Wednesday, February 29, 2012

Tuhan hanya Sejauh Doa

“Doa itu cahaya jiwa, yang memberikan pengertian sejati tentang Tuhan kepada kita” 
(St. Yohanes Krisostomus) 


Usai perayaan Ekaristi di suatu pagi yang hening aku menemukan surat berikut ini dalam sebuah amplop tertutup yang dipersembahkan sebagai intensi misa. 


Membaca doa ini, aku merasakan betapa manusia kadang bisa mengutuk-ngutuk Tuhan, namun pada akhirnya tak ada tempat bersandar lain selain Dia.





Bagaimana dengan kehidupan doa Anda? Sudahkah Anda berdoa hari ini? :)








Tuesday, February 28, 2012

Mendekatkan Pelayanan: Konferensi Pastores KAK


Selasa, 28 Februari 2012. Jam 10.00. Bertempat di Rumah Retret Susteran SSpS Belo, Kupang, berlangsung pertemuan antara para imam Keuskupan Agung Kupang bersama Mgr Petrus Turang, Uskup Agung Kupang. Pertemuan yang berbentuk konferensi ini diikuti oleh seluruh imam yang bertugas di wilayah Kupang. Wilayah TTS baru akan mengadakan pertemuan esok harinya di Kota dingin Soe.

Bapak Uskup menegaskan bahwa hendaknya para imam melaksanakan tugas pelayanannya dengan spiritualitas tangan terbuka. "Kita perlu menyikapi situasi-situasi kontingen. Bencana apapun itu selalu tak terduga karena memang tak terencana. Untuk itu kita perlu terus bersiaga".  Masyarakat kita di Indonesia umumnya sedang berada dalam masa kontingen".

Sambil memeragakan sikap tangan terentang dan terkatup Bapak Uskup yang baru saja merayakan ulangtahun keenampuluh lima ini menjelaskan tentang pentingnya keterbukaan Gereja dalam melayani. Dignitatis Humanae adalah salah satu dokumen yang secara jelas mengungkapkan keterbukaan Gereja terhadap dunia: bersama-sama menggandeng mereka yang menganut agama dan kepercayaan lain untuk membangun dunia menuju kehidupan yang lebih baik. "Kebersamaan ini bukan sekedar beribadat bersama-sama. Bahkan sejatinya, masing-masing mengatur sendiri peribadatan. Kerjasama itu antara lain dalam usaha-usaha untuk menjadikan manusia semakin maslahat", katanya. "Para imam perlu belajar untuk tanggap terhadap tanda-tanda zaman, dan mampu untuk menginterpretasikannya dalam tugas pelayanan".

Dalam kesempatan itu, Bapak Uskup juga menjelaskan tentang persiapan Keuskupan untuk menyambut Tahun Imam yang akan dibuka pada tanggal 12 Oktober 2012, bertepatan dengan ulangtahun kelimapuluh Pembukaan Konsili Vatikan II. Sehari sebelumnya, 11 Oktober 2012, adalah ulangtahun keduapuluh terbitan Katekismus Gereja Katolik. Tahun Iman ini akan ditutup pada tanggal 24 November 2014 pada Hari Raya Kristus Tuhan Raja Semesta Alam.

Usai konferensi dibacakan pula penempatan tugas para imam muda, dan pergantian beberapa pengurus komisi. Tempat-tempat baru yang mendapatkan penempatan pastor adalah Tarus (Paroki St Yosef Penfui) BTN Kolhua (Paroki Sancta Familia SIkumana), Raknamo (Paroki Santa Maria Fatima Taklale), Batuna dan Noehaen (paroki Santo Yohanes Pembabtis Buraen), Putain dan Lobus (paroki Sta. Columba Putain).
Tempat-tempat ini bukan kuasiparoki melainkan stasi yang mendapatkan pelayanan tetap dari imam. Segala urusan administrasi dan kanon Gereja dilakukan di Gereja Induk/Paroki. Para Pastor Stasi punya wewenang untuk mengambil keputusan dan kebijakan dalam hal-hal pastoral. Ini suatu upaya untuk mendekatkan pelayanan pastoral.

Pertemuan ditutup dengan diskusi bersama tentang usulan dari Bapak Uskup untuk menyisihkan 3 persen dari kolekte setiap Hari Minggu, untuk digunakan sebagai dana darurat/siaga bencana. Diperoleh kata sepakat dan segala keputusan serta kesepakatan bersama ini berlaku sejak minggu pertama bulan Maret.
Laskar Kristus, terus maju, pantang mudur!


SENJA DI PEKUBURAN IMAM


Di antara rimbunan kamboja
Semburat jingga di kaki langit
Kau tantang keabadian
Yang datang sebelum introitus

derai-derai ilalang
di sela goyangan dedaunan lontar
merayakan pesta perpisahan:
ite, missa est!

kerabat, sahabat dan kenalan
berkerumun ramai-ramai
menyanyikan anamnesis
doksologi yang tak kunjung usai

di sana kau tetirah
pada altar perjamuan terakhir:
memeluk Anak Domba
menatap Sang Cahaya

Sunday, February 26, 2012

Mendengarkan Bapak Molan Bercerita

Bapak Molan. Orang-orang memanggilnya begitu. Lelaki uzur bertongkat. Sisa-sisa rambutnya yang uban masih bertengger di bagian belakang kepalanya. Melihatnya sekilas aku ingat kakek dalam gambar logo minuman anggur merek Orang Tua (Anggur OT).

Sebagian umat dalam perayaan Ekaristi di Gereja St Maria Fatima Taklale
Usai perayaan ekaristi pagi tadi di Gereja Sancta Maria Fatima Taklale, seorang bapak meminta untuk membawa viaticum (komuni untuk orang sakit) ke rumah Bapak Molan. Kami menemui dia di rumahnya yang luas di bawah rerindang pohon kelapa dan dan palma di dekat Pondok Cucur Oesao. Bapak Molan dan isterinya telah menanti sejak pagi tadi. Fisiknya tak cukup kuat untuk pergi ke Gereja mengikuti perayaan Ekaristi. Didampingi lima cucu yang masih kecil, Bapak Molan dan isterinya menerima Sakramen Mahakudus, Minggu siang yang gerah itu.

Lalu Bapak Molan yang mantan guru agama itu mulai bercerita. Kata Bapak yang meminta saya ke sini tadi, ini sebuah kisah tentang misionaris dan sejarah Gereja. :D

Alkisah, ibadat orang katolik di wilayah Oesao - Kupang Timur berawal pada hari pemilu 1955. Usai pemilu, di tenda tempat pemungutan suara itu, Bapak Molan lantas meminta ijin dari kepala desa untuk bersama teman-temannya yang katolik beribadat.

Kemudian hari beliau memohon agar kalau boleh tenda tempat pemilu itu menjadi tempat ibadat bagi mereka yang beragama katolik. Pak Kepala Desa menolak, dengan dalih, pada tempat itu mau didirikan rumah untuk pelayan jemaat Kristen (protestan - yang memang sudah lebih dahulu berkembang di Oesao oleh Zending Belanda). Namun Bapak Molan terus mendesak hingga akhirnya mereka diijinkan beribadat di tempat itu, dan selanjutnya di kenal sebagai kapel pertama di Oesao, tepatnya di belakang Gereja GMIT Kaisarea Oesao.

Bapak Molan adalah guru agama ketiga di Oesao. Ia diminta oleh Bapak Uskup Gregorius Manteiro, SVD, Uskup Kupang untuk datang dan mengajar/mendidik iman umat di Oesao. Kebetulan ia adalah seorang lulusan SGB (Sekolah Guru Bawah). Menurutnya, hidup sebagai orang katolik pada jaman itu punya tantangan yang amat berat. Taruhannya adalah nyawa. Dari pihak gereja Kristen lainnya, mereka dicap sebagai pembawa ajaran kristen sesat (a.l karena  anggapan penyembahan patung!). Setiap kali berdoa rosario dari rumah ke rumah  -- yang letaknya berjauhan bahkan sampai puluhan kilometer, ditempuh dengan berjalan kaki -- mereka harus membawa "senjata". Pedang selalu terselip di pinggang. Siap membela diri! Mereka pernah dihadang segerombolan penjahat, dan untung saja mereka bisa melarikan diri. Sejak itulah mereka selalu membawa pedang, sekedar untuk berjaga-jaga. Permusuhan "orang setempat" dengan "orang Flores" --ini istilah mereka saat itu-- seperti bara dalam sekam. Terus berlangsung hingga kedatangan warga pengungsi dari Timor Leste, yang serta merta membengkakkan jumlah umat katolik di tempat itu.

Bapak Molan adalah pemanah jagoan. Ia pernah memanah mati seorang pencuri di kebunnya. Pelakunya resividis. Berulang-ulang pencuri itu ditangkap dan diadili di kantor polisi namun dengan tangkas ia selalu berkelit. Nah, pada suatu malam, Bapak Molan berjaga di kebunnya. Sudah ada niat untuk melumpuhkan si pencuri itu. Tengah malam si pencuri pun merayap datang. Setelah berhasil mengambil empat tandan pisang dari kebun Bapak Molan, pencuri itu beranjak pergi. Tepat saat ia menaiki pagar kebun, sebuah anak panah menancap di paha kirinya. Si resividis jatuh terkapar. Panahnya beracun. Beberapa jam kemudian pencuri itu pun menjadi marhum. Bapak Molan, malam itu juga segera ke kantor polisi dan melaporkan segala yang terjadi. Untunglah, dia dibebaskan dengan anggapan telah membantu pihak keamanan.*Kok bisa ya?*

Bapak Molan masih terus berceloteh, sambil menghirup teh panas *pake sedotan, lho*. Dalam usia yang kutaksir sekitar 90-an, atau bisa seratusan itu, ingatannya cukup kuat, dan bahasa Indonesianya enak!

Dua tahun yang lalu dia pernah mengalami serangan jantung dan sempat dilarikan ke RSU Prof WZ Yohanes. Bahkan sempat mendapatkan Sakramen Minyak Suci. Rupanya Bapak Molan ditakdirkan untuk berumur panjang. Dua hari kemudian beliau sembuh. Untuk pulang ke rumah, permintaannya cukup nyentrik, "Tolong carikan pastor yang punya mobil. Saya ingin pulang ke rumah dengan mobil pastor."

Bapak Molan adalah salah satu dari dua orang saksi hidup sejarah Gereja di Oesao Kupang Timur. Namanya tercatat sebagai salah satu tokoh perintis Gereja Katolik Oesao, dalam buku Sejarah Gereja Kupang Timur yang sementara disusun Tim KOMSOS Paroki Santa Maria Fatima Taklale. Rencananya, buku tersebut akan diterbitkan pada ulangtahun Gereja Taklale/Oesao pada tanggal 15 Mei 2012.

Aku kembali ke pastoran. Ada satu kalimat yang terucap dari Romo  Piet, Kepala Paroki, ketika aku memberitahu tujuan kepergianku tadi, "Dia itu orang hebat. Tidak takut siapapun. Semua orang di sini, kenal siapa dia!" Lalu aku ingat apa yang diulang-ulang Bapak Molan tadi, "Bunda Maria selalu mendoakan saya!"
Tapi bisik-bisik bapak yang mengajakku tadi, "Dia itu orang sakti lho! Kebal senjata tajam!"  Oucch!

Oia, aku tak mengambil gambar Bapak Molan tadi. Kayaknya, ga tega sih! Sepertinya terlalu tua untuk difoto :)

Saturday, February 25, 2012

Gugur DeDaun Kering


semilir angin barat
menangkup dedaunan
berguguran ke bumi

singgah sebentar 
pada atap rumah
beri tanda:

cinta laksana
gugur dedaun kering

Unit HeBRON Tengah Malam

Friday, February 24, 2012

Sewindu di Rumah Kami

Rumah kami adalah gugusan mukim di puncak bukit Balfai, sebuah bukit kecil yang sekaligus menjadi tapal batas Kota dan Kabupaten Kupang. Gugusan yang telah menua dirongrong masa, meninggalkan jejak-jejak terbenam: garis-garis kontur tahan zaman. Garis-garis yang meneruskan perjalanan iman umat di tanah Timor tercinta.

Rumah kami pula adalah gugusan pepohonan angsono, di sela-sela lontar dan bidara membentuk sebuah hutan lindung: melindungi diri dan anak cucu, serempak dilindungi dengan sabar dan telaten. Seminari Tinggi Interdiosesan Santu Mikhael. Ada Mikhael, panglima bala kerajaan Allah, dan Maria Ratu Para Orang Kudus; bersanding menjaga gugusan mukim kami.


Gugusan mukim ini cukup luas. Menampung aktivitas tahunan anak-anak belia, yang menggantungkan harapan demi masa depan Gereja dan Bangsa. Dari subuh menggeliat di ranjang hingga malam kembali beranjak ke tempat tidur, semuanya terjadi pada gugusan  ini. Dari bicara remehtemeh hingga membongkar Thomas Aquinas dan Agustinus, juga berlangsung alot di seputar gugusan ini.

Empat tahun pertama berlangsung dalam pacuan waktu. Tak sabar menanti lajunya waktu. Karena hampir gugusan ini menjadi belenggu. dua tahun berikutnya adalah masa uji coba, seperti barang baru dari pabrik ujicoba untuk feedback. Dua tahun berikutnya lagi keputusan mesti diambil: kalau jadi berarti tidak jadi, kalau tidak jadi berarti jadi. Nah?

Akhirnya sewindu pun berlalu. Tanpa terasa, seperti baru kemarin kau menginjakkan kaki pada gugusan ini. Namun sekarang pula saatnya kau angkat kaki. Pergilah. Aku menyertai kamu sampai akhir jaman. Dengan tumpangan tangan uskup di atas kepala, kau resmi menjadi imam Tuhan...


Thursday, February 23, 2012

Sebuah Cerita tentang Si Bungsu

SIM: Surat Ijin Menikah! He he, aku memperhatikan si bungsu yang sementara menggunakan mesin pencari google, menimbang-nimbang model undangan untuk pernikahannya nanti. Ketemu sebuah surat undangan unik, bentuknya sepintas sama persis dengan rebewes/driving license POLRI.

"Hoe, lu jang kelewat nyentrik. Undangan yang biasa sa kenapa?"
"He, he tes-tes sa to!"

Bosan mencari-cari akhirnya ia membuka Photoshop dan mencoba menungkan idenya sendiri. Jadi deh!
"Be pinjam romo pung puisi yang di aklahat tu e?"
"Boleh asal tahu aturan copas, jang asal comot :)"

Maka jadilah sebuah undangan mungil folded 4x6 dengan foto kedua pengantin, daftar acara dan ... cieh puisi berjudul "selagi kita ada". [Romantis juga nih anak!]

Lelaki berusia 26 tahun itu adalah putera bungsu dalam keluarga kami. Duabelas bersaudara:satu bapa satu mama, ditinggal mati tiga orang sewaktu kanak-kanak dan seorang lagi di usia baya karena suspect cancer... Keluarga yang cukup besar, yang tentu saja punya kesulitan luar biasa untuk eksis dalam dunia modren. Bayangkan, betapa sedihnya hatiku ketika si bungsu itu telah lulus SMPTN di UNDANA Kupang dengan program pilihan Matematika pada FMIPA, namun hingga batas akhir registrasi, uang yang terkumpul belum cukup... [duh, rasanya teriris-iris dada ini]. Ayah telah pergi dua tahun sebelum dia menamatkan SMA. Sekarang kepada siapa berharap?

Tak jadi kuliah. Dengan berbesar hati dia memilih bekerja serabutan. Membantu para buruh yang membersihkan gedung Bougenville yang segera direhab menjadi Jaguar Car Showroom. Karena kecerdasannya dalam waktu singkat si kecil ini telah dipercaya menangani komputer. Saya juga heran. Kerjanya seharian kini menangani warnet Rico. Keren. Operator warnet di Kupang sekitar tahun 2000-an itu tergolong manusia di atas rata-rata. Dasar urat tangan bagus, pada hari ketika aku menjelang tahbisan diakon, si kecil ini justru mendapatkan hadiah undian sepedamotor dari PT Sampoerna. Thanks God!

Ia kemudian memilih pulang ke kampung menemani ibu yang mulai uzur. Di kemudian hari ketika ada mahasiswi yang berKKN di kampung halaman yang terpencil itu, benih cintasekolah bersemi kembali. Lalu dia berjanji untuk mulai berkuliah dan aku berjanji membantu sebisanya.

Akhirnya adik bungsu saya, Deni, namanya, mengakhiri masa lajangnya, dengan menikahi seorang gadis dari Camplong. Gadis pujaannya adalah seorang guru agama jebolan STIPAS KAK (Sekolah TInggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang). Mereka sekarang live hapily ever after di sebuah rumah mungil di kompleks pasar Lili - Kupang. [wow, kuliahnya juga baru semester kelima, ga papa khan? Lanjut terus!]

Bagi saya ini kesempatan keduakalinya saya meresmikan perkawinan saudara kandung sendiri. Pertama, di bulan September 2009, adik kedua dari terakhir Irmina menikah. Dan pada 18 Oktober 2011 adik Deni menyusul. Tinggal saya sendiri! :)

Acara pernikahannya dilangsungkan di rumah pengantin wanita, di Lili camplong. Perayaan sakramen perkawinan diadakan di Gereja Sancta Helena Lili Camplong, misa konselebrasi bersama Pastor paroki Romo Ande Sika, Pastor Pembantu Romo Hiler Penga dan saya sendiri.

Posting-an ini katakan semcam kenangan akan peristiwa tersebut, mudah-mudahan mereka berdua dan juga keluarga-keluarga katolik lainnya tetap setia dalam kehidupan perkawinan mereka, sebagaimana saya sendiri berusaha untuk tetap setia dalam panggilan sebagai seorang imam.







Oia, terimakasih buat Romo Hiler untuk gambar-gambar yang bagus ini! :)

Perempuan itu Akhirnya Pasrah

betapa gegas senja itu luruh
 mengelus layu sekuntum mawar
 lagi mekar berseri di halaman
 tempat bermain anak-anak desa

perempuan itu belajar pasrah. kata dokter hidupnya adalah mujizat: semakin panjang semakin menimbulkan tanda heran. perutnya terus membesar dan rambutnya rontok menerus. menyisakan gundul. bersama medali bunda maria dan salib yesus yang bergantung di dinding kamar, secara bertahap ia belajar menerima. bahwa hidup dunia ini hanya sementara. bahwa persiapan itu perlu. karena kapan dan di mana saja kereta siap menjemput. Dari pengakuan bertahapnya ini, akhirnya perempuan belia itu mengangguk setuju ketika dering bel pintu ruang tamu berbunyi dan terdengar salam selamat pagi untuk romo. Lelaki yang yang disapa Romo itu datang dengan menggenggam sebotol minyak dan stola tersandang di bahu. Hari ini, perempuan itu menerima Oleum Infirmorum. Isak tangis mendesak dada, menahan gejolak kepedihan yang bergelayut. apakah engkau benar-benar telah rela untuk pergi?


Hari terus berlalu. dan cuaca semakin memburuk. Ada baiknya secara fisik pula kau dekat ke sana, ke tempat paling bahagia yang senantiasa di cari manusia. Perempuan itu diboyong ke rumah di mana ia pertama kalinya mengenal dan mengawali panggilan hidunya sebagai seorang biarawati. Rumah itu mereka namakan novisiat. Di sini di rumah ini, bersama gadis-gadis belia yang baru belajar menjejaki tapak-tapaknya, dikerumuni sanak terdekatnya, perempuan itu menghitung-hitung sisa umur yang terlalu kentara.


*Vonis kanker tulang plus komplikasi pd seorang biarawati RVM di Kupang

Oleh-oleh dari Negeri Paman Sam

Natal kali lalu adalah peristiwa yang menyenangkan untuk seorang aku.  Teman saya yang baru pulang dari Amerika membawakanku sebuah oleh-oleh yang sungguh tak terbayangkan. Mulanya teman yang menitipkan oleh-oleh itu bertanya kepadaku, apakah aku sudah menerima oleh-oleh titipannya itu.

Sesudah berjuang selama berminggu-minggu, barulah aku ketemu dengan si pembawa oleh-oleh: lelaki berjenggot tebal dengan rambut gondrong dan bibir kemerahahan akibat sering makan sirih pinang. Lelaki nyentrik ini seorang calon imam yang baru saja menyelesaikan prakteknya di sebuah paroki di Chicago USA. Beliau berlibur ke kampung halamannya dan akan melanjutkan studi ke Roma Italia, sebagai persiapan menyongsong tahbisan imamat.

Kami bertemu di pastoran Niki-niki. Tuan rumah tak ada. Mungkin lagi patroli ke luar.

Ternyata barang titipan itu adalah sebuah handycam. Paslah untuk merekam kejadian kecil-kecilan di sekitar. Puji Tuhan, mendapatkan barang seperti ini gratis. Hari gene kok masih ada yang gratis ya? Itulah dolce et utile sebuah persahabatan. He he.

Makasih ya Ibu Lily di USA, yang telah memberi hadiah ini untukku. Tuhan membalas setiap orang yang berkehendak baik...

Sunday, February 19, 2012

Tuhan Menangis

Tuhan menangis siang tadi
airmatanya tumpah 
dari sela dedahan angsono
menghambur pada paving block
lantas menggambar jejak luka


Tak terbendung airmatanya
meski dihibur serafim 
dan kerubim dengan sangkakala 
riuh berdendang


Matanya sembab dan kepalanya 
menunduk
jejeran manusia menyemut 
di hadapannya mengantri 
intensi untuk hidup senang

"anak-anakku",

katanya mengelus-elus salib
"sampai kapan aku harus 

terus menjadi manusia?"


HUT XXXII Santu mikhael 19/2/2012

Saturday, February 18, 2012

Ketika Hujan Turun Hatipun Angkat Bicara

Sore hari tadi hujan yang dinantikan dengan rindu oleh para petani di Kupang dan sekitarnya akhirnya turun dengan sangat lebatnya. membawa sukacita dan menggiring harapan para petani membubung naik disertai doa-doa syukur. Kupang tak lagi gerah. Jagung di kebun tak meranggas.

Tapi aku kedinginan dalam kamar. Badan meriang. Mungkin karena kecapaian pergi pulang kupang Oesao untuk mengunjungi orang sakit. Ketika bunyi hujan tinggal satu persatu di atas genteng, aku terhanyut di bawa lamunan ke masa kecil dulu. Nostalgia indah. Mungkin tepat saatnya karena malam ini aku sedang menjelang ulang tahun yang ke tigapuluhdua. Usia yang relatif. Ada yang bilang masih muda belia, ada yang bilang sudah mulai veteran. Aku manut saja. Yang penting bahwa aku masih terus  saja menikmati karunia Tuhan berupa kasih sayang dari sanak saudara kenalan sahabat dan terutama umat Allah tempat aku melaksanakan perayaan pastoral.

Perjalanan hidup seorang aku memang tidak istimewa untuk diceritakan. Seperti bocah-bocah lainnya aku lahir ditengah-tengah keluarga besar. Ayah seorang guru SD dan ibu, seperti ibu-ibu lainnya di desa, bekerja sebisanya menanam sesuatu di kebun. Masa kecilku kulalui dengan pengenalan yang akrab dengan seorang misionaris SVD asal Belanda, P Cornelis Willem Kooy, SVD. Saya sangat mengenal beliau, gara-gara saban bulan saya mesti dia suntik. Borok di tungkai kaki kiri sangat bandel dan sulit disembuhkan.

Kampung halamanku yang terpencil sangat jauh dari aroma kota. Mobil dan sepeda motor hanya bisa kau lihat kalau kau beruntung. Biasanya saat sapi tetangga sudah cukup tambun untuk dijual. Babah dari Niki-niki akan turun dengan truk untuk mengangkut sapi-sapi tambun tersebut.

Satu-satunya mobil yang rutin mendatangi kampung halamanku ini adalah mobil hardtop berwarna biru milik Pater Kooy. Patroli istilahnya, yakni kunjungan pastoral ke stasi dan kapela. Itulah saat yang paling ramai di kampung yang terpencil itu.

Waktu terus beranjak. Menamatkan sekolah Dasar dan Lanjutan pertama, aku diajak ayah untuk melamar ke seminari. Apa sih seminari itu? Kucoba-coba aja. Ternyata sekolah seminari hanya mempertebal kesediahan karena harus jauh terpisah dari orang tua dan kampung halaman. Untunglah banyak teman-teman yang punya pengalaman sama. Kami bisa sama-sama menangis karena rindu kampung halaman , tapi juga sama-sama tertawa karena beruntung bisa sekolah di Kota Propinsi.

Tahun 2000, ketika dunia memasuki milenium ketiga, aku dan teman-teman lainnya menyambutnya dengan berjubah. Gagah. Sejak saat itulah aku mulai serius memikirkan panggilan untuk menjadi imam. Wah dulu saya punya cita-cita mau jadi dokter, dan nilai kimia saya selalu paling tinggi (sayang saya tak tahu kalau jadi dokter itu nantinya orang tua saya takkan sanggup membiayainya!)

Hingga akhirnya tahun 2008, puji Tuhan rahmat tahbisan imamat berkenan tercurah padaku bukan karena kehebatanku namun karena kasihkarunianya yang begitu besar. Pesta syukur yang cukup besar. Seluruh sanak kerabat sahabat dan kenalan tutur bergembira. Betapa bangga aku menjadi seorang imam yang pertama dari wailayah paroki saya.

Semuanya itu telah berlalu. Nah, apa sekarang? Realitanya bagaimana? Apakah aku hanya akan terus memutar-mutar kepingan CD masa lalu ini?

Tentu saja, kemarin itu sejarah, esok itu harapan. Yang nyata adalah sekarang. Aku sedang menjelang ulangtahun ketigapuluhdua. Terimakasih Tuhan, terimakasih ayah dan ibu, saudara-saudariku, sahabat dan kenalan sekalian. Sit semper Dominus vobiscum!


Friday, February 17, 2012

Uskup Atambua, Pengajar Setia Mahasiswa Calon Imam

Mgr. Dominikus Saku
Di tengah kesibukannya sebagai "malaikat jemaat" Atambua, Timor, Mgr Dominikus Saku, menyempatkan diri untuk melaksanakan tugas mengajarnya di Fakultas Filsafat Agama Unika Widya Mandira Kupang. Meskipun telah diangkat sebagai Uskup Atambua sejak Juni 2007 lalu, Bapak Uskup tak rela meninggalkan jabatannya sebagai Dosen Filsafat Ketuhanan di FFA/Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang.

Persoalannya adalah minimnya tenaga pengajar di kampus FFA. Gelar Doktor yang diperoleh Bapak Uskup dari Universitas Kepausan di Roma menjadi salah satu tonggak penting mutu pendidikan mahasiswa calon imam di Kupang. Pengajar Matakuliah Keahlian Filsafat di FFA baru tiga orang: Bapak Uskup dan seorang lainnya dari jenjang S3 dan satunya lagi dengan lisensiat/ijin mengajar (setara S2).

Fakultas Filsafat Agama yang juga dalam programnya mengejar kredit untuk akreditasi dari DIKTI, cukup kewalahan mengatur jadwal perkuliahan dengan tenaga dosen yang sebagian besar bukan dosen tetap pada Universitas Widya Mandira (UNWIRA).

FFA UnWIRA adalah Fakultas khusus yang menangani kegiatan akademik para calon imam yang berasal dari empat seminari tinggi di Kupang. Keempat seminari itu adalah Seminari Tinggi Santu Mikhael (calon imam dari Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua dan Keuskupan Weetebula), Seminari Hati Maria (Calon Imam dari Biara CMF/Claretian), Biara Carmel San Juan (calon imam dari Ordo Karmel Takberkasut) dan Seminari Hati Yesus dan Hati Maria (calon imam dari Biara MSSCC [singkatan dari Bahasa Latin yang panjangnya kira-kira 50 meter]) .... Wah, ternyata banyak sekali calon imam dari Kupang ya? :)...

Adapun tenaga dosen dipinjam dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero Maumere, Flores, yakni pengajar Liturgi, dan Islamologi. Mereka, para dosen tamu tersebut mengajar seminggu dalam jadwal untuk satu semester. (Bayangkan betapa ngebutnya mereka mengejar gunung yang memang takkan lari!). Mungkin karena itulah mereka lebih sering dijuluki dosen terbang... I believe I can fly!...

Sementara dalam minggu ini sedang berlangsung perkuliahan Filsafat Ketuhanan untuk mahasiswa semester keenam. Segala perkuliahan lainnya untuk kelas ini dihentikan. Waktunya dicurahkan sepenuhnya untuk kebut-kebutan menelaah De Cinque Viae-nya Thomas Aquinas. Bapak Uskup Atambua, meninggalkan sejenak umatnya di Atambua untuk kepentingan para calon pemimpin Gereja nanti. Pagi, Siang sampai sore, perkuliahan jalan terus hingga Aquinas mulai bosan memberi penjelasan tentang TUHAN...

Ke depan mudah-mudahan akan semakin banyak tenaga pengajar tetap di FFA sehingga takkan lari gunung dikejar, hilang kabut tampaklah ia...

Bapak Uskup Terimakasih!

Wednesday, February 15, 2012

Krisis Panggilan Imamat?

Sudah hampir empat tahun aku tinggal bersama ratusan calon imam di seminari tinggi santu Mikhael. Jumlah frater kurang lebih duaratus ini menunjukkan betapa panggilan imamat masih tumbuh subur di kawasan NTT. Memang dua seminari terbesar di dunia adalah seminari Ritapiret dan Ledalero serta Seminari santu Mikhael Kupang. Minat untuk menjadi imam masih begitu besar di kalangan kaum muda NTT.

Akan tetapi betapa memprihatinkan ketika mengetahui bahwa kebanyakan calon imam ini memilih untuk berhenti usai menggondol gelar sarjan filsafat (empat tahun pertama studi, sebelum ke medan praktek pastoral). Tawaran dari dunia memang begitu menggiurkan. Jaman berubah dan kita pun ikut berubah di dalamnya.  Tawaran dunia semakin menggila, dan ini juga menggoncangkan keteguhan batin mereka yang sudah terpanggil.

Bayangkan saja, ketika dunia menawarkan kecanggihan tekhnologi, para calon imam ini harus membatasi diri dengan menggunakan alat-alat tekhnologi seperlunya. Di seminari tinggi santu mikhael misalnya, frater-frater filosofan (yakni mereka yang belum ke medan TOP) dilarang menggunakan ponsel. Keputusan ini ditetapkan setelah para pembina berhasil mengetahui bahwa penggunaan ponsel di kalangan para frater menimbulkan ekses negatif. Alat komunikasi canggih ini digunakan untuk menjalin hubungan khusus dengan wanita (pacaran) dan mengunduh gambar dan video yang tak relevan dengan panggilan sebagai imam (kau tahu jenis file semacam apa yang tidak sesuai dengan penghayatan hidup selibat).

Sementara "orang-orang luar" bebas menentukan pilihan untuk berbuat apa saja, para calon imam ini harus secara ketat mengikuti peraturan yang ada. Serva ordinem et ordine servabi te! Jagalah peraturan, niscaya peraturan akan menjaga engkau!

Tantangan hidup menjadi imam dewasa ini memang makin sulit. Namun ada satu keyakinan bahwa Tuhanlah yang menyelenggarakan semuanya. Ada begitu banyak badai yang menerjang kehidupan pembinaan calon imam, namun semua itu berguna untuk memurnikan kembali motivasi panggilan menjadi imam. memang kualitas lebih utama dari kualitas. Semoga panggilan di bumi NTT ini semakin bertumbuh subur baik dari segi kualitas maupun dari segi kuantitas. Semoga Seminari Tinggi Interdiosesan Santu Mikhael ini tetap menjadi home sweet home bagi mereka yang telah dengan tahu dan mau memilih jalan yang sempit ini. Insya Allah!

Tuesday, February 14, 2012

Catatan Valentine Day: Menjajaki Misteri Cinta

Akhirnya malam pun tiba. Satu hari akan berlalu. Di hari ini, 14 Februari, hari yang dielu-elukan sebagai hari kasihsayang sedunia akhirnya berlalu. Hiasan kata-kata dan ocehan I love you menghiasi jejaring media sosial. Ungkapan kata-kat cinta ikut berlalu bersama waktu. Sesungguhnya Valentine orang modern ini adalah perayaan dengan kata-kata bukan dengan tindakan.

Memang cinta adalah sesuatu yang misterius. Banyak orang yang hingga saat ini tak cukup puas dengan definisi cinta. Apa itu cinta? Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut kau akan disodorkan semacam klasifikasi: eros, filia, dan agape. Apa pula itu? Sesungguhnya cinta adalah perjuangan keras untuk perkembangan spiritual diri sendiri dan diri orang lain. Saya setuju dengan pemikiran Scott Peck, seorang psikiater ini. Cinta bukan sekedar jatuh cinta, dan romantisme belaka. Cinta sesungguhnya adalah keheningan yang dengannya seseorang memeriksa diri, mengenal diri dan memberikan diri bagi orang lain. Cinta adalah ketertarikan kepada yang lain. Cinta bukan keterkungkungan dan kepuasan pada diri sendiri saja.

Allah sendiri yang mahaesa saja ada dalam persekutuan. Kau tentu mengenal siapa itu Allah tritunggal. Allah hidup dalam komunitas, dan senantiasa mengkomunikasikan dirinya: mengundang ciptaannya untuk masuk dalam persekutuan cinta itu. Dia adalah Cinta itu sendiri. Dia menciptakan dunia dan segala isinya hanya karena satu alasan yang mencukupi: Cinta.

Cinta itu, kata Rasul Paulus, sabar, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong,... kau pasti lebih tahu kan? Cinta itu seperti yang diteladankan Yesus di dunia ini: ketika banyak orang mengelu-elukan Dia karena pemberian diri dan belaskasihanNya (baca: banyak mujizatNya) Dia justru menyingkir ke tempat yang sepi.

Cinta, hanya karena cinta. Itulah alasan kita berada. Terimakasih cinta. Selamat Hari Valentine!

Monday, February 13, 2012

Tidak Hujan: Kesempatan Berahmat!

Sudah beberapa hari ini, hujan tak lagi turun di Kota Kupang. Banyak teman yang mengeluh kepanasan. Tapi bagi kami yang berada di komunitas Seminari Tinggi Santu Mikhael, inilah kesempatan berahmat. Kesempatan untuk memperbaiki bagian atap rumah  yang bocor.

Pada saat turun hujan sepanjang minggu yang lalu, beberapa unit tinggal Seminari Santu Mikhael mengalami kebanjiran, akibat seng yang bocor dan cucuran hujan masuk ke dalam ruangan. Tepatnya Senin sore yang lalu saya lagi asyiknya tidur siang dikawal hujan yang mengguyur lebat. Begitu bangun saya kaget ketika menginjakkan kaki ke lantai. Air sudah setinggi mata kaki. Maka dengan semangat empat lima, segera sesudah bangun itupula saya lantas mengepel lantai sore-sore. (Cape,,,tau!)

Gedung yang kami tinggali ini didirikan sejak tahun 1999 dan hingga kini belum pernah direnovasi. Sebagai salah satu seminari yang cukup besar, dana renovasi keseluruhan kompleks seminari tidak sedikit. Ketua Propaganda Fide (aduh saya lupa namanya) yang datang dari Vatikan, tahun lalu, mengatakan bahwa, seminari ini membutuhkan dana yang cukup besar untuk biaya rehab dan renovasi. Beliau mengatakan itu setelah mengelilingi dan memeriksa keadaan Seminari Tinggi Santu Mikhael.

Kendati demikian, perbaikan kecil-kecil: tambal sulam mesti tetap dilakukan. Maka sudah tentu kami bersyukur sekali karena selang waktu tak berhujan ini pekerjaan menambal seng bocor bisa diselesaikan. Dan ketika hujan turun lagi aku bisa tidur dengan nyaman. :)

Friday, February 10, 2012

Gereja St Arnoldus Janssen Tuapukan

Mentari pagi bersinar cerah. Hujan kemarin lenyap. Ada sms di kotak masuk. Seorang teman sedang dirawat inap di puskesmas Oesao 35 km ke arah timur. Aku janjian dengan pengirim sms akan menjenguk ke sana.

Sepeda motor kupacu melintasi jalanan Timor Raya yang ramai. Di Puskesmas ada berita, pasien rawat inap tersebut sudah pulang ke rumah. Sebuah rumah di tengah persawahan Tuapukan. Kepala keluarganya adalah seorang guru agama, perintis Gereja Katolik di Tuapukan. Asal tahu saja, orang Katolik adalah kelompok kecil di antara kristen lainnya di wilayah kabupaten Kupang.

Guru Agama berdarah campuran Flores TImor itu lantas bercerita sedikit tentang sejarah Gereja Tuapukan. Sebidang tanah tempat membangun kapel kecil yang ramai sekarang, dulunya adalah tanah yang dijual pemiliknya karena terpaksa, untuk membayar hutang yang menumpuk. Tanah berukuran 160 m2 itu dilepas dengan harga 400 ribu rupiah. Pembayarannya disaksikan oleh pejabat desa setempat. Si penjual hanya mendapatkan kas sebesar 32ribu, karena para pemiutang sudah ikut hadir untuk meminta jatah piutang mereka.

Kapel kecil itu mulai dibangun oleh enam kepala keluarga bahu-membahu. Bantuan datang dari berbagai pihak. Termasuk dari pihak Gereja Protestan. Notabenenya, ada perselisihan dalam gereja tetangga ini yang menyebabkan pembangunan Gereja Katolik dituduh hanya akan menambah persoalan di wilayah desa. Namun umat diaspora ini begitu yakin, kehadiran Gereja katolik pasti akan membawa damai. Akhirnya tahun 1996 gereja St Arnoldus Jansen kelar sudah, lengkap dengan rumah penginapan pastor yang saban minggu datang melayani perayaan ekaristi.

Pada tahun 2000 ketika Tuapukan menjadi salah satu tempat penampunga para pengungsi dari TImtim, jumlah umat pun membengkak. Saat itu pula Gereja Tuapukan ditingkatkan menjadi Stasi. Gedung Kapel yang dulunya lapang kini menjadi sesak, tak sanggup lagi menampung jumlah umat. Orang katolik yang dulunya hanya kelompok kecil, kini menjadi kelompok besar di wilayah Tuapukan.

Dengan segera, bersama dengan stasi-stasi tetangga lainnya, Wilayah Oesao dimekarkan menjadi Sebuah Paroki. Hingga sekarang terdapat 3 pastor paroki: pastor kepala dan dua pastor paroki.

Oia, yang menarik adalah si penghibah tanah tersebut. Dulunya ia adalah seorang pemabuk dan penjudi (dan karenanya punya banyak hutang). Setelah menjual tanahnya ke Gereja, orang itu pun bertobat. Kebiasaan buruknya dihentikan, dan kini ia menjadi saudagar bebak* yang kaya raya (* bahan untuk dinding rumah dari tangkai daun gebang). Menurut kisah Pak Guru Agama, dia sendiri insyaf bahwa hanya dengan melepas tanah miliknya untuk Gereja ia akhirnya bisa bangun dari kesulitan hidup dan kini cukup berbahagia.

Puji Tuhan!

Thursday, February 9, 2012

Konser San Jose Choir: Paduan Suara OMK

Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santu Yosef Naikoten - Kupang yang tergabung dalam kelompok paduan suara San Jose Choir, tampil memukau di aula seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang. Pementasan Kelompok Paduan suara ini merupakan salah satu upaya untuk membantu para calon imam dalam berapresiasi seni, sekaligus untuk meminta feedback dari para penonton yang adalah para frater dan para pastor.

Konser dimulai pukul 20.00. Usai dibuka dengan doa dan sambutan dari Rm Ande Kebelen, Rektor Seminari TInggi Santu Mikhael, Gaby Busa, Sang Dirigen mulai memimpin kelompoknya dalam melantunkan suara. Bapak pertama terdiri dari lima buah lagu klasik. Semuanya dibawakan dengan baik sekali, hanya dinamika suara kurang dijaga. Selain itu mungkin juga karena komposisi SATB yang kurang seimbang, di mana partai Bas hanya terdiri dari tiga orang, menyebabkan keseimbangan suara terganggu. Apa mau dikata, karena sakit beberapa anggota partai bas tidak bisa tampil malam ini.

Babak kedua, ini yang paling seru. Lagu-lagu Negro Spiritual yang umumnya diambil dari komposisi Moses Hogan. Kostum yang mereka kenakan turut mendukung penampilan mereka. Serba blackout! "Elijah Rock" hasil komposisi Moses Hogan yang menggemaskan paduan suara gerejani manapun di seluruh dunia, dibawakan dengan baik. Proficiat!

Babak yang terakhir adalah lagu-lagu ethnik NTT dan Pop Indonesia. Kostum yang mereka kenakan berganti menjadi Bhineka TUnggal Ika, cerminan berbagai etnik yang ada di seluruh NTT. Bagian ini lebih santai. Para penonton diajak dirigen untuk ikut bernyanyi. Alhasil gedung aula pun riuh dengan suara-suara. Lebih banyak suara yang dibuat-buat untuk menyaingi suara koor.

Memang jarang terdapat sekelompok orang muda yang mau berkomitmen dalam paduan suara. San Jose Choir adalah salah satu kelompok yang langka. Sulit mencari kelompok paduan suara profesional yang "hanya" terdiri dari OMK separoki. "Boleh jadi ini merupakan salah satu keajaiban dunia", kata Frater Ketua umum dengan maksud bergurau.

Tujuan pementasan San Jose Choir selain untuk menghibur komunitas Santu Mikhael juga sebagai "latihan" untuk nantinya mengikuti International Choir Competition yang akan diadakan di Bali nanti. Semoga Sukses. Kami komunitas santu Mikhael akan selalu mendoakan. Terimakasih untuk pementasan yang gratis ini.....

Wednesday, February 8, 2012

Rindu yang membara


Sudah jauh malam. Aku belum bisa tidur. Ingatanku melayang ke masa kecilku dulu. Di kampung halaman nun jauh di sana, di pedalaman Pulau Timor. Sebuah dusun yang terpencil. Tiada listrik, sinyal telponpun mati hidup. Di dusun yang sunyi itulah aku bertumbuh dan mengenal dunia.

Ketika kota Kupang kembali diliputi keheningan malam, anganku melayang jauh kembali ke sana. Ada rindu yang membara. Nostalgia bersama ayah, ibu dan sembilan bersaudara seolah menari-nari di pelupuk mata. Ah, rindu ini terlalu membara.

Yang bisa kubuat sekarang hanyalah berdoa, semoga Tuhan tetap melindungi ibunda yang sudah uzur. Hingga suatu saat nanti ketika tiba waktunya beliau dijemput para malaikat ke surga.



Sunday, February 5, 2012

Santa Agatha, Doakan Ibu (kami)!

Hari ini tanggal 5 Februari adalah peringatan Santa Agata. Saya kenal betul cerita tentang Santa Agata, yang sering dikisahkan oleh Ibu semasa kecil dulu. Mau tahu kenapa? Itu karena ibu saya punya nama pelindung Santa Agata sendiri.


yang paling saya ingat dari kisah ibu adalah bagaimana buahdadanya dipenggal oleh algoju. Wuihh sadis. Di kemudian hari barulah saya temukan kisahnya yang lebih "wajar".
Di hari peringatan Santa Agata ini, ingin kumendoakan ibu agar selalu sehat, dan tetap berkanjang dalam doa di usianya yang sudah lanjut. Moga-moga juga Santa Agata mendoakan kita semua.

Oya ini dia kisah Santa Agatha

Santa Agatha-Perawan dan Martir (249-251)

Sebenarnya hanya ada sedikit bukti sejarah yang pasti mengenai St. Agatha. St. Agatha hidup di zaman pemerintahan kaisar Decius dimana saat itu umat Kristen hidup menderita karena terus dianiaya. Agatha adalah penganut Kristen anak seorang bangsawan kaya yang tinggal di Catania, kaki gunung Edna di pulau Sisilia. Agatha memiliki wajah yang sangat cantik sehingga banyak pria ingin melamarnya, namun di usia yang masih sangat muda Agatha memutuskan untuk tidak menikah dan mengabdikan dirinya pada Tuhan.

Pada saat itu kaisar Decius mengutus Quantianus untuk menjadi gubernur di pulau Sisilia dan membersihkan semua umat Kristen disana. Ketika Quantianus melihat Agatha, dia langsung menyukainya dan ingin memilikinya yang tentu saja ditolak oleh Agatha. Quantianus menjadi sangat marah apalagi ketika tahu bahwa Agatha adalah orang Kristen. Quantianus lalu mengirim Agatha ke rumah pelacuran, tapi disana tidak ada yang berani menyentuhnya. Quantianus berharap Agatha mau menyerah tapi Agatha tetap teguh dengan imannya. Quantianus kemudian mengirim Agatha ke penjara. Disana dia disiksa dengan sangat kejam. Kedua buah dadanya dipotong dengan pedang. Agatha tetap setia dan terhibur oleh kedatangan St Petrus yang mengobati semua lukanya. Ketika pagi hari, semua orang terkejut karena luka-luka bekas siksaan di tubuh Agatha hilang. Quantianus menjadi sangat berang dan kembali menyiksa Agatha. Dia diguling-gulingkan diatas pecahan kaca dan bara api yang merah menyala. Agatha akhirnya meninggal.

St. Agatha sering dilambangkan dengan gambar seorang putri yang membawa piring dan diatasnya terletak dua buah dada yang terpotong. St. Agatha merupakan pelindung kemurnian, pelindung terhadap bahaya gunung api dan pelindung orang menderita sakit dada. Pestanya dirayakan setiap tanggal 5 Februari.