Saturday, August 4, 2012

KATEKESE DALAM PELAYANAN PASTORAL GEREJA


PERNYATAAN BERSAMA 
PERTEMUAN PASTORAL IX REGIO NUSA TENGGARA
“KATEKESE DALAM PELAYANAN PASTORAL GEREJA”

Kupang, 16-21 Juli 2012

PENDAHULUAN

1. PERPAS IX REGIO NUSRA (Pertemuan Pastoral ke IX Regio Nusa Tenggara) yang berlangsung selama lima hari, dari tanggal 16 sampai 21 Juli 2012 di Kupang adalah Pertemuan para Uskup se-Nusa Tenggara periode tiga tahunan yang dihadiri oleh para utusan dari delapan Keuskupan dan Lembaga Pendidikan Pastoral sebanyak 115 peserta. Pertemuan yang diadakan di Hotel T-Moore, Kupang ini telah berlangsung dalam suasana persaudaraan kristiani yang diisi dengan acara-acara berupa masukan-masukan dari delapan Uskup dan dua pejabat Pemerintah, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Drs. Frans Leburaya dan Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia, Semara Duran Antonius, S.Sos.

2. Acara-acara persidangan bermuara dalam Perayaan Ekaristi di Paroki-paroki se-Kota Kupang bersama dengan Umat Parokinya masing-masing: Paroki Katedral Kristus Raja Kupang, Paroki Stu. Matias Rasul Tofa, Paroki Stu. Yosef Naikoten, Paroki Sta. Familia Sikumana dan Paroki Sta. Maria Assumpta. Dalam perayaan-perayaan Ekaristi ini Umat merasa turut dilibatkan dalam suasana Pertemuan Pastoral yang merupakan peristiwa iman.

3. Tujuan PERPAS IX REGIO NUSRA ialah penyadaran diri Gereja Nusa Tenggara untuk membangun persaudaraan pastoral bersama dari semua pihak: para Uskup, Imam, Biarawan/ti, para Katekis dan Kaum Awam seluruhnya, sebagai pelaku Katekese. Selama PERPAS IX REGIO NUSRA berlangsung para peserta mendapat gambaran yang konkrit tentang pengalaman berkatekese di masing-masing Keuskupan. Dalam suasana penuh persaudaraan para peserta saling mendengarkan. Pengalaman konkrit yang berbeda di Keuskupan yang satu memperkaya Keuskupan lainnya.

TEMA PERPAS IX REGIO NUSRA

4. Tema PERPAS IX REGIO NUSRA adalah KATEKESE DALAM PELAYANAN PASTORAL GEREJA. Tema ini merupakan respons dan tindak lanjut dari para Uskup se-Nusra atas pesan pastoral sidang KWI 2011 tentang “Katekese”, yang di dalamnya ada hal-hal yang menggembirakan tentang karya katekese di Indonesia, tetapi terdapat juga banyak hal yang memprihatinkan. Hal-hal mendesak yang mendorong Gereja Regio Nusra memfokuskan pembicaraan pada bidang Katekese adalah: kurangnya perhatian pastoral terhadap pelayanan katekese, petugas katekese yang kurang memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk berkatekese, kurangnya minat umat terhadap kegiatan katekese, dan kurangnya pengetahuan dan penghayatan iman hampir di berbagai bidang kehidupan yang menjadi medan pelayanan pastoral Gereja. Jadi, tema ini dilihat sebagai tema yang amat aktual dan mendesak untuk dibicarakan dalam upaya menata, membaharui dan meningkatkan karya katekese dalam karya pelayanan pastoral Gereja. Dari input para Bapa Uskup, ditambah dengan input dari dua pejabat Pemerintah, peserta secara cepat dan mudah menemukan dan menyadari kembali pentingnya karya katekese bagi hidup Gereja. Pada hakekatnya KATEKESE tidak lain adalah: pengajaran, pendalaman dan pendidikan iman agar orang Kristen mampu menginternalisirnya, sehingga semakin dewasa dalam iman.

5. Dasar katekese adalah “penugasan Kristus kepada para rasul dan pengganti-pengganti mereka”. Dalam Mat 28:18-20, Yesus mengutus para rasul untuk “pergi”, “menjadikan semua bangsa murid-Ku”, “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”, dan “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.
Dalam tafsir Injil Matius dijelaskan bahwa tugas para rasul mencakup pewartaan awal kepada orang yang belum mengenal Tuhan, pengajaran kepada para katekumen, dan pengajaran kepada orang yang telah menjadi anggota Gereja agar iman mereka lebih mendalam.

6. Kegiatan katekese bertujuan demi ‘cura hominum’ (pemeliharaan manusia seutuhnya, jasmani-rohani) bukan hanya ‘cura animarum’ (pemeliharaan jiwa-jiwa). Dalam konteks ini katekese merupakan upaya dan kegiatan Gereja untuk menolong umat agar semakin memahami, menghayati dan mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. Di dalamnya terungkap: dialog atau komunikasi iman yang terjadi antara umat beriman demi mencapai tujuan persatuan hidup dengan Yesus bersama Bapa dalam Roh Kudus. Tercakup unsur-unsur pokok dalam tindakan itu: pewartaan, pengajaran, pendidikan, pendalaman, pembinaan, pengukuhan serta pendewasaan iman. Katekese ialah pembinaan anak-anak, kaum muda dan orang-orang dewasa dalam iman, yang khususnya mencakup penyampaian ajaran Kristen, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar memasuki kepenuhan hidup Kristen (Cathechesi Tradendae 18). Mencapai kepenuhan hidup tidak lain adalah mencapai atau mengalami kesatuan dengan Yesus Kristus, semakin mengenal dan hidup dalam Kristus. Isi katekese adalah wahyu Allah, misteri Allah dan karya-karya-Nya yang menyelamatkan, yang terjadi dalam sejarah umat manusia.

7. Subyek Katekese adalah Gereja, yaitu umat beriman itu sendiri. Iman yang diajarkan oleh Gereja dihidupi oleh Gereja itu sendiri. Umat mendalami pemahaman tentang Allah dan rencana penyelamatan-Nya, Pandangan tentang manusia sebagai ciptaan yang paling mulia, Warta Kerajaan Allah dan Harapan serta Kasih. Katekese adalah karya Gereja yang mendasar. Gereja dipanggil untuk melanjutkan tugas Yesus, Sang Guru, dan diutus menjadi pengajar iman, dengan dijiwai oleh Roh Kudus.

8. Tujuan katekese adalah bukan hanya membuat orang saling berkontak, melainkan juga berada dalam kesatuan dan kemesraan dengan Yesus Kristus. Segala kegiatan mewartakan Kabar Gembira dimengerti sebagai usaha mempererat kesatuan dengan Yesus Kristus. Mulai dengan pertobatan ‘awal’ seseorang kepada Tuhan yang digerakkan oleh Roh Kudus melalui pewartaan Injil yang pertama, katekese berusaha mengukuhkan dan mematangkan kesetiaan pertama ini.

9. Bentuk katekese dapat dibedakan atas tiga macam. Ditinjau dari segi penyajiannya, katekese dapat dibedakan dalam 3 bentuk. Bentuk Praktis yaitu Bentuk yang mengarahkan peserta katekese untuk bergiat dan rajin dalam mempraktekkan kehidupan agamanya: rajin beribadah, rajin berdoa dan berdevosi, bergairah menghadiri perayaan Ekaristi dan perayaan lain, mengenal baik masa-masa liturgis, segala sarana dan peralatannya. Sumber utamanya adalah liturgi Gereja. Bentuk Historis adalah kegiatan memperdalam pengenalan umat akan sejarah penyelamatan dari pihak Allah, yang diawali dengan janji-janji Mesianis dalam Perjanjian Lama dan memuncak dalam pribadi Kristus dalam Perjanjian Baru. Sumber utamanya adalah Kitab Suci. Bentuk Sistematis adalah bentuk yang menyajikan kepada umat ajaran teologis dan dogmatis yang tersusun secara sistematis, singkat, dan padat. Sumbernya adalah buku Katekismus. Pada prakteknya bentuk-bentuk tersebut berbaur. Tidak murni hanya satu bentuk yang dilaksanakan. Sebab nampaknya untur-unsur yang ditekankan oleh masing-masing bentuk saling berkaitan. Ajaran biblis, historis, teologis, dogmatis dimaksudkan untuk membantu umat semakin menyadari penyelamatan Allah melalui Gereja-Nya. Dengan kesadaran itu umat diharapkan akan terdorong untuk semakin giat dalam praktek-praktek keagamaan.

10. Tanggungjawab utama dari karya katekese adalah Uskup selaku Pimpinan Gereja Lokal. Dasarnya adalah dasar dari katekese itu sendiri yakni penugasan Kristus kepada para Rasul dan kepada pengganti-pengganti mereka. Uskup tentu tidak bekerja sendiri. Uskup dibantu oleh para imamnya bersama KOMKAT menjadi orang terdepan mengupayakan berjalannnya karya katekese. Dalam PERPAS ini sudah sangat tampak tanggung jawab utama ini: input sangat bernas dan berharga telah diberikan disajikan kepada kita oleh Bapak-bapak Uskup berkaitan dengan tema Katekese ini. Uskup juga memberikan kepercayaan kepada lembaga-lembaga pendidikan tinggi Kateketik untuk mempersiapkan kader-kader handal yang memiliki spesialisasi di bidang katekese.

11. Minat berkatekese akan tinggi bila kegiatan katekese itu disiapkan dengan baik, sistematis, terencana dan disajikan melalui metode yang pas dan menyapa, serta dipandu oleh para fasilitator yang baik. Selain itu tema katekese yang aktual dan menyapa kebutuhan lahir batin manusia menjadi pertimbangan amat penting. Bagaimana bisa menemukan metode yang pas, bervariasi, dan menarik serta para fasilitator yang sungguh siap merupakan tugas yang dibicarakan sebagai upaya yang akan dilaksanakan di masing-masing Keuskupan.


INPUT: KATEKESE DAN BERBAGAI BIDANG PELAYANAN PASTORAL GEREJA

12. Kitab Suci dan Katekese sangat erat berkaitan karena Kitab Suci membutuhkan katekese dan isi katekese bersumber terutama dari Kitab Suci. Uskup Denpasar, Mgr. Silvester San menekankan katekese sebagai pemberitaan Sabda Allah yang terbaca dalam Kitab Suci. Perkembangan Gereja sangat tergantung pada usaha-usaha katekese yang menyebarkan Sabda Penyelamatan Allah kepada manusia. Dalam konteks ini, dikutip pendapat Kardinal Carlo Maria Martini bahwa keempat Injil adalah katekese yang berkelanjutan dalam Gereja Purba: Injil Markus adalah buku katekese untuk para katekumen, orang yang dipersiapkan untuk dibaptis; Injil Matius adalah buku katekese untuk orang yang telah dibaptis dan secara khusus untuk para katekis; Injil Lukas adalah buku katekese untuk orang yang telah dibaptis dan secara khusus bagi para teolog; Injil Yohanes adalah buku katekese untuk orang yang telah dewasa dalam iman dan khususnya bagi para imam. Isi Kitab Suci dapat disampaikan kepada Umat Allah melalui berbagai metode dan pendekatan katekese.

13. Evangelisasi dan Katekese merupakan kegiatan iman untuk menyiapkan orang, agar hidupnya dapat menjadi evangelisasi. Hal ini ditandaskan oleh Uskup Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR. Selanjutnya dikemukakan bahwa evangelisasi adalah pewartaan Kerajaan Allah melalui katekese untuk membangun kesadaran umat agar umat memiliki sikap hidup dan tingkah-laku sebagai orang beriman kristiani. Untuk itu dalam segala fase hidup iman perlu ada katekese, mulai dari rumah tanga, sekolah dan masa karya. Katekese menyadarkan umat agar pengetahuan iman tidak hanya menjadi milik kaum elit teologi, tetapi menjadi milik seluruh umat.

14. Liturgi sebagai Perayaan Sakramen-sakramen Gereja selalu membutuhkan Katekese.

Hal ini ditandaskan oleh Mgr. Dominikus Saku, Uskup Atambua. Katekese selalu dipandang sebagai persiapan bagi perayaan Sakramen-sakramen Gereja dan penghayatannya secara praktis dalam hidup umat sehari-hari. Pembaharuan Liturgi selalu disertai dengan pembaharuan Katekese. Konsili Vatikan II dalam dokumen Sacrosanctum Concilium (SC) menekankan bahwa katekese sangat penting dalam tugas pastoral Gereja dan merupakan konsekuensi dari tuntutan pembaharuan liturgi. Katekese merupakan pendewasaan iman dan inisiasi kehidupan menggereja, memiliki tugas mistagogis untuk pendidikan liturgi, agar perayaan ritus-ritus kristiani merupakan ekspresi dari perjalanan iman yang menjamin kebenaran dan autentisitas. Dalam perayaan Sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi, katekese harus menyadarkan umat untuk berpartisipasi aktif, sadar dan autentik dalam perayaan Liturgi Gereja (SC 14).

15. Kaum Muda perlu diberi pendampingan terus-menerus dalam Katekese. Mgr. Vinsensius Sensi Potokota, Uskup Agung Ende menekankan bahwa dalam katekese semua orang kristiani termasuk kaum muda dituntun ke dalam persatuan dengan Yesus Kristus sekaligus menyatukan dengan Bapa yang mengutus dan Roh Kudus yang mendorong perutusannya yang diwujud-nyatakan dalam Gereja. Melalui katekese kaum muda dituntun untuk memiliki daya tahan terhadap pengaruh negatif globalisasi dan memiliki dasar iman yang kokoh dalam menimba kecerdasan-kecerdasan yang dibutuhkan untuk hidup sukses dalam masyarakat. Melalui katekese juga kaum muda diberikan semangat Injili untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya agar tanggap dan tangguh dalam memilih lapangan kerja, berwirausaha dan menjadi orang-orang yang sungguh siap dalam membangun Negara dan Gereja.

16. Keluarga Katolik sebagai Eclesia Domestica membutuhkan peneguhan terus-menerus lewat katekese keluarga. Hal ini ditandaskan oleh Mgr. Frans Kopong Kung, Uskup Larantuka. Melalui katekese keluarga katolik diberi pendampingan untuk terus-menerus menghayati nilai-nilai kesetiaan dan kasih sayang dalam keluarga sehingga keluarga katolik menjadi wadah pendidikan pertama dan utama untuk kebajikan – kebajikan Kristiani dan nilai sosial. Dalam pangkuan keluarga “hendaknya orang tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orang tua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani” (LG 11.2). Semua anggota keluarga, masing-masing menurut karunianya sendiri, menerima rahmat dan tanggung jawab untuk dari hari ke hari membangun persekutuan pribadi-pribadi, sambil menjadikan keluarga “gelanggang bina kemanusiaan yang lebih mendalam” (GS 52). Katekese menjadi jalan yang tepat untuk membantu keluarga dalam mewujud-nyatakan keutamaan-keutamaan kristiani ini.

17. Pengembangan Sosial Ekonomi diberi pendasaran yang kokoh pada perintah Yesus Kristus yaitu cinta kasih melalui katekese. Hal ini dikemukakan oleh Mgr. Petrus Turang, Uskup Agung Kupang. Katekese sosial adalah tanda keterlibatan sosial Gereja dalam membangun relasi manusia beriman melalui prinsip solidaritas, subsidiaritas, keadilan dan perdamaian. Dengan mengembangkan metodologi yang efektif, khususnya kepemimpinan partisipatif, proses katekese pembangunan sosial menurut pengajaran sosial Gereja harus terwujud dalam suatu persaudaraan, sehingga tiada orang yang berkekurangan. Persaudaraan ini adalah cintakasih sosial dalam menata barang-barang dunia ini sesuai dengan perintah baru Yesus Kristus, yaitu cintah kasih. Katekese sosial harus menyentuh seluruh persekutuan hidup Kristiani, sehingga seluruhnya masuk ke dalam tanggungjawab bersama untuk menghadirkan keadilan dan perdamaian dalam lingkungan hidup ini. Dengan berhasilnya pengembangan katekese sosial dalam persekutuan gerejawi, kita mampu mendorong perubahan sikap dan persekutuan gerejawi menurut kebersamaan hidup dengan tindakan rela berbagi. Dengan demikian terwujudlah keseimbangan dalam hidup manusia, khususnya dalam persekutuan gerejawi. (Bdk. 2 Kor 8:12-14).

18. Pendidikan di dalam dan di luar sekolah perlu diberi pendasaran iman kristiani melalui katekese. Hal ini ditegaskan oleh Mgr. Gerulfus Kherubim Pareira, SVD, Uskup Maumere. Selanjutnya dikemukakan hal-hal berikut: katekese pendidikan iman bagi peserta didik, tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dan di luar sekolah diadakan untuk menjawabi situasi konkrit dengan metode katekese yang cocok yaitu doktrinal dan kontekstual. Untuk melaksanakan katekese di dunia pendidikan ini diperlukan fasilitator dengan kualitas tertentu seperti: memiliki pengetahuan, beriman dewasa, mempunyai kerelaan dan hati yang tulus, berspiritualitas yang mendalam, trampil dan memiliki keteladanan. Tujuan yang hendak dicapai adalah umat yang bertumbuh dalam iman, mengalami perubahan dan pembebasan yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus.

19. Spiritualitas Katekese bertujuan melihat, mengerti dan menyadari serta menghayati jiwa, semangat atau roh berkatekese. Hal ini ditandaskan oleh Mgr. Hubert Leteng, Uskup Ruteng. Supaya katekese efektif dan berhasil, harus ada hubungan pribadi atau kontak personal dengan Pribadi Kristus. Katekese yang mengajarkan dan mewartakan Pribadi Kristus, “menggali isinya dari sumber hidup, yakni Sabda Allah yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Sebab Tradisi dan Kitab Suci merupakan satu khazanah kudus Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja”. (Catechesi Tradendae, no.27). Katekese harus bersifat Kristosentris, Biblicalsentris, Culturalsentris dan Aktualsentris.

20. Pembangunan pada prinsipnya memberdayakan manusia secara menyeluruh untuk mengupayakan kesejahteraan manusia jasmani-rohani melalui pengolahan sumberdaya yang ada. Hal ini dikemukakan oleh Drs. Frans Leburaya, Gubernur Nusa Tenggara Timur. Kerjasama antara Pemerintah dan Gereja dikemukakan oleh Semara Duran Antonius, S.Sos, Direktur Jenderal Bimas Katolik Kementerian Agama Republik Indonesia.

REKOMENDASI

Di bawah inspirasi, bimbingan dan koordinasi Uskup selaku Pimpinan Gereja Lokal harus dipastikan bahwa para Pastor dan seluruh fungsionaris Pastoral Gereja berjuang maksimal menggiatkan/menggerakkan karya Katekese sebagai bagian pokok pelayanan Gereja.

1. Komisi Kitab Suci harus melakukan pembekalan Kitab Suci berupa pelatihan, Kursus Dasar, Kursus Lanjutan dan Katekese Kitab Suci bagi para Pastor dan Fasilitator Kitab Suci, agar Kitab Suci semakin dipahami dan dihayati, lalu diwartakan secara efektif demi membangun kehidupan umat beriman dan dijadikan acuan dalam menata berbagai bidang kehidupan. Harus juga diupayakan pengumatan Kitab Suci dalam keluarga dan lembaga pendidikan, dengan bantuan metode katekese dan penggunaan media audio-visual sesuai situasi dan kondisi pemahaman umat.

2. Komisi Liturgi harus mengupayakan Katekese Liturgi (Sakramen-Sakramen, Ofisi Ilahi, Sakramentali, Tahun Liturgi dan Ritus-Ritus Gereja), disertai pendidikan liturgi lanjutan bagi para Pastor dan para petugas Liturgi, agar makna Liturgi semakin dipahami secara mendalam dan utuh, dirayakan secara baik dan benar sesuai pedoman liturgi Gereja, lalu dihayati dan dilaksanakan dalam kehidupan harian, agar berbagai bidang kehidupan dapat diresapi daya kekuatan keselamatan Allah dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

3. Komisi Kateketik harus mengupayakan Evangelisasi Inkulturatif dan Inklusif yang Trinitaris, dengan menggunakan Fasilitator terlatih, dibantu fasilitas dan metode katekese yang sesuai.

4. Katekis mempunyai peranan yang penting dalam melaksanakan katekese di tengah umat. Untuk itu para katekis harus disadarkan terus-menerus tentang missio canonica mereka melalui pembekalan, pelatihan dan wadah yang cocok.

5. Harus diupayakan agar dalam berbagai jenjang dan bidang kehidupan, pengembangan spiritualitas kristen mendapat perhatian yang cukup melalui doa, bacaan dan pendalaman Kitab Suci, dan pencipataan suasana rohani di lingkup kehidupan. Perlu kampanye terus-menerus untuk mengatasi berbagai terpaan dunia modern, mentalitas dan pengaruh duniawi yang berpotensi mengerdilkan ketahanan hidup rohani dalam kehidupan.

6. Komisi Kepemudaan harus berusaha maksimal melakukan pendampingan secara teratur, sistematis dan berkesinambungan terhadap kaum muda, dengan berbagai sarana dan metode pendampingan yang sesuai, agar mereka dibantu dalam pengembangan iman, kepribadian dan profesionalitas hidup, sehingga mereka sungguh menjadi anggota Gereja yang penuh. Harus juga dilakukan kerjasama dengan berbagai pihak, misalnya Dirjen Bimas Katolik, agar kaum muda bisa memiliki Katekismus Gereja Katolik.


7. Komisi Keluarga harus melakukan Katekese Keluarga dengan tema-tema yang kontekstual dan relevan, membangkitkan kebiasaan keluarga kristen yang baik (doa dalam keluarga, sharing hidup antara orang tua dan anak), menggiatkan pastoral keluarga dengan kunjungan pastoral dan bina lanjut pasangan nikah.


8. Komisi Pendidikan, dalam Kerjasama dengan Komisi Keluarga dan Katekese, harus mengupayakan Pendidikan Iman Berkelanjutan dan Kategorial sesuai Profesi dan tingkat usia, yang lebih difokuskan pada pemebentukan karakter, dengan menggunakan segala sarana Katekese yang memadai. Perlu juga dilakukan kursus pendampingan bagi para Fasilitator Katekese pendidikan Iman.


9. Bagi Komisi PSE harus dilanjutkan semangat dan gerakan Gereja Nusra Peduli Petani Membangun Kedaulatan Pangan melalui Katekese, Pembekalan dan Pelatihan bagi para Pastor, Fasilitator dan penggerak PSE yang terlibat dalam upaya pengembangan ekonomi umat, termasuk pengembangan Koperasi (CU).

PENUTUP

Dengan menghaturkan syukur berlimpah kepada Tuhan dan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya PERPAS IX REGIO NUSRA kami menyampaikan hasil PERPAS IX REGIO NUSRA untuk dipakai sebagai pegangan pastoral dalam upaya menggalang kegiatan katekese di berbagai bidang pelayanan pastoral gereja, demi kemuliaan Nama Allah dan keselamatan Umat dan masyarakat di wilayah Nusa Tenggara.

Kupang, 21 Juli 2012


ATAS NAMA PARA WALI GEREJA REGIO NUSA TENGGARA

Ketua  Msgr. Petrus Turang  
Sekretaris/Bendahara Msgr. Dominikus Saku