Sunday, March 24, 2013

Berkat untuk Para Penambal Ban

Di tepi jalan Timor Raya, Noelbaki Kupang, tepat di atas selokan, aku duduk mengamati lelaki itu membuka ban sepedamotor. Ban belakang gembos ketika aku dalam perjalanan berburu Sunset sore tadi. Karena terus dikendarai meski roda sedang gembos, lelaki tadi nampak kesulitan membuka roda belakang. Besi pengungkitnya bengkok. Tangannya tergores dan berdarah. Aku berniat membantu, tapi bingung harus membantu bagaimana. Di ruang tamu di dalam rumah, si ibu sedang bersiap-siap entah kemana, dijemput kenalan. Akhirnya aku terus duduk dan mengamati perjuangan lelaki muda itu.

Untunglah, seorang anak remaja, yang rupanya baru selesai mandi, mau memberikan pertolongan. Wuih, orang ini rupanya lebih mengerti mekanika. Dengan sekali dongkel, ban luar terlepas dari feleks, dan ban dalam pun diangkat keluar. Aku bernapas lega.

Tindakan berikutnya adalah mencari lubang bocoran. Ban dalam kembali digembungkan, lalu dibenamkan ke dalam air dalam wajan besar. Setelah menemukan bocoran yang diketahui dari gelembung-gelembung udara yang melesak keluar, bagian tersebut ditandai dengan tusukan lidi. Ban kembali digemboskan. Sepotong karet hitam ditempelkan pada bocoran tersebut, lalu ditindih dengan pemberat yang dibuat khusus. Lalu diletakkan diatas perapian kecil. Perapian itu terbuat dari bekas setrika arang. Setelah menanti kira-kira sepuluh menit, ban sudah kembali utuh dan siap dipasang kembali.

Aku harus segera pulang. Di rumah sudah menanti teman-teman dengan masakan jagung hasil panen dari kebun. Mereka pasti sudah tak sabar menunggu. Sementara itu beberapa sepedamotor sudah mengantri, untuk ditambal bannya.

Pekerjaan menambal ban seperti ini pasti bukan menjadi favorit pilihan anak-anak muda jaman sekarang. Itu pasti. Banyak orang tua pasti tak rela anaknya cuma menjadi seorang penambal ban. Tetapi, kalau semua tak mau menjadi penambal roda kendaraan, lantas mau dikemanakan kendaraan yang rodanya gembos seperti ini?

Yah, memang harus diakui kita cenderung menilai pekerjaan dari besarnya imbalan yang diperoleh. Pekerjaan penambal ban, pasti akan kalah bersaing dengan kasir bank. Akan tetapi sejatinya, apapun pekerjaan itu, selalu bernilai mulia, karena pertama-tama manusialah yang melakukannya. Berharganya suatu pekerjaan bukan karena besarnya pendapatan yang akan diperoleh. Kalau kita mau untuk melihat pekerjaan dengan kacamata seperti ini, niscaya kita akan melakukan tugas dan pekerjaan kita dengan senang hati. Semua pekerjaan; besar atau kecil selalu merupakan partisipasi manusia dalam karya penciptaan Tuhan di dunia.

Aku ingin berdoa dan memberkati para penambal ban. Terimakasih, kini aku dapat melaju kembali dengan tentang, hingga sampai tujuan dengan selamat. ***


Friday, March 22, 2013

Video dan Lirik Lagu Mars STIPAS KAK




STIPAS rentangkan sayapmu 
STIPAS kobarkan s’mangat juangmu 
Maju pantang mundur 
Demi damai Yesus Kristus 

Hilangkan rasa bimbang dan ragu 
Tuhan bersamamu 
Tugasmu suci rahmat ilahi 
Membangun dunia 

Wartakan cinta Tuhan 
dengan ilmu dan iman 
Kobarkan api cinta 
kobarkan s’mangat juang 
Demi cita-cita hidupmu 

wartakan sabda Tuhan 
ke seluruh dunia 
 dengan bahagia dan adil 

STIPAS, STIPAS 
maju terus pantang mundur!

Thursday, March 21, 2013

Perdhaki Kupang Sosialisasi Bebas TB



Penyakit TB atau yang dulu dikenal dengan TBC sudah saatnya tidak lagi menjadi momok bagi masyarakat. Masyarakat harus bebas dari TB. Kuncinya adalah sosialisasi dari para kader dan kemauan bersama untuk memberantas penyakit tersebut.

Ada anggapan yang keliru bahwa TB merupakan penyakit kutukan, penyakit turunan. Nyatanya, dengan terapi yang disiplin baik dari perawat maupun pasien, para penderita TB bisa sembuh  total.
Perdhaki KAK bekerjasama dengan Pemkot Kupang menyelenggarakan malam sosialisasi Bebas TB bertempat di taman Nostalgia Kupang. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa tokoh agama dan para kader dari Kupang, Soe dan Amarasi Barat.  

Selain ceramah sosialisasi dari Tim Kampanye Bebas TB, ada juga acara-acara selingan seperti bonet dari Soe, tarian Jai dan fragmen dari AMarasi Barat. Fragmen ini berkisah tentang seorang ibu yang menjadi korban TB namun karena kepicikan keluarganya hampir-hampir ibu ini diasingkan karena “penyakit kutukan” tersebut. Untunglah mereka segera ditolong oleh seorang kader yang segera membantu ibu itu untuk menjalankan terapi TB hingga benar-benar sembuh.
Bersama Kita Bisa: Kader, Pemerintah dan Tokoh Agama

Foto Bersama Para Kader dan Tokoh Agama

Peserta dari Soe membawakan Tarian Bonet


Acara ini merupakan permulaan dari Bulan Kampanye TB 2013 yang akan mulai pada 24 Maret – 24 April 2013. Selama bulan ini para petugas medis, terutama para kader khusus akan berusaha untuk mendidik dan mengajar masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya tentang bahaya TB dan upaya penanggulangannya. Diharapkan ke depan masyarakat benar-benar bebas TB.

Punya teman, kenalan atau bahkan anggota keluarga yang menderita TB? Silakan hubungi puskesmas terdekat!

Wednesday, March 20, 2013

Musical Excerpts - Liturgi St Yohanes Krisostomus

Video ini saya temukan setelah mencari-cari dengan penasaran perbedaan antara liturgi katolik Timur dan katolik Latin. Ternyata lagu dalam Divine Liturgi ini sangat indah dan menyejukkan. Setiap kali membuka computer, lagu ini selalu menjadi backsound bagi saya. Entah itu sekedar membuka fb dan twitter atau sedang menyiapkan bahan kuliah untuk para frater. Kekayaan tradisi gereja seperti ini perlu terus dilestarikan. Ritus gereja Latin juga punya banyak sekali lagu-lagu yang indah. Sayangnya, banyak orang sekarang terburu-buru melakukan inkulturasi dalam music liturgy. Tanpa pemahaman teologis yang memadai, music inkulturasi justru akan merusak suasana liturgy. Dengan music inkulturasi yang tidak matang, musik Gereja alih-alih menghantar ke suasana transenden, mengangkat hati menuju yang ilahi, justru menggambarkan suasana etnik primitive. Terasa seperti ketika orang belum mengenal pewartaan Injil dan masih menanggap batu dan kayu sebagai Tuhan.

Ini videonya:

Tentang Liturgi Suci

Liturgi Suci adalah sebutan untuk ibadat Ekaristi atau Perjamuan Kudus dalam liturgi Kristiani tradisi Bizantium. Oleh karena itu, sebutan Liturgi Suci digunakan dalam Gereja-Gereja Ortodoks Timur dan Gereja-Gereja Katolik Timur. Komunitas Kristen Armenia, baik yang tergabung dalam Gereja Apostolik Armenia maupun Gereja Katolik Armenia, juga menggunakan sebutan ini. Beberapa Gereja Ortodoks Oriental menggunakan istilah "Kurban Suci" (Bahasa Syria: qurbono qadisho, Bahasa Armenia: surb patarag) untuk menyebut liturgi Ekaristi. Liturgi Ekaristi Ritus Latin juga kadang-kadang disebut Liturgi Suci (Bahasa Latin: Divina Liturgia), namun lebih umum disebut Misa. Dalam tradisi Kristiani Timur, khususnya tradisi Gereja Ortodoks Timur, Liturgi Suci dipandang melampaui waktu dan dunia. Seluruh umat beriman diyakini dipersatukan dalam penyembahan di dalam Kerajaan Allah bersama-sama dengan orang-orang kudus yang telah berpulang, dan malaikat-malaikat di surga. Dari sudut pandang ini, segala sesuatu dalam Liturgi Suci dilihat sebagai lambang, namun juga tidak sekedar perlambang belaka, akan tetapi menjadikan realitas yang tak kasat mata itu mewujud nyata.

Menurut tradisi dan keyakinan Kristiani Timur, Liturgi Suci berakar pada peribadatan Agama Yahudi dan adaptasi dari ibadat Agama Yahudi oleh umat Kristiani perdana. Hal ini dapat dilihat pada bagian pertama Liturgi Suci, yakni "Liturgi Sabda" yang meliputi pembacaan ayat-ayat kitab suci dan khotbah/homili. Bagian keduanya diyakini ditambahkan berdasarkan Perjamuan Terakhir dan perayaan-perayaan ekaristi pertama oleh umat Kristiani purba. Umat Kristiani Timur yang turut serta dalam Liturgi ini secara tradisi juga percaya bahwa Ekaristi adalah bagian terpenting dari peribadatan tersebut, karena mereka percaya bahwa Ekaristi sungguh-sungguh menjadi Tubuh dan Darah sejati dari Kristus, dan dengan mengambil bagian dalam Ekaristi, mereka memandang diri mereka bersama-sama menjadi Tubuh Kristus (yakni, Gereja). Tiap Liturgi berbeda-beda satu sama lain, namun sebagian besar sangat mirip satu dengan yang lain dengan penyesuaian-penyesuaian berdasarkan tradisi, tujuan, budaya, dan teologi.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tuesday, March 19, 2013

Perayaan-Perayaan Liturgis Selama pekan Suci dan Trihari Paskah

A. MINGGU PALMA: MISA PENGENANGAN SENGSARA TUHAN

1. Makna:
a. Pekan Suci dimulai pada hari Minggu Prapaskah VI atau biasa disebut dengan Minggu Palma atau Minggu Sengsara, karena untuk mengenangkan sengsara Tuhan. Minggu Palma adalah pintu masuk Pekan Suci. Pada hari-hari selama Pekan Suci kita diajak mengenangkan satu peristiwa penebusan lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan sekaligus. Setiap perayaan liturgis tetap mengandung unsur-unsur penebusan itu.
b. Perayaan Ekaristi diadakan sebagai pengenangan akan sengsara Tuhan, namun pewartaan sengsara Tuhan itu dikaitkan dengan perayaan kejayaan-Nya sebagai seorang Raja. Misa Pengenangan Sengsara Tuhan itu diawali dengan pengenangan akan peristiwa Kristus memasuki kota Yerusalem sebagai Almasih.
c. Bagi orang kristiani Masa Prapaskah harus menuju suatu perjalanan menuju Yerusalem, yakni menghadapi kematian dan kebangkitan Kristus. Masa Prapaskah ibarat suatu eksodus baru, meninggalkan tanah pembuangan menuju Yerusalem, menyongsong Paskah Kristus.

2. Ketentuan liturgis:
a. Misa sudah dapat diselenggarakan pada Sabtu sore.
b. Warna liturgi: merah.
c. Tempatnya di luar dan kemudian di dalam gedung gereja. Ritus perarakan meriah dilakukan di luar gedung dan Liturgi Sabda hingga Ritus Penutup di dalam gedung gereja. Untuk ritus perarakan sederhana dapat dilangsungkan dari bagian depan gedung gereja.
d. Perarakan dari luar gereja menurut cara I (Perarakan) diselenggarakan satu kali saja, terutama pada kesempatan yang dihadiri paling banyak umat.
e. Untuk cara II (Meriah) dapat dilaksanakan mulai dari pintu atau bagian depan gereja, lalu perarakan berlangsung di dalam gedung gereja.
f. Untuk cara III (Sederhana), karena tanpa perarakan, maka cukup diawali dengan nyanyian pembukaan dan dilanjutkan dengan Seruan Tobat, lalu Doa Pembuka Misa.
g. Untuk ritus perarakan Imam Selebran mengenakan korkap atau kasula warna merah. Jika mengenakan korkap, maka setelah perarakan-menjelang liturgi Sabda harus berganti, memakai kasula merah.
h. Secara historis daun palma, daun zaitun, daun lainnya, dan juga ranting-ranting dibawa umat dalam perarakan. Hingga kini jenis daun apa pun tidaklah dilarang untuk dibawa demi memeriahkan perarakan tersebut. Setelah Misa daun-daun itu dapat dibawa pulang dan disimpan di rumah masing-masing sebagai tanda kejayaan Kristus. Biasanya kemudian dipasang pada salib-salib Kristus di rumah.
i. Sebelum dibawa dalam perarakan, sebaiknya daun-daun itu dikumpulkan pada satu meja untuk diberkati. Setelah diberkati barulah dibagikan kepada umat yang hendak berarak mengikuti rombongan Imam.
j. Para pastur dan penanggung jawab liturgi harus berusaha sungguh-sungguh untuk menjamin agar perarakan itu dipersiapkan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dapat bermakna bagi hidup umat.
k. Jika terpaksa tidak dapat diselenggarakan Misa, maka dapatlah diadakan Ibadat Sabda saja, dengan tema “Yesus memasuki Yerusalem dan kesengsaraan-Nya”.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Pembuka: Perarakan masuk, Tanda Salib-Salam, Pengantar, Pemberkatan Palma, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili Singkat, Perarakan Palma menuju gereja, Doa Pembuka di dalam gereja
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Pewartaan Injil, Homili, Syahadat (Credo), Doa Umat
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup
4. Bacaan:
1. Ritus Perarakan Palma:
Injil: Kisah Yesus masuk Yerusalem.
Tahun A: Matius 21:1-11; B: Markus 11:1-10 atau Yohanes 12:12-16; C: Lukas 19:28-40.
2. Misa - Liturgi Sabda:
a. Yesaya 50:4-7: Hamba Yahwe yang rela disiksa dan tabah.
b. Filipi 2:6-11: Yesus yang merendahkan diri dan dimuliakan Allah.
c. Injil: Kisah Sengsara Yesus Kristus Tuhan kita.
Tahun A: Matius 26:14-27:66 (panjang) atau 27:11-54 (singkat);
B: Markus 14:1-15:47 (panjang) atau 15:1-39 (singkat);
C: Lukas 22:14-23:56 (panjang) atau 23:1-49 (singkat).

5. Unsur khas:
a. Ritus Perarakan Palma menjadi Ritus Pembuka. Di dalamnya, sebelum perarakan dibacakan Injil yang mengisahkan peristiwa Yesus masuk Yerusalem. Sebelum pembacaan Injil ada pemberkatan daun-daun palma, baik dengan tanda salib maupun air suci.
b. Perarakan Yesus masuk Yerusalem dikenangkan dengan cara perarakan meriah dihiasi daun-daun palma yang dibawa oleh umat, mengikuti rombongan Imam dan para petugas liturgis lainnya.
c. Selama perarakan semua yang hadir menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan tema, teristimewa dari Mazmur 23 dan 46, nyanyian khusus untuk menghormati Kristus sebagai Raja.
d. Pembawaan Kisah Sengsara harus diberi tempat istimewa dengan cara menyanyikannya atau membacakannya seturut cara tradisional, yakni oleh tiga orang (sebagai Kristus, Rakyat, Pencerita). Jika dinyanyikan peran Kristus sebaiknya dibawakan oleh Imam Selebran, diakon, atau petugas yang layak. Bila dibacakan, maka peran Kristus harus dibawakan oleh Imam.
e. Pembawaan Kisah Sengsara tanpa didampingi lilin dan dupa, juga tanpa tanda salib pada Buku Injil dan diri masing-masing.


B. SEBELUM TRIHARI PASKAH: MISA KRISMA

1. Makna:
Gereja partikular (keuskupan) berkumpul bersama untuk memberkati minyak yang akan digunakan di gereja-gereja paroki pada waktu pembaptisan di misa Malam Paskah. Misa ini merupakan tanda kesatuan Gereja keuskupan, di mana Uskup dan seluruh perangkat keuskupannya, tak ketinggalan umat beriman, berkumpul untuk menyiapkan minyak kudus yang akan diberikan kepada para baptisan-baru.

2. Ketentuan liturgis:
a. Dirayakan sebelum Misa Perjamuan Tuhan sore atau hari lain dalam Pekan Suci, sebelum Trihari Paskah.
b. Warna liturgi: putih, meskipun misa ini masih terhitung berlangsung pada Masa Prapaskah (ungu).
c. Tempatnya di gereja Katedral atau karena alasan pastoral boleh juga di tempat lain yang punya keistimewaan bagi keuskupan.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Pembuka: Perarakan, Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Ritus Tobat, Madah Kemuliaan, Doa Pembuka
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili.
- Pembaruan Janji Imamat
- Liturgi Pemberkatan Minyak: Perarakan, Pemberkatan bergantian: Minyak Pengurapan Orang sakit, Minyak Katekumen, Minyak Krisma.
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup

4. Bacaan:
a. Yesaya 61:1-3a.6a.8b-9: Tuhan telah mengurapiku dan mengutusku untuk mewartakan kabar gembira bagi kaum miskin.
b. Wahyu 1:5-8: Kristus mengangkat dari antara kita, raja dan imam bagi Bapa.
c. Lukas 4:16-21: Roh Tuhan di atas-Ku, Ia mengurapi Aku.

5. Unsur khas:
a. Uskup bersama para imam yang berkarya di keuskupannya berkumpul dan memperbarui janji imamat.
b. Pemberkatan minyak-minyak (katekumen, krisma, pengurapan orang sakit), khususnya minyak krisma yang akan dipakai untuk membaptis pada Misa Malam Paskah.
c. Misa Pontifikal: dalam Misa Agung yang dipimpin Uskup ini hendaknya seluruh peran liturgis yang ada dikerahkan untuk ikut ambil bagian di dalamnya, supaya citra seluruh keuskupan terlukiskan secara utuh.


C. KAMIS PUTIH: MISA PERJAMUAN TUHAN

1. Makna:
a. Hari Kamis Putih: Hari ini adalah hari terakhir masa Prapaskah. Suasana pertobatan masih berlaku di sini. Maka, Kamis Putih pagi hari masih boleh diadakan Sakramen Rekonsiliasi/Tobat/Pengakuan dosa, namun sebaiknya sakramen ini sudah tidak diadakan lagi selama Trihari Paskah, meskipun tidak dilarang. Misa Krisma sebaiknya diadakan pada Kamis Putih pagi, namun karena alasan pastoral dapat dipindah pada hari-hari sebelumnya.
b. Misa Perjamuan Tuhan: Gereja memulai Trihari Paskah dan memperingati perjamuan malam terakhir Tuhan (pendirian/institusi Sakramen Ekaristi). Saat itu Yesus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya (perintah cinta persaudaraan). Yesus juga memerintahkan mereka dan para penggantinya dalam imamat untuk melestarikan kurban itu (tugas sakramen imamat).

2. Ketentuan liturgis:
a. Misa dirayakan sore hari, sesuai dengan keadaan setempat agar seluruh umat dapat hadir sepenuhnya; namun jika amat mendesak Uskup setempat dapat mengijinkan diadakan pada pagi hari bagi umat yang memang sungguh tidak mungkin hadir pada sore hari.
b. Tidak diadakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, dan tidak merugikan Misa utama, juga tidak boleh mengadakan Misa ini tanpa kehadiran umat.
c. Warna liturgi: putih, kuning, atau emas.
d. Sebelum Misa, jika ada tabernakel di tempat yang akan dipakai untuk Misa, tabernakel itu harus sudah dikosongkan.
e. Hosti-hosti baru disediakan untuk diberkati dan disantap pada Misa itu, juga untuk komuni pada Ibadat Jumat Agung esoknya.
f. Sakramen Mahakudus disimpan dalam tabernakel atau piksis atau sibori, janganlah sekali-kali dalam monstrans.
g. Tempat menyimpan Sakramen Mahakudus itu haruslah dihiasi secara sederhana (tidak berlebihan) untuk keperluan adorasi dan meditasi; namun jangan berupa kubur/makam, karena tempat itu semata-mata hanya untuk “menyimpan” Sakramen Mahakudus, bukan untuk “mengenangkan” pemakaman Tuhan.
h. Seusai Misa dilanjutkan dengan adorasi kepada Sakramen Mahakudus tadi, namun setelah jam 24.00 jangan ada lagi kemeriahan lahiriah dalam beradorasi kepada Sakramen Mahakudus, karena hari kesengsaraan Tuhan sudah dimulai.
i. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak perlu diadakan jika Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan (Jumat Agung) tidak akan diadakan di tempat yang sama.
j. Setelah Misa hendaknya setiap salib di dalam gereja diselubungi kain merah atau ungu, kecuali bila sudah diselubungi sebelumnya (sejak awal Masa Prapaskah/Rabu Abu atau sejak hari Sabtu sebelum Minggu Prapaskah V); di depan patung-patung orang kudus juga tidak boleh dinyalakan lampu.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Pembuka: (seperti biasa: Perarakan, Tanda Salib-Salam, Pengantar, Ritus Tobat, Kemuliaan, Doa Pembuka)
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait pengantar Injil, Pewartaan Injil, Homili, Ritus Pembasuhan kaki, Doa Umat
- Liturgi Ekaristi (biasa)
- Perarakan Sakramen Mahakudus
- Adorasi dan meditasi di hadapan Sakramen Mahakudus

4. Bacaan:
a. Keluaran 12:1-8, 11-14: Paskah orang-orang Yahudi.
b. 1 Korintus 11:23-26: Pewartaan kematian Tuhan lewat makan roti dan minum dari piala.
c. Yohanes 13:1-15: Perintah untuk saling mencintai dan melayani.

5. Unsur khas:
a. Selama dinyanyikan “Kemuliaan” lonceng gereja boleh dibunyikan sejauh tidak mengganggu keindahan lagu itu sendiri (setelahnya lonceng baru akan dibunyikan lagi pada Malam Paskah).
b. Sesudah homili ada ritus pembasuhan kaki keduabelas wakil umat (biasa disebut ritus Mandatum), simbol pelayanan dan cinta kasih Yesus Kristus. Tradisi ini harus dipertahankan dan diterangkan maknanya kepada umat.
c. Kolekte, derma-derma untuk orang miskin, atau hasil APP (Aksi Puasa Pembangunan) dapat diantar ke altar pada saat persiapan persembahan, mengiringi persembahan roti dan anggur.
d. Setelah Doa Sesudah Komuni diadakan pemindahan hosti-hosti (Sakramen Mahakudus) dalam sibori (bukan monstrans!) yang dibawa oleh Imam. Perarakan Sakramen Mahakudus ini diiringi lagu (misalnya: Tantum Ergo) dan diselingi penyembahan-penyembahan (berlutut) oleh umat yang ditandai bunyi (klothokan) kayu (bukan suara logam, mis: lonceng).
e. Tidak ada berkat dan pengutusan, lalu Imam dibantu para petugas menanggalkan kain-kain altar dan semua rangkaian bunga di panti imam.
f. Umat dianjurkan untuk bersembah sujud, berdoa, dan merenung (Injil Yohanes 13-17) di depan Sakramen Mahakudus, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, entah secara bersama atau bergantian.


D. JUMAT AGUNG: PERAYAAN PENGENANGAN SENGSARA TUHAN

1. Makna:
a. Hari Jumat Agung: Hari ini ditetapkan sebagai hari laku tapa dan tobat dengan kewajiban berpantang dan berpuasa bagi seluruh anggota Gereja. Hari ini disebut sebagai hari puasa Paskah karena sudah termasuk dalam rangkaian Trihari Paskah; dibedakan dengan hari-hari puasa Prapaskah (40 hari). Sudah dimulai sejak Kamis malam, hingga menjelang Sabtu Malam Paskah. saat itu Sang Pengantin Pria sudah meninggalkan Gereja, maka kita pun berpuasa.
b. Perayaaan atau Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan: Gereja merenungkan kesengsaraan Kristus, menghormati salib, merenungkan asal-usulnya, yakni dari lambung Kristus yang tergantung di kayu salib, serta mendoakan keselamatan seluruh dunia.

2. Ketentuan liturgis:
a. Tidak ada perayaan Ekaristi, namun komuni kudus dibagikan kepada umat hanya dalam Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan (kecuali untuk orang-orang sakit/viatikum).
b. Perayaan dimulai pada jam 15.00, atau karena alasan pastoral boleh juga tidak lama setelah jam 12.00. Jangan sesudah jam 21.00.
c. Tatacara dan urutan Ibadat (Liturgi Sabda, Ritus Penghormatan Salib, Ritus Komuni) harus ditaati dengan setia dan tertib.
d. Warna liturgi: merah.
e. Semua bacaan (Pertama dan Kedua) harus dibacakan. Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil dinyanyikan. Pewartaan Injil tentang Kisah Sengsara (Yohanes) dinyanyikan atau dibacakan oleh (para) diakon atau petugas yang layak. Sesudahnya Imam Selebran memberi homili, lalu hening sejenak.
f. Dilarang merayakan sakramen apa pun pada hari ini, kecuali sakramen rekonsiliasi dan pengurapan orang sakit. Upacara pemakaman pun harus dilaksanakan tanpa nyanyian, musik, atau bunyi lonceng.
g. Sangat dianjurkan agar umat diajak ikut merayakan Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi di gereja.
h. Hanya satu salib boleh dipergunakan untuk penghormatan itu, agar salib itu sungguh-sungguh mendukung simbolisasi ritualnya. Penghormatan pribadi dapat dilakukan secara bersama-sama.
i. Setelah Ibadat selesai altar dikosongkan kembali. Salib yang dihormati tadi tetap di tempatnya dengan didampingi empat lilin. Boleh juga dipindahkan ke tempat khusus di dalam gereja yang dihiasi, agar umat dapat kembali menghormati dan berdoa/meditasi secara pribadi di hadapan salib itu.
j. Bentuk-bentuk devosi yang berkaitan dengan kesengsaraan Yesus dapat diadakan untuk mengisi waktu-waktu hening hingga Sabtu Suci siang. Misalnya: Ibadat Jalan salib, perarakan Salib (drama penyaliban), devosi tujuh sabda Yesus di salib, dsb. Devosi-devosi itu janganlah bertentangan dengan suasana liturgis masa itu. Devosi dimaksudkan untuk mengantar kepada kepenuhan liturgi.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Pembuka: Perarakan hening, Penghormatan Altar, Doa
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Pewartaan Injil: Kisah Sengsara, Doa Umat Meriah
- Ritus Penghormatan Salib Suci
- Ritus Komuni: Bapa Kami, Pemecahan Roti, Pembagian Komuni, Doa Sesudah Komuni
- Ritus Penutup: Berkat (Doa atas Umat), Perarakan hening

4. Bacaan:
a. Yesaya 52:13-53:12: Hamba yang disiksa karena dosa-dosa kita.
b. Ibrani 4:14-16; 5:7-9: Ketaatan Yesus demi keselamatan kita.
c. Yohanes 18:1-19:42: Kisah sengsara Tuhan.

5. Unsur khas:
a. Imam dan para petugas berarak memasuki ruang Ibadat tanpa iringan, tanpa nyanyian. Lalu mereka menghormati altar dengan cara merebahkan diri di depannya (simbol pernyataan kefanaan manusia).
b. Pewartaan (proklamasi) Injil tentang Kisah Sengsara Tuhan hendaknya dibawakan dengan cara sesuai dengan hakikatnya (liturgis), yakni Yesus sendiri yang bersabda. Bukanlah suatu tafsiran dramatik kisah sengsara itu (kateketis), yang tidak menyimbolkan “Allah bersabda”. Jika dibawakan oleh para diakon atau awam, mereka meminta berkat dulu kepada Imam Selebran sebelum membawakan Kisah Sengsara.
c. Doa Umat Meriah dibawakan secara khusus, baik secara kuantitatif (ada 10 ujud panjang) maupun kualitatif (dibacakan dan dinyanyikan). Ujud-ujud doa itu adalah untuk Gereja, Paus, para klerus dan awam, para calon baptis, kesatuan umat kristiani, bangsa Yahudi, mereka yang tidak percaya akan Kristus, yang tidak percaya akan Allah, semua pegawai umum, dan untuk mereka yang berkekurangan. Jika dirasa perlu, uskup dapat mengijinkan untuk menambahkan ujud khusus yang menyangkut kepentingan umat.
d. Penghormatan Salib Suci merupakan puncak liturgi hari ini. Perayaan dipimpin oleh Imam Selebran dengan tiga seruan: “Lihatlah kayu salib….” dan membuka selubung satu per satu (dari tiga tali ikatan). Penghormatan dilaksanakan juga secara pribadi oleh umat, setelah Imam dan para petugas melakukannya. Dapat satu per satu atau serentak bersamaan jika banyak umat hadir (jadi, tidak harus memperbanyak jumlah salib untuk dihormati!). Selama ritus ini lagu-lagu bertema kesengsaraan dapat dinyanyikan.
e. Ritus Komuni diawali dengan mempersiapkan altar dan meletakkan sibori-sibori berisi Tubuh Kristus dan diakhiri dengan Doa yang dilanjutkan dengan doa untuk umat (Ritus Penutup).
f. Ritus Penutup: Imam menutup perayaan ini dengan mengulurkan kedua tangannya ke atas jemaat (= Berkat, tapi bukan dengan tanda salib besar). Lalu dilanjutkan dengan perarakan keluar dalam keheningan atau membiarkan tetap dalam suasana “merenung dan berdoa”, berjaga-jaga lagi hingga malam!


E. SABTU SUCI: SAAT ISTIRAHAT, TENANG, DAMAI

1. Makna:
Dengan berdoa dan berpuasa, seraya menantikan kebangkitan Kristus, Gereja seakan berada di makam-Nya, sedang merenungkan kesengsaraan dan wafat serta turunnya Kristus ke alam maut. Hari kedua dalam Trihari Paskah ini melambangkan juga saat istirahat Allah (sabat), maka sebaiknya suasana tenang dan damai justru mewarnai hari ini.

2. Ketentuan liturgis:
a. Dilarang mengadakan Perayaan Ekaristi.
b. Komuni kudus hanya diberikan untuk bekal suci (viatikum).
c. Dilarang merayakan Sakramen Perkawinan maupun Sakramen-sakramen lainnya, kecuali Sakramen Rekonsiliasi/Tobat dan Pengurapan Orang Sakit.
d. Umat diharuskan mengadakan upacara sabda atau devosi yang sesuai dengan misteri yang dirayakan pada hari ini (Kristus wafat!). Sangat dianjurkan untuk mengadakan (ofisi) Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi bersama umat di gereja paroki.


F. MINGGU PASKAH: MISA MALAM PASKAH DAN MISA KEBANGKITAN KRISTUS

I. MISA MALAM PASKAH

1. Makna:
Malam ini Gereja berjaga dalam doa (Latin:vigili, Jawa: tuguran, tirakat) dengan merayakan suatu liturgi agung untuk mengenangkan saat-saat Tuhan bangkit dari kematian. Gereja sesungguhnya sedang menantikan kedatangan Tuhan kembali. Inilah “bunda dari segala malam tirakat (vigili)”. Suatu malam pembebasan, seperti ketika bangsa Israel tetap berjaga-jaga menantikan Tuhan yang akan lewat dan membebaskan mereka dari penindasan bangsa Mesir. Malam Tuhan lewat (pesach) yang dikenangkan bangsa Israel setiap Tahun itu melambangkan saat kebangkitan Kristus (Paskah), malam pembebasan sejati, saat Kristus bangkit sebagai pemenang atas maut. Gereja juga memperingatinya setiap tahun.

2. Ketentuan liturgis:
a. Perayaan berlangsung pada malam hari. Tidak boleh sebelum matahari terbenam dan harus selesai sebelum fajar Hari Minggu.
b. Warna liturgi: putih atau kuning emas.
c. Tata cara perayaan liturgis Malam Paskah tidak boleh diubah oleh siapa pun atas inisiatif sendiri (lihat no. 3. Susunan liturgi).
d. Nyanyian-nyanyian Mazmur Tanggapan jangan diganti dengan lagu-lagu lain, apalagi lagu yang tidak berkaitan dengan Bacaan sebelumnya.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Cahaya (Lucernarium): Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Pemberkatan Api Baru, Pemberkatan Lilin Paskah, Perarakan Lilin Paskah, Madah Pujian Paskah (Exultet).
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Doa 1 - Bacaan II, Mazmur Tanggapan, Doa 2 - Bacaan III, Mazmur Tanggapan, Doa 3 - Bacaan IV, Mazmur Tanggapan, Doa 4 - Bacaan V, Mazmur Tangggapan, Doa 5 - Bacaan VI, Mazmur Tanggapan, Doa 6 - Bacaan VII, Mazmur Tanggapan, Doa 7 - Madah Kemuliaan, Doa Pembuka - Bacaan Epistula, Alleluia Agung, Mazmur Tanggapan - Bacaaan Injil, Alleluia - Homili.
- Liturgi Baptis: Litani Orang Kudus, Pemberkatan Air Baptis, Pembaruan Janji Baptis (: Penolakan Setan dan Pengakuan Iman), [Percikan: jika tidak ada calon baptis maka jemaat direciki dengan air baptis tadi], Pembaptisan, Pengenaan Pakaian Putih, Penyalaan Lilin Baptis, Perayaan Krisma.
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup

4. Bacaan:
a. Kejadian 1:1-2:2: Kisah penciptaan.
b. Kejadian 22:1-18: Iskak dikorbankan.
c. Keluaran 14:15-15:1: Penyeberangan Laut Merah.
d. Yesaya 54:5-14: Yerusalem baru.
e. Yesaya 55:1-11: Perjanjian abadi.
f. Barukh 3:9-15, 32-4:4: Kebijaksanaan telah datang di bumi.
g. Yehezkiel 36:16-17a,18-28: Hati yang baru.
h. Surat Paulus: Roma 6:3-11: Kristus telah bangkit dan akan hidup abadi.
i. Injil: Kristus bangkit.
Tahun A: Matius 28:1-10; B: Markus 16:1-8; C: Lukas 24:1-12

5. Unsur khas:
a. Pemberkatan api baru dan Lilin Paskah dapat dilakukan di luar atau di dalam gedung gereja. Sebaiknya terpisah dari gedung gereja. Sementara, suasana sekitar adalah gelap, demikian juga di dalam gedung gereja tempat perayaaan selanjutnya akan berlangsung. Sebelum dinyalakan Lilin Paskah diberkati oleh Imam Selebran dengan beberapa peneraan simbol padanya: Kristus, Awal dan Akhir (A/Alpha – /Omega; Milik-Nyalah segala masa… (Tahun); luka-luka kudus-Nya (lima biji paku dupa). Baru kemudian dinyalakan dari api baru: “Semoga cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalaukan kegelapan hati dan budi kita.” Akhirnya, diakon atau imam selebran sendiri membawa Lilin itu dalam perarakan. Ia melagukan “Cahaya Kristus/Kristus cahaya dunia”. Umat menjawab “Syukur kepada Allah. Lalu ia berjalan ke dalam gedung gereja, dan berhenti di tengah, lalu melagukan lagi “Cahaya Kristus”. Lilin-lilin para putera altar dan petugas liturgi lainnya dinyalakan dari api Lilin Paskah. Kemudian ia berjalan lagi ke depan altar dan melagukan lagi “Cahaya Kristus”. Barulah semua lilin umat dinyalakan lewat lilin-lilin para petugas tadi. Lampu-lampu gereja dapat mulai dinyalakan. Setelah itu Lilin Paskah ditempatkan pada tempatnya dan didupai. Lilin Paskah yang memimpin perarakan itu melambangkan tiap api yang memimpin bangsa Israel ketika berjalan di waktu malam di padang gurun, setelah keluar dari tanah Mesir. Kita pun mengikuti Kristus (Lilin Paskah) yang telah bangkit itu.
b. Madah Pujian Paskah dinyanyikan oleh diakon, Imam, atau jika mereka tidak bisa menyanyi boleh diganti oleh seorang awam yang bisa menyanyi dengan baik dan indah. Madah ini mau mengungkapkan seluruh Misteri Paskah dalam konteks sejarah keselamatan.
c. Jumlah semua bacaan yang harus dibacakan adalah 9 (sembilan). Namun jika ada alasan pastoral, tidaklah harus semuanya dibacakan. Minimal 3 (tiga) bacaan dari KS Perjanjian Lama (tak boleh dihilangkan: dari Kitab Taurat, Para Nabi, dan Keluaran 14) dan 2 (dua) bacaan dari KS Perjanjian Baru (Epistula dan Injil). Bacaan-bacaan itu melukiskan sejumlah karya yang mengagumkan dalam sejarah keselamatan. Misteri Paskah Kristus dipaparkan mulai dari Musa, para Nabi, hingga Kristus sendiri dan kesaksian para rasul-Nya. Diharapkan dengan mendengarkan, jemaat dapat merenungkan semua itu dan ikut menanggapinya lewat nyanyian-nyanyian Mazmur Tanggapan, saat-saat hening dan doa-doa Imam.
d. Madah Kemuliaan dan Doa Pembuka diadakan setelah Bacaan-bacaan dari KS Perjanjian Lama. Lonceng-lonceng gereja boleh dinyanyikan selama Madah Kemuliaan, asal tidak mengganggu keindahan nyanyian itu sendiri (tergantung kebiasaan setempat).
e. Alleluia Agung dinyanyikan 3 (tiga) kali oleh Imam. Biasanya setiap Alleluia mendapat nada berbeda dan menaik. Setiap kali umat mengikutinya.
f. Pemberkatan Air Baptis dapat dilakukan Imam Selebran dengan cara mencelupkan Lilin Paskah ke dalam bejana baptis itu, atau hanya dengan menyentuh air dengan tangan kanan, masing-masing diiiring doa.
g. Pada waktu Pembaruan Janji Baptis, jemaat kembali menyalakan lilin-lilin mereka dari api Lilin Paskah. Lilin-lilin itu dimatikan lagi setelah Percikan, atau setelah Pengakuan Iman, jika ada yang akan dibaptis pada malam itu.
h. Pembaptisan dapat dilakukan di depan altar atau di tempat bejana. Para calon baptis didampingi emban baptisnya. Emban baptislah yang akan mengenakan pakaian/kain putih dan lilin baptis kepada baptisan baru (neofit) yang diberikan oleh Imam.
i. Perayaan Sakramen Krisma idealnya langsung diberikan untuk baptisan dewasa. Kalau demikian, maka si baptisan-baru akan mengalami Sakramen Inisiasi yang lengkap, karena setelah ini akan untuk pertama kalinya mengambil bagian secara penuh dalam Liturgi Ekaristi sebagai anggota Gereja yang baru.
j. Berkat meriah dengan “Alleluia” panjang.


II. MISA KEBANGKITAN KRISTUS

1. Makna:
Gereja merayakan kebangkitan Kristus dengan penuh sukacita. Dalam Minggu Agung (St. Atanasius) ini diadakan misa-misa pertama yang mengawali Masa Paskah. Hari ini sudah dihitung sebagai Hari Minggu Paskah I, awal Masa Paskah yang akan berakhir pada Hari Raya Pentakosta, 50 hari kemudian. Namun demikian, masa Trihari Paskah sendiri baru berakhir setelah Ibadat Sore II hari Mingggu itu.

2. Ketentuan liturgis:
a. Misa Hari Raya Paskah harus dirayakan semeriah mungkin.
b. Warna liturgi: putih atau kuning emas.
c. Sebaiknya Ritus Tobat diisi dengan Percikan air baptis yang baru saja diberkati pada Misa Malam Paskah. Pernyataaan Tobat (“Saya Mengaku” atau “Tuhan kasihanilah”) diganti Percikan itu.
d. Tempat air suci di pintu-pintu gereja pun sebaiknya diisi dengan air yang diberkati pada Misa Malam Paskah.
e. Lilin Paskah sudah diletakkan di dekat altar atau mimbar. Tidak perlu diarak lagi seperti pada Ritus Cahaya pada Misa Malam Paskah. Selama Masa Paskah Lilin Paskah diletakkan di sana. Setelahnya disimpan di tempat pembaptisan (baptisterium, jika ada) atau di tempat lain yang aman, guna keperluan pembaptisan dan upacara pemakaman mendatang.

3. Susunan liturgi:
- Ritus Pembuka: Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Percikan (Vidi aquam), Madah Kemuliaan, Doa Pembuka.
- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan - Bacaan II, Sekuens Paskah (Victimae paschali) - Bait Pengantar Injil (Alleluia), Bacaan Injil, Alleluia - Homili - [Pembaruan Janji Baptis: jika di sini maka Percikan pun tidak di bagian Ritus Pembuka tetapi setelah Pembaruan Janji ini] Pengakuan Iman (Credo) - Doa Umat.
- Liturgi Ekaristi
- Ritus Penutup

4. Bacaan:
a. Kisah Rasul 10:34a.37-43: Makan dan minum bersama Yesus yang bangkit.
b. Kolose 3:1-4: Usaha selalu ke arah hidup Kristus.
c. Yohanes 20:1-9: Yesus harus bangkit dari alam maut.

5. Unsur khas:
a. Percikan dengan air baptis yang diberkati pada Malam Paskah dapat dilakukan dalam [1] Ritus Pembuka atau [2] sebagai penutup ritus Pembaruan Janji Baptis (setelah Homili). Yang pertama lebih dianjurkan daripada yang kedua.
b. Sebagai Hari Minggu yang amat istimewa, maka hendaknya liturgi hari ini sungguh-sungguh dipersiapkan (petugas, musik, doa, dekorasi, dsb) dan dijadikan acuan bagi hari-hari Minggu yang lainnya.
c. Berkat meriah dengan “Alleluia” panjang.


dikutip dari LITURGI KITA

Monday, March 18, 2013

10 Mistakes Teaching Pastors Need to Avoid

1. Sharing the facts without sharing the stories.
“Your stories can inspire others; you just need to learn to share them with full emotional force.” That emotional force comes from sharing stories from your own personal experience.
2. Challenging people to change without explaining why it’s riskier to stay the same.
“To captivate your audience, help them make an enemy of the status quo and see the positive promise of tomorrow that is just out of reach and worth the effort.” As I’ve heard Bill Hybels say, you can’t help people get “there” without explaining why we can’t stay “here.”
3. Failing to offer actionable next steps.
“Inspire your audience with a single idea that either changes the way people think about their world or persuades them to take action.” The best messages do both. Don’t give people knowledge without a plan to apply that new knowledge to their daily lives.
4. Ignoring felt needs.
“Connect with people’s deep rooted needs for belonging, self interest, self-actualization or hope in the future.” If you don’t connect with where people are, you can’t move them to where God wants them to be.
5. Sharing too many ideas.
“Make your idea viral by encapsulating it in an unforgettable catchphrase that is between three and twelve words … Repeat your catchphrase at least three times during your presentation.” What’s your main message? Create a mantra. Say it. Repeat it. Repeat it again.
6. Losing focus in your message.
“Tell the audience what you are going to tell them, tell them, then tell them what you told them.” The less focus you have, the less likely your audience will remember what you said.
7. Avoiding the questions people need to ask themselves.
“You should frequently ask questions to get the audience to reflect on their own lives.” Questions help to make the message personal. Without questions, people assume you are speaking to “someone else.”
8. Neglecting the call to action.
“The conclusion is your final opportunity to inspire your audience to change their perspective or to call them to action. You must create a sense of urgency … Resist all temptation to introduce new material at the end.” Don’t tag a salvation invitation on to a message that had nothing to do with that topic. When you do that, you’re letting people who need to act on your message off the hook.
9. Missing the mark on transparency.
“You need your emotions to shine through and that can only be achieved if you express your most strongly held beliefs.” What do you believe at your core? That’s what people need to hear. But tell us how it’s impacted your life and why it addresses a core need in my life.
10. Distracting us from your message.
“The best choice you can make in a presentation is to have no slides at all.” I used to be a PowerPoint guy, but it just got in the way. If you have a focused message with a memorable mantra and a specific call to action, you can ditch the slides so people are free to engage with your message.
I hope these strategies help you take your next steps in your teaching and communications. You have an important message. It’s not enough for you to just teach it — I want people to hear it and act on it.

Katekese Sakramen Ekaristi OMK St Maria Fatima Taklale



Melanjutkan program katekese Orang Muda Katolik di paroki Santa Maria de Fatima Taklale Kupang Timur, kali ini ada katekese tentang Sakramen Ekaristi. Pemimpin Katekesenya adalah RD Leonardus Mali. Pendamping lainnya adalah RD Philip, RD Andi, RD Jerbo dan … Saya.






Usai misa hari Minggu Paskah kelima di gereja Taklale, para orang muda katolik berkumpul di aula paroki. Yang namanya alua paroki ini sejatinya sebuah ruang serbaguna, yang dipakai sebagai ruang kelas untuk TK pada hari-hari kerja, dan sebagai ruang pertemuan paroki pada saat-saat dibutuhkan.



RD Leo membahas tentang makna rubric-rubrik dalam Tata Perayaan Ekaristi. Sedangkan RD Philips menegaskan tentang beberapa kesalahan dalam Liturgi Ekaristi. Saya bertugas menjawabi setiap pertanyaan yang muncul dari para peserta katekese, antara lain karena, setelah memberikan materi RD Leo harus pamit pergi karena ada tugas lain yang menunggu.

Katekese siang hari ini dihadiri juga Oleh KMK Santu Fransiskus Xaverius Fakultas Tekhnik Undana dan KMK Fakultas Pertanian Undana. Mereka semua terlihat serius menyimak arti mendalam dari tradisi tatagerak liturgis dalam perayaan Ekaristi.




Menjawab pertanyaan




Pemimpin Katekese: RD Leo Mali






Nona Rince dan RD Philip






Antusiasme KMK St Fransiskus Xaverius





Yang satunya ngomong, yang lainnya makan?





Antusiasme KMK Faperta Undana





Tuan rumah yang ramah, OMK Taklale




Selingan-- Dansa Timor




Siap-siap bahan sambil narsis




Ngerti ga ya?




Kalau ada pertemuan pasti ada makan2. Tenang ja!

Program Katekese ini akan terus berlanjut selama tahun iman. Diadakan sebulan sekali dan dipriorotaskan pada pemahaman orang muda tentang ketuuh sakramen dalam Gereja Katolik. Urutan acara biasanya: pembukaan, ceramah, selingan/snack, tanyajawab, makan siang dan rekreasi. Tentu ini hal yang menarik bagi orang muda. Semoga mereka tetap bersemangat dalam mempelajari iman katolik secara baik dan benar. Agar tidak mudah terpancing dengan ide relativisme yang menganggap semua agama sama saja.

Friday, March 15, 2013

Training of Trainers Public Speaking - Formatores Seminari

Tiga hari tiga malam di Hotel Grand Cemara - Menteng Jakarta Pusat, ada pelatihan pelatih Public Speaking untuk para formator Seminari. Training of Trainers ini diselenggarakan oleh Komsos KWI dan merupakan yang pertamakalinya. Menurut Sekretaris Eksekutif Komsos KWI RP Agus Duka SVD, selama ini Komsos KWI telah melaksanakan berbagai pelatihan Public Speaking di seantero Indonesia, namun baru kali ini diselenggarakan pelatihan untuk para pelatih.


Kegiatan ini diikuti oleh 17 imam formator dari berbagai Seminari Tinggi di Indonesia. Saya ikut sebagai utusan dari Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang. Dari Nusa Tenggara Timur, hadir pula RD Norbert Labu dari Seminari St Petrus Ritapiret dan RP Juan Orong SVD dari Seminari Santu Paulus Ledalero.

Satu-satunya instruktur dalam pelatihan ini adalah Bapak Errol Jonathan, yang sudah malang melintang dalam bidang pelatihan Public Speaking. Bapak Errol  yang adalah pengasuh Radio SuaraSurabaya itu, sudah sering terlibat aktif dalam berbagai kegiatan Komsos KWI.

Pelatihan ini terdiri dari ceramah tentang Komunikasi dan Presentasi serta Senam Olah Vokal. Kegiatan ini diakhiri dengan prsentasi masing-masing peserta, yang direkam oleh petugas dari Komsos KAJ, dan kemudian hasil rekaman videonya dievaluasi bersama.

Penguasaan tekhnik dan metode PublicSpeaking itu sangat perlu bagi seorang imam. Sebagai tokoh publik, tentu saja kompetensi ini sangat dibutuhkan, agar pesan yang mau disampaikan bisa ditangkap oleh umat. Di jaman sekarang ini dalam hal komunikasi, kemasan itu tak kalah pentingnya dengan isi. Untuk itu para imam perlu menguasai cara mengemas pesan agar bisa menarik umat. jangan sampai umat lebih tertarik dengan infotainment media massa dan langsung merasa bosan jika harus berhadapan dengan khotbah seorang imam.

Para formator yang mengikuti pelatihan ini diharapkan bisa menyebarkan virus tekhnik public speaking ini bagi para formandi dalam komunitas masing-masing. Selama ini dalam kurikulum pembinaan seminari, memang ada program khusus untuk komunikasi massa ini, sebut saja Retorika atau Homilitika. Namun, kata Bapak Errol, beberapa tekhnik yang diajarkan di sini, terutama senam vokal ini akan menjadi semacam alat bantu bagi program retorika maupun homilitika dalam komunitas masing-masing. Bapak Errol, dalam evaluasi presentasi, lebih memusatkan penilaian pada aspek kemasan. Aspek isi pewartaan dikembalikan kepada para imam yang memang punya kompetensi. Beberapa imam mengaku ini merupakan pengalaman baru bagi mereka.

Tentang bahan khotbah yang dipresentasikan oleh para imam, Bapak Errol menegaskan bahwa boleh saja khotbah dibawakan dengan cara dibacakan. Asalkan naskah khotbah ditulis dalam bentuk tutur. Dengan demikian, ketika membacakan naskah khotbah tersebut, kontak dengan pendengar tetap ada. Nah, ini penting, karena selama ini, para imam yang hadir itu mengaku, selalu menulis khotbah dalam bahasa tulisan. Akibatnya menjadi sangat kaku ketika berdiri dan berkhotbah di mimbar. tentang ini Komsos KWI berjanji akan melakukan pelatihan lanjut, tentang menulis dengan gaya tutur.

Kegiatan berakhir jam dua siang, Rabu 13 Maret 2013. Para peserta pulang dengan membawa sertifikat kursus dan harapan dari Komsos KWI untuk segera menyebarkan virus tersebut kepada para formandi.

Oia, ini para Romo yang mengikuti training tersebut:
1. RP Yohanes Jehuru, ST Yerusalem Baru Jayapura
2. RD Thomas Aquino Imam Mursid, ST St Petrus Sinaksak Pematangsiantar
3. RD. Patricius Neonnub,ST Santu Mikhael Kupang
4. RD Norbertus Labu, ST St Petrus Ritapiret, Maumere
5. RD Decky Fransiskus Billiacarlos, ST Hati Kudus Pineleng, Manado
6. RD Fransiskus B Deddy Sulistyo, ST  Beato Giovanni XXIII, Malang
7. RD Petrus Bine Saramae, ST Anging Mamiri, Yogyakarta
8. RD Robertus Ambrosius Dhai Mosa, ST Antonino Ventigmilia, Pontianak
9. RD Yusup Warsito, ST St Paulus Kentungan Yogyakarta
10. RD Theodorus Amelwatin, ST St Fransiskus Xaverius, Amboina
11. RP Agus Ardhy, SVD, ST Surya Wacana SVD Malang
12. RP Yohanes Orong SVD, ST St Paulus Ledalero, Maumere
13. RP Petrus Bimo Handoko, MSF, Skolastikat MSF, Biara Nazareth Yogyakarta
14. RP Fransiskus Suradi, SCJ, Skolastikat SCJ, Yogyakarta
15. RP Frumensius Gions, OFM, Skolastikat OFM Jakarta
16. RP Chrisantus Retoples Marbun, OFMCap, Biara Kapusin Alverna, Pematangsiantar
17. RP Alexander NN, OFMCap, STFT St Yohanes Pematangsiantar

***

Thursday, March 14, 2013

Saya dan Paus Fransiskus

Akhirnya, Habemus Papam diserukan orang di seluruh dunia, ketika saya sedang asyik tidur, menikmati udara Kota Surabaya yang tidak terlalu bersahabat. Saya kecapaian setelah menempuh perjalanan Juanda Perak dalam tikaman gerimis malam.

Saya terbangun oleh sms seorang teman, singkat padat namun jelas: paus Fransiskus. Saya langsung berlari ke warnetnya Carly Carlos. Si penjaga yang baru bangun itu mengucek-ucek matamerahnya, sambil berkata, "Kardinal Jose Bergoglio", itu saya catat di notes. Pausnya dari Buenos Aires, Argentina. Paus Pertama dari luar Eropa sejaka abad keenam. Gratias Deo!

Kemarin saya tiba di Kota Surabaya. Kota yang dikalangan orang Katolik di Indonesia, dikenal sebagai kota Opus Dei. Kami menyibukkan diri dengan kemeriahan sederhana seorang sahabat yang berulang tahun, sehingga lupa mengamati TL social media perihal progresi sidang konklave.

Pagi ini saya duduk berselancar melacak jejak Paus Fransiskus. Mencoba mengenali sosok pemimpin Gereja yang baru ini.  Bagi saya pemilihan Paus kali ini kalah seru dibanding dengan Konklave 2005, di mana saya dan RD Hiller duduk mete mengamati kesibukan di lapangan Santu Petrus hingga akhirya asap putih mengepul dan Habemus Papam Iosephum Ratzinger!

Akhirnya saya hanya berdoa, Tuhan lindungilah GerejaMu dibawah pimpinan hambaMu, Fransiskus. Santu Fransiskus dari Asisi, doakanlah kami!

Nb. Kenapa musti pake I/pertama? Ya cukup Fransiskus!

Friday, March 8, 2013

Bersikap Rendah Hati

Sabtu, Pekan III Prapaskah
Luk 18:9-14

Seseorang bisa dikatakan cukup memiliki kerendahan hati kalau ia mau menerima dirinya; dan menerima diri berarti mengakui bahwa segala bakat dan kemampuan, termasuk kemampuan-kemampuan rohaniah, yang dimiliki adalah semata pemberian dari TUHAN. Semakin kita memiliki kemampuan, semakin kita mesti merendahkan diri, dan tetap menghargai orang lain.

Orang Farisi dalam perumpamaan hari ini bukan teladan yang baik untuk kerendahan hati melainkan kesombongan. Tidak hanya membanggakan kekuatan hidup rohaninya, dia malah merendahkan orang lain. “… aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini” Luk 18:11.

Kita harus lebih berhati-hati kalau punya bakat atau kemampuan yang lebih. Kalau kita berdiri lebih tinggi setengah senti itu berarti kita sudah terlalu tinggi setengah senti. Dan bisa jatuh kapan saja. Tentu, karena hakekatnya manusia itu berubah-ubah. Sebagaimana Sabda Tuhan ketika meratapi Yehuda: Apakah yang akan Kulakukan kepadamu, hai Yehuda? Kasih setiamu seperti kabut pagi , dan seperti embun yang hilang  pagi-pagi benar. Hosea 6:4, ratapan yang sama pun harusnya ditujukan bagi orang yang menyombongkan iman dan kepercayaannya. Dalam urusan bisnis, pasti tidak cukup kalau kita berusaha hanya untuk tidak bangkrut. Orang tua yang anaknya sakit pasti tidak merasa sudah cukup karena toh anaknya tidak mati. Kita juga harusnya merasa tidak cukup hanya karena kita sudah beriman dan percaya.

Iman hanya merupakan langkah awal untuk mendaki gunung kesucian. Kalau kita tergelincir di jalan, gelinciran pertama belum tentu membuat kita terjatuh. Tetapi kalau kita tergelincir di jalan menuju kesucian, tingkat gelincirannya lebih besar dan lebih sulit untuk menjaga keseimbangan agar tidak sampai jatuh.

Sakramen Imamat menurut Konsili Vatikan II

Di bawah ini akan dikemukakan beberapa pokok pikiran teologis singkat tentang tahbisan seturut Konsili Vatikan II.

  • Sementara Skolastik memakai Ekaristi sebagai dasar tahbisan, Konsili Vatikan II telah mengemukakan perubahan penting dalam hal tahbisan dengan dua pertimbangan ini: Ia lebih memulainya dari pribadi dan misi Yesus Kristus; serta memperluas tujuan tahbisan melewati kepemimpinan liturgis. Bahwa tahbisan mempunyai tujuan lain juga seperti untuk mengajar dan penggembalaan umat. Secara esensiil, pelayanan Gereja berhubungan erat dengan pelayanan Kristus. Gereja mengambil bagian dalam tugas-tugas Kristus yaitu nabi/guru, imam dan raja/gembala. Jadi tugas pelayanan Gereja adalah mengajar, menguduskan dan menggembalakan. Dalam buku Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi, KWI menyatakan bahwa dengan tahbisan seseorang menjadi pemimpin Gereja, bukan hanya dalam perayaan Ekaristi atau pelayanan Sakramen lainnya, melainkan juga dalam seluruh kehidupan dan kegiatan Gereja. Dengan sakramen tahbisan, orang “diangkat untuk menggembalakan Gereja dengan Sabda dan rahmat Allah” (LG.11). Dan imamat hanyalah satu yakni imamat Kristus; tahbisan-tahbisan kudus hanyalah pengamalan imamat Kristus itu.

  • Konsili Vatikan II secara jelas  dan sengaja mengakui bahwa episkopat adalah kepenuhan tahbisan. Hal ini ditegaskan KWI demikian: Maka dari itu sakramen tahbisan pertama-tama adalah tahbisan uskup. Sebab  “dengan tahbisan, uskup diterimakan kepenuhan sakramen imamat, yang biasanyadisebut imamat tertinggi atau keseluruhan pelayanan suci” (LG.21). Konsili Vatikan II, seperti para Bapa Gereja, mendasarkan fungsi episkopat untuk mengajar, menguduskan dan menggembalakan umat pada sakramen tahbisan itu sendiri. Dalam hal ini pada Kristus bukan padadelegasi kepausan. Ia juga memperkuat dasar kolegialitas uskup-uskup itu dengan mengatakan bahwa kolegialitas itu berasal dari sakramen tahbisan dan bukan dari kekuasaan lain. KWI juga menegaskan bahwa yang memimpin Gereja adalah dewan para uskup dan masing-masing uskup di tempatnya sendiri sebagai  anggota dewan para Uskup. Itulah sebabnya uskup ditahbiskan oleh paling sedikit tiga uskup. Sebab “adalah wewenang para uskup untuk dengan sakramen tahbisan mengangkat orang terpilih baru ke dalam dewan para uskup” (LG. 21).

  • Pemikiran ini membuat episkopat menjadi referensi teologis yang utama dalam hal tahbisan dan imamat. Pemikiran lain yang direhab adalah presbyterium. Bahwa presbyterium haruslah merupakan persatuan dan kesatuan para imam. Kesatuan ini haruslah dibentuk oleh para imam itu bersama-sama dalam persatuan dengan uskup mereka, hal ini menghubungkan juga satu elemen lain yang berasal dari abad-abad pertama, yakni para imam itu membentuk semacam dewan penasihat uskup (dewan imam). Jadi interrelasi antara episkopat dengan presbiterat ditekankan di sini. KWI menegaskan bahwa para imam ditahbiskan sebagai pembantu uskup.

  • Konsili tidak banyak berbicara tentang diakonat, tetapi perkembangan selanjutnya sesudah Konsili Vatikan II telah membuka kemungkinan timbulnya diakonat sebagai pelayanan penuh lagi permanen seperti pada jaman para Bapa Gereja dulu. Berabad-abad sebelum Vatikan II sejak abad pertengahan, diakonat dilihat hanya sebagai jenjang menuju imamat; kini sekali lagi diakonat dapat memainkan peranannya dalam kehidupan gereja. Demi alasan inilah fungsi diakon dalam batas tertentu diperluas dan meskipun pelayanan konkret yang mesti disandangnya belum dirumuskan, tidak diragukan lagi bahwa pada dasarnya diakon dapat menjadi mitra yang sangat berarti bagi pelayanan pastoral para imam. Diakonat yang telah dipugar kini juga mencakup diakon  yang menikah (yang sudah ada di sejumlah paroki) dan karena kedua  unsur ini (permanen dan kawin) maka tatacara tahbisan diakon mutlak disesuaikan. KWI juga menegaskan bahwa para diakon ditahbiskan  untuk membantu uskup. Tahbisan diakonat adalah sungguh tahbisan. Dengannya mereka diangkat menjadi anggota hirarki/pimpinan gereja biar hanya sebagai pembantu saja.

  • Di samping itu, empat tahbisan rendah *), yang sekarang disebut “tugas pelayanan” telah disurutkan menjadi dua (lector dan akolit); tonsure dan subdiakonat telah dihapus dan dua unsur baru telah ditambahkan; penerimaan ke dalam kalangan klerus dan pernyataan resmi tentang komitmen kepada selibat untuk semua calon diakon kecuali diakon-diakon yang  menikah.

  • Jadi Konsili Vatikan II menyatakan bahwa ada tiga tahbisan (diakonat, imamat dan episkopat) serta menguatkan bahwa tiga tahbisan yang berbeda itu berhubungan satu sama lain antarmereka. Ketiga tahbisan itu merupakan tiga tahap dari satu sakramen yang sama.

  • Semuanya ini membuka kemungkinan baru tetapi Konsili Vatikan II tidak mengatur hubungan antar misi dan pelayanan yang timbul dari sakramen inisiasi dengan yang timbul dari sakramen tahbisan atau antara kolegialitas episkopal dengan kuasa Paus secara teologis serta secara praktis. Bagaimanapun, satu model dalam pelayanan yang jauh lebih dinamis, multidimensi, eklesiologis serta dorongan kuat untuk pembaruan dan inovasi telah timbul.


*) Tahbisan rendah. Dulu, sejumlah tahbisan yang dijalani calon imam sebelum tahbisan subdiakon. Tahbisan-tahbisan ini memberikan tugas-tugas khusus sesuai dengan tahbisan yang bersangkutan. Yang termasuk dalam tahbisan rendah ialah: penjaga pintu (ostiarius), lector, pengusir setan dan akolit. Sekarang ini tahbisan rendah sudah dihapus. Lektor dan akolit kini merupakan pelayanan sendiri yang tidak disebut tahbisan.

AKU KEBANJIRAN PULSA!

Kisah dari seorang sahabat:


Tadi malam setelah aktivitas di meja doa sy mendpt telpon. sewaktu sy tekan tombol jawab terdengar suara dari sebrang-ternyata suara wanita,,maka terjadilah percakapan antara saya (S) dan wanita (W) itu:

(S) hallo......; 
(W) hallo, slmt malam, maaf pak mengganggu; mau tanya apa pulsa masuk di nomor bpk?
(S) ini dengan siapa?...maaf bu sy tdk tahu..
(W) gini pak, td sy isi pulsa di conter, tapi pemillik conter itu salah tekan nomor sy,,jadix yg ditekan nomor bpk;
(S) aduuuhh...ibu sy tdk tahu... sy blm liat jg klw ada sms MKIOS. coba matikan dulu sy liat ------ ternyata benar pulsa br masuk saat sedg nelponan td, lalu sy kontak ibu:
(S) malam ibu,,ya benar pulsax br masuk saat telponan td. trus bagaimana ibu, apa pulsa ini anggap sj ibu berikaan buat saya? 
(W) aduuhh...maaf ini dengan pak siapa?
(S) saya, romo sintus di penginapan KAK; 
(W) aduuuhhh anak romo,maaf, ya ya sudah...sudah...biar pulsa itu utk romo saja;
(S) aduuhh...ini dgn siapa ya? 
(W) romo, ini dengan mama....(sebut nama dgn alamat perumnas); -----------sy sendiri tdk kenal nama mama itu, tp rupax mama itu kenal sy krn sering jg beri pelayanan di kapela perumnas;
(S) aduu...mama bagaimana ni,,sy jadi tidk enak ni...
(W) aahh..sudh...sudh..romo anggap saja mama yg kasih. nanti mama isi lg, son ap-apa romo. mohon doa sa..
(S) nah, klw begitu makasih banyak mama. 
(W) iya romo, slmt malam; ---lgsg putus---; setelah sy cek sisa pulsa sy seblum isi kan jlhx 52.000;; ee...sekarng jadi 152.000;asyiikkk....; selang 15 menit kemudian, hp sy bunyi nada panggilan. nomor baru.. sy pun lgsg tekan jawab, "haloo..." terdengar suara wanita lagi dari seberang...
(W) selamat mlm anak romo, ini dengan mama......(sebut nama dgn alamat atambua);
(S) Aahhh...selamt malam mama, apa kbr? 
(W) baik nak romo; gini romo, mama td cuma cek apa nomor msh aktif ko sonde, soalx mama mau isi pulsa buat romo;
(S) adduuuh...mama makasih seblumx. iya mash aktif mama.;
(W) ok. matikan sj sy isi pulsax.; -----4 menit lewat bunyi sms, oohh..ternyata sms MKIOS; sy tak thn lgsg cek,,asyiikk dapat lg 100 rb.. 2 menit kemudian bunyi sms,,eehhh...MKIOS lagi dgn nilai 100 rb. karmana ni, sy lgsg tekan *888#, waahhh....luar biasa. ini br terjadi dlm sejarah hidup sy, pulsaku menjdi 352.000; sy lgsung kontak balik mama td;
(S) mama, terima kasih bnyk utk pulsax...doaku menyertai mama-papa sekeluarga di atmbua. 
(W) iya, romo makasih jg doax...ini mama ada tamu ni, nti br mama kontak lg.
(S) iya makasih. slmt malam; 

@@@@@@ mimpi apa malam ini dpat pulsa pung bnyk.... ya, mudah2han masih ada mama-mama berikutx yg mengontak sy utk sms MKIOS selanjutx.. mama-mama ini msh baik, -mereka isi utk kita pulsa,,daripada mama-mama yg lain malah minta kita yg isi pulsa..repot!

Ya, namanya juga RAHMAT, er de, disyukuri saja :)

Thursday, March 7, 2013

Kasih kepada Tuhan dan sesama

Jumat, Prapaskah III, 8 Maret 2013
Mrk 12:28-34

Kasihilah Tuhan Allahmu dengan dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu. Hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan rupanya merangkum seluruh diri manusia, karena hidup manusia yang berlandaskan kasih ditopang oleh hati, jiwa, akal budi dan juga kekuatan dirinya dalam hidup itu. Itu artinya mencintai Tuhan tidak boleh setengah-setengah.

Pada kenyataannya sekarang seringkali, kasih kepada Tuhan menjadi nomor kesekian. Arus modernisasi dan teknologi yang pesat kini menyebabkan manusia lebih menyembah dan mencintai teknologi daripada Tuhan. Teknologi dijadikan dewa. Contoh nyata: orang bisa asyik BBM an saat ibadah berlangsung.

Tapi ada juga yang mengaku sangat mengasihi Tuhan tetapi tidak peduli dengan sesama. Ada orang yang rajin berdoa, tidak lalai ikut Misa, menjalankan peraturan Gereja dengan baik, tapi tidak peduli dengan sesama. Ada juga yang sibuk memperhatikan sesama tapi lupa beribadat kepada Tuhan. Ini merupakan orientasi filantropis semata.

Sesungguhnya Kasih yang sejati kepada Tuhan mewujud dalam kasih kepada sesama.

Tujuh Sabda Yesus di Salib

Crucifixion by Olga Christine
Sebelum wafat di salib Yesus meninggalkan kata-kata yang meringkas tugas perutusanNya. Sebagai Allah Dia mengampuni dosa-dosa kita. Sebagai manusia, dia merasa haus. Sebagai seorang sahabat, dia mempercayakan kita semua kepada Maria, IbuNya. Sebagai guru dia mengajar kita untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, sekalipun itu berarti Salib bagi kita. Sebagai Penyelamat dunia, Dia mengajar kita untuk mengaku dosa kita di hadapan Tuhan, sehingga kita bisa bersamaNya di firdaus. Marilah kita merenungkan ketujuh sabda-Nya dan memohon agar Dia membantu kita untuk mendengarkan dengan hati yang terbuka.

1. "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."  Lk. 23: 34

Pater, dimitte illis, quia nesciunt, quid faciunt.


2. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." Lk.23:43

Hodie mecum eris in Paradiso.

3. "Ibu, inilah, anakmu!" ; "Inilah ibumu!" Jn. 19: 26-27

Mulier, ecce filius tuus.

4. Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mk. 15:34; Mt 27:46

Deus meus, Deus meus, utquid dereliquisti me?

‘Eloi, Eloi, lema sabachthani?’


5. "Aku haus!"Jn. 19:28


Sitio.

6. "Sudah selesai."Jn 19:30


Consummatum est.

7. "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Lk 23: 46

In manus tuas, Domine, commendo spiritum meum.

Wednesday, March 6, 2013

Siapa Tidak Bersama Aku, Ia Melawan Aku

Kamis, Prapaskah III, 7 Maret 2013


Lukas 11:14-23

Terwujudnya kerajaan Allah berarti takluknya kuasa iblis. Di zaman sekarang mungkin saja kepercayaan terhadap adanya setan dianggap sebagai kekanak-kanakan. Ada semacam rasionalisasi bahwa sesungguhnya manusia benar-benar bertanggungjawab atas perilakunya sendiri. Kendati demikian, sabda Tuhan dalam Injil menyatakan dengan Jelas adanya kuasa lain yang bertentangan dengan Kuasa Allah. Kuasa itu adalah kuasa kejahatan. Kuasa Setan. Kita tahu setan pada mulanya adalah malaikat yang memberontak terhadap Tuhan. Ia kemudian dibuang ke neraka. Dan Setan ini berusaha agar memperoleh sebanyak mungkin pengikutnya di neraka. Maka sesungguhnya kehidupan kita di dunia adalah pertarungan antara Kuasa Setan dan Kuasa Tuhan. Bagaimana agar kita bisa menang terhadap kuasa kejahatan ini?

Dengan cara menyerahkan diri kepada Tuhan, berpihak kepada Tuhan dan kebenaranNya. Tidak mungkin kita bersikap netral dalam konflik rohani antara Kerajaan Kristus dan kuasa kejahatan.

1) Mereka yang tidak, bersama Kristus, melawan Iblis dan kejahatan, sebenarnya telah menentang Yesus Kristus. Setiap orang sedang bertarung, kalau tidak pada pihak Kristus dan kebenaran, tentu pada pihak Iblis dan orang fasik.

2) Perkataan Yesus menuduh tiap usaha untuk bersikap netral atau berkompromi dengan ketidakbenaran, atau ketaatan yang tidak sepenuh.

Semoga!
 

Tuesday, March 5, 2013

Rabu, Prapaskah III - Mt 5:17-19


Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum dan ketetapan yang sudah ada. Kehadirannya tidak membatalkan hukum, melainkan menggenapinya.  Kedekatan kita terhadap Tuhan diatur menurut tatacara tertentu, namun semua itu adalah sarana untuk menjadikan kita semakin dekat dengan Dia. Hukum dan peraturan  bukan untuk ditaati secara buta. Hukum dan aturan yang ada hendaknya dilihat dalam kerangka hubungan cinta kasih antara kita dengan sesama dan antara kita dengan Tuhan. 

Yesus datang dan menegaskan bahwa kita hendaknya tetap mengikuti dan menaati aturan yang ada. Yang paling penting bagi kita adalah memeriksa kembali motivasi kita dalam menaati segala hukum dan peraturan itu. Apakah kita ikut peraturan seperti orang-orang Farisi yang sekedar untuk dilihat dan dikagumi banyak orang?

Monday, March 4, 2013

Selasa, Prapaskah III, 5 Maret 2013

Marilah kita saling mengampuni!

Dan 3:25, 34-43; Mt 18:21-35

Membalas kebaikan dengan kebaikan itu adat duniawi. Sebagai anak Allah kebiasaan kita adalah membalas kejahatan dengan kebaikan. Ini karena kita adalah anak Allah yang tidak akan “mempermalukan melainkan memperlakukan kita sesuai dengan kemurahanNya dan menurut besarnya belaskasihanNya [Dan 3:42].

Apa yang terjadi dengan dunia ini kalau Tuhan cuma duduk mengadili dari atas takhtaNya tanpa sedikit pun menunjukkan belaskasihan terhadap kita? Nyatanya setiap kemalangan yang kita temui adalah sebuah belaskasihan. Tidak mengherankan kalau kemudian Yesus meminta kita untuk membalas mereka yang menyakiti kita dengan kebaikan; dengan mengampuni mereka “tujuhpuluh kali tujuh kali”. Mat 18: 22; yang berarti “selalu mengampuni”. Dengan “selalu” mengampuni orang, bukan berarti kita mendukung apa yang mereka perbuat. Alih-alih, kita menolak untuk menghakimi dan mengungkung mereka dalam kelemahan itu.

Tindakan pengampunan adalah pertanda bahwa kita kuat. Cinta memang selalu menang pada akhirnya. Dengan memusuhi orang lain, kita kita hanya membuat luka pada diri sendiri. Membenci orang lain itu ibarat membakar rumah sendiri untuk menghalau seekor tikus. Api kebencian yang ada dalam hati kita akan merebak menjadi kebakaran, menghabiskan bukan cuma diri sendiri tapi juga menjalar dan membinasakan orang lain.

Ada anggapan bahwa dunia ini akan kimat oleh api, ada yang bilang oleh es. Melihat kehancuran yang terjadi karena kebencian antar ras , bangsa dan komunitas, kita bisa juga yakin dunia bisa kiamat karena api. Dengan terus memikirkan pembalasan terhadap orang yang melukai kita, kita membiarkan luka kita tetap terbuka tak terawat, yang sebenarnya dengan cara sebaliknya, - “mengampuni” - bisa disembuhkan.

Marilah kita saling mengampuni!

Sunday, March 3, 2013

Senin, Prapaskah III, 4 Maret 2013

Beware of the man of one book!

Demikian wanti-wanti Santu Thomas Aquinas. Maksudnya adalah mereka yang berwawasan sempit, picik. Orang-orang itu seperti botol, semakin kecil lehernya, semakin bising suara yang dihasilkan ketika isinya dikeluarkan.


Orang-orang Israel dalam berbagai kesempatan, menurut cerita Kitab Suci, selalu menunjukkan betapa piciknya pemikiran mereka. Penyembuhan Naaman orang Siria itu membuatnya mengenali Allah Israel. "Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel . Karena itu terimalah kiranya suatu pemberian z dari hambamu ini!" 2 Raja-raja 5.15. Namun ini merupakan perkecualian dalam aturan orang Israel. Mereka, Orang Israel ,sungguh tidak tertarik dengan pertobatan orang kafir. Pemikiran picik mereka terlihat jelas di Nazareth. Orang –orang ini bahkan tidak suka ketika Yesus mengingatkan mereka tentang kebaikan Allah terhadap orang kafir sehingga “Mendengar itu sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat itu. Lukas 4.28.

Bagaimana dengan kita? Sebagai orang katolik apakah kita berpikir bahwa hanya kitalah yang memiliki Allah? Apakah kita berpikir bahwa kita memiliki seluruh kebenaran dan kebenaran itu hanya ada pada kita?

Kita harus segera menyadari bahwa Allah itu ada bagi semua orang dan bahwa kebaikannya adalah aktif bagi semua orang dari kepercayaan dan tradisi lain, dengan suatu cara yang sangat misterius. Artinya ada berkas-berkas kebenaran dalam keyakinan orang yang beragama lain. Hanya jika kita punya wawasan berpikir yang luas kita akan mampu bekerjasama dengan komunitas beriman lain untuk bahu membahu mewujudkan kemaslahatan manusia. Kita harus mengatasi godaaan untuk menghina keyakinan orang lain. Jangan kita menjadi katak dalam tempurung!***

Jadwal Misa Gereja Sancta Maria de Fatima Taklale


Interior Gereja Santa Maria Fatima -Taklale
Gereja Taklale terletak di km 27 arah Timur Kota Kupang dan terletak di wilayah Kecamatan Kupang Timur, yang juga meliputi kawasan Oelmasi, pusat Kabupaten Kupang. Daerah Oelmasi sendiri sebenarnya berada tepat di perbatasan wilayah Paroki Sancta Helena Lili dan Sancta Maria de Fatima Taklale.
Berikut ini jadwal lengkap misa hari Minggu di Gereja(-gereja) di wilayah Paroki Sancta Maria de Fatima Taklale Kupang Timur.
1.       Pusat Paroki  : jam 08.00
2.       Stasi St Yoh Maria Vianney – Naibonat : jam 08.00
3.       Stasi St Leonardus - Manusak : jam 08.00
4.       Stasi St. Arnoldus Janssen – Tuapukan : jam 07.30
5.       Stasi Keluarga Kudus Nazareth – Oebelo : Jam 08.00
Khusus untuk Kapela-kapela, perayaan Ekaristi diadakan duakali Hari Minggu dalam sebulan
6.       Kapela Fatuknutu : jam 08.00
7.       Kapela Oesu’u: jam 08.00
8.       Kapela Noekele: jam 08.00

Perayaan Ekaristi Hari Minggu dan Hari Raya dilayani oleh para Pastor secara bergilir setiap Minggu naik oleh para pastor Paroki maupun para imam asisten.
1.       RD Piet Olin
2.       RD Krisantus Luan
3.       RD Jefri Bonlay
Imam Asisten*)
4.       RP Yulius Bere, SVD
5.       RD Leo Mali
6.       RD Patris Neonnub
7.       Para Pastor dari Biara CMF

*) Imam asisten adalah para imam yang bukan pastor paroki, namun umumnya bekerja di lembaga-lembaga milik Keuskupan di Kupang. Mereka ini biasanya membantu para pastor Paroki  di Gereja-gereja Kota Kupang dan sekitarnya.  Tercatat, paroki Santu Yoseph Pekerja Penfui merupakan paroki yang memiliki asisten terbanyak di Kupang (28 orang).

Saturday, March 2, 2013

Jadwal Kegiatan Liturgi dan Devosi Seminari Tinggi Santu Mikhael

Kapel Seminari Tinggi Santu Mikhael

Sebagai suatu komunitas pembinaan para calon imam, kegiatan doa dan liturgi menjadi pusat seluruh kegiatan. Kapel seminari Tinggi Santu Mikhael terbuka untuk umum. Siapa saja boleh ikut merayakan liturgi di tempat ini. Kendati demikian, untuk misa hari Minggu, umat sekitar disarankan untuk tetap mengikuti perayaan di Gereja Paroki, demi kebersamaan sebagai warga Paroki. Dalam hal ini, adalah warga Paroki Santu Yoseph Pekerja Penfui yang tinggal di sekitar Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui.

Selain kapel yang cukup besar, ada juga sebuah Taman Doa untuk Devosi Maria dan Devosi Jalan Salib. Taman ini bernama Taman Doa Maria Ratu Para Imam, yang juga terbuka untuk umum. Silakan datang dan mengalami keheningan di Taman Doa ini.

Berikut jadwal lengkap kegiatan liturgi dan devosi di Seminari Tinggi Santu Mikhael Kupang

Misa Inkulturasi Pesta Perak RD Valens Boy, Salah seorang Formator
Jadwal harian

Ibadat Pagi/ Laudes (05:15)Meditasi (05.45) dan Misa Pagi (06.00)

Ibadat Siang Pribadi]: 12.00

Visitasi Pribadi Sakramen Mahakudus (15.00)


Taman Doa
Jadwal Mingguan

Hari Minggu : Ibadat Pagi/Laudes (05.45) Misa (06.30) Ibadat Sore/Vesper (18.30)

Hari Senin : Adorasi Sakramen Mahakudus ( 18.30)

Hari Selasa: Doa Rosario di Taman Doa (18.30)

Hari Rabu: Ibadat Penutup/Completorium (19.35)

Hari Kamis: Misa Pagi dalam Bahasa Inggris (06.00)

Hari Sabtu : Ibadat Penutup/Completorium (19.35)




Jadwal Bulanan

Kamis Pekan II : Ibadat Tobat dan Pengakuan (15.30)

Sabtu-Minggu Pekan II: Rekoleksi Komunitas (Sabtu 18.00), Sharing Kelompok (Minggu 08.00) dan Pentakhtaan Sakramen Mahakudus (Minggu 10.00)



Nah, ini sedikit informasi. Kalau ada yang masih kurang jelas bisa ditanyakan saja ke anggota komunitasnya :)