Monday, May 20, 2013

PANTHEISME: Menyangkal Perbedaan antara Kebaikan dan Kejahatan


Pantheisme dalam Refleksi Filsafat Beberapa Tokoh

Menurut Pantheisme, ada identitas antara dunia dan Tuhan. Pantehisme merupakan pandangan dasar Budhisme, Brahmanisme.

Pantheisme sudah ada sepanjang sejarah filsafat. Stoicisme yang didirikan oleh Zeno (366-264) sb. M) merupakan Pantheisme type Materialisme. Menurut Stoicisme, prinsip paling dasariah dari segala sesuatu adalah api yang meresapi dunia dan menciptakan ordo dan intellek. Apa itu adalah keharusan, necessitas, hukum universal. Yang menerima dan menyesuaikan diri dengan api itu akan mengatasi penderitaan.

Bentuk klasik dari Pantheisme adalah sistem filsafat B. Spinoza (1632-1677). Dia bertitik-tolak dari pengertian substansi yang dibentuknya dan menyimpulkan bahwa ada hanya 1 substansi. Mottonya: “Deus seu Natura” (Allah atau Alam). Menurut Spinoza, seluruh kenyataan merupakan kesatuan, dan kesatuan ini merupakan satu-satunya substansi, sama dengan Allah atau Alam, “seperti tanda-tanda atas sehelai kertas.” Allah ini sama dengan aturan kosmos. Kehendak Allah itu kehendak alam, atau hukum-hukum alam itu kehendak Allah. Penyelenggaraan merupakan keharusan mutlak, sama dengan nasib. Cinta Allah identik dengan cinta kepada nasib (Amor Dei = amor fati).

Dengan kata lain, Substansi satu-satunya itu mengungkapkan diri lewat jumlah yang tak terbatas dari attribute-attribut. Dari attribut-attribut ini, kita kenal 2, yakni pikiran dan keluasan. Dari attribute-attribut ini ikut dengan seharusnya jumlah tak terbatas dari modi yang terbatas. Keseluruhan dari modi finite ini adalah dunia atau natura naturata yang merupakan Substansi Ilahi atau natura naturans. Dalam system ini deduksi dan distingsi antara yanga baik dan yang jahat, sebagaimana dikenal dalam moral klasik, ditiadakan atau dihapuskan.

Bertolak dari Pantheisme, Spinoza mengatakan bahwa kesanggupan, potensi dari dunia (natura naturata) sama dengan potensi Tuhan yang berhak secara mutlak atas segala sesuatu. Berdasarkan determinisme, Spinoza menyimpulkan bahwa segala sesuatu, barang, ens, sejauh direalisir sesuai kodratnya, dia realisir dirinya dengan hak tertinggi, karena dia berbuat sebagaimana ditentukan oleh kodratnya dan tidak dapat bertindak secara lain.

Walaupun sistemnya adalah Pantheisme dan Determinisme, Spinoza berbicara juga mengenai kebajikan yang mengandaikan adanya kebebasan dan tentang kesanggupan yang kita miliki untuk mengatur perasaan, kecenderungan, afeksi, melalui pengetahuan dan cinta intellectual akan Tuhan.

Dalam idealisme sesudah Kant ditemukan juga unsur-unsur Pantheisme. Menurut Fichte (1762-1814), dalam ego-ego yang terbatas ada ego yang tak terbatas yang meneguhkan diri dengan menantang non ego. Ego yang tak terbatas itu mencerminkan suatu absolutum transcendent, dan ego-ego yang terbatas beruasaha menjadi semirip dengannya.

Menurut F. Schelling (1775-1854), alam (natura) dan Roh berasal dari dan merupakan ungkapan dari Absolutum. Tidak ada ciptaan. Tuhan sendiri menjadi, dan meredusir diri.

F.G.W. Hegel (1770-1831) menegaskan tesisnya yang terkenal bahwa segala  yang riil adalah rational dan segala yang rational adalah riil. Mengerti dunia tidak lain dari memikirkan jadinya yang seharusnya dari Absolutum. Absolutum adalah ide yang berkembang menurut irama thesis - antithesis – synthesis. Dalam proses itu, ide menjadi alam (natura) dan selanjutnya berkembang menjadi Roh yang sadar akan dirinya sendiri.

Rupanya menurut Hegel Tuhan tidak berpribadi dan sadar akan diriNya sendiri. Namun dengan menekankan imanensi Tuhan dalam dunia, Hegel kelihatan sadar akan transendensiNya. Penegaskan konklusifnya: “Tanpa dunia, Tuhan bukanlah Tuhan.”

Pandangan Kritis atas Pantheisme

Dipandang dari perspektif Metafisika, Pantheisme mengandung kontradiksi. Dari pihak moralitas, Pantheisme secara logis menyangkal perbedaan antara kebaikan dan kejahatan. Adalah suatu kontradiksi menganggap Tuhan absolute dan serentak terikat pada dunia, identik dengan modi-Nya yang banyak dan berubah. Kesederhanaan yang mutlak tak dapat dicampur dengan kompleksitas dari yang terbatas. Sebagai Actus Purus, Tuhan mengatasi segala perkembangan dan proses menjadi (fieri). Dunia tidak dapat merupakan emanasi yang seharusnya dari Substansi Tuhan. Dunia ada sebagai produk atau ciptaanNya yang bebas dan dari kesanggupanNya yang kreatif.

Secara logis Pantheisme berbicara tentang ordo moral, kebebasan dan perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Jika segalanya identik dengan Yang Ilahi, maka segalanya juga harus menjadi necessarium, dan segala perbuatan dapat dibenarkan. Namun makluk-makluk yang berpribadi tidak merupakan bagian dari Yang Ilahi itu. Makluk berakal budi dapat memilih dan selama dia belum berhadapan dengan Tuhan “dari muka ke muka,” ada padanya kecenderungan radikal untuk menjauhkan diri dari yang sempurna. Roh yang terbatas mempunyai cara berada sendiri, dan adapt memilih antara yang baik dan yang jahat berkat liberum arbitrium, walau terus-menerus ditopang oleh kegiatan conservation  dan concursus Ilahi.