Friday, July 20, 2012

Jangan Berhenti Berkatekese!


Memasuki Hari IV, Kamis, 19 Juli 2012 para peserta Perpas NUSRA mengadakan diskusi seputar keprihatinan Gereja NUSA Tenggara. Diskusi dimulai pada pukul 09.45 setelah sebelumnya kedua pendamping ahli, Rm Remi Misa dan Rm Martin Chen memberikan amatannya masing-masing. Keduanya sependapat: minat umat terhadap katekese masih amat minim.
Para peserta dibagi ke dalam 8 kelompok pastoral. Masing-masing kelompok mendiskusikan tema khusus: Katekese Keluarga, Katekese Orang Muda, Katekese Kitab Suci, Katekese Sosial Ekonomi, Evangelisasi, Spiritualitas, Liturgi, Pendidikan. Diskusi terus berlanjut aot hingga makan siang.

Pukul 15.45 dengan Moderator, Rm. Yosep Herman, tiga kelompok pertama mengemukakan hasil diskusi. Pleno pertama ini berasal dari kelompok Kitab Suci, Evangelisasi, Liturgi dan Spiritualitas. 
 
Kelompok Liturgi menemukan 3 hal yakni Situasi Aktual liturgi gereja nusra yakni hilangnya semangat penghayatan liturgi, serta kurangnya persiapan dan penghayatan liturgi. Untuk itu solusi yang ditawarkan adalah Katekese tentang Sakramen dan Sakramentali demi pemahaman terhadap Ekaristi sebagai Simbol dan Makna. 
 
Tiga kelompok lainnya mengemukakan persoalan yang tak jauh berbeda. Katekese tentang Kitab Suci, Evangelisasi Baru dan Spiritualitas belum mencapai tujuan yang dicita-citakan. Masih banyak persoalan dalam Gereja NUSRA ini yang mesti dibenahi. Namun semuanya ini tidak boleh membuat kita patah semangat. “Jangan berhenti melakukan kerasulan dan katekese selagi masih ada napas” kata sang Moderator, Rm Herman Yoseph.
 
Pleno ditutup oleh sang moderator dengan kesepakatan bersama bahwa ada berbagai model katekese yang tersedia, namun sebagus apapun modelnya, katekese tak akan berhasil jika tidak ada yang menggerakkan umat. Para pemimpin Gereja berperan penting dalam upaya menggerakakkan dan menyemangati umat untuk terus belajar mengembangkan pengetahuan dan penghayatan iman.

Thursday, July 19, 2012

HARAPAN KEMENTERIAN AGAMA RI TERHADAP KARYA PASTORAL GEREJA



(Disampaikan Pada PERPAS Pimpinan Gereja Katolik Regio Nusa Tenggara
di Kupang, 18 Juli 2012)

Oleh Semara Duran Antonius, Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI

Pengantar :
Pertama tama patutlah kita bersyukur pada Tuhan Allah Maha Kasih untuk rahmat dan berkatNya bagi kita semua. Saya berterima kasih pada Panitia Penyelenggara Perpas Pimpinan Gereja Katolik Regio Nusa Tenggara yang memberikan kesempatan pada saya untuk memberikan masukan dan harapan untuk pertemuan bermartabat ini.

  1. PENDAHULUAN

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 alinea ke 4 mengamanatkan tentang tujuan berdirinya Negara Indonesia yaitu untuk melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
Inilah cita-cita dan harapan masyarakat Indonesia, yang terus berjuang mewujudkan Bangsa yang maju, sejahtera lahir batin. Pemerintah dan seluruh komponen Bangsa dari waktu ke waktu, dari masa ke masa terus bertekad, berjuang mewujudkan cita-cita dan harapan dimaksud.

Agama memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pengakuan akan kediudukan dan peran penting agama ini tercermin dari penetapan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama falsafah Negara Pancasila, yang juga dipahami sebagai sila yang menjiwai sila-sila Pancasila lainnya. Oleh sebab itu, pembangunan agama bukan hanya merupakan bagian integral pembangunan nasional, melainkan juga bagian yang seharusnya melandasi dan menjiwai keseluruhan arah dan tujuan pembangunan nasional.
Merujuk pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, ada lima landasan filosofis bagi pembangunan bidang agama yaitu :

  1. Agama sebagai sumber nilai spiritual, moral dan etik bagi kehidupan berbangsa dan berhegara.
Pembangunan bidang agama merupakan upaya untuk mendorong peningkatan kualitas pengetahuan dan penghayatan umat beragama terhadap nilai-nilai keluhuran, keutamaan dan kebaikan yang terkandung dalam ajaran agama. Pengetahuan dan penghayatan itu diharapkan dapat mengejawantah dalam perilaku dan akhlak mulia warga Negara sehingga dapat menghasilkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bermartabat dan berkeadilan,

Sebagaimana telah diyakini agama bukan sekedar mengajarkan tentang hubungan antara pemeluk agama dan Sang pencipta, melainkan juga tentang hubungan antara sesame manusia dan hubungan dengan alam sekitar. Oleh karena itu pembangunan bidang agama diarahkan bukan saja untuk meningkatkan kualitas kesalehan individual umat beragama, tetapi juga mendorong terwujudnya kesalehan sosial dan ekologis, serta moralitas public dalam pengelolaan kehidupan bernegara.

  1. Penghormatan dan perlindungan atas hak dan kebebasan beragama sebagai bagian dari hak asasi warga Negara.
Hak dan kebebasan beragama warga Negara diakui sebagian dari hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana dinyatakan dalam pasal 29 UUD 1945 ayat 2 bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

  1. Kerukunan umat beragama dan tata kelola kehidupan beragama.
Sebagai bangsa multietnis, budaya dan agama, kerukunan hidup umat beragama menjadi hal yang sangat penting dan mendasar dalam kegidupan berbangsa dan bernegara. Kerukunan hidup beragama menjadi pilar penting bagi terwujudnya persatuan, kesatuan dan ketahanan nasional, sekaligus menjadi prasyarat mutlak bagi dan ketrampilan yang tinggi dalam terswujudnya stabilitas politik dan keamanan yang niscaya bagi terselenggaranya pembangunan nasional yang berkelanjutan.

  1. Pengembangan karakter dan jati diri bangsa.
Cita-cita nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dilandasi keinginan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju, unggul, mandiri, bermartabat, beradab dan sejahtera. Untuk mewujudkan hal itu pemerintah perlu mengusahakan dan menyelenggarakan sistem Pendidikan Nasional yang dapat membentuk manusia Indonesia yang memiliki penguasaan dan ketrampilan yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, memiliki etos kerja dan daya saing serta memiliki karakter dan jatidiri bangsa yang kuat, dengan bertumpu pada keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.

  1. Penyediaan fasilitas dan pelayanan bagi umat beragama berdasarkan tata kelola kepemerintahan yang baik.
Salah satu mandat konstitusional yang diemban dalam pelaksanaan pembangunan bidang agama adalah penyediaan fasilitas dan pelayanan sebagai upaya pemenuhan hak beragama warga Negara. Fasilitas dan pelayanan itu dapat berupa regulasi, kebijakan, dan program pembangunan bidang agama. Untuk mencapai keberhasilan yang maksimal, fasilitasi dan pelayanan itu perlu diselenggarakan berdasarkan prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik yang meliputi: orientasi pada tercapainya consensus, bertumpu pada asas efektif dan efisien, dapat dipertanggungjawabkan kepada warganya (accountable), berlangsung secara transparan (transparent), tanggap terhadap aspirasi dan kebutuhan warga (responsive), serta berlangsung adil dan terbuka bagi seluruh warga (equitable and inclusive)

  1. BERDIRINYA KEMENTERIAN AGAMA

  1. Fakta Yuridis:
Sekalipun Indonesia bukanlah Negara agama, melainkan Negara yang Berketuhanan yang Maha Esa, sejak awal masa kemerdekaan agama mendapat perhatian yang besar dan untuk selanjutnya kedudukan agama menjadi lebih kokoh dengan ditetapkannya Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara dan UUD 1945. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang diakui sebagai sumber dari sila-sila lainnya mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang sangat religius dan sekaligus memberi makna rohaniah terhadap kemajuan-kemajuan yang akan dicapai. Ketentuan juridis tentang agama tertuang dalam UUD 1945 pasal 29 tentang Agama:
Ayat 1: Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa;
Ayat 2: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya itu.
Dengan demikian agama telah menjadi bagian dari sistem kenegaraan sebagai hasil konsensus nasional dan konvensi dalam praktek kenegaraan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

  1. Fakta Historis
Terbentuknya Departemen Agama sebagai pemenuhan keinginan dan hasrat umat beragama, sejalan dengan revolusi kemerdekaan ketika itu, dimana rakyat beragama bersama para tokoh dan pemimpin agama juga ikut ambil bagian dan memiliki andil yang besar terhadap kemerdekaan. Mereka menyatakan kehendaknya supaya soal-soalyang bertalian dengan urusan agama langsung berada di bawah dan diurus oleh suatu Departemen khusus dengan kronologi sebagai berikut:

  1. Pada tanggal 25 sampai dengan 27 November 1945 dilangsungkan sidang pleno Komite Nasional Pusat, merupakan Parlemen sementara untuk mendengarkan keterangan pemerintah ketika itu. Wakil-wakil komite Nasional Daerah Keresidenan Banyumas yang duduk dalam K.N.I. Pusat, dalam pandangan umum atau keterangan pemerintah mengusulkan; “Supaya dalam Negara Indonesia yang sudah merdeka ini, janganlah hendaknya urusan Agama hanya disambil lalukan dalam tugas Departemen Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan atau De­partemen-departemen lainnya, tetapi bendaknya diurus oleh suatu Departemen Agama tersendiri”.
  2. Usul tersebut mendapat sambutan dan dikuatkan oleh tokoh-tokoh Islam yang hadir dalam KNI ketika itu. Maka tanpa pemungutan suara, kemudian dinyatakan bahwa adanya Departemen Agama tersendiri, mendapat perhatian Pemerintah.
  3. Sebagai realisasi dari pada hal tersebut diatas, berdasarkan pengumuman pemerintah pada tanggal 3 Januari 1946, didirikanlah Departemen Agama tersendiri dengan Menteri Agama yang pertama ialah K.H. Rasjidi, yang sebelumnya memjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Presidentil ke II.

Melihat fungsi dan peranan Agama dalam kehidupan sehari-hari tidaklah dapat disangkal lagi bahwa:
  1. Agama menjadi kebutuhan mutlak bagi seluruh kehidupan masyarakat.
  2. Agama menjadi benteng kokoh Pancasila terhadap atheisme, sekaligus sebagai filter terhadap aneka dampak negative perkembangan ilmu dan teknologi sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia dewasa ini
  3. Agama menjadi prasarana mental yang kokoh untuk landasan pembangunan materiil.

  1. Berdirinya Direktorat Jenderal Bimas Katolik
Pada awal berdiri Kementerian Agama pada tanggal 3 Januari 1946, Bimbingan Masyarakat Katolik (Bimas Katolik) merupakan salah satu Bagian, yakni Bagian Roma Katolik. Kemudian, melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 47 Tahun 1963, Bagian Roma Katolik ditingkatkan statusnya menjadi Biro Urusan Agama Katolik.
Status Biro Urusan Agama Katolik berlaku selama tiga tahun, karena Keputusan Presiden RI Nomor 170 Tahun 1966 meningkatkan Biro Urusan Agama Katolik menjadi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik.
Sejak berdirinya hingga saat ini, sudah ada 6 Direktur Jenderal yang memimpin Direktorat Jenderal Bimas Katolik:
  1. Ny. B. Kawari Sosrosumarto ( 1965 – 1974 )
  2. Mayjen TNI ( Purn ) Ignatius Djoko Muljono ( 1974 – 1986 )
  3. Brigjen TNI ( Purn ) Ignatius Imam Kuseno Mihardjo ( 1986 – 1997 )
  4. J.T. Sukotjoatmodjo ( 1997 – 2000 )
  5. Stef Agus ( 2000 – 2010)
  6. Semara Duran Antonius (2011- sekarang ).

  1. KERJASAMA GEREJA KATOLIK DAN NEGARA RI
Dalam konstelasi masyarakat internasional, Gereja Katolik sejak lama hadir sebagai sebuah institusi duniawi dengan nama Negara Vatikan. Sebagai sebuah Negara, Gereja Katolik membangun kerjasama internasional dengan Negara-Negara di seluruh dunia. Gereja masuk dalam pergaulan antar bangsa dan percaturan politik internasional bukan untuk menyatakan diri sebagai salah satu kekuatan kuasa politik dunia melainkan sebagai suatu kekuatan moral-religius dengan misi utama memperjuangkan kebenaran, keadilan dan pedamaian demi kesejahteraan hidup seluruh umat manusia.
Gereja Katolik masuk dan terlibat dalam pergaulan politik masyarakat dunia melalui dua jalur. Jalur petama adalah jalur institusional, yaitu Negara Vatikan dengan representasinya (Duta Vatikan) di berbagai Negara. Jalur kedua adalah jalur kewarganegaraan, di mana setiap anggota Gereja adalah juga warga dari suatu Negara. Kedua jalur ini sesungguhnya dan seharusnya menjadi dua kekuatan moral-religius yang dahsyat untuk memperjuangkan dan menegakkan kebenaran, keadilan dan perdamaian demi kesejahteraan hidup seluruh umat manusia secara utuh.
Kerjasama Gereja Katolik dan Negara pada dasarnya dimungkinkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Gereja dan Negara sama-sama merupakan dua bentuk masyarakat yang berdaulat tetapi serentak saling membutuhkan.
  2. Gereja dan Negara sama-sama memiliki cita-cita yang menjadi tujuan hidupnya, yaitu kesejahteraan hidup manusia, walau dengan penekanan berbeda.
  3. Secara internal, kerjasama itu secara mendasar dimungkinkan oleh Misteri Inkarnasi dan misteri Paska, misi perutusan Gereja sendiri, kecemasan dan harapan Gereja.
  4. Secara eksternal, kerjasama itu dimungkinkan oleh tanggungjawab Negara untuk menjamin hak dan kebebasan masyarakat agama.
  5. Secara khusus di Republik Indonesia, kerjasama itu menjadi sangat mungkin karena dijamin oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta peraturan-peraturan lainnya, juga oleh keberadaan Kementerian Agama dengan Bimas-Bimasnya.

Kementerian Agama terus berbenah diri untuk melaksanakan reformasi, reposisi, restrukturisasi, revitalisasi menuju pelayanan prima. Direktorat Jenderal Bimas Katolik sebagai salah satu unit tekhnis dalam lingkup tugas Kementerian Agama bertugas membantu Menteri Agama melaksanakan sebagian tugas umum pemerintahan dan pembangunan di bidang Agama Katolik serta mempunyai fungsi pelayanan dan sebagai fasilitator bagi masyarakat Katolik di Indonesia.

Ditjen Bimas Katolik menetapkan arah kebijakan dengan visi terwujudnya masyarakat Katolik yang seratus persen Katolik dan seratus persen warga negara yang Pancasilais. Visi ini merupakan mimpi besar untuk terwujudnya masyarakat Katolik yang kualitas iman dan taqwanya tinggi; terwujudnya kerukunan hidup beragama masyarakat Katolik dalam bingkai persatuan dan kesatuan; tertatanya pranata-pranata keagamaan Katolik; terkristalnya semangat kemandirian umat Katolik dan kesetiakawanan sosial atas dasar persaudaraan sejati; serta terwujudnya pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama Katolik secara dewasa. Visi dimaksud diimplementasikan dalam misi yaitu mengajak masyarakat Katolik untuk berperan secara aktif dan dinamis dalam mencapai tujuan pembangunan bangsanya. Misi ini meliputi :

  1. Mengajak Masyarakat Katolik untuk bersikap mengetahui, memahami, menghargai , menghormati keanekaragaman dan kemajemukan yang ada di sekitarnya. Misalnya: adat istiadat, suku, budaya, agama dan asal usul.
  2. Mengajak Masyarakat Katolik berkiprah di tengah pembangunan daerah dengan semangat persaudaraan sejati.
  3. Mengajak Masyarakat Katolik menggenggam paham kita dalam pola pikir dan perilaku.
  4. Mengajak Masyarakat Katolik untuk berperanserta secara aktif dan dinamis dalam mencapai tujuan pembangunan bangsanya.
  1. SASARAN STRATEGIS DAN PROGRAM BIMBINGAN MASYARAKAT KATOLIK

  1. Sasaran Strategis
Berdasarkan amanat RPJMN 2010-2014 yang selanjutnya dijabarkan dalam Rencana Strategis (RENSTRA) Kementerian Agama Tahun 2010 – 2014, dan secara teknis diuraikan lebih lanjut dalam Rencana Strategis (RESNTRA) Direktorat Jenderal Bimas Katolik Tahun 2010 – 2014 dinyatakan bahwa sasaran strategi nasional pembangunan bidang agama Katolik diarahkan pada 4 (empat) hal pokok yang menjadi tanggungjawab DITJENBIMAS Katolik, yaitu:
  1. Peningkatan kualitas kehidupan beragama yang difokuskan pada upaya peningkatan kualitas pemahaman dan pengamalan keagamaan, peningkatan kualitas pelayanan keagamaan, optimalisasi potensi ekonomi yang dikelola oleh pranata keagamaan, dan pemberdayaan lembaga sosial keagamaan.
  2. Peningkatan kerukunan umat beragama yang diarahkan pada upaya memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa dan pengembangan pemahaman keagamaan masyarakat berwawasan multikultural, gender dan HAM serta penyiapan program siaga dini pencegahan konflik umat beragama;
  3. Peningkatan kualitas Seminari, Perguruan Tinggi Agama, pendidikan agama, dan pendidikan keagamaan yang diprioritaskan pada upaya peningkatan akses, mutu, relevansi dan daya saing pendidikan agama dan pendidikan keagamaan;
  4. Penciptaan tatakelola kepemerintahan yang bersih dan berwibawa yang difokuskan pada upaya mewujudkan reformasi birokrasi secara menyeluruh, khususnya di instansi DITJENBIMAS Katolik pusat.
  1. Program Bimbingan Masyarakat Katolik:
Kebijakan Strategis untuk mengimplementasikan arah kebijakan adalah: melaksanakan kegiatan Pertemuan Pembinaan, Sosialisasi, Penyusunan Standar Kerja, Penyusunan Kurikulum dan bahan Ajar yang bersifat STRATEGIS NASIONAL/REGIONAL TINGKAT PUSAT, dan LOKAL PROVINSI DI MASING-MASING DAERAH. Di samping itu juga mendistribusikan kegiatan pembinaan dalam bentuk BANTUAN, baik berupa DANA maupun SARANA PERALATAN, dan BUKU-BUKU ke masyarakat Katolik di seluruh Indonesia.

Berdasarkan Distribusi Pagu dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, maka arah kebijakan DITJENBIMAS Katolik diimplementasikan ke dalam PROGRAM BIMBINGAN MASYARAKAT KATOLIK yang diimplementasikan ke dalam 3 (tiga) Fungsi, dan 3 (tiga) Kegiatan sebagai berikut :
  • Fungsi Pelayanan Umum, dengan Kegiatan :
              1. Kegiatan Dukungan Manajemen dan Dukungan Teknis Lainnya.


  • Fungsi Agama, dengan Kegiatan Pengelolaan dan Pembinaan Urusan Agama Katolik:
  1. Memberikan informasi tentang peraturan per-Undang-Undangan yang berlaku dan kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah di bidang sosio-keagamaan kepada masyarakat Katolik agar mengetahui hak dan kewajibannya, kemudian dapat mengatur dirinya dengan sebaik-baiknya dalam kebersamaan dengan elemen bangsa lainnya;
  2. Memberikan pengarahan dan petunjuk-petunjuk praktis kepada masyarakat Katolik dalam pemenuhan prosedur-prosedur hukum dan prosedur administrasi dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan keagamaan Katolik, Politik, Kenegaraan, misalnya prosedur administratif pembangunan tempat-tempat peribadatan, pengadaan tenaga Guru Pedidikan Agama Katolik, prosedur administrasi dan persyaratan-persyaratannya untuk memperoleh bantuan dari Pemerintah, dsb;
  3. Memberikan pelayanan administratif kepada masyarakat Katolik berupa surat-surat keterangan, rekomendasi, perijinan bahkan surat-surat keputusan untuk memenuhi persyaratan dan kebutuhan sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku;
  4. Membantu penyelesaian masalah- masalah atau kasus-kasus kemasyarakatan yang erat hubungannya dengan keagamaan Katolik, agar kehidupan dan kegiatan-kegiatan agama Katolik berjalan sebagaimana mestinya;
  5. Memberikan bantuan sarana fisik keagamaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Katolik seperti misalnya Kitab Suci, bantuan untuk pembangunan atau rehabilitasi rumah ibadat, bantuan untuk membangun gedung dan peralatan lembaga pendidikan agama, bantuan untuk Guru Pendidikan Agama Katolik, bantuan untuk Ormas Katolik (PMKRI, Pemuda Katolik, WKRI), FMKI, ISKA;
  6. Memberikan bantuan penyuluhan kepada kelompok masyarakat terasing, kelompok kategorial, kelompok masyarakat khusus.
  • Fungsi Pendidikan, dengan Kegiatan Pengelolaan dan Pembinaan Pendidikan Katolik :
  1. Merancang kurikulum Pendidikan Agama Katolik tingkat dasar sampai perguruan tinggi;
  2. Melaksanakan pengadaan, pengangkatan, penempatan;
  3. Pembinaan Guru Pendidikan Agama Katolik, Pengawas Pendidikan Agama Katolik tingkat SD, SMP, dan SMA, serta Dosen;
  4. Menyusun Juklak Pembinaan Guru Pendidikan Agama Katolik dan Pengawas Pendidikan Agama Katolik, dan Dosen Pendidikan Agama Katolik;
  5. Mengadakan buku pendidikan agama Katolik di sekolah (SD, SMP, SMA);
  6. Memberikan bantuan pembinaan kehidupan keagamaan bagi siswa-siswi sekolah (SD, SMP, SMA);
  7. Mengembangkan kehidupan keagamaan bagi siswa-siswi Sekolah (SD, SMP, SMA, PERTI);
  8. Menyusun buku pegangan Guru Pendidikan Agama Katolik dan buku pegangan siswa mata pelajaran Pendidikan Agama Katolik (SD, SMP, dan SMA, PERTI);
  9. Menyusun kurikulum Pendidikan Agama Katolik di perguruan tinggi umum;
  10. Memberikan bantuan kepada Guru/Tenaga Teknis Keagamaan dan Dosen Pendidikn Agama Katolik tidak tetap (honor);
  11. Memberikan bantuan penelitian di bidang Pendidikan Agama Katolik.
  1. HARAPAN PEMERINTAH TERHADAP KARYA PASTORAL GEREJA NUSA TENGGARA
Gereja Katolik Nusa Tenggara dalam perjalanan sejarah telah berjasa meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik untuk perkembangan iman maupun karya-karya sosial ( Bidang pendidikan, kesehatan dan lainnya).
Gereja Katolik Regio Nusa Tenggara yang meliputi tiga wilayah propinsi (Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur), memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, juga dengan berbagai macam permasalahan yang dihadapi. Duka dan kecemasan, kegembiraan dan harapan umat Nusa Tenggara menjadi duka dan kecemasan, kegembiraan dan harapan Gereja. Eksistensi pelayanan pastoral dari ketiga wilayah ini harus dicermati dengan karakteristik umat yang dilayani. Propinsi Bali yang masyarakatnya kental dengan budaya dan nuansa Agama Hindu; Propinsi Nusa Tenggara Barat yang sangat kental dengan Agama Islam dan Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduk beragama Katolik dan Kristen Protestan ; Permasalahan yang dihadapi juga sangat banyak seperti kemiskinan, masalah perantauan, kurangnya kualitas sumber daya manusia, kekerasan dalam rumah tangga, rendahnya penegakan hukum dan keadilan, kekerasan atas nama agama, dekadensi moral, narkoba, korupsi yang merajalela, pergeseran nilai-nilai budaya sebagai akibat dari derasnya arus informasi dan globalisasi (materialisme, mental intant, hedonisme, konsumerisme dll).

Kondisi ini menjadi keprihatinan semua komponen bangsa termasuk keprihatinan Gereja Katolik. Gereja dan Pemerintah perlu terus bergandengan tangan, berjuang menjadikan masyarakat yang sejahtera lahir batin sesuai harapan dan cita-cita bersama.

Untuk itu beberapa harapan untuk karya Pastoral Gereja Nusa Tenggara adalah :
  1. Gereja harus tetap selalu berpihak pada kaum lemah dan tertindas.
  2. Gereja tetap menjalankan fungsi kritik sosial dan menawarkan konsep ideal, humanistic, kebenaran, keadilan, kejujuran.
  3. Membangun kemitraan dan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam konsep-konsep dan perjuangan membangun kehidupan masyarakat/umat.
  4. Membangun kemandirian umat dan penguatan fungsi/ tugas pelayanan umat.
  5. Berjuang memotivasi pembangunan.
  6. Membuka peluang adanya Sekolah Negeri.
Inilah beberapa harapan, namun masih banyak harapan yang sangat dibutuhkan dalam karya dan pelayanan Gereja ke depan. Kesemuanya tentu menjadi tekad bersama Pemerintah dan Gereja untuk menjadikan masyarakat/ umat yang sejahtera lahir batin.

  1. PENUTUP.
Demikianlah beberapa pokok pikiran yang dapat saya sampaikan pada forum yang bermartabat ini. Kemitraan dan semangat kerjasama Pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Katolik dan Gereja menjadi suatu tekad serta dambaan yang harus terus dibina dari waktu ke waktu menjadikan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Nusa Tenggara semakin beriman, rukun dan sejahtera dalam semangat kasih dan persaudaraan.

Kupang, 18 Juli 2012
Direktur Jenderal Bimas Katolik
Kementerian Agama RI
Semara Duran Antonius, S.Sos

SPIRITUALITAS KATEKESE



Materi Sidang Pastoral NUSRA Juli ‘12

Spiritulitas Katekese bertujuan melihat dan mengerti menyadari dan menghayati jiwa, semangat atau roh berkatekese. Secara umum isi dari katekese adalah “menampilkan dalam Pribadi Kristus seluruh rencana kekal Allah yang mencapai kepenuhannya dalam Pribadi (Kristus) itu. Katekese bermaksud mendalami arti kegiatan dan kata-kata Kristus, begitu pula tanda-tanda yang dikerjakan-Nya, sebab semuanya itu sekaligus menyelubungi dan mewahyukan misteri-Nya.” 1
Dalam arti ini, spiritualitas pertama katekese bersifat kristosentris atau berpusat pada Kristus. Tidak ada katekese yang benar yang tidak berasal dari Kristus dan kembali kepada Kristus. Apapun yang diajarkan dalam katekese harus selalu bermuara pada Kristus. Boleh ada banyak refleksi, banyak ceritera dalam katekese, tetapi katekese itu tidak memiliki nilai atau makna kateketis bila terlepas dari acuan atau referensi pada Pribadi Kristus.
Referensi atau acuan pada Pribadi Kristus menuntut relasi atau kontak personal dengan Kristus. Supaya katekese efektif dan berhasil, harus ada hubungan pribadi atau kontak personal dengan Pribadi Kristus. Itu berarti siapa saja yang menamakan dirinya katekis harus memiliki waktu spesial dan menyiapkan tempat yang khusus untuk memasuki persekutuan hidup yang mesra dengan Kristus dan mengalami kedekatan yang amat pribadi dengan-Nya. Bagi seorang katekis tidak bisa ada alasan apa saja untuk tidak membangun dan memelihara relasi dan komunikasi pribadi dengan Kristus, karena yang ia ajarkan dan wartakan dalam katekese bukan “ajarannya sendiri, atau entah ajaran seorang guru lain, melainkan ajaran Yesus Kristus, Kebenaran yang diajarkan-Nya, atau lebih cermat lagi: Kebenaran yang tak lain ialah Dia sendiri”2 Untuk maksud dan tujuan inilah, “betapa tekun seorang katekis harus mendalami Sabda Allah yang disalurkan oleh Magisterium Gereja, betapa ia harus akrab-mesra dengan Kristus dan dengan Bapa, betapa ia harus mempunyai semangat doa, dan mengingkari diri, untuk dapat menyatakan: ‘Ajaranku bukan ajaran ku’.”3
Katekese yang mengajarkan dan mewartakan Pribadi Kristus “menggali isinya dari sumber hidup, yakni Sabda Allah yang disalurkan dalam Tradisi dan Kitab Suci. Sebab Tradisi suci dan Kitab Suci merupakan hanya satu khazanah kudus sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja.”4 Karena itu spiritualitas kedua katekese bersifat biblicalsentris atau berpusat pada Kitab Suci. Isi katekese tidak dapat lain selain isi pewartaan Injil secara menyeluruh yang memuat satu-satunya Amanat, yakni “Warta Gembira Keselamatan”5 yang ditulis dalam Kitab Suci. Dengan ini katekese mesti menggembirakan. Janganlah katekese membuat orang atau umat selaku pendengar loyo, capeh atau payah, letih lesu, jenuh dan bosan. Untuk itu seorang katekis harus lebih dahulu gembira dan menggembirakan, dia harus hidup dan menghidupkan, gesit dan menggesitkan.
Sifat biblicalsentris dari katekese yang gembira dan menggembirakan meminta perhatian serius dari setiap katekis terhadap “kenyataan bahwa katekese harus diwarnai dan diresapi oleh gagasan, semangat dan visi Kitab Suci serta Injil melalui kontak terus-menerus dengan teksnya sendiri; tetapi juga mengingatkan bahwa katekese akan menjadi semakin kaya dan lebih efektif untuk membaca teks-teks dengan pengertian serta hati Gereja, dan untuk menggali inspirasi dari refleksi serta kehidupan Gereja selama dua ribu tahun.”6 Secara spiritual ada dua pikiran sentral yang ditekankan di sini.
Pikiran pertama, seorang katekis mesti memiliki wawasan dan gagasan, semangat dan visi Kitab Suci serta Injil yang utuh dan luas. Untuk itu dia mesti melakukan kontak terus-menerus dengan Kitab Suci melalui kebiasaan membaca dan merenung teks Kitab suci untuk bisa memahami dan menghayati isi dan maknanya bagi kehidupan. Tentu pendekatan bukan terutama bersifat ilmiah, akademis-sistematis, tetapi terlebih bersifat spiritual seperti ditegaskan oleh Beato Yohanes Paulus II. Sama seperti imam, katekis “sendiri terutama wajib mengembangkan keakraban yang sangat pribadi dengan Sabda Allah. Tentu saja dibutuhkan pengetahuan segi-segi bahasa atau tafsirnya, tetapi itu belum mencukupi. (Katekis) hendaklah mendekati Sabda Allah dengan hati yang terbuka dan dalam sikap doa, sehingga sabda itu secara mendalam meresapi pikiran maupun perasaannya, dan menciptakan wawasan baru padanya, ‘pikiran Kristus’ (1Kor 2:16). Dengan demikian kata-kata, pilihan-pilihan dan sikap-sikapnya akan makin menjadi refleksi, pewartaan dan kesaksian tentang Injil.”7
Pikiran kedua, membaca dan merenungkan teks-teks Kitab Suci ‘dengan pengertian dan hati gereja.’ Dalam kesatuan dengan tradisi suci, “Kitab Suci merupakan satu perbendaharaan keramat sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja” (DV 10). Maka “tugas untuk menjelaskan Sabda Allah secara mengikat, hanya diserahkan kepada Wewenang Mengajar Gereja, kepada Paus dan kepada para Uskup yang bersatu dengannya dalam satu paguyuban” (KGK 100). Dalam melaksanakan tugas ini, Wewenang Mengajar itu tidak berada di atas sabda Allah, melainkan melayaninya, yakni dengan hanya mengajarkan apa yang diturunkan saja, sejauh sabda itu, karena perintah ilahi dan dengan bantuan Roh Kudus, didengarkannya dengan khidmat, dipeliharanya dengan suci dan diterangkannya dengan setia” (DV 10). Karena itu, hendaklah seorang katekis tidak boleh melupakan ajaran-ajaran Gereja yang terbit dan beredar dalam dokumen-dokomen Gereja, ensiklik-ensiklik yang dikeluarkan oleh Paus-Paus. Jangan sampai yang ada di rumah setiap katekis hanya koran-koran atau hanya novel-novel atau film-film saja.
Sifat keempat spiritualitas katekese saya sebut culturalsentris. Katekese sebagai salah satu jalan pewartaan iman katolik tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan. Magisterium Gereja menegaskan: “Katekese, begitu pula pewartaan Injil pada umumnya, dipanggil untuk mengantar kekuatan Injil merasuki inti kebudayaan serta kebudayaan-kebudayaan. Untuk maksud itu katekese akan mencoba memahami kebudayaan-kebudayaan itu beserta komponen-komponennya yang pokok. Katekese akan mempelajari ungkapan-ungkapannya yang paling relevan. Katekese akan menghormati nilai-nilai serta kekayaan khas kebudayaan-kebudayaan.”8 Dari penegasan ini ada satu pikiran berkaitan dengan sifat culturalsentris dari katekse.
Pertama, kebudayaan dapat merupakan ‘jalan menurun’ dari misteri iman menuju manusia. Untuk setiap agen pastoral seperti katekis, “kebudayaan bagi Gereja merupakan jalan pewartaan kepada manusia dan jalan evangelisasi iman kepada dunia. Melalui kebudayaan, pewartaan Injil dan evangelisasi iman Kristen dapat diteruskan dan dilanjutkan kepada bangsa-bangsa serta dapat menyapa dan menyentuh manusia dari kebudayaan dan tradisi, adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda-beda.”9
Tanpa kebudayaan, iman tetap menjadi misteri dan asing bagi manusia. Akan tetapi melalui kebudayaan iman itu tidak lagi misterius atau asing, melainkan menjadi jelas dan terbuka untuk diketahui dan dipelajari oleh manusia. Alasan utamanya adalah karena “Allah, yang mewahyukan Diri kepada umat-Nya hingga penampakan Diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman” (GS 58). Secara sederhana, kebudayaan menjadi bahasa Allah untuk berbicara dan menyapa manusia pada pelbagai zaman dan generasi. Seperti Allah, begitu juga setiap katekis dalam perjalanan Gereja sepanjang zaman mesti dan harus “memanfaatkan sumber-sumber aneka kebudayaan untuk melalui pewartaannya menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan Kristus kepada semua bangsa, untuk menggali dan makin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang beranekaragam” (GS 58).
Kedua, selain merupakan ‘jalan menurun’, kebudayaan juga dapat menjadi ‘jalan naik’ menuju Allah. Manusia seperti kita tidak mungkin dapat mengungkapkan diri dan berkomunikasi dengan Allah kalau bukan melalui kebudayaan. Dalam kebudayaan ada bahasa, ada banyak simbol. Melalui bahasa dan simbol dari aneka kebudayaanlah kita dapat membangun relasi, dialog dan komunikasi dengan Allah baik dalam doa-doa devosional maupun dalam ibadat-ibadat resmi liturgi Gereja. Sudah barang tentu kebudayaan tidak dapat diadopsi secara lurus-lurus seperti apa adanya untuk berkomunikasi dengan Allah atau juga untuk mengkomunikasikan Allah kepada manusia. Umat beriman, khususnya para katekis harus memiliki sikap “kritis dan selektif. Sikap ini diperlukan karena tidak setiap manifestasi kebudayaan pasti nilainya positif, baik dan berguna”10 bagi pemahaman dan penghayatan iman pribadi dan terlebih bagi kesatuan Gereja.
Masih amat dekat dengan sifat culturalsentris, sifat keempat spiritualitas katekese boleh saya sebut sifat aktualsentris. Sifat aktualsentris ini meminta dan bahkan menuntut agar para katekis mengajarkan iman Katolik menurut “prinsip aggiornamento11 atau prinsip aktualitas atau relevansi hari ini. Ajaran iman Katolik tidak boleh disajikan secara abstrak-spekulatif seakan-akan iman Katolik itu turun dari langit yang tinggi dan jauh serta tidak masuk akal manusia dan tidak menyentuh kondisi hidup sehari-hari. Untuk itu setiap katekis mesti bisa mengikuti perkembangan situasi dan mengetahui informasi tentang berbagai kejadian aktual setiap hari. Dengan cara demikian, ajaran iman Katolik dapat mendarat pada pengalaman manusia yang nyata dan memberi makna yang benar pada kejadian aktual sehari-hari.

Ruteng, Paro Juli 2012

Mgr. Hubertus Leteng
Uskup Ruteng.

1 Paus Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik “Catechesi Tradendae”, 5 (SDG No 28), Dokpen KWI, Jakarta, 1992.

2 Ibid., no 6.

3 Ibid., no 6.

4 Ibid., no 27.

5 Ibid., no 26.

6 Ibid., no 27.

7 Beato Yohanes Paulus II, Anjuran Apostolik “Pastores Dabo Vobis” , 26 (SDG No 25), Dokpen KWI, Jakarta, 1992.

8 Catechesi Tradendae 53.

9 Hubertus Leteng, Spiritualitas Imam Praja Berakar pada Gereja Lokal, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2010, p. 166.

10 Hubertus Leteng, Op.cit., p. 173.

11 ID., Spiritualitas Imamat Motor Kehidupan Imam, Penerbit Ledalero, Maumere, 2003, p. 18.

Menjadi Pewarta yang Gesit dan Menggesitkan #Hari III PERPAS XI NUSRA

Muda-mudi Raknamo, urgensi bina iman orang muda
Empat orang uskup, pada hari ketiga PERPAS IX ini, memberikan pandangan, penilaian dan masukan untuk katekese dan pewartaan di daerah Nusa Tenggara.

Uskup Maumere, Mgr Gerulfus Kherubim Pareira, menegaskan tentang pentingnya pendidikan Iman. “Iman yang matang dan dewasa perlu dididik dan bukan hanya sebatas diajar!” Di sini, katekese bisa dipahami sebagai upaya Gereja untuk menolong umat beriman agar mereka dapat bertumbuh dan berkembang dalam iman menuju kematangan dan kedewasaan iman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hidup menggereja maupun hidup bermasyarakat.

Kenyataannya aspek mayoritas kekatolikan di NTT belum begitu mempengaruhi mutu penghayatan iman umat. Contoh yang paling populer adalah perbandingan antara jumlah peserta katekese sesuai pengamatan sehari-hari. Kebanyakan yang hadir adalah ibu dan anak-anak.

Melihat kenyataan yang memprihatinkan tersebut, Uskup menawarkan beberapa hal konkret untuk diupayakan. Penting mengawali semuanya dari dalam keluarga. Nilai-nilai luhur kristiani perlu diupayakan antara lain melalui kebiasaan berdoa bersama di dalam keluarga-keluarga di NTT. Pembinaan iman seyognyanya bukan lagi dari mendengar menuju melihat, tapi sebaliknya dari melihat menuju mendengar. Ini semua hanya mungkin dengan sikap keteladanan.

Uskup Weetebula, Mgr Edmund Woga CSsR menyatakan bahwa sebagai orang kristen kita perlu meluangkan waktu untuk bermesraan dengan Yesus. Datang dan diam di hadapan Yesus adalah dasar spiritualitas pewartaan dan katekese. Spiritualitas seorang katekis bersumber pada katekis ulung dan sejati kita yakni Yesus Kristus. Dialah Guru sejati, sang gembala agung yang mengajar dengan sempurna baik perkataan dan perbuatan kepada umat-Nya.

Uskup Ruteng, Mgr. Hubertus Leteng menegaskan bahwa evangelisasi merupakan bagian integral dari hidup menggereja. Kita semua dipanggil dan diutus untuk mewartakan Injil ke seluruh dunia. Inilah amanat agung Tuhan kita Yesus Kristus, yang mesti diemban: menjadikan segala bangsa sebagai murid-muridNya.

Tantangan dari evangelisasi baru ini adalah situasi sekarang yang diwarnai oleh pluralisme. Perkembangan dan pertumbuhan iman kita ada dalam lingkungan pluralitas budaya. Untuk itu perlulah dikembangkan kemampuan dialog baik dialog inter umat beragama maupun dialog antar agama.

Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang menandaskan perihal katekese dan pengembangan sosial ekonomi. Dengan mengacu pada Ajaran Sosial Gereja, Bapak Uskup menegaskan bahwa barang-barang yang ada di dunia ini ada untuk kebutuhan manusia tetapi barang-barang tersebut, tidak cukup untuk memenuhi ketamakan manusia. Tak bisa disangkal adanya kejahatan di dunia, namun kebaikan dan kejahatan bisa dicarikan jalan keluar oleh manusia. Tuhan sendiri sudah memberikan jalan-jalan untuk itu. Gereja yang mendapat tugas dalam bidang kerasulan sosial ekonomi tidak boleh membuat diri kita terasing dari masyarakat. Itulah pendasaran adanya “katekese sosial”.

Katekese di bidang PSE sebenarnya sudah dimulai dari dulu, apa yang ada dengan proyek-proyek besar ini yang telah ada sejak tahun 1960-an. Karena sikap ingat diri yang terlalu tinggi, daerah Nusa Tenggara ini tidak berhasil. Yang perlu diperbuat adalah menjaga keseimbangan: upaya pembangunan tidak untuk memperkaya lembaga tetapi justru lembaga-lembagalah harus memperkaya seluruh anggota/umat.

Tentang perpolitikan, Gereja harus mengakui tentang kurangnya pembinaan dan pendidikan politik untuk para awam. Untuk itu, perlu diupayakan pembentukan kader-kader politik melalui Kegiatan Kerasulan Awam. Kehidupan berpolitik yang baik datang dari pemahaman memadai tentang sosialitas manusia.

Akhirnya, dua hal bisa disimpulkan dari materi para Uskup hari ini. Yang pertama pewarta/guruagama/katekis, bertugas membantu orang muda mengembangkan iman dan mampu hidup beriman dalam kehidupan bersama. Maka titik pangkalnya ialah membantu orang-orang muda menemukan pengalaman akan Allah dalam kehidupan mereka, sehingga pengalaman akan Allah itu menjiwai kehidupan mereka. Yang kedua, sebagaimana ditegaskan dalam Evangelii Nuntiandi, penginjilan berarti membawa Injil kepada semua orang sehingga mengubahnya dari dalam (EN 18), maka pelayanan Sabda haruslah menjadikan Sabda itu mengubah kehidupan orang menjadi lebih baik. Singkatnya, “kita mesti menjadi pewarta yang gesit dan menggesitkan” demikian kata Mgr Edmund Woga, CssR, Uskup Weetebula.


Thursday, July 12, 2012

Sebuah Pelajaran tentang Ketahanan Menderita

Namanya Flavianus Mario. Lahir 17 tahun yang lalu. Seorang lelaki remaja yang sedang duduk di kelas dua SMA. Peri kehidupannya telah meninggalkan pelajaran yang amat berharga bagi saya dan keluarga besar saya. Dia adalah putera bungsu dari empat bersaudara, disayang dan dicintai oleh seluruh anggota keluarga, baik keluarga dekat maupun jauh.

Hari Rabu pagi, 4 Juli 2012. Saya mendapat SMS dari adik saya. “Saya sekarang di rumah. Vian lagi sakit. Baru-baru dia jatuh terkapar, dan pahanya membengkak. Kasihan sekali, kondisinya memburuk”. Aku menarik napas panjang. Penderitaan selama kurang lebih tiga tahun itu hampir mencapai puncaknya.

Berawal dari demam tinggi tiga tahun lalu, Vian, si bungsu ini dilarikan ke Rumah Sakit. Dokter memvonisnya dengan malaria vivax akut, yang menyebabkan pembengkakan limfa. Setelah dirawat beberapa hari, Vian boleh pulang ke rumah. Namun, hari-hari setelah itu, Vian selalu mengeluh sakit terutama di bagian bawah perutnya, dan nyeri di bagian situ hanya sedikit reda kalau ditekan. Perutnya semakin membengkak dan mengeras. Kedua orangtuanya bertanya-tanya, sakit apa gerangan anakku tersayang?

Ke Kupang, September 2011, bertemu dengan beberapa dokter ahli, kedua orangtua akhirnya seperti putus asa. Vian divonis stadium enam kanker sumsum. Kata dokter, bisa dioperasi: pembedahan tulang, namun ini Cuma untuk memperpanjang usianya. Peluang untuk kembali sembuh, sama sekali tak ada. Apa lacur? Ibunya menangis seharian di dalam kamar. Ayahnya terdiam. Pasrah. Langkah berikutnya adalah mencari langkah pengobatan alternative. Oleh seorang dukun terkenal di kampungnya, Vian disuruh meminum berbagai ramuan. Hasilnya: tak ada perubahan. Kondisinya dari hari ke hari semakin menurun. Badannya kurus tinggal kulit membalut tulang, perutnya semakin bengkat dan mengeras.

Pernah suatu ketika, Vian mengeluh, “Apakah anak-anak cuma saya saja, sehingga penyakit ini saya yang mesti tanggung sendiri? Apakah saya bisa sembuh?" Hingga akhirnya badannya drop.

Dalam perjalanan pulang mengunjungi bibinya di rumah sebelah, Vian terkapar di jalan, karena tersandung. Pahanya lansung membengkak, badannya panas dan ia mulai gelisah. Hari rabu malam, penderitaannya memuncak, dan akhirnya dengan pasrah Vian berkata: "saya sudah tidak tahan lagi. Saya hanya tunggu saat ajal saya."

Saya tiba dirumah, setelah menempuh perjalanan sepanjang 150 km itu, pukul 8.30. saya melihat kondisinya yang sudah kritis. Saya cepat-cepat menelpon Pastor Paroki, meminta minyak suci. Dan malam itu Vian menerima Sakramen Perminyakan Orang Sakit. Sepuluh menit setelah itu, Vian dengan pasrah menghembuskan nafas terkahir. Jenzahnya dimandikan, diratapi, dan akhirnya dikebumikan dengan tenang di sisi kuburan kakeknya.








Saya teringat kisah pemuda dari Nain yang dibangkitkan Yesus. Vian dalam usianya yang masih begitu muda harus menderita banyak sebelum akhirnya berpulang. Satu hal yang saya dapatkan dari kesaksian hidup Vian, keponakan tersayang ini, adalah ketahanan untuk menderita. Vian yang sudah divonis sebagai” anak yang sakit-sakit” tetap tekun mengikuti kegiatan di sekolah, tetap ramah, dan tak suka marah-marah. Ia dicintai oleh semua orang yang pernah mengenalnya.

Kini saya yakin dia telah berbahagia di sisi Tuhan. Selamat jalan Vian. Doakan kami yang masih mengembara di dunia!