Monday, May 27, 2013

Mengenal Aktivitas TUHAN #4: PROVVIDENTIA, Penyelenggaraan Ilahi

                  
Provvidentia (Penyelenggaraan) dan Pemerintahan Ilahi biasanyanya dihubungkan dengan orde dan finalitas dalam barang-barang ciptaan yang dipikirkan, direncanakan dan dilaksanakan Tuhan. Penyelenggaraan adalah pemahaman, pengertian, rencana, gambran yang dari kekal ada pada Intellek Ilahi menyangkut orde dan finalitas barang ciptaan. Karena itu, provividentia dirumuskan sbb: Ratio ordinis rerum in finem, rencana menurut mana barang-barang diarahkan menuju tujuannya, maksudnya.

Provvidentia mengungkapkan realitas bahwa dari kekal Tuhan menentukan jalan melalui mana barang-barang yang diciptakannya (exitus) akan kembali kepadaNya (reditus). Penyelenggaraan adalah actus dari intellek Tuhan dalam keterikatan dengan kehendakNya, yang menentukan dari kekal bahwa segala ciptaan akhirnya akan kembali bersatu dengan Dia sebagai Kebaikan Tertinggi.

Pemerintahan adalah pelaksanaan rencana, yang terungkap dalam sejarah (waktu). Karena itu Pemerintahan biasanya didefinisikan sebagai execution ordinis, pelaksanaan dari orde itu.
Cara, Modus dari penyelenggaraan dan pemerintahan Ilahi:

Penyelenggaraan selalu langsung, sedangkan pemerintahan dapat langsung atau tidak langsung. Penyelenggaraan selalu langsung: tuhan mengatur dan menentukan sendiri seluruh realitas, termasuk detailnya yang terkecil. Kalau roh-roh yang terbatas berfungsi sebagai alat (instrumentum), maka rencana partikulir yang mereka adakan juga diatur oleh Tuhan, karena segala kebijaksanaan dan pengetahuan dari segala intellek disebabkan olehNya.

Pemerintahan Ilahi dapat tidak langsung: Untuk melaksanakan rencana/penyelenggaraan, Tuhan menggunakan alat-alat, menetapkan suatu urutan dari sebab-sebab yang sungguh bergiat. Bertindak demikian lebih luhur bagi Tuhan daripada memprodusir akibat-akibat secara langsung. Secara khusus makluk yang berakal budi dihubungkan dengan atau melibatkan dalam pemerintahan Tuhan; karena pengetahuan mereka mengambil bagian dalam Penyelenggaraan Tuhan. Makluk rohani dapat menyelenggarakan dirinya sendiri dan barang yang lain. Namun segala makluk ciptaan selalu tergantung pada Tuhan dalam seluruh keberadaannya.

Penyelenggaraan Tuhan itu infallibilis, tidak pernah gagal. Selalu terdapat persesuaian yang tetap antara keteraturan barang-barang yang ada dan rencana Tuhan yang menentukan barang-barang itu. Bila Tuhan menentukan bahwa suatu barang akan terjadi infallibily dan necessarily, atau contingently, semuanya memang terjadi seperti itu dan tidak ada apapun yang dapat menggagalkan atau menghalangi penentuan itu.

Juga Pemerintahan Ilahi tidak dapat digagalkan pada taraf sebab universal. Bila pada tarafnya sebagai satu sebab partikulir suatu kehendak jahat bertentangan dengan rencana Tuhan, kehendak itu memang masih mengejar suatu kebaikan (sesuatu yang de facto jahat kini dijadikan sebagai sesuatu yang baik), maka kehendak itu akan menderita, menanggung akibat perbuatannya, dan ia harus masuk kembali ke dalam orde keadilan, menempatkan segalanya pada posisi yang sebenarnya. Segala kejahatan harus dipulihkan, dan orde, aturan yang lurus yang dibelokkan oleh perbuatan jahat haruslah ditegakkan kembali. St. Augustinus menegaskan bahwa dosa membawa hukumannya, siksaannya.

Apakah Penyelenggaraan dan Pemerintahan Ilahi tidak bertentangan dengan kehendak bebas manusia? Soal hubungan atau persesuaian antara kebebasan manusia dan Penyelenggaraan dan Pemerintahan Ilahi juga harus dipandang dalam cahaya Transendensi dalam finalitas universalis, yakni keterarahan dari segala-galanya yang dipikirkan dan direncanakan oleh penyelenggaraan Ilahi dan dilaksanakan oleh PemerintahanNya. Penyelenggaraan dan Pemerintahan Tuhan mempunyai dasar dan sebabnya dalam Cinta Tuhan. Akan tetapi karena Tuhan mencintai terutama makluk-makluk berakal budi, maka Dia mengatur pilihan-pilihan mereka supaya mereka dapat mencapai kebaikan dan kesempurnaan mereka. Namun Dia menyelenggarakan kegiatan bebas manusia sedemikian rupa sehingga kegiatan-kegiatan itu diadakan manusia dengan bebas.

Bagaimana hal ini mungkin? Diketahui, Tuhan mengatasi duration successive actus. Dalam actus yang tunggal dan kekal Tuhan merencanakan aturan, orde, dari seluruh ciptaan dan segala makluk. Penyelenggaraan Ilahi melihat segala sesuatu selalu secara actual, sekarang dan di sini sebagai present, dan mengatur secara infallibiliter segala akibat yang dihasilkan oleh sebab-sebab necessarium, sebab-sebab contingens dan kehendak-kehendak bebas. Maka untuk penyelenggaraan Tuhan bisa dipakai frase “waktu yang lebih dahulu”. Ini harus dimengerti bukan dalam arti kronologis tapi dalam arti ontologism. “Lebih dahulu” berarti Penyelenggaraan Ilahi manusia segala ontology, causalitas universalitasNya mengungguli segala causalitas ciptaan, termasuk causalitas bebas makluk-makluk berakal budi.

Kegiatan bebas manusia tergantung dari Penyelenggaraan yang kekal dan karena itu kegiatan itu ada di bawah Causalitas Ilahi yang memerintahnya. Causa Universalis Ilahi meluas kegiatanNya sampai ke segala yang ada dan tidak ada apapun dapat tinggal di luar orde, aturan yang dilaksanakan oleh Causa Universalis itu. Actus yang bebas dikehendaki Tuhan dalam segala-galanya yang merupakan essenya. Oleh karena itu, kehendak bebas  dan kegitannya berada di bawah pemerintahan Universal Tuhan. Causalitas Divina meresapi causalitas humana secara internal dan total. Dengan itu, kehendak bebas manusia tergantung dari kehendak Ilahi dan dari ordo yang Dia tetapkan dan laksanakan. Walaupun dosa merupakan privation dari esse, menjauhkan diri dari kehendak Tuhan, dia masuk kembali melalui siksaan dalam ordo universal yang ditentukan oleh kehendak Ilahi yang transenden dan kekal.