• Veritas vos liberabit!

    SPIRITUALITAS KATEKESE




    Materi Sidang Pastoral NUSRA Juli ‘12

    Spiritulitas Katekese bertujuan melihat dan mengerti menyadari dan menghayati jiwa, semangat atau roh berkatekese. Secara umum isi dari katekese adalah “menampilkan dalam Pribadi Kristus seluruh rencana kekal Allah yang mencapai kepenuhannya dalam Pribadi (Kristus) itu. Katekese bermaksud mendalami arti kegiatan dan kata-kata Kristus, begitu pula tanda-tanda yang dikerjakan-Nya, sebab semuanya itu sekaligus menyelubungi dan mewahyukan misteri-Nya.” 1
    Dalam arti ini, spiritualitas pertama katekese bersifat kristosentris atau berpusat pada Kristus. Tidak ada katekese yang benar yang tidak berasal dari Kristus dan kembali kepada Kristus. Apapun yang diajarkan dalam katekese harus selalu bermuara pada Kristus. Boleh ada banyak refleksi, banyak ceritera dalam katekese, tetapi katekese itu tidak memiliki nilai atau makna kateketis bila terlepas dari acuan atau referensi pada Pribadi Kristus.
    Referensi atau acuan pada Pribadi Kristus menuntut relasi atau kontak personal dengan Kristus. Supaya katekese efektif dan berhasil, harus ada hubungan pribadi atau kontak personal dengan Pribadi Kristus. Itu berarti siapa saja yang menamakan dirinya katekis harus memiliki waktu spesial dan menyiapkan tempat yang khusus untuk memasuki persekutuan hidup yang mesra dengan Kristus dan mengalami kedekatan yang amat pribadi dengan-Nya. Bagi seorang katekis tidak bisa ada alasan apa saja untuk tidak membangun dan memelihara relasi dan komunikasi pribadi dengan Kristus, karena yang ia ajarkan dan wartakan dalam katekese bukan “ajarannya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, Kebenaran yang diajarkan-Nya, atau lebih cermat lagi: Kebenaran yang tak lain ialah Dia sendiri”2 Untuk maksud dan tujuan inilah, “betapa tekun seorang katekis harus mendalami Sabda Allah yang disalurkan oleh Magisterium Gereja, betapa ia harus akrab-mesra dengan Kristus dan dengan Bapa, betapa ia harus mempunyai semangat doa, dan mengingkari diri, untuk dapat menyatakan: ‘Ajaranku bukan ajaran ku’.”3
    Katekese yang mengajarkan dan mewartakan Pribadi Kristus “menggali isinya dari sumber hidup, yakni Sabda Allah yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Sebab Tradisi suci dan Kitab Suci merupakan hanya satu khazanah kudus sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja.”4 Karena itu spiritualitas kedua katekese bersifat biblicalsentris atau berpusat pada Kitab Suci. Isi katekese tidak dapat lain selain isi pewartaan Injil secara menyeluruh yang memuat satu-satunya Amanat, yakni “Warta Gembira Keselamatan”5 yang ditulis dalam Kitab Suci. Dengan ini katekese mesti menggembirakan. Janganlah katekese membuat orang atau umat selaku pendengar loyo, capeh atau payah, letih lesu, jenuh dan bosan. Untuk itu seorang katekis harus lebih dahulu gembira dan menggembirakan, dia harus hidup dan menghidupkan, gesit dan menggesitkan.
    Sifat biblicalsentris dari katekese yang gembira dan menggembirakan meminta perhatian serius dari setiap katekis terhadap “kenyataan bahwa katekese harus diwarnai dan diresapi oleh gagasan, semangat dan visi Kitab Suci serta Injil melalui kontak terus-menerus dengan teksnya sendiri; tetapi juga mengingatkan bahwa katekese akan menjadi semakin kaya dan lebih efektif untuk membaca teks-teks dengan pengertian serta hati Gereja, dan untuk menggali inspirasi dari refleksi serta kehidupan Gereja selama dua ribu tahun.”6 Secara spiritual ada dua pikiran sentral yang ditekankan di sini.
    Pikiran pertama, seorang katekis mesti memiliki wawasan dan gagasan, semangat dan visi Kitab Suci serta Injil yang utuh dan luas. Untuk itu dia mesti melakukan kontak terus-menerus dengan Kitab Suci melalui kebiasaan membaca dan merenung teks Kitab suci untuk bisa memahami dan menghayati isi dan maknanya bagi kehidupan. Tentu pendekatan bukan terutama bersifat ilmiah, akademis-sistematis, tetapi terlebih bersifat spiritual seperti ditegaskan oleh Beato Yohanes Paulus II. Sama seperti imam, katekis “sendiri terutama wajib mengembangkan keakraban yang sangat pribadi dengan Sabda Allah. Tentu saja dibutuhkan pengetahuan segi-segi bahasa atau tafsirnya, tetapi itu belum mencukupi. (Katekis) hendaklah mendekati Sabda Allah dengan hati yang terbuka dan dalam sikap doa, sehingga sabda itu secara mendalam meresapi pikiran maupun perasaannya, dan menciptakan wawasan baru padanya, ‘pikiran Kristus’ (1Kor 2:16). Dengan demikian kata-kata, pilihan-pilihan dan sikap-sikapnya akan makin menjadi refleksi, pewartaan dan kesaksian tentang Injil.”7
    Pikiran kedua, membaca dan merenungkan teks-teks Kitab Suci ‘dengan pengertian dan hati gereja.’ Dalam kesatuan dengan tradisi suci, “Kitab Suci merupakan satu perbendaharaan keramat sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja” (DV 10). Maka “tugas untuk menjelaskan Sabda Allah secara mengikat, hanya diserahkan kepada Wewenang Mengajar Gereja, kepada Paus dan kepada para Uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban” (KGK 100). Dalam melaksanakan tugas ini, Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipeliharanya dengan suci dan diterangkannya dengan setia” (DV 10). Karena itu, hendaklah seorang katekis tidak boleh melupakan ajaran-ajaran Gereja yang terbit dan beredar dalam dokumen-dokomen Gereja, ensiklik-ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus-Paus. Jangan sampai yang ada di rumah setiap katekis hanya koran-koran atau hanya novel-novel atau film-film saja.
    Sifat keempat spiritualitas katekese saya sebut culturalsentris. Katekese sebagai salah satu jalan pewartaan iman katolik tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Magisterium Gereja menegaskan: “Katekese, begitu pula pewartaan Injil pada umumnya, dipanggil untuk mengantar kekuatan Injil merasuki inti kebudayaan serta kebudayaan-kebudayaan. Untuk maksud itu katekese akan mencoba memahami kebudayaan-kebudayaan itu beserta komponen-komponennya yang pokok. Katekese akan mempelajari ungkapan-ungkapannya yang paling relevan. Katekese akan menghormati nilai-nilai serta kekayaan khas kebudayaan-kebudayaan.”8 Dari penegasan ini ada satu pikiran berkaitan dengan sifat culturalsentris dari katekse.
    Pertama, kebudayaan dapat merupakan ‘jalan menurun’ dari misteri iman menuju manusia. Untuk setiap agen pastoral seperti katekis, “kebudayaan bagi Gereja merupakan jalan pewartaan kepada manusia dan jalan evangelisasi iman kepada dunia. Melalui kebudayaan, pewartaan Injil dan evangelisasi iman Kristen dapat diteruskan dan dilanjutkan kepada bangsa-bangsa serta dapat menyapa dan menyentuh manusia dari kebudayaan dan tradisi, adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda-beda.”9
    Tanpa kebudayaan, iman tetap menjadi misteri dan asing bagi manusia. Akan tetapi melalui kebudayaan iman itu tidak lagi misterius atau asing, melainkan menjadi jelas dan terbuka untuk diketahui dan dipelajari oleh manusia. Alasan utamanya adalah karena “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penampakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman” (GS 58). Secara sederhana, kebudayaan menjadi bahasa Allah untuk berbicara dan menyapa manusia pada pelbagai zaman dan generasi. Seperti Allah, begitu juga setiap katekis dalam perjalanan Gereja sepanjang zaman mesti dan harus “memanfaatkan sumber-sumber aneka kebudayaan untuk melalui pewartaannya menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan Kristus kepada semua bangsa, untuk menggali dan makin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang beranekaragam” (GS 58).
    Kedua, selain merupakan ‘jalan menurun’, kebudayaan juga dapat menjadi ‘jalan naik’ menuju Allah. Manusia seperti kita tidak mungkin dapat mengungkapkan diri dan berkomunikasi dengan Allah kalau bukan melalui kebudayaan. Dalam kebudayaan ada bahasa, ada banyak simbol. Melalui bahasa dan simbol dari aneka kebudayaanlah kita dapat membangun relasi, dialog dan komunikasi dengan Allah baik dalam doa-doa devosional maupun dalam ibadat-ibadat resmi liturgi Gereja. Sudah barang tentu kebudayaan tidak dapat diadopsi secara lurus-lurus seperti apa adanya untuk berkomunikasi dengan Allah atau juga untuk mengkomunikasikan Allah kepada manusia. Umat beriman, khususnya para katekis harus memiliki sikap “kritis dan selektif. Sikap ini diperlukan karena tidak setiap manifestasi kebudayaan pasti nilainya positif, baik dan berguna”10 bagi pemahaman dan penghayatan iman pribadi dan terlebih bagi kesatuan Gereja.
    Masih amat dekat dengan sifat culturalsentris, sifat keempat spiritualitas katekese boleh saya sebut sifat aktualsentris. Sifat aktualsentris ini meminta dan bahkan menuntut agar para katekis mengajarkan iman Katolik menurut “prinsip aggiornamento11 atau prinsip aktualitas atau relevansi hari ini. Ajaran iman Katolik tidak boleh disajikan secara abstrak-spekulatif seakan-akan iman Katolik itu turun dari langit yang tinggi dan jauh serta tidak masuk akal manusia dan tidak menyentuh kondisi hidup sehari-hari. Untuk itu setiap katekis mesti bisa mengikuti perkembangan situasi dan mengetahui informasi tentang berbagai kejadian aktual setiap hari. Dengan cara demikian, ajaran iman Katolik dapat mendarat pada pengalaman manusia yang nyata dan memberi makna yang benar pada kejadian aktual sehari-hari.

    Ruteng, Paro Juli 2012

    Mgr. Hubertus Leteng
    Uskup Ruteng.

    1 Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik “Catechesi Tradendae”, 5 (SDG No 28), Dokpen KWI, Jakarta, 1992.

    2 Ibid., no 6.

    3 Ibid., no 6.

    4 Ibid., no 27.

    5 Ibid., no 26.

    6 Ibid., no 27.

    7 Beato Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik “Pastores Dabo Vobis” , 26 (SDG No 25), Dokpen KWI, Jakarta, 1992.

    8 Catechesi Tradendae 53.

    9 Hubertus Leteng, Spiritualitas Imam Praja Berakar pada Gereja Lokal, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2010, p. 166.

    10 Hubertus Leteng, Op.cit., p. 173.

    11 ID., Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Penerbit Ledalero, Maumere, 2003, p. 18.


    Comments
    0 Comments

    0 comments:

    Post a Comment

    Tinggalkan jejakmu di sini...

     

    About Me

    My Photo

    Catholic Priest|Amateur Historian|Classical-music Lover|St Michael Major Seminary| @Kupangensis Archdiocese of Kupang - Timor|

    Kalender Liturgi

    My Community