seorang anak!

Tak banyak yang datang mengaku hari ini. Teman pastor di sebelahku sudah berkemas hendak pulang. Aku masih menerima tiga peniten berikutnya, sebelum akhrinya menutup pengakuan sore itu.

Di Gereja, lagu-lagu sengsara terdengar merdu. Sesekali berhenti di tengah jalan. Latihan koor untuk hari Minggu Palma. Beberapa anak-anak ajuda menanti tak sabaran di depan sakristi, tempat di mana aku menerima para peniten. Rupanya mereka hendak berlatih pula.

Hari sudah gelap ketika aku meninggalkan gedung setengah rampung itu, menuju kediamanku di Seminari Santu Mikhael. Gereja Katolik Oebufu, seperti Gereja-gereja lainnya di seantero dunia, sedang bersiap-siap menyongsong PEKAN SUCI. Selamat merayakan Pekan Suci, juga untuk para pembaca sekalian.***

Kelembutan Hati: Sebuah Rahasia Kehidupan



(Luk 7, 11-15; Yoh 20, 11-18)

Anda tentu pernah mengalami jatuh cinta. Bagaimana rasanya? Konon, jatuh cinta sejuta rasanya, mirip permen nano-nano, rame! Bayangkan perasaan dominan yang selalu bergejolak di hati. Rasa ingin dekat, rasa ingin berbicara halus dan manja, dorongan untuk memeluk, mencium, mengulas, meraba bahkan untuk mereka yang sudah pada tingkat necking and petting, dorongan kuat dan vital untuk mengadakan hubungan sex, tenggelam dalam lautan perasaan dan kenikmatan relasi cinta antara 2 orang kekasih dalam reciprocitas menerima-diterima, mencintai-dicintai, memeluk-dipeluk, diperlakukan dengan cara istimewa hingga terjadi saling perembesan pribadi yang paling intim, dan sering tidak lagi dapat dikendalikan dengan daya kemampuan rasional manusia. 
 
Salah satu sisi dari cinta ialah kecenderungan memiliki secara eksklusif, lalu cenderung untuk mengikat, menguasai bahkan memaksa pihak lain untuk mengikuti kehendak kita. 

Banyak tindak kekerasan di masyarakat terjadi karena cinta yang mengikat ini. Banyak pemudi/mahasiswi, bahkan siswi hamil di luar nikah, di luar kemauan mereka, atau bahkan dalam membangun relasi cinta, masih dikuasai kecemasan dan ketakutan untuk nanti ditinggalkan, dikhianati, lalu terpaksa menyerah dalam tindakan hubungan sexual yang tidak semestinya. Ada banyak pembunuhan, tindakan sadis, tindak kekerasan terhadap pihak yang lebih lemah karena yang merasa kuat cenderung menguasai yang lemah, bahkan kami imam, sering memperlakukan umat atau frater tidak semestinya, menjadi „buas“ dan keras hati, keras kepala, karena motivasi yang cenderung mengikat dan menguasai. Banyak juga pimpinan Tarekat di segala tingkatan, bisa juga terinfeksi oleh virus cinta yang cenderung mengikat ini, sehingga banyak kali timbulkan konflik dan pertentangan, bahkan permusuhan dan ketidakjujuran sikap yang nampak dalam aneka sikap munafik, ramah-tamah lipstik, bahkan sampai pada konflik terbuka yang disertai kekerasan fisik. Kalau Bapa kelewatan kera(s) dan Mama kelewatan lembu(t), anak otomatis akan jadi rusa(k). Seringkali terjadi, begitu direduksi dan dipermiskin, disamakan begitu saja dengan nafsu birahi dan pemenuhannya dalam tindakan hubungan sex.

Murid-murid Yesus diminta untuk menghindari keras hati yang dapat menjelma menjadi tindak kekerasan atau violence terhadap orang lain. Dari mana kita bisa belajar? Kita ambil satu contoh ikon dan teks KS. Dari Abad 12 di Gereja Timur dikenal “Bunda Pencinta Sejati,” “Vladimirskaja.” Tangan Bunda Maria dilukiskan memiliki jari-jari yang cukup panjang dan begitu mesra memeluk Bayi Yesus dalam pakaian sutera nan halus, seakan harta tak ternilai yang harus dijaga secara delikat dan penuh perhatian extra. Bunda dan Putera saling mendekap begitu mesra dan akrab, seakan jiwa dan badan saling menyatu, saling meresapi dan saling melindungi. Wajah Sang Bayi yang begitu jernih dan murni, menyatu dengan wajah suci Sang Bunda, seakan terekam dalam kesatuan kontemplatif yang sungguh mendalam. Sang artis yang melukiskan ini sebetulnya ingin menggambarkan perasaan cinta paling sejati, kelembutan paling asli yang meresapi dan meliputi keduanya. Ternyata, sebelah tangan Yesus terjulur cukup panjang, melingkari kepala sang Bunda dan berhenti persis dalam dekapan di leher sang Bunda. Itulah tangan Ilahi sang Putera yang kokoh dan mesra memeluk kerapuhan kemanusiaan Sang Bunda. Sebelah tangan berhenti persis di bahu sang Bunda. Inilah cinta sejati yang menjadikan keduanya begitu mesra dan akrab, yang saling meresapi dengan kehadiran timbal-balik yang meneguhkan tanpa merusak kedalaman misteri jati diri dan kebebasan pihak lainnya. Inilah kedalaman Keilahian dalam Kristus bagi kita manusia. Tuhan mencintai dan membiarkan kita menjadi diri kita sendiri, mencintai dengan membiarkan kita tetap bebas. 
 
Kelemahlembutan bisa disebut cinta yang penuh respek, sungguh bijak dan hati-hati, tulus dan dengan sepenuh hati, praktis, selalu bergembira dan lapang justru karena pihak yang dicintai menjadi dirinya sendiri dan dengan itu mengungkapkan kepenuhan dirinya kepada orang yang dicintainya. Orang yang lembut hati selalu rela menerima misteri dirinya sendiri dan orang lain dengan kebesaran jiwa. Betapa sulitnya mencintai tanpa memiliki yang dicintai! Betapa sulitnya mencintai sesuatu tanpa mengambilnya menjadi milik. Kalau kita menjadi pencinta uang, kita bisa cenderung untuk mengambilnya menjadi milik kita, atau menggunakannya sebagai alat untuk menguasai atau bahkan untuk mempersulit mereka yang tidak sepaham dengan kita, atau untuk membalas dendam kepada mereka yang pernah menyakitkan kita, mengecewakan kita, dst. Tuhan menghendaki kita mengubahnya dengan kelemahlembutan, mencintai tanpa pernah merusak apa yang dicintai atau menggunakannya untuk memuaskan tendensi-tendensi kita yang salah. Inilah kelembutan cinta, cinta yang membiarkan bebas, cinta yang penuh hormat dan respek, cinta yang dihayati sekian sehingga menjadikan saya pencinta yang sejati tanpa ternoda oleh rupa-rupa kecenderungan egoistik merusak diri saya sendiri dan orang lain. Kekuatan kelembutan hati terletak justru dalam kelemahlembutan yang tulus, kerelaan kita membiarkan orang lain sungguh menjadi lain, tidak menjadikannya menurut kemauan sepihak dari saya, tidak menjadikan sesama menurut format dan kriteria saya, tapi membiarkannya menjadi lain, menjadi dirinya sendiri. Maka kelemahlembutan sungguh efektif dan berjaya, tidak perlu dan tidak bisa dengan pembentengan diri. 
 
Untuk itu, mari kita lihat contoh yang lain dari KS. Luk 7, 11 – 15 menampilkan kepada kita seorang janda dari Nain. Kata-kata yang mengungkapkan sikap lembut dari Tuhan misalnya “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangunlah.” Yang lebih mengesankan: “Jangan menangis.” Kata-kata yang sangat biasa dan sederhana, tapi sungguh powerful! Orang yang menerima kata-kata seperti ini langsung merasa terhibur secara luar biasa, merasa tersapa dan tersentuh di kedalaman relung jiwa. Kita juga bisa bayangkan orang Samaria yang baik hati melihat sesamanya malang lantaran dirampok dan ia merasa jatuh hati, iba, kasihan, tergerak untuk menolong. Juga “Yesus melihat orang itu, tergerak hatiNya dan menyentuh dia” (Mrk 1, 41).

Inilah situasi-situasi yang mengharukan dan mengibakan dan orang bisa gampang menunjukkan kelemahlembutan hatinya. Kita gampang tergerak hati dalam hal ini. Namun kita perlu belajar dari Yesus. Ia memang menunjukkan kebaikan hatiNya, rasa simpati dan rasa ibaNya, tapi tetap membiarkan orang-orang itu menghadapi situasi mereka sendiri, membiarkan mereka menghidupinya dan mengambil hikmahnya untuk memperdalam pengalaman hidup mereka, sambil berharap kepada pertolongan yang datang dari atas. Kalau kita hanya bersimpati, biasanya kita gampang menangis (cf. Wanita-wanita Yerusalem) tapi air mata mereka tidak mengubah apapun. Atau kita bisa jadi seperti Simon dari Kirene yang memang de facto memikul salib Tuhan, menggantikan Yesus, tapi Simon sendiri merasa sangat terpaksa, terhina, memberontak diam-diam karena takut dan tak berdaya, dan Yesus sendiri merasa hatiNya disayat-sayat. Dia seharusnya dengan simpatik mengatakan kepada Yesus: “Sobat, tak usah takut, aku bisa membantuMu, biar cuma sedikit dibandingkan dengan penderitaanMu yang begini hebat dan berat; aku tak sanggup berbuat apapun, tapi bila Engkau mati, ingatlah, kebesaran jiwa dan NamaMu terukir di hatiku selama-lamanya.”

Yoh 20, 11 – 18 memperlihatkan kehangatan Yesus yang ditunjukkanNya kepada Maria Magdalena. “Ibu, mengapa engkau menangis?” Coba resapkan: suatu situasi yang sangat formal, impersonal, terkesan hambar, sekedar sapaan basa-basi, tidak sempat menorehkan kesan. Lalu kemudian, datanglah sebuah sapaan yang bernada lebih personal dan simpatik: “Maria.” Sapaan ini punya suatu daya kekuatan, menghipnotis segala kekakuan dan kebekuan, bahkan sanggup menghantar langsung kepada suatu situasi lain yang terkait dengan misteri. Inilah rahasia nama yang disapa secara pribadi, mengungkapkan saling pengenalan, kontak dan relasi pribadi, yang sanggup menyingkap rahasia kehidupan yang lebih agung. “Rabuni!” Inilah luapan kegembiraan, sukacita paling besar, karena persis menemukan Dia yang dicari, yang diprihatinkan, yang didamba, kini persis berdiri di depan mata, bahkan menyapa dengan begitu lembut dan manis. Coba renungkan lagu “How I love Him!”

Hal lain harus kita perhatikan: “Janganlah engkau memegang Aku...” Ini bukan suatu larangan, bukan sesuatu yang bernada negatif: “Tidak boleh!” Inilah kelembutan dan kegirangan hati yang menghadapi pribadi itu sekian hidup dan ingin menyentuhNya secara aktual, dengan segala respek yang berkaitan dengan pengakuan akan misteri dan keunikanNya, yang lain sama sekali dari keinginan St. Thomas untuk memasukkan tangannya ke dalam luka-luka Yesus seakan suatu objek murahan untuk dites entah memang demikian (Bdk Yoh 20, 25). Ternyata Thomas memang diizinkan, disuruh untuk meraba tangan dan lambung Yesus, tapi dengan nada yang sangat menantang, terasa seperti sembilu yang menusuk dan menghunjam jantung dan hati, melukai sampai kedalaman jiwa. Juga jawabannya sama: “Ya Tuhanku dan Allahku” yang hanya merupakan kata lain dari “Rabuni!” tapi pengakuan St. Thomas ini persis menuai kritik tajam dan pedas dari Yesus. Ia ingin meraba Tuhan dengan kekerasan hati dan semangat egoistik, karena dia mau memegang Tuhan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya Maria Magdalena dilarang dengan diundang secara sangat pribadi untuk masuk dalam pengalaman kelembutan cinta, iman dan harap, untuk membiarkan Yesus menjadi Tuhan yang harus bertahta mulia di surga dan dia tetap seorang Maria Magdalena, murid kekasih Tuhan. Dia menjadi murid justru dengan membiarkan Tuhan pergi kepada Bapa dan tidak menghalangiNya untuk diriNya sendiri.

Sering kali kita ingin agar Tuhan menjadi Tuhan seperti saya kehendaki, Tuhan selera, tapi bukan Tuhan sebagaimana diriNya. Kalau ini terjadi, tidak perlu heran bila kita selalu crash dengan Tuhan, selalu merasa tidak sinkron, tidak sejalan dengan Tuhan, selalu merasa berseberangan dengan Tuhan. Lalu terjadilan segala usaha untuk mengeliminasi Tuhan dari kehidupan. Tragedi salib Tuhan dan berbagai tindak kekerasan dalam kehidupan bersumber pada soal ini. Mungkin baik kita belajar lagi untuk memegang Tuhan dalam kehangatan iman, harap dan kasih kita dengan membiarkanNya menjadi Tuhan yang hidup atas persekutuan kita, persaudaran kita, pelayanan dan hidup kita sendiri. 
 
Lawan dari kelembutan hati adalah kedegilan/kekerasan hati. Inilah kekerasan yang meliputi sikap hati, budi dan roh. Dia juga bisa berwujud kedangkalan kultural, ideologi yang cenderung menutup diri, dst. Kedegilan hati sering bersanding dengan kelambanan hati untuk mengerti dan memahami, sehingga tidak tanggap terhadap misteri hidup agung keselamatan Allah yang sedang terjadi dalam diri Yesus. Biasanya orang yang keras kepala, lamban, degil, bodoh akan gampang menggunakan cara-cara kekerasan dalam menangani segala persoalan hidup.

Kekerasan hati bersumber pertama-tama pada ketakutan, kecemasan, rasa tidak tenteram, tidak aman. Lebih lanjut ia bersumber pada sikap ekstrim, kehilangan sikap moderat. Ada orang yang tidak pernah kenal pahit dalam hidup, karena dia selalu mau yang manis-manis saja. Sebaliknya ada yang tidak pernah kenal yang manis karena dia terbelenggu oleh perasaan sentimentil sehingga hidup selalu dirasakan pahit-getir, lalu kehilangan gairah untuk hidup, atau malah terjerumus ke dalam berbagai keinginan tak teratur lainnya. Sumber lainnya ialah pandangan/pemahaman salah atas Allah.

Refleksi Pribadi: Secara aktual, saya memiliki iman, harap dan cinta Maria Magdalena atau iman, harap dan cinta St. Thomas Rasul, atau campuran antara keduanya?

Wednesday, March 28, 2012

Suatu malam Bersama Keluarga Bapak Domi

Tunjukkan padaku teman-teman Anda, akan kutunjukkan kepadamu siapakah Anda!

Pernah dengar kalimat ini? Apakah kau setuju? Aku sendiri masih entah. Tapi ada satu cerita yang mau kubagikan di sini yang ternyata bisa serempet-serempet dengan kata mutiara atawa pepatah atawa ungkapan tersebut.

Hari Senin yang lalu aku diajak Romo Yonas, pastor pendekar (alias pendek tapi kekar, yang bertugas sebagai guru di SMA Giovanni) untuk mengunjungi satu keluarga kenalannya di Oeba.

"Ada kegiatan apa di sana?" aku bertanya untuk memastikan jangan sampai waktuku terbuang dengan cuma kongkow di sana (padahal kunjungan keluarga dari seorang pastor itu wajib hukumnya, ckckckck!).

"Kita main-main saja. Sudah lama tidak berkunjung ke sana."
"Baiklah." Aku setuju

Pukul enam tigapuluh, Romo Yonas kembali menelpon, memastikan kedatanganku. Aku sedang bersama Romo Sintus, mengutak-atik akun Skypenya. Teman yang satu ini rupanya butuh sesuatu dengan akun telpon via internet itu. (Sesuatu banget yah?)

Bersama Romo Sintus kami melaju ke arah Oeba. Rutenya dari Penginapan KAK di Kotabaru, menuju pasar Oebobo lantas masuk jalur Perumnas, dekat kali kecil, masuk ke cabang kanan, menuju rumah-rumah tinggal yang berderet bak kotak-kotak bersusun dengan halaman sekedar memungkinkan orang untuk lalulalang.

Usai memarkir sepeda motor masing-masing, kami memasuki gang yang memang dibuat khusus untuk pejalan kaki, karena cuma bisa dilalui dengan jalan kaki. Rumah-rumah ini terletak di kemiringan dekat bantaran kali kecil. Naik turun anak tangga, menyisip lewat "rebis" rumah lainnya, sekitar 300 meter berputar-putar akhirnya ketemu juga dengan rumah keluarga yang dituju.

Ow, ternyata bukan seperti kata Romo Yonas tadi, main-main. Malam ini ada acara besar di rumah ini. Sekelompok orang duduk di bawah naungan tenda. Seperti menanti sesuatu acara. Persis ketika saya dan Romo Sintus menampakkan batang hidung, pengacara mempersilakan para tamu dan undangan untuk berdiri dan mengawali perayaan ekaristi... ouch!

Ternyata kepala keluarga, dan seorang puteranya berulang tahun. Misa dan pertemuan malam ini diatur khusus dengan intensi untuk mendoakan kedua iubilaris yang ultahnya kejar-kejaran hari, di bulan yang sama: tanggal 23 utk ultah ke 6 si putera tersayang dan tanggal 26 untuk ultah ke 56 ayahanda.

Yang mencolok, misanya konselebrasi dan jumlah konselebran hampir seimbang dengan jumlah peserta misa. Banyak pastor yang datang malam itu. Belum termasuk saya dan Romo Sintus yang tak ikut berkonselebrasi.

Dan seperti yang kau duga, banyak tamu justru berdatangan setelah misa. Untuk menyalami yang berbahagia atawa iubilaris dan kemudian ... makan-makan. Acara malam ini rupanya dirancang khusus untuk sahabat dan kenalan istimewa keluarga ini. Menu makannya masih ala pesta-pesta orang Timor: yang tentu tak sempurna tanpa kehadiran daging babi. Minumnya yang istimewa. Ada minuman impor, diimpor dari luar oleh orang-orang Timor Leste lantas diimpor lagi oleh sesama orang Timor :)

Yang hadir malam itu meski bisa dihitung dengan jari, ternyata hampir semuanya pastor dan suster. Selain saya, Romo Yonas, dan Romo Sintus, ada Romo Amanche, Romo Andi, Romo Vinsen. Tak ketinggalan Romo Sipri dan Romo Okto. Bahkan ada Romo Ino yang jauh-jauh datang dari Nualain, Belu. Beberapa Suster tak kukenal namanya.Semuanya makan dan minum di tempat yang khusus, terpisah dari undangan lainnya.

Nah, itulah yang membuatku bertanya-tanya. Seperti pepatah atawa ungkapan atawa apalah diawal tulisan ini, kira-kira siapakah keluarga ini? Mungkin ada salah satu anggotanya yang jadi pastor atau suster? Tapi yang jelas, di rumah ini terdapat sebuah ruang khusus untuk berdoa, seperti kapel-kapel biara. Keluarga saleh. Keluarga alim. Mungkin karena itulah teman dan sahabatnya pula adalah kaum berjubah.

Saya sendiri belum begitu mengakrabi keluarga ini. Namun keramahan mereka malam itu menunjukkan betapa besarnya perhatian; betapa  amat pedulinya keluarga ini terhadap orang-orang berjubah. Saya bisa mengamati, dan merasakan betapa  obrolan bersama mereka seakrab obrolan antaranggota keluarga. Kami terus minum sambil mengobrol tentang apa saja, mulai dari makanan dan jenis minuman yang terhidang, pemilihan walikota Kupang hingga ke kenaikan harga BBM....


yang sempat terekam cuma Romo Sipri dan Romo Amanche
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika masing-masing pamit pulang. Malam ulangtahun yang berkesan, di keluarga Bapak Domi Naif. Dirgahayu dan... Terimakasih. Semoga keluarga Nazareth tetap menaungi keluarga ini. Amin.

Tuesday, March 27, 2012

Dicari: Sukarelawan untuk Menjadi Peniten

gambar dari okabudiman.com
Menjelang Pekan Suci, bilik pengakuan di gereja-gereja mulai terisi. Salah satu persiapan menyongsong Pekan suci, selain latihan liturgi, juga adalah pengakuan dosa. Umat berbondong-bondong menuju bapa pengakuan untuk menerima sakramen Rekonsiliasi. Seperti anak hilang yang sadar dan mau berbalik kembali ke rumah Bapanya. Betapa mengharukan!

Kemarin aku menerima surat dari Pastor Paroki Sancta Maria Assumpta Kota Baru Kupang. Isinya meminta saya menjadi salah satu bapak pengakuan di Gereja Assumpta, Senin-Rabu dan di Gereja Oebufu Kamis- Sabtu. Pekan ini rupanya adalah pekan sakramen pengakuan untuk warga Paroki di jantung kota Kupang ini.

Hujan lebat siang tadi sudah lenyap tak berbekas. Mentari sore menjadi sangat terik. Aku memasuki halaman Gereja Assumpta yang lengang, memarkir sepeda motor lalu beranjak ke kamar mencari kamar romo temanku untuk berganti jubah. Aku menemui temanku yang sedang bersiap-siap hendak pergi merayakan misa di rumah umat. Sudah ada lima romo lainnya yang mendahului aku. Gereja masih lengang. Kosong. Jam begini banyak pegawai belum pulang dari kantor. Kami terus menunggu.

Akhirnya setelah menanti sejam kemudian datang enam orang peniten, yang lantas dilayani oleh seorang Romo. Kami yang lainnya akhirnya bubar karena tak ada lagi peniten sesudah itu.

Kesempatan untuk pengakuan sudah dibuka. Para imam sudah menanti di ruang pengakuan tapi kok umat belum ada yang mau datang mengaku? Sibuk masih. Apalagi hari ini hari senin. Mudah-mudahan kebelumdatangan mereka ke kamar pengakuan hari ini bukan karena mereka mulai enggan mengaku dosa, dan berpikir lebih baik dan lebih praktis membisikkan dosa-dosanya langsung kepada Tuhan.

Monday, March 26, 2012

Berjalan Bersamamu - Sharing ME komunitas KAK

Harta dan kekayaan semuanya pasti kan berlalu, namun hanya kau sungguh berarti bagiku! Ini potongan lagu Ada Dunia Baru, semacam lagu wajib bagi komunitas Marriage Encounter (ME) di Indonesia. Lagu tersebut kembali terdengar dari sayap kanan gereja Sancta Maria Assumpta, Minggu siang kemarin, 25 Maret 2012. 

Di antara kesibukan banyak orang seputar aula Assumpta untuk RAT anggota Kopdit Swastisari, sekelompok orang dengan baju seragam bergambar jantung dan cincinperkawinan, menyepi di sudut Assumpta, dan seperti yang dilakukan saban bulan selama ini, berdialog dan saling membagikan pengalaman hidup bersama pasangan.

Mereka itu adalah kelompok Komunitas ME Keuskupan Agung Kupang. Mereka yang pernah mengikuti WeekEnd ME sejak angkatan I hingga angkatan IX ini membentuk paguyuban dan telah berjalan dengan baik selama ini. Artinya secara rutin mereka bertemu dan membahas perkembangan kehidupan dalam rumah tangga masing-masing terutama dalam menjalin relasi dengan pasangan hidup.

Hari itu, saya mendampingi pasutri Willem-Oa memberikan presentasi berupa sharing pengalaman tentang kepribadian hidup sebelum dan sesudah mengikuti WE ME. Dapat disimpulkan bahwa ada perubahan drastis dalam relasi dan komunikasi dengan pasangan hidup dan orang lain sesudah mengikuti WE ME tersebut. Saya yang dulunya kurang peduli, acuh tak acuh - orang kupang bilang 'malas tau' dengan orang lain di sekitar, kini menjadi lebih peka dan peduli. Dan saya berharap ke depan sikap dan tingkah laku ini bisa tetap menjadi kekuatan untuk menjalin relasi dengan sesama anggota komunitas dan dengan umat Allah. 

Sementara pasangan Willem-Oa masing-masing menunjukkan bahwa betapa berbedanya kepribadian antara keduanya: WIllem yang grasa-grusu dan Oa yang kalem. Perbedaan karakter itu seringkali membuat mereka terjerumus ke dalam pertengkaran. Dengan mengikuti ME mereka semakin peduli dan peka satu sama lain. Pertengkaran, adumulut semakin jarang terjadi.

Ternyata setelah mengenal nilai-nilai WE, setiap pasutri (dan imam/biarawan/biarawati) dapat berjalan bersama pasangannya dalam keharmonisan cinta, karena lebih mengenal pribadinya sendiri. Bisa bekerja sama, saling menghormati, lebih mencintai, melihat kelebihan pasangan, menerima kekurangannya, dan menganggap bahwa keunikannya begitu istimewa.

Usai presentasi, masih ada pembicaraan seputar jatuhbangunnya komunitas ME KAK ini. Antara lain dibicarakan tentang perekrutan anggota baru untuk WE ME angkatan kesepuluh yang direncanakan akan berlangsung tanggal 20 Mei 2012. Setiap anggota komunitas ini wajib merekrut satu pasangan. Ada keprihatinan tersendiri bahwa NTT yang merupakan gudang keluarga katolik, justru cuma sedikit yang mengikuti WE ME. Mungkin karena kurangnya sosialisasi dari para naggota komunitas ini.

Selain itu ada juga keluhan mengapa pastor dan suster kurang sekali berminat untuk mengikuti ME ini. Saya misalnya, ditelpon berulang-ulang oleh Bapak Koordinator - sehingga saya cenderung mengganggapnya ancaman- untuk hadir dalam pertemuan ini.

ME wilayah Kupang masih merupakan bagian dari Distrik IV Surabaya. Untuk sementara sudah ada pasangan yang direkomendasikan untuk menjadi fasilitator yakni pasutri Servas-Atiek. Sudah terdapat tujuh pasutri dan seorang imam yang mengikuti Deeper WE dan akan dipersiapkan melalui workshop khusus untuk menjadi fasilitator. Bila semua itu sudah terlaksana, maka wilayah Kupang akan menjadi Distrik sendiri terlepas dari Surabaya. Itu harapan bersama di siang yang bolong di samping Gereja Assumpta...

Makan siang yang disiapkan dengan baik dari rumah dilahap habis sebelum akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Sampai jumpa bulan depan di Gereja Sancta Familia Sikumana Kupang.  
We love You, We Need You!

Seminar Hidup Baru - Poltekkes Kemenkes Kupang

Ibadat Tobat
Sabtu lalu, saya diundang Moderator BPK PKK Keuskupan Agung Kupang, guna membawakan materi Lectio Divina pada Seminar Hidup Baru di Poltekkes Kemenkes Kupang. Pesertanya adalah mahasiswa/mahasiswi katolik dalam lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. Sekitar 70 orang pagi itu dengan ceria mengawali kegiatan karismatik ini dengan doa dan pujian, sambil menunggu kedatangan penceramah. Kau tahu kegiatan karismatik pasti selalu ceria dengan nyanyi-nyanyi dan bahkan menari-nari :)

Pukul 08.00 saya dijemput dari Seminari Tinggi. Sebelumnya saya menyiapkan bahan ceramah ekstra ngebut, soalnya saya baru dimintai kesediaan pada pukul 10.00 malam tadi, ditodong oleh Romo Stef Mau , Moderator BPK PKK KAK. Yang bertugas memberi ceramah tentang Lectio Divina ini sebenarnya Romo Agus Parera, namun hingga malam kemarinnya Romo Agus menyampaikan pembatalan. Akibatnya panitia  kelabakan mencari pengganti. Akulah korban pergantian itu, he he he. Beruntung, bahan tentang Lectio Divina ini sudah menginap lama di laptop saya karena bahan yang sama pernah saya bawakan untuk sebuah rekoleksi OMK tahun lalu. Oke, saya terima saja todongan itu.

Romo Yosep Nahak,
pembawa materi Tobat dan Penyembuhan Luka Batin

Yang menyenangkan dalam ceramah pagi ini adalah antusiasme dan semangat para mahasiswa untuk mengikuti kegiatan demi kegiatan. Tak biasa orang muda begitu antusias dengan hal-hal yang berbau rohani seperti ini. Apalagi bagi seorang mahasiswa Kesehatan yang rutinitas di kampus sehari-hari jauh dari Alkitab ...:)


Bapak Linus, salah seorang panitia menyatakan bahwa tujuan dilaksanakan seminar bagi para mahasiswa bidang kesehatan ini adalah untuk melatih mereka memiliki sikap pelayanan yang tulus dan ikhlas. Sebagai petugas kesehatan di kemudian hari, mereka tak hanya mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari tapi terutama bisa melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan sepenuh hati. Lihat saja contoh pelayanan setengah hati; ibu-ibu yang sedang sakit menjelang bersalin di rumah sakit bukannya dihibur atau diteguhkan malah dibentak-bentak,"siapa suruh mau hamil" ... Kebayang gak ya sakitnya seorang ibu menjelang bersalin plus sinisme dari perawat-perawat kurang ajar dan kurang hati itu?

Yah, Seminar Hidup Baru ini dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut, ketika mahasiswa lainnya sedang asyik menikmati liburan Nyepinya umat Hindu. Seminar dibuka dengan perayaan Ekaristi pada tanggal 22 Maret dan ditutup juga dengan perayaan ekaristi Perutusan pada hari Minggu 25 Maret 2012. Adapun kegiatan-kegiatan selama seminar ini adalah: Ceramah dengan topik-topik seputar spiritualitas pelayanan, Sharing kelompok, Pujian dan Doa, Ibadat Tobat dan Pengakuan Pribadi, Ibadat Pencurahan Roh dan Misa Perutusan.

Toh, ada juga yang mengikuti karena memang terpaksa. Ini aturan yang wajib ditaati dari Ketua Jurusan, kata seorang Mahasiswa. Kendati demikian, mudah-mudahan dengan mengikuti Seminar ini, para mahasiswi Kesehatan ini benar-benar bisa memiliki hidup baru dalam ROh agar dalam pelayanan mereka di masyarakat kelak bisa benar-benar menjalarkan kasih Tuhan. Semoga saja!

Saturday, March 24, 2012

Acies Legio Mariae Kuria Rumah Kencana - St Yosep Penfui Kupang

Persiapan Misa ACIES
Jumat kemarin, 23 November 2012 saat umat Hindu merayakan Nyepi, kelompok Legio Maria Kuria Rumah Kencana Paroki Santu Yoseph Penfui Kupang merayakan Misa Acies. Perayaan ini berlangsung di kapel Yesus Maria Yosef (YMY) Liliba - Kupang. Dan gereja pun dipenuhi sekitar 250 orang legioner, baik anggota aktif dan auksilier (anggota pendoa) beserta anggota yunior (anggota remaja)

Acies adalah upacara penyerahan diri segenap anggota dan pemimpin rohani Legio Maria. Sedangkan Legio Maria sendiri berarti gerakan kerasulan awam Katolik di bawah restu Gereja yang dengan semangat berkobar-kobar laksana pasukan yang siap sedia bertempur melawan dosa dan kejahatan. Mereka berlindung dan mencanangkan Bunda Maria sebagai Ratu dan dan Panglima yang meremukkan kepala setan dengan kakinya. Sehingga Acies yang berasal dari kata Latin dengan arti pasukan yang siap sedia bertempur amat tepat digunakan untuk upacara di mana para legioner sebagai badan kerasulan awam berkumpul dan memperbaharui janji kepada Bunda Maria, Ratu Legio.

Salah satu legioner remaja
Upacara dibuka dengan nyanyian “Datanglah ya Roh Kudus” lalu dilanjutkan dengan seruan “Salam ya Ratu”. Dalam kotbahnya, Saya/Romo Patris mencoba menegaskan tentang pentingnya menghayati kerasulan Legio Maria secara jasmaniah sekaligus spiritual. Bila cuma dihayati secara jasmaniah LM akan menjadi sekedar organisasi dengan rutinitas tertentu, sementara kalau cuma spiritual, LM hanya akan menjadi sebentuk kesalehan pribadi tanpa keterlibatan sosial. Setelah itu diawali dari para Romo, Romo Patris dan Romo Kasmir, mereka mengucapkan janji legio : “Aku adalah milikmu ya Ratu dan Bundaku dan segala milikku adalah kepunyaanmu”. Segala upacara ini akhirnya dimahkotai dengan liturgi ekaristi.

Acies sungguh telah menjadikan mereka sebagai laskar yang sungguh bersatu, sebelum akhirnya mereka kembali diutus ke presidium masing-masing.


Selain itu, hal lain yang mengesankan dalam perayaan ini bagi saya adalah kesempatan bertemu dengan seorang teman imam yang dulu membimbing kelompok Weekend Marriage Encounter kami di Pantai Timor. Pertemuan seperti ini memang sulit diduga, sebab tempat tugas kami yang berjauhan, dia anggota OFM dan berkarya di Surabaya, sedangkan aku di tanah Timor. Beruntung bisa berkonselebrasi bersama dalam perayaan Ekaristi pagi ini dan menyatakan Acies bersama-sama.:)

Friday, March 23, 2012

Kelompok Ansambel Gitar STSM

Ditengah kesibukan menjalani rutinitas kehidupan di seminari, beberapa frater yang tergabung dalam kelompok Ansamble Gitar masih asyik berlatih dengan tekun. Frater Heca Caban dan kawan-kawan sedang sibuk mempersiapkan diri untuk penampilan mereka pada konser di Aula Eltari nanti.

Tiga lagu sedang mereka persiapkan. Amzing Grace, Bewitched dan Mai Falie, semuanya diaransemen oleh Pak Piet Riki TUkan. Rupanya kesulitan yang dihadapi adalah memainkan nomor jazz yang butuh improvisasi tinggi. Para frater yang terbiasa dengan lagu-lagu liturgi agak sukar menginterpretasi lagu Bewitched yang aslinya gubahan lagu Jazz dan Mai Falie, lagu daerah Rote yang diaransemen dengan gaya Jazz oleh Pak Piet Riki TUkan. Kendati demikian, ternyata mereka tetap optimis. Malam-malam pada saat rekreasi, mereka melewatkan waktu dengan bermain bersama. Lagu Amazing Grace sudah mantap. Kin saatnya menghayati lagu Bewitched.

Kelompok ini adalah salah satu kelompok minat di STSM yang eksis sejak masa-masa Frater Sixtus Bere. Kini beliau sudah menjadi imam dan sedang belajar filsafat di Jerman. Selain kelompok ansambel ini, ada berbagai macam kelompok minat lainnya, misalanya KMK Kelompok menulis di Koran, Filokalia: Kelompok Sastra, EEC, English Conversation Club dll. Semuanya ini demi mengembangkan bakat dan talenta yang ada pada para frater demi tugas dan pelayanan kepada umat dan masyarakat.

Penampilan Perdana di Hotel Oriental Kupang 
Selamat berlatih terus dalam mengembangkan talenta. Tuhan pasti memberi ganjaran yang setimpal!

Wednesday, March 21, 2012

A Journey to Infinity #KonserMusik Para Frater STSM

Konser Musik Bale Biinmafo Kefamenanu, 30 Juni 2011
Setelah sukses dengan Tour Timor 29 Juni -4 Juli 2011, kini para frater seminari tinggi akan mengadakan konser paskah. Konser yang bertema "A journey to infinity" akan digelar pada pertengahan bulan april. Menurut rencana, tempat yang pas untuk itu adalah aula Eltari Kupang.

Sementara ini para frater sedang sibuk berlatih lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah, lagu-lagu kontemporer dan lagu-lagu religius. Akan juga tampil kelompok ansambel musik STSM, yang sudah malang melintang di dunia pementasan kota Kupang. *selalu malang nan melintang*

Pak Piet Riki Tukan, penanggungjawab utama, menyatakan bahwa konser ini benar-benar mesti all out dari para frater. Sang Maestro ini terus setia memantau latihan para frater setiap selasa, kamis dan jumat.
Mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan para penikmat musik se kota Kupang.

Yuk, buruan dapatkan tiketnya di Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui Kupang.....

Monday, March 19, 2012

Masihkah Ada Hati yang Tulus?

#perayaan St Yusuf Suami SP Maria

Satu momen penting yang dirayakan oleh orang katolik sedunia pada hari ini adalah Hari Raya St Yusuf suami Santa Perawan Maria. Peringatan ini sekaligus adalah perayaan ketulusan hati. Yusuf, sebagaimana dikisahkan dalam alkitab, adalah seorang lelaki yang lebih banyak diam. Padahal, pada jamannya suara seorang lelaki sangat diperlukan.

Cerita injil yang hanya sedikit tentang Yusuf ini justru menegaskan ketulusan hati Yusuf. Dia yang dilanda tekanan batin karena tunangannya tahu-tahu sudah mengandung. Apa kata dunia? Seolah ini ejekan bagi kelelakiannya. Lebih baik kuceraikan saja, demikian Yusuf membatin. Lantas datanglah suara malaikat dalam mimpinya, melarang Yusuf untuk melarikan diri. "Ambil saja wanita itu sebab anak yang dikandungnya adalah dari Roh Kudus".

Apa alasan Yusuf untuk membeo saja pernyataan malaikat itu kalau bukan iman yang sebesar biji sesawi?

Hari ini katakanlah satu perayaan untuk para suami, para ayah, para lelaki. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Hari Perempuan Sedunia. Seluruh dunia menghargai dan menghormati seorang perempuan, seorang ibu. Namun, apalah arti seorang ibu tanpa seorang ayah?

Hari ini pula kita bersama merayakan ketulusan hati. Apakah masih ada ketulusan di antara kita. Ketulusan itu beda-beda tipis dengan tolol dan lugu. Kalau tolol dan lugu itu memang karena sama sekali tidak mengerti lalu tak bersikap apa-apa, justru sebaliknya tulus itu - sama-sama tidak memahami - namun kau menentukan sikap karena kauyakin itu yang terbaik. Beda bukan?


Zaman sekarang, orang yang tulus itu mudah menjadi bola guling, dilempar ke sana kemari terutama oleh mereka yang profit minded. Dunia sekarang nyaris dikuasai oleh syahwat pasar. Segala sesuatu dinilai berdasarkan nilai utilitas. Tidak salah bukan? Tetapi sikap seperti ini justru membuat kita mengabaikan kenyataan bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara. Pun membuat kita terlena dan lupa pada kenyataan bahwa selain tubuh yang kasat mata kita punya jiwa yang akan hidup selama-lamanya di alam sana.

Ketulusan Yusuf yang dirayakan hari ini, mengingatkan kita semua akan masa depan kita sebagai seorang manusia. Semakin banyak tantangan dan godaaan di dunia ini untuk bersikap pragmatis, semakin kita perlu berkanjang dalam ketulusan hati.

Kuncinya hanya satu, tahu diri, kenal siapa diri saya yang sesungguhnya di hadapan alam semesta ini. Pengetahuan diri seperti ini niscaya menghantar kau pada sikap insaf akan kekecilan diri sendiri, dan pala gilirannya menumbuhkan kerendahan hati, dan membangun sikap ketulusan.

Semoga!

Sunday, March 18, 2012

Akhir Pekan Bersama Nenek Nuban atawa Kesaksian Seorang Janda


Ini kisahku tentang seorang perempuan saleh, kenangan  tentang kesaksian iman seorang perempuan tua, yang sempat hadir dan mengisi masa-masa pertumbuhan iman saya, pada masa kecil dulu.

Bei Nuban, keponakan saya, dan Si Bintil
Kami sering memanggil nenektua itu Bei Nuban, artinya Nenek Nuban. Setiap Sabtu sore, beliau tiba di rumah kami, dengan membawa singkong atau pisang, sekedar mengisi tas dari bekas kantong terigu yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kemudian, ia menginap semalam di rumah kami, dan baru pulang bila hari menjelang senja pada keesokan harinya.

Kehadiran Bei Nuban di rumah kami memberi kegembiraan tersendiri bagi kami yang masih kanak-kanak. Malam sesudah makan, Bei Nuban biasanya mulai mendongeng. Sambil mengunyah sirihpinang, beliau mulai bercerita tentang Moa Hitu, manusia raksasa yang menatang langit yang nyaris runtuh, atau tentang Asman dan Asbolu, dua bocah nakal yang dibuang oleh ayahnya dan bertemu dengan nenek sihir.

Itulah yang terjadi, terus-menerus bulan berganti bulan, hingga akhirnya di penghujung tahun 1992 ketika Nenek tua itu tak mampu lagi berjalan kaki. Beliau cuma duduk dalam ume kbubunya, hingga suatu hari penyakit usia lanjut memaksa Pastor Ebed, pastor kuasi paroki Oeekam (saat itu) untuk datang menjenguknya dan memberikan sakramen minyak suci.  Akhirnya pada bulan Mei 1994, Nenek Nuban menghembuskan napas yang terakhir.

Cerita sepele ini kok diposting? Kau bertanya. Tunggu dulu, kataku.
Nenek Nuban adalah salah seorang dari mereka yang dibabtis pada saat kedatangan pertama misionaris di tanah Fatukopa (1964). Pater Kaesmuti  itu datang dari Noemuti, menunggang kuda dan diterima di Sonaf Fatukopa oleh raja setempat. Beliau kemudian membabtis beberapa orang menjadi katolik, termasuk Nenek Nuban yang masih gadis remaja kala itu.

Kedatangannya ke rumah kami adalah sebuah perjalanan menempuh jarak 30 km dengan berjalan kaki, menurun ke rumah kami dan mendaki kembali keesokan harinya ke tempat tinggalnya. Dia datang menginap di rumah kami yang terletak bersebelahan dengan kapel untuk mengikuti ibadat keesokan harinya. Dan sesudah udara kembali menjadi dingin saat menjelang senja, ia pulang kembali ke tempat tinggalnya.

Begitulah yang terjadi terusmenerus.  Apabila Bei Nuban absen pada suatu hari Sabtu, maka sesudah ibadat keesokan harinya, kami biasanya diajak ibu ke rumahnya. Satu-satunya alasan ketakhadiran Bei Nuban pada ibadat Minggu di kapel itu adalah sakit. Di sebuah ume kbubu di bawah rerindang pohon kelapa dan sirsak, kami menemui dia di sana. Bawaan ibu biasanya berupa beras, susu dan obat-obatan. Kami pulang dengan buah sirsak atau nanas, hmmm.

Semangat seperti nenek tua ini hampir tidak ditemukan lagi dalam dunia modern ini, di kampung saya. Orang mulai enggan berjalan kaki ke Gereja. Pergi ke Gereja di hari Minggu, tergantung apakah ada ojek atau tidak. Wah sungguh menyedihkan. Pasti Nenek Nuban diatas sana prihatin dengan keadaan anak-anak jaman sekarang. Di atas mana? Pohon?

Nenek Nuban perempuan sebatang kara. Sudah lama ia menjanda. Anak-anaknya  telah memilih ikut Gereja Kristen Muda (protestan) dengan tertentu, termasuk alasan lebih dekat ke tempat ibadat dan lebih banyak jemaatnya. Perempuan yang setia hingga akhir hayatnya, janda tua yang rajin mengikuti peribadatan di kapel... hingga usia tua menggerogotinya dan akhirnya berpulang dengan bahagia. Semoga berbahagialah dia di sisi Tuhan!

Saturday, March 17, 2012

Menghayati PERKAWINAN dalam perspektif KITAB SUCI



Ada satu nilai dasar yang sedang menggerogoti hidup perkawinan orang kristen, yaitu berkurang dan hilangnya “kesetiaan” terhadap pasangan seumur hidup baik dalam untung maupun malang. Perselingkuhan, kumpul kebo, gonta ganti pasangan, kawin sejauh menguntungkan dan sesuai  kepuasan pribadi dan berbagai hal negatif sedang menggerogoti ajaran iman tentang perkawinan sebagai “satu ikatan monogami” seumur hidup.

Bila perkawinan didasarkan pada senang dan puas, maka pada saat pasangan tidak senang dan puas, bisa saja perkawinan bubar. Kesetiaan menjadi sangat mahal dalam hidup perkawinan modern karena tantangan yang datang dari lingkungan semakin besar dan sistimatis, tetapi di lain pihak nilai-nilai religius-budaya dari mereka yang menghayati perkawinan pun semakin keropos!

Untuk itu ada baiknya kita mencoba menengok sejarah perkawinan dari jaman ke jaman seturut catatan Kitab Suci. Darinya bisa kita temukan pesan-pesan Tuhan, dan mungkin dengan demikian kita bisa menjawabi persoalan-persoalan perkawinan masa modern sekarang ini. 

Dalam Kej. 12:5 terdapat kisah bahwa ketika Abram pergi ke tanah Kanaan karena panggilan Tuhan, “Abram membawa Sarai, istrinya, dan Lot, anak saudaranya,…”.  Mereka semua berangkat dari “Haran” ke Kanaan!  Abram kemudian dengan ijin Sarai, mengambil Hagar (perempuan Mesir) sebagai istrinya, agar bisa melahirkan bagi Abram seorang anak laki-laki yang dinamakan Ismael (Kej. 16:2-3).  Di kemudian hari terjadi “perceraian” karena ternyata Sarai yang mandul kembali subur dan melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamakan Ishak. Di sini jelas terlihat bahwa persoalan yang mendasar adalah keturunan (anak laki-laki), warisan dan rencana Allah!

Dalam Kej. 24:4 Abraham berkata kepada orang kepercayaannya: “tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang istri bagi Ishak, anakku”! Ishak akhirnya mengawini Ribka, “yang lahir bagi Betuel, anak laki-laki Milka, istri Nahor, saudara Abraham,…” (Kej. 24:15). Yakub (Israel) sendiri kawin dengan anak puteri dari pamannya Laban, Lea dan Rahel! Cinta tidak tergantikan walau tertipu!

Dalam Kitab Ulangan terdapat nasihat berikut: “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama dan seorang dari pada mereka mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka janganlah istri orang yang mati itu itu kawin dengan orang di luar lingkungan keluarganya; saudara suaminya haruslah menghampiri dia dan mengambil dia menjadi istrinya dan dengan demikan melakkukan kewajiban perkawinan ipar” (Ul. 25:5). Yang bisa kita simpulkan adalah perkawinan itu mencakup lingkungan keluarga.

Dalam Perjanjian Baru tampaknya, nilai-nilai perkawinan yang lebih bersifat rohani dan universal sangat ditekankan. Perkawinan diberi perspektif kebangkitan.  “Yesus menjawab mereka: Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu orang tidak kawin dan tidak dikawinkan, melainkan orang hidup seperti malaikat di surga” (Mat. 29-30). Teks Mat. 22:23-33 sangat penting untuk direfleksikan, karena memang salah satu tujuan perkawinan adalah agar keturunan manusia (prokreasi) terus ada, tetapi sudah punya bayangan hidup “surga” yang tidak kawin dan tidak dikawinkan!

Satu teks yang secara implisit mengundang manusia untuk dalam hidupnya tetap mengarahkan pandangan ke “dunia seberang” walaupun sedang terlibat dalam perkawinan adalah Mat. 24:38-39 = “Sebab sebagaimana mereka pada jaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia” (bandingkan dengan Luk.17:26-27)! Perkawinan diberi dimensi “berjaga-jaga dan dimensi kedatangan Anak Manusia”!

Dimensi religius-etis-moral dalam perkawinan pun sangat ditekankan dalam Surat Ibrani: “Hendak kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah. Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman, Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:4-5, bdk I Ptr. 3:7; Ef. 5:22.33)! Bahkan dalam Surat Efesus dan Kolose, hubungan suami-istri melambangkan hubungan Kristus dengan Gereja! (Ef. 5:22-33 dan Kol. 1:18)

Demikian secara biblis terungkap bahwa nilai “KELUARGA” dan nilai “SURGAWI” perlu menjadi pedoman dan rambu-rambu bagi perkawinan kristiani! Dari kebenaran-kebenaran ini sebenarnya memunculkan banyak persoalan dan serentak jawaban!  Mari berjuang membangun hidup perkawinan dan keluarga yang makin sejahtera dan membahagiakan! ***

Happy St. Patrick Day!

Let's GO GREEN!
Tujuhbelas Maret 2012. Hari ini adalah hari pesta Santu Patricius, begitu tertulis dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Namun bukan peringatan wajib. Tapi karena dia adalah pelindung saya maka tentu sudah wajib hukumnya untuk saya melaksanakan misa votif.

Sementara itu dibelahan bumi lainnya di Amerika dan Eropa, inilah hari puncak Go green; St Patrick's Day. Banyak orang turun ke jalan berparade dengan pernak-pernik berwarna hijau, dari daun shamrock yang konon digunakan St Patrick untuk menjelaskan kepada orang Irlandia tentang Tritunggal Mahakudus.

Perayaan ini bermuasal dari kaum imigran Irlandia di Amerika. Perayaan St Patrick mulanya adalah perayaan untuk mengenang Irlandia tanah kelahiran mereka. Semua orang Amerika yang  merasa keturunan dari Irlandia berkumpul untuk merayakan pesta tersebut. Lama kelamaan pesta ini berkembang menjadi sebuah parade kota. Pada hari ini semua orang turun ke jalan untuk bergembira atas kehijauan...

St Patrick memang secara khusus tidak pernah dikanonisasi oleh seorang paus pun, akan tetapi devosi orang terutama bangsa Irlandia terhadapnya telah membesarkan Santo ini.

Pada hari ini saya  hendak mengucapkan Selamat hari Patricius untuk pembaca sekalian. Tak ada acara khusus di negeri kita, negeri nyiur melambai, akan tetapi baiklah pada hari ini kita meneladani semangat santu Patricius yang dengan gagahberani mewartakan iman kristiani kepada orang kafir. Mari kita berani untuk bersaksi tentang Kristus di tengah dunia yang semakin  jauh dari Tuhan ini.... Semoga.

Friday, March 16, 2012

Jangan Pernah Lupa: Betapa Berharganya Dirimu!



Kehadiranmu adalah  sebuah hadiah bagi dunia
Dirimu unik, satu dan tak tergantikan
Hidupmu bisa menjadi seperti yang kau inginkan
Jalanilah hari-harimu, di sini dan sekarang

Perhatikan kebaikan-kebaikan,  bukan kesulitan-kesulitan
Yang selalu kau temui dalam setiap situasi yang terjadi
Ada beragam tanggapan yang bisa muncul dari dirimu
Pahami semua, berani dan kuatkan dirimu!

Jangan kau batasi dirimu sendiri
Ada begitu banyak impian yang menanti untuk diwujudkan
Ambil keputusan dalam setiap kesempatan
Kejarlah cita-citamu sampai ke puncak tertinggi

Janganlah khawatir. Kekhawatiran hanya membuang energi
Semakin kau memikirkan  masalah semakin kau  akan terbebani
Jangan terlalu serius  menanggapi segala sesuatu
Hayati hidup yang bersahaja,  bukan yang penuh keluh dan penyesalan

Ingatlah bahwa cinta akan terus bertahan
Cinta yang besar akan bertahan selamanya
Bersahabat dengan orang lain adalah keputusan yang  bijak
Sesungguhnya harta kehidupan ini adalah kebersamaan


Insyaflah, tidak pernah terlalu terlambat memulai sesuatu
Jadilah orang luar biasa dalam hal-hal biasa
Miliki semangat juang, harapan dan kegembiraan
Ambil waktu untuk memulai sesuatu

JANGAN PERNAH LUPA BARANG SEJENAKPUN:
 BETAPA BERHARGANYA DIRIMU!

Terjemahan dari 24 Thing to Remember by Unknown

Cinta Tuhan dan Sesama (LastDay #NovenaStPatrick)

Cinta kepada Tuhan itu tak mungkin terjadi kalau kau tak mau mencintai sesama. 

Nah, tentang cinta mencintai, ini hal yang tidak asing bukan? Di dalam Kitab Suci kita tahu bahwa hukum yang terutama adalah hukum cintakasih. Cinta kepada Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal dan lain sebagainya.

gambar http://ariepinoci.blogdetik.com/
"Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" adalah salah satu perintah Yesus bagi pada pengikutNYa. Jikalau kita tidak mencintai orang lain dalam praktek hidup sehari-hari, kita berhenti mencintai diri sendiri, menjadi musuh diri sendiri, menjadi algojo untuk diri sendiri. Tentu saja, karena Allah menciptakan kita sedemikian hingga kebahagiaan kita tergantung dari sejauhmana kita membuat orang lain bahagia.

Jika alam bermaksud meniadakan manusia dalam perjuangan kehidupannya, pertama-tama dengan cara membangkitkan egoisme/pemujaan pada diri sendiri. Kau tahu, bukan, kalau dunia sekarang sedang menuju pemusnahan diri sendiri, ketika setiap orang cuma peduli dengan dirinya sendiri! Jikalau kita sedang berada dalam lembahsengsara-egoisme, ada baiknya kita kembali berbalik kepada Allah. "Kembalilah, Israel, kepada Allah Tuhanmu... (Hosea 14:2).

Akan tetapi sangat TIDAKMUNGKIN mencintai Tuhan kecuali kalau kita mau mencintai sesama. Jikalau kita benar-benar mencintai Tuhan, rasa ingat diri dan pemujaan diri sendiri akan segera musnah.

Hari ini adalah hari terakhir Novena St Patrick. Mudah-mudahan kita semua sanggup meneladani Santu Patricius dalam cintanya yang begitu berkobar kepada Tuhan, melalui cinta yang besar kepada orang-orang Irlandia dan ... kita semua.

Santu Patricius, doakanlah kami!

Thursday, March 15, 2012

Manusia Setengah Dewa (Movie Review _HariVIII #NovenaStPatrick)

Akhirnya saya berhasil mengunduh St. Patrick The Legend of Irish. Film dengan format DVD berdurasi 90 menit ini yang dirilis 12 Maret 2000 di Amerika, oleh Fox Family, menceritakan tentang kehidupan Santu Patricius sejak masa muda hingga menjadi misionaris di Irlandia. Lihat selengkapnya di http://www.imdb.com/title/tt0202595/

Patrick Bergin
Patrick  (diperankan Patrick Bergin) adalah seorang pemuda dari keluarga kaya. Suatu hari dia dan teman-temannya ikut menonton para kafir yang sedang merayakan pesta. Pada saat itu datang segerombolan penjahat yang langsung menculik mereka, dan membawa mereka, ia dan teman-temannya ke Irlandia dan dijadikan budak.

Di Irlandia Patrick bertugas menggembalakan kawanan domba. Berkenalan dengan puteri majikannya yang baik hati. Pada saat itulah ia mendengar suara yang memanggilnya untuk nanti kembali ke Irlandia, untuk mentobatkan orang-orang kafir. Suara itu pun (ajaib) menolong dia melarikan diri dari perbudakan dengan menyiapkan perahu.

Setiba kembali di rumah orang tuanya, diadakan pesta sebab anak yang hilang kini kembali. Ketika asyik berpesta, malam itu datang lagi suara ajaib, meminta dia untuk segera masuk menjadi imam untuk ditahbiskan menjadi uskup dan kembali ke Irlandia.

Ayah dan ibu Patrick mula-mula tak sependapat dengan kehendak Patrick untuk menjadi imam. Siapakah yang nantinya mengurus harta kekayaan keluarga sedang, kedua orang tua sudah makin uzur? Sementara si ibu tidak ingin kehilangan putera kekasihnya yang kedua kaliya. "Untuk apa menarik diri dari dunia dan menjadi imam. Nikmati sajalah apa yang disediakan oleh kehidupan ini", kata ayahnya menasehati. Syukurlah, di saat-saat menjelang keberangkatan Patrick, sang ayah isyaf dan memberi restu.

Patrick cepat belajar dan ditahbiskan menjadi imam. kemudian Uskup. Ia lantas ditugaskan ke Irlandia sesuai dengan permintaannya sendiri. Kedatangannya kembali, bagi bangsa-bangsa kafir Irlandia seakan adalah pemenuhan nubuat nabi mereka: seorang budak akan kembali dan memerintah atas kamu. Setiap hari Patrick berjuang untuk mentobatkan orang Irlandia dari kekafiran mereka. Tentu saja banyak tantangan yang dihadapi, namun Tuhan tetap menyertai Patrick hingga akhirnya banyak orang berbondong-bondong datang kepadanya minta dibabtis menjadi katolik.

Film yang dirilis untuk Televisi tahun 2000 ini biasa-biasa saja. Untunglah kisahnya tentang santu Pelindung saya, kalau tidak mungkin tak kan pernah kutonton. Ceritanya disampaikan pula melalui narasi Buku Confessio, flashback atawa sorot balik. Di samping casting yang lumayan bagus, jalan ceritanya terkesan dipaksakan agar sesuai dengan isi buku Confessio, tulisan Patrick sendiri. Padahal, Confessio itu, sama Seperti Confessiones St Agustinus, lebih bersifat teologis daripada otobiografis. Maka upaya penulis naskah untuk menggambarkan banyak mujizat dalam legenda itu terkesan dibuat-buat bahkan dipaksakan. Aku merasa seperti sedang menonoton sinetron Indonesia dengan visual efek amatiran.  Selain masalah tekhnis, masalah lain yang timbul dari film ini adalah bahwa terkesan penulis script terlalu mengagungkan Patrick, (mungkin untuk semua orang Irlandia) hingga ia tampil dalam film ini bahkan melebih Tuhan: menotok lawan hingga membeku (saya ingat cersil Wiro Sableng), memadamkan api, mengusir ular keluar dari tanah untuk menghilang ke laut, kebal terhadap pedang, bisa mengubah teman-temannya menjadi kancil, ckckckc, bahkan Tuhan Yesus pun tak pernah melakukan mujizat  aneh-aneh seperti itu.

Soundtracknya lumayan. Musik Celtic dan lagu-lagu gregorian menggabungkan antara Irlandia yang "kafir" dengan Katolik Roma. Gambar-gambar dalam film ini juga bagus. Saya senang menonton film dengan latar pegunungan dan padang menhijau. Tapi secara keseluruhan tidaklah mengherankan kalau Internet Movie Data Base (salah satu patokan saya dalam memilih film yang akan ditonton) hanya memberi rating 4.9/10 *hiks*
Akan tetapi bagaimanapun juga St Patrick untuk orang Irlandia adalah legenda, adalah "manusia setengah dewa."

Terlepas dari kekurangan dalam seni bercerita, dengan menonton film ini aku menjadi dekat dengan Santu Pelindung saya Patricius yang ternyata seorang pemberani (kalau saya sih, pemberani ngga ya? "I came in the strength of God... I had no fear!
Saya juga perlu lebih menata sikap sesuai teladan santu pelindung saya ini. Semoga. Santu Patricius, Doakanlah saya!


*dalam tulisan ini, dan tulisan-tulisan sebelumnya, Patrick bersilihganti dengan Patricius, dua nama ini adalah pribadi yang sama... oleh perbedaan bahasa. 



Peranan Kitab Suci dalam Komunitas Basis Gerejawi

Dalam banyak kutipan syair lagu antar-bacaan baik di dalam misa harian maupun dalam misa agung selalu dibacakan atau dinyanyikan kata-kata yang pada dasarnya berhakekat kebenaran ini, “Sabda Tuhan pedoman hidupku; Sabda Tuhan terang jalanku; aku dibimbingnya, aku dihantarnya, kepada Allah Tuhanku”! SABDA TUHAN PEDOMAN HIDUP; SABDA TUHAN TERANG BAGI JALAN; SABDA TUHAN MEMBIMBING DAN MENGHANTAR KEPADA ALLAH TUHAN !!

Kapel Stasi St Yohanes Maria Vianney, Naibonat
Saudara-saudariku, tidak usah ditanyakan lagi, apakah Kitab Suci (Sabda Tuhan) berperan di dalam hidup kita, entah dalam hidup pribadi, keluarga maupun dalam komunitas basis gerejawi. Jelas sangat berperanan dan peranannya “mutlak”, tidak tergantikan!

“Pada awal mula Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Maka berfirmanlah Allah: Jadilah terang! Lalu terang itu jadi!” (Kej 1:1-3). Kemudian “berfirmanlah Allah: Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi! Dan jadilah demikian!” (Kej 1:11). Lalu “berfirmanlah Allah: Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar! Dan jadilah demikian!” (Kej 1:24). “Terakhir” “berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang meraya di bumi!” (Kej 1:26). “Dan jadilah demikian: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan mereka!” (Kej 1:27). “Dan jadilah demikian!” Tanpa firman Tuhan, tidak terjadi apa-apa dan tidak ada apa-apa! Bumi, tumbuhan, binatang dan manusia “diciptakan Tuhan dengan FirmanNya” : “Berfirmanlah Allah, … maka jadilah demikian!”. SABDA TUHAN MENCIPTAKAN; SABDA TUHAN MEMBERI HIDUP!

Dalam perjalanan sejarah keselamatan, ketika Musa melihat semak berduri menyala, tetapi tidak dimakan api, dan karena itu ia hendak mendekat untuk memeriksanya, “berfirmanlah Allah: Janganlah datang dekat-dekat; tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus!” (Kel 3:5). … “Dan Tuhan berfirman: Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umatKu di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka. Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dati tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah susu dan madunya, ….. Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umatKu, orang Israel, keluar dari Mesir” (Kel 3: 7-8.10). Lalu ketika Musa bertanya tentang “bagaimana tentang namaNya (Allah)”, “firman Allah kepada Musa: AKU ADALAH AKU. Lagi firmanNya: Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu!” (Kel 3: 13-14). Pada saat-saat yang menentukan nasib, mati-hidupnya bangsa Israel, “Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda!” (Kel 14:26). Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir berlari menuju air itu; demikianlah Tuhan mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. Tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut, sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka. Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir…..(Kel 14:27-30). SABDA TUHAN MEMBEBASKAN; SABDA TUHAN MEMERDEKAKAN; SABDA TUHAN MENYELAMATKAN !

Pengkajian kebenaran bahwa sejak awal mula, sejak Perjanjian Lama, KITAB SUCI, SABDA TUHAN, yaitu “TUHAN SENDIRI” telah menciptakan dan memberi hidup kepada manusia dan dunia, lalu kemudian IA turun tangan untuk membebaskan dan menyelamatkan bangsa Israel, umatNya, bukankah cukup menunjukkan kepada kita bahwa SABDA TUHAN, yaitu “TUHAN SENDIRI” terus mencipta, memberi hidup, membebaskan dan menyelamatkan kita manusia beriman, komunitas basis Gerejawi? Apakah di dalam dunia sekarang yang cendrung penuh kebencian, irihati, saling bercabikan dan bermusuhan, saling bertikai dan cendrung memisahkan diri (eksklusif-disintegrasi) tidak bermaknakah Sabda Tuhan dalam mazmur 133 ini: “Sungguh, alangkah baik dan indahnya, apabila saudara –saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya” (Mz 133:1-3).

Bukankah di saat manusia, kelompok manusia, umat basis berpikir dan bertindak bahwa hanya dengan upacara-upacara dan doa-doa seremoni yang kelihatan bagus sambil terus melakukan dusta, penipuan, korupsi, pembunuhan dan kejahatan tanpa mempedulikan cintakasih bisa memperoleh keselamatan; KITAB SUCI, SABDA TUHAN, yaitu “TUHAN SENDIRI” sebaliknya justru menandaskan kebenaran keselamatan yang sesungguhnya secara lain: “Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempatNya yang kudus? : Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu. Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia” (Mz 24 :4-6).

Di saat manusia, suku, bangsa, kelompok elit, komunitas basis yang juga gerejawi menilai dan mempertimbangkan segala sesuatu selalu dari segi kuasa, uang, kekayaan, pengaruh, harga diri, status sosial, pangkat, kedudukan, prestise dan hormat; KITAB SUCI, SABDA TUHAN, yaitu TUHAN SENDIRI menyatakan hal lain: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Mt 8:20/Lk 9:58). Di tempat lain dikatakan, “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mt 9:13; 12:7; 9:36; 20:34). Bahkan lebih drastis dan radikal lagi, “Tetapi Yesus berkata kepadanya: Biarlah orang menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Lk 9:60), dan selanjutnya, “Tetapi Yesus berkata: Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerjaan Allah” (Lk 9:62).

Contoh-contoh di atas menunjukkan dengan jelas bahwa KITAB SUCI, SABDA TUHAN, yaitu TUHAN SENDIRI mengajarkan kepada kita “melalui” SABDANYA kebenaran-kebenaran yang sejati untuk suatu hidup pribadi, komunitas, hidup bermasyarakat dan hidup menggereja yang benar dan abadi. SABDA TUHAN mengajar dan mendidik kita bahwa hidup komunitas yang sejati adalah hidup bersaudara secara jujur, mencintai secara iklas, memberi diri secara benar dan menggantungkan seluruh hidup kepada kebaikan Tuhan serta mempersembahkan diri kepada kehendak dan KerajaanNya. SELURUH KITAB SUCI, SABDA TUHAN DAN TUHAN SENDIRI SESUNGGUHNYA MEWAHYUKAN KEBENARAN HIDUP YANG KEKAL, yaitu “JALAN SALIB DAN KEBANGKITAN”!

Wednesday, March 14, 2012

Hari Ketujuh #NovenaStPatrick_Patronage

Kesibukan menjelang pesta Santu Patricius hari iini adalah mengunduh dua buku karya st Patrick: Confessio di sini http://saints.sqpn.com/the-confession-of-saint-patrick/ dan Letter to Coroticus  di sini http://saints.sqpn.com/saint-patricks-epistle-to-the-christian-subjects-of-the-tyrant-coroticus/. Sementara itu unduhan filmnya sudah mencapai 88%.

The Confessions of St Patrick adalah kisah singkat kehidupan StPatrick, diceritakan melalui sudutpandang dirinya sendiri. Karya ini menyajikan suatu pandangan menarik dan menjadi salah satu hal yang paling terkenal dalam sejarah orang-orang kudus. The Confessions of St Patrick mirip dengan Pengakuan St Agustinus - keduanya pada hakekatnya lebih teologis ketimbang otobiografis. Para ahli telah berspekulasi bahwa St Patrick menulis karya ini dalam rangka membela nama baiknya, setelah dia diserang oleh para penguasa. Bagaimanapun juga, ia menyajikan sebuah komposisi tentang cara Allah bekerja, dan mendorong orang beriman dalam penghayatan keberanian dan kesucian.

St Patrick dikenal sebagai pelindung hal-hal berikut:
melawan rasa takut terhadap ular
melawan ophidiophobia/fobia ular
terhadap gigitan ular
melawan ular
insinyur
terasing dari orang-orang
ophidiophobics/fobia ular


Prayer for the Faithful by Saint Patrick

May the Strength of God guide us.
May the Power of God preserve us.
May the Wisdom of God instruct us.
May the Hand of God protect us.
May the Way of God direct us.
May the Shield of God defend us.
May the Angels of God guard us.
- Against the snares of the evil one.

May Christ be with us!
May Christ be before us!
May Christ be in us,
Christ be over all!

May Thy Grace, Lord,
Always be ours,
This day, O Lord, and forevermore. Amen.